Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR #30. I MISS YOU


__ADS_3

Nawang menekan perut Asmi, "sakit ngga, Mi?" Asmi menggeleng, "kembung teh,"


Denyut jantung Asmi normal, begitupun suhu badannya normal-normal saja.


"Gimana neng?" tanya amih mengoleskan obat gosok di kaki Asmi yang dingin.


"Normal, ngga ada yang salah." angguk Nawang, namun dari raut wajahnya menunjukan jika Asmi sedang tidak baik-baik saja. Asmi menarik selimut hingga sebatas lehernya.


"Mi, teteh mau ngobrol sebentar sama kamu, boleh?" pinta Nawang, diangguki Asmi yang membelakanginya dan semua orang.


"Ya udah, sok istirahat dulu."


Nawang meminta semuanya keluar dari kamar Asmi termasuk amih.



"Neng, resepkan saja obatnya, biar nanti Eka yang beli." Pinta amih, Nawang menggeleng, "bukan obat itu yang Asmi butuhin, mih. Tapi healing. Asmi butuh diagnosa lanjutan, dan Nawang bukan ahlinya," jelas Nawang sukses membuat amih mengerutkan kening berpoles bedak hingga kulitnga begitu mulus langsat khas wanita tanah priyangan.



"Asmi gimana, neng?" apih menghampiri keduanya yang sudah berjalan ke arah ruang keluarga.



"Kalo saran Nawang, Asmi harus ketemu temen sejawat Nawang dan melakukan serangkaian tes," imbuhnya.



"Tes apa, Asmi sakit apa?" tanya Apih. Katresna yang menjaga anak-anak dan melanjutkan makan justru mencuri-curi dengar pembicaraan amih, apih dan Nawang.



"Kalo menurut dugaan Nawang, Asmi mengalami gejala depresi..."



"Apa?!" amih dan apih terkejut, "ngaco! Ngga mungkin atuh, Asmi depresi! Karena apa coba!" amih menepis udara dan diagnosa Nawang, "ngga usah ngaco kamu, Nawang...anak amih pada sehat semua! Makanan selalu terjaga dan bergizi, ngga kekurangan apapun!"



"Asmi memang tidak kekurangan apapun mih, tapi Asmi tertekan....itu cuma saran Nawang. Pun, kalo amih sama apih percaya," Nawang membawa serta tas dokter miliknya kembali ke kamar.



Apih menatap lurus nan nyalang, memikirkan semuanya dan mengusap wajah kasar.



"Engga---engga mungkin! Salah pasti, neng Asmi ngga mungkin depresi!" amih menggeleng masuk kamar, selera makannya sudah membumbung mengangkasa.



Alvaro berulang kali menghubungi Asmi, panggilannya tersambung namun si empunya tak mengangkat panggilan.


"Argghhh! Lo udah ngacak-ngacak hati gue, sekarang lo pergi gitu aja Mi! Ngga bisa! Lo mesti tanggung jawab!" geramnya kesal, Alvaro menjatuhkan badannya di kasur, pesan Asmi tadi saat pulang mengudara dan membentuk tulisan besar, sebesar tulisan baligho di atas langit-langit kamarnya.


Asmi takut ngga mau pulang, pengen terus sama akang kuman....



Alvaro sengaja berdiri di dekat masjid kampus, berharap dapat mencegat kedatangan si tuan putri, namun hingga Filman menghubunginya jika dosen sudah masuk, Asmi tak kunjung datang.



Ck! Alvaro menaikan tali tas di pundaknya, dilihatnya Fajrin dan Elisa disana, "Jrin!" panggilnya membuat pemuda itu menoleh.



"Eh kang!"



"Kang Alvaro, tumben ke fakultas Teater? Cari Asmi ya?!" tembak Elisa.



Alvaro mengangguk, "Asmi ngga masuk kang, sakit." jawab Fajrin buka suara.



"Sakit?" alisnya mengernyit.



Pemuda dengan rambut gaya harajuku, manja-manja pengen jambak itu mengangguk cepat, "iya kang, katanya sih gitu."



"Lo tau dimana rumahnya?"



Elisa dan Fajrin saling lirik, Fajrin menggeleng dan Elisa mengangguk, kemudian Fajrin melotot ke arah Elisa seolah ingin menyembunyikan identitas Asmi.



Alva memutar netranya, rupanya kedua juniornya ini perlu diajarkan nilai kejujuran.

__ADS_1



Alvaro tak segan-segan menarik tas Fajrin, hingga pemuda itu tergeret olehnya, "kang! Eh kang!" jeritnya seperti perempuan, Elisa menepuk jidatnya dan berlari mengikuti, "kang! Mau dibawa kemana?! Aduhh!" ia berseru panik setengah tertawa juga, pokoknya campur aduk lah.



Tak ada yang berani menolong Fajrin, mereka tau siapa Alvaro.



"Kang! Iya gue tau, gue tau! Oke kang---oke!!" teriak Fajrin.



Anjar terkekeh melihat Fajrin digeret begitu, Cintya menepuk dadha kekasihnya itu yang malah tertawa.



"Tolongin atuh yank!" sungutnya meminta agar Anjar menolong Fajrin. Anak Rampes dan beberapa kepanitiaan fakultas lain beberapanya memilih etnostudi sebagai basecamp, satu kampus satu jiwa, satu baraya, bak jiwa korsa.



"Ahhh, mulai lagi si Alva! Va, udah ngga jaman senioritas, Va!" teriak Saka.



"Ikutan euy lah!" Sony mendekat namun sedetik kemudian ia mencebik, "ah ini mah si Fajrin atuh, masa jiwa korsa begini saling bully?!" Sony ikut terkekeh. Bianca anak KMT senior tersenyum karena tau Alvaro tak mungkin sejahat itu.



"Ada masalah apa Jrin, lo nyinggung Alva apa?" tanya Bianca.



"Lo tau apa?" tanya Alva kini melepaskan cengkeramannya di tas Fajrin dan menghempaskannya begitu saja di dekat gedung etnostudi, tepatnya antara halaman etnostudi dan dewi asri.



"Tau kalo ternyata pamor anak Rampes sama senior dulu teh emang bener adanya...." Fajrin mengangguk.



"Pamor apa?!" tanya Alva. Fajrin mengatupkan mulutnya takut salah bicara.



"Engga kang, maaf."



Filman terkikik tertahan di atas tembok pembatas, sementara Sony berjongkok ria sambil minum teh kemasan bersama Saka.




"Jangan atuh kang, oke...tapi lo jangan kaget kalo gue bakal bilang sesuatu,"



Alvaro menarik alisnya sebelah.



"Asmi itu...."



"Menak? Gue tau." Tembak Alva tepat sasaran, bukan Alva yang terkejut tapi Elisa dan Fajrin, "akang tau?!"



"Akang tau darimana?!" tanya Elisa.



"Penting?!" Alva balik bertanya sengit membungkam mulut Elisa dan Fajrin lagi.



"Engga kang, sorry---sorry!" wajah keduanya sudah pias padahal Alva baru bertanya dengan nada yang dinaikan satu level.



Anjar kembali tertawa seraya memasukan kedua tangannya di saku celana, Alva memang terkenal dengan kegarangannya tapi bukan garang asem! Tapi rupanya tawanya itu langsung dihadiahi tepukan di perut oleh Cintya, "kamu ih malah diketawain, bukannya di tolongin...."sungutnya.



"Bukan gitu yank, maaf. Tapi percaya deh, Alva mah kalem ngga akan maen hajar. Cuma wajahnya aja yang ganteng-ganteng serem. Asal jangan diganggu, nanti justru mancing amukan dia."



"Tapi janji kang, jangan dibilang-bilang sama yang lain?!" Fajrin menyodorkan tangannya pada Alva yang langsung ditatap ragu oleh Alva.



"Lo ikut jadi penunjuk jalan!" jawab Alva lalu menoleh, "yang mau ikut gue jenguk Asmi tunggu di parkiran baliknya!" ujar Alvaro di okei yang lain.

__ADS_1



Fajrin merengek, "kenapa jadi semuanya ikut kang?!"



"Lo bisa mikir ngga kalo cuma lo, gue sama Elisa yang datang?! Pikir! Gue tunggu disini jam balik kampus, kalo sampe kabur, Bianca yang bakal gusur lo kesini!" tunjuk Alva pada senior KMT.



"Eh, kenapa jadi aku?! Aku mah ngga ikut-ikutan Alva," cebik Bianca. Si kadiv humas Rampes ini menoleh sengit pada Bianca, "iya Va, iya..." angguk Bianca menghela nafasnya.


.


.


"Neng, ikut teteh ke rumah sakit ya?"



Asmi menggeleng sambil melahap bubur ayam, "engga ah, ngapain! Asmi ngga sakit, ambu Lilis bisa tolong ambilin tas Asmi, mau ambil hape," pintanya pada Lilis yang membawa vitamin di meja dekat ranjang.



"Ini den," Lilis menyerahkan tas milik Asmi, sementara Nawang memperhatikan gerak-gerik Asmi dan raut wajah kuyu adik iparnya itu.



"Kamu ngga tidur semalem?"



"Heem, teh. Udah 2 hari sama tadi malem, eh engga deh sering tapi waktunya ngga menentu! Apa mungkin karena cape atau banyak pikiran ya?! kenapa Asmi teh jadi susah tidur ya? Resepin obat tidur atuh teh," pintanya.



"Insomnia?"



Asmi mengangguk lalu mengecek notifikasi ponsel, "kang Alva."



Nawang menghela nafas yakin, "iya makanya, ikut teteh ke RS, biar tau penyakitnya apa. Siapa tau temen teteh bisa bantu, biar nanti teteh buat jadwal?!" bujuk Nawang.



"Kenapa ngga sama teteh aja? Kan teteh juga dokter?" Asmi mendebat.



"Beda spesialis atuh neng, ibarat gini----kamu lagi lapar, butuh nasi sama lauk tapi kekeh mau nyari di matrial, bakalan nemu ngga?"



Asmi tergelak, "makan paku?!"



"Kamu lagi ada masalah apa, kalo ada masalah teh cerita, Mi..." Nawang menatap nyalang Asmi yang tertawa sambil melahap bubur.



"Apa sih si teteh?!" Asmi mulai mengelak kembali lalu menghentikan makannya, tiba-tiba saja selera makan Asmi hilang saat Nawang membahas masalahnya.



*Ddrrtttt*


*Drrtttt*



*Kamu sakit*?


*Sekarang di rumah*?



Alisnya mengernyit serius membaca pesan.



"Siapa Mi, temen kuliah?"



Asmi mengangguk seraya mengulas senyuman hangat, dan Nawang bisa lihat itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2