
Asmi menggertakan gigi dan kakinya menghentak bumi, bukan sedang nyanyi lagu anak-anak namun ia tengah kesal, karena dirinya yang merindu. Per se tan dengan rasa malu dan marahnya tempo hari! Pokoknya hari ini ia mau bertemu Alvaro. Hanya Alvaro!
Angin siang yang menyapu dedaunan kering beserta debu tak serta merta membawa Asmi terbang mengangkasa, bahkan emosinya saja masih bersarang di dalam hati.
Asmi berjalan sendiri ke arah basecamp anak antropologi dan media, seperti biasa mereka akan berkumpul disana meskipun tak ada hal penting yang harus dibicarakan. Namun orang yang dicarinya tak muncul disana, kemana?!
"Kang," sapa Asmi mencolek Filman yang tengah tertawa bersama sambil nyemil kacang kaya gajah.
"Eh, Asmi...kemana aja Mi?" goda Sony dikekehi Anjar yang tak sedang bersama Cintya.
"Nyari Alva ya, Mi? Alva atit Mi." tembak Saka, membuat Asmi cukup terkejut, namun ia tak sampai terang-terangan.
"Kang, bisa ngomong sebentar?" pinta Asmi pada Filman.
"Boleh, sebentar."
Filman beranjak dari duduknya dan mengekori Asmi yang menjauh dari tempat itu. Filman menyesap alat vape miliknya yang beraroma apel, "kenapa, Mi?"
"Kang, kang Alva sakit?" tanya Asmi.
Filman mengangguk, "iya. Bilangnya sih gitu, tadi ngga absen katanya meriang."
"Kalian teh aneh, kemaren Alva yang nyariin kamu sampe kelas, katanya kamu udah balik duluan. Sekarang, kamu nyariin Alva..."
Kini Asmi merasa bersalah, Alva mencarinya berulang kali namun ia dengan tanpa kabar dan belas kasih meninggalkan Alvaro, seolah menjadi manusia paling tuli yang tak mau mendengarkan orang lain.
"Oh." Asmi mengangguk mengerti.
"Kalo gitu makasih ya kang," jawab Asmi.
"Sip." ia mengangkat jempolnya di udara.
Asmi berjalan cepat menuju pintu keluar, dimana mang Dedi sudah menunggunya.
"Mang," Asmi mengetuk pintu kaca jendela mobil yang sukses membuat mang Dedi menoleh dan membuka kacanya, "kenapa den? Kenapa ngga masuk?" Mang Dedi membukakan pintu mobil meski harus mendongkang dari tempatnya.
"Mang, anter Asmi ke minimarket sebentar ya, terus ke daerah Cipaganti?!" pintanya. Awalnya mang Dedi mengernyit tak mengerti tapi kemudian Asmi masuk dan memintanya menyalakan mesin dan pergi.
"Mau kemana den rara?" mang Dedi memberanikan diri bertanya.
"Mau jenguk Alva mang, sakit." Jawab Asmi melihat ke arah jalanan, mencari letak supermarket terdekat, "tuh mang di depan ada Supermarket! Asmi mau beli dulu kue, buah sama susu," imbuh Asmi.
"Siap den."
Mang Dedi tak ikut masuk ke dalam sana, hanya menunggu di pinggiran tempat foto copyan saja, lumayan biar ngga bayar parkir. Sementara Asmi masuk sendirian dan berbelanja.
Hawa dingin dari AC sepaket tempat sayur dan buah menjadi penolong dikala cuaca panas siang ini.
Asmi mengambil beberapa buah pear, apel, jeruk dan pisang. Menimbangnya lalu ia masukan ke dalam keranjang.
Ia juga membawa susu kemasan 1 liter dan roti tawar serta selai, tak lupa cemilan lainnya. Biasanya jika sakit, Asmi selalu menginginkan makanan-makanan ini ketimbang nasi.
Terkadang hidup sebagai ningrat yang ayah dan ibunya sibuk, memaksa Asmi memanjakan dirinya sendiri meski memiliki pengasuh dan asisten rumah tangga.
Beres membayar, Asmi kembali menghampiri mang Dedi dengan barang belanjaan 2 kresek penuh sampai-sampai mang Dedi menganga sendiri, "den rara mau jenguk se rt?"
"Engga mang, seorang aja. Orang sakit harus banyak makan, kan!" jawabnya.
"Oh iya mang. Abis ini mamang pulang aja dulu, nanti Asmi telfon kalo udah mau pulang...." imbuhnya lagi.
"Waduh den, apa den nganten ngga akan marah?"
__ADS_1
Asmi menggeleng, "biar itu jadi urusan Asmi."
Mang Dedi mengangguk dengan rasa tidak percaya sebenarnya tapi apa boleh buat, ia hanya supir tak mungkin menolak apalagi menegur.
"Iya den."
Rumah yang familiar dengan kata hangat di dalamnya terlihat di pelupuk mata. Meski rumah tua bergaya jaman Belanda namun rumah ini selalu membawa Asmi pada perasaan rindu, mendatangkan rasa haru dan kehangatan yang belum pernah ia dapatkan.
"Disini den rara?" tanya mang Dedi, diangguki Asmi, "iya mang. Nanti kalo jemput dihafal jalannya ya, disini lagi!"
"Iya den, mau dibantuin bawanya?"
Asmi menggeleng, lalu keluar dari mobilnya, ditatapnya rumah yang selalu membawa ketenangan baginya, padahal isinya anggota klan akatsuki!
Asmi melangkah mendekat, dan ternyata sosok ibu Ganis keluar dari arah teras samping sambil membawa air dalam alat penyiram ke arah rumpun mawar.
"Asmi?" sapanya menaruh alat penyiram, Asmi tersenyum lebar nan merekah, "ibun!" ia masuk lalu berjalan cepat menyerbu Ganis dan meraih punggung tangannya kemudian salim dengan takzim.
"Sengaja kesini?" tanya Ganis membawa Asmi duduk di kursi, membiarkan pekerjaan yang seharusnya dia lakukan begitu saja. Kasihan sekali si mawar tak jadi diberi minum, puasa--puasa deh tuh!
Asmi mengangguk mengerti, "mau Asmi bantuin ngga?" tanyanya. Ganis menggeleng, "ngga usah, masa baru dateng udah disuruh kerja."
"Bun, Asmi boleh minta mawarnya sekuntum ngga?" bisik Asmi. Ganis mengernyit usil seraya tersenyum geli. Ia sudah dapat menebak jika mawar itu akan ia berikan untuk yang punyanya.
"Boleh. Kebalik atuh neng masa cewek kasih mawar ke cowok?!"
Asmi tertawa kecil ngga apa-apa lah bun, sekali-sekali. Masa cowok doang yang bisa, cewek juga bisa. Mana mawarnya dapet metik dari rumahnya sendiri!"
Ganis ikut tertawa, dan membantu Asmi, "nih gini nih metiknya. Pilih dulu yang paling bagus!" ujar Ganis meraih satu tangkai mawar yang menurutnya indah.
"Coba disitu, ambilin gunting stek!" tunjuk Ganis ke arah pojokan teras dimana terdapat kotak berisi gunting stek, cangkul kecil dan gunting rumput berada.
__ADS_1
"Yang ini?!" Asmi mengangkat gunting seukuran tangannya kenarah Ganis.
"Iya."
Mawar disini tumbuh dengan subur dan cantik-cantik.
"Kita bersiin durinya dulu...."
"Ibun kenapa ngga buka florist aja?" Ganis melirik usil dan menggeleng, "kalo ibun sibuk banget, nanti ngga ada yang urus rumah, mpapnya anak-anak, Alva sama Bagas. Perempuan itu tidak mesti sama hebat dalam karir dengan lelaki, hidup itu pilihan, menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah kegagalan----tidak pula derajatnya berada di bawah lelaki."
Asmi mengangguk setuju, "iya. Ibun dulu kuliah?" tanya Asmi mengobrol sejenak dengan Ganis.
"Kuliah, bisnis dan management."
"Sayang dong bun, jurusan itu kan makan biaya lebih!" ujar Asmi. Ganis tersenyum, "semua yang sudah dikeluarkan tak ada yang sia-sia, apalagi buat ilmu. Pendidikan itu penting untuk mengajarkan kita pola pikir yang tidak primitif. Apalagi untuk menjadi seorang istri dan ibu yang mencakup semua prospek kerja! Bisnis management dibutuhkan, kalo manager keuangannya ambruk dan bo doh? Maka ancurlah biduk rumah tangga!" kekeh Ganis.
Asmi terkekeh, Alvaro benar! Ibunnya juara debat!
Asmi digiring masuk ke dalam, namun ia tak menemukan Alvaro di ruang tamu.
"Di kamar..." bisik Ganis, "buka aja pintunya ngga dikunci..."
"Takut lagi telan jank," jawab Asmi tak kalah berbisik geli.
Ganis menepis udara, "eh justru bagus! Anggap aja sedekah! Belum pernah kan liat yang nyegerin gitu?!"
Sontak saja Asmi menyemburkan tawanya, sampai-sampai ia harus membekap mulutnya sendiri, ajaran ibun Ganis memang sesatth.
.
.
.
.
__ADS_1
.