
Asmi menghembuskan nafasnya berat, meski bukan nafas terakhir. Gerakan tangannya memegang handle pintu kamar Alvaro, gara-gara ibun otaknya secara otomatis bayangin hal-hal yang mesum tentang Alva, Asmi menggeleng mencoba menghempaskan pikiran-pikiran kotor, ngga boleh! Ngga boleh berpikiran mesum!
Ia menekan itu ke bawah dengan perlahan hingga sedikit demi sedikit daun pintu terbuka, "eh iya ngga dikunci dong..."
Degupan jantung Asmi semakin cepat berirama. Dari sudut mata yang ditempelkan di celah pintu, kamar Alvaro terlihat temaram terkesan gelap, menunjukan jika si empunya senang bergelap-gelap ria ditemani kesunyian.
Asmi semakin mengedarkan pandangan, mencari sosok Alvaro yang ternyata ia temukan tengah meringkuk di kasur berteman selimut sebagai penghangat tubuh.
Ada rasa getir dan mencelos mengiris hati, ketika Asmi melihat Alvaro begitu.
"Maaf," lirihnya menggumam, kemudian ia semakin melebarkan pintu dan memberanikan diri untuk masuk.
Alva menggeliat bergerak, samar terlihat oleh matanya sesosok gadis yang paling ia rindukan tengah berdiri sambil tersenyum manis, ia tak benar-benar bisa tertidur pulas karena badan yang terasa tak enak, Alva cukup terkejut dengan itu, apakah ia hanya berhalusinasi atau mimpi di setengah sadarnya?
"Jam segini masih tidur, udah makan kan? Udah minum obat?" tanya Asmi mendekat dan duduk di tepian ranjang.
"Asmi?" gumam Alvaro mencoba menarik diri dan berusaha duduk bersila. Asmi mencondongkan badannya agak ke depan lalu menempelkan punggung tangannya di kening Alvaro, "masih demam?"
Alvaro menggeleng.
"Asmi nyariin akang di kampus. Tapi akang ngga ada," Ia menarik keluar sekuntum mawar hasil malak ibun di depan, "maafin Asmi, kang." tangannya menyodorkan hal paling romantis yang pernah ia lakukan untuk seorang lelaki.
Asmi terkekeh geli, "mawarnya sih hasil malak ibun tadi di depan," jelasnya, namun kekehan itu tak cukup menutupi rasa gelisah dan risaunya.
"Mang Ajat bilang, akang jemput Asmi ke rumah....kang Filman bilang kang kuman nyariin Asmi ke kelas kemaren, tapi Asmi udah pulang duluan." Asmi menaruh setangkai mawar itu di pangkuan Alvaro.
"Maafin Asmi, ngga seharusnya Asmi marah sebelum dengerin penjelasan akang." Ia menunduk, jelas sedang mengurai rasa gundah di hati yang sejak tadi ditahannya hingga terasa sesak.
Asmi meloloskan nafasnya bersama mata yang telah berkaca-kaca, "aduhhh!" ia mengipasi wajah yang tiba-tiba memanas tak bisa bohong, nyanyian kemarin membuatnya takut kalau Alvaro akan mengucapkan kalimat perpisahan.
Alvaro sadar akan sikap Asmi, ia langsung meraih Asmi ke dalam pelukannya yang hangat dan mengecup pucuk kepala Asmi, "aku sayang kamu, Mi."
"Aku yang salah, seharusnya ini ngga terjadi kalo dari awal aku udah kasih status yang jelas untuk hubungan kita. Aku minta maaf kalo udah bikin kamu ngambek malam dimana Niah kecopetan," ucap Alva, kehadiran Asmi dan obrolan ini membuat rasa sakit dan berat di kepalanya terasa ringan.
Asmi membalas pelukan Alva, tubuh yang panas itu didekapnya erat.
"Asmi kira kemaren akang nyanyiin lagu itu buat Asmi, kang. Sumpah, bikin Asmi nyesek!" akuinya jujur malah semakin kencang terisak.
__ADS_1
"Lagu? Lagu mana?" tanya Alvaro.
Asmi mengurai pelukannya dari Alva, "lagu perpisahan itu yang waktu sama temen-temen di basecamp anak antropologi budaya, pas pulang jam kampus." Jelas Asmi. Alva mengingat-ingat, padahal kepalanya masih terasa kleyengan, kemudian ia cengengesan geli, "yang siang sama Puguh?"
Asmi menggidikan bahunya, "ngga tau siapa namanya."
"Dia senior yang taun ini wisuda. Anak-anak pada minta nyanyi lagu perpisahan, jadi kita nyanyi..." jawab Alvaro, ditertawai Asmi, "salah paham."
"Iya. Makanya neng cantik nanya dulu baru kalo mau nangis abis itu sok aja," jawab Alva menghapus air mata di pipi Asmi yang telah basah.
"Bawa apa?" tanya Alva parau nan berat menunjuk kresek yang dibawa Asmi di samping bawah ranjang.
"Bawa makanan," jawab Asmi bersuara bindeng sehabis menangis. (berdengung)
"Lidahnya pait engga? Mau Asmi kupasin buah?" tawarnya.
"Boleh."
Asmi membuka bungkusan yang ia bawa setelah sebelumnya memnawa semua rambutnya menjadi satu ikatan ke belakang, "Asmi beli apel, pear, pisang, mau apa? Ambil dulu pisaunya ya..." ia beranjak, namun tiba-tiba Alva menahan tangannya, "Mi..."
"Hm?" ia kembali duduk.
"Mau serius sama aku ngga?" tanya Alva membuat gadis ini mengernyit di tempatnya.
"Maksudnya gimana?"
"Aku emang ngga punya apa-apa, Mi. Cuma, kalo kamu serius, aku juga bakal serius...." jelasnya memantapkan hati seraya mengusap tangan Asmi dengan jempolnya.
"Kemaren amih ngomong apa? Asmi tau kemaren akang ke rumah diajak ngobrol sama amih, pasti bukan sesuatu yang baik..." Asmi tertawa sumbang.
Alva menatap Asmi dengan tatapan sayunya, bola matanya masih cukup pegal namun ia ingin melihat gadisnya itu, "engga apa-apa. Cuma nanya aja..." Alva mencoba beranjak dari kasurnya, tak ada kata manja dalam hidupnya. Karena hidup butuh tenaga dan bangkit, ia mempush dirinya sendiri.
Asmi tau jika Alva sedang mencoba menghindar, namun dari gelagat Alva dan tebakannya yang tak pernah meleset, ia tebak amih pasti meminta Alva menjauhinya.
Alva melangkah turun dalam sekali lompatan turun, terlihat ia hanya memakai boxer hitam selutut dan kaos putihnya mendekati meja belajar untuk meraih ponsel yang ia cas.
"Amih pasti neken akang kan? Minta akang tinggalin Asmi, atau kasih akang syarat yang berat?" tembak Asmi, membuat Alva menoleh, "kata siapa? So tau."
__ADS_1
Asmi menatap Alva getir, wajahnya masih terlihat pucat dari biasanya, "Asmi kenal amih sejak usia 0 bulan, dan tau karakter amihnya Asmi...." jawab Asmi ikut beranjak menghampiri Alvaro.
Alvaro mengacak rambut Asmi, "kamu ngga usah mikir macem-macem." Alva menaruh kembali ponselnya lalu duduk di atas meja belajar dengan tangan meraih tangan Asmi, "kamu cukup bilang mau aku ajakin serius, maka aku akan perjuangin kamu."
Ada seulas senyuman manis di wajah Asmi, "katanya mau ngupasin buah?" pinta Alva diangguki Asmi dengan cepat, "oh iya! Aduhhh pelupa!" Asmi menepuk-nepuk keningnya.
"Ibunnn, Asmi mau pinjem piso!" serunya keluar kamar dengan membawa kresek berisi makanan dan mengeluarkan isinya di atas meja makan.
"Bun,"
"Eh bawa apa, meni repot-repot!" Ganis mendorong secangkir teh manis yang ia buat untuk Asmi.
"Bawa buah tangan. Masa nengokin orang sakit cuma bawa tangan kosong?!" ujar Asmi.
Ganis tersenyum hangat, kali ini ia serius berucap tulus, "makasih Asmi mau repot-repot kesini nengokin Alvaro,"
Gadis itu mengernyit aneh jika Ganis berujar serius begini, "ibun ngga apa-apa kan, jangan bilang kalo ibun sakit juga?" tanya Asmi membuat Ganis tertawa, "sakit----sakit malarindu!"
"Kalo itu Asmi kemaren, pas kang Alva datang hilang deh sakitnya!" akuinya tak malu lagi. Ganis menatap Asmi penuh makna, "Asmi serius suka sama Alvaro?"
Asmi mengangguk yakin, "serius udah bubar bun,"
Keduanya tertawa, "emang susah ya buat serius haduhhhh! Klop lah, udah fix, besok ibun sama mpap ke rumah kamu!"
"Mau apa bun?" tanya Asmi terkejut.
"Mau tukeran anak sama Alvaro," jawab Ganis.
Asmi membalasnya dengan tatapan datar, lalu 5 detik kemudian tersenyum lebar, "deal!"
Keduanya kembali tertawa, di gawang pintu Alva menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sikap absrd Ibun dan Asmi.
.
.
.
__ADS_1
.