Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 36. JANGAN LAMA-LAMA


__ADS_3

"Tapi aku maunya bareng sama kamu," ujar Asmi.


"Ya udah, kamu mah anak bawangnya aku aja," kekeh Alva.


Pemuda itu mengajak Asmi ke arah karyawan yang sedang bergerombol di dekat pintu masuk untuk gambreng, selagi 2 lainnya tengah melayani pembeli.


"Sok!" Alva mengulurkan satu tangannya ke depan diantara karyawan yang membuat lingkaran.


"Sok ah! Biasanya mah suka bareng sama aa brad!" imbuh Dion bersiap mengeluarkan telapak tangan andalannya.


"Sok, hompimpa!" seru Dini menginterupsi, jangankan Asmi, para pelanggan saja sampai menoleh geli dan tertawa dengan kelakuan absurd para karyawan disini yang seperti anak kecil.


Asmi sudah mere mas ujung lengan kaos Alvaro saking terbawa gemasnya, "semoga jajan cuanki kloter awal," gumamnya.


"Gambreng!" ucap mereka kompak. Asmi tertawa renyah dengan kekompakan dan kelakuan mereka.


"Ahh, ulang-ulang!" seru mereka.


Giliran hompimpa yang kedua kalinya, Alva bersama 2 lainnya mengeluarkan punggung tangan, otomatis jumlah yang sedikit itu jajan belakangan, "sok ah sekali jadi !!"


"Yuhuuu! Hahahaha, gue duluan!" teriak Dini gembira.


"Sorry aa brad, kita ngga sehati untuk hari ini! Gue duluan aweuuuu!" imbuh Dion.


"Yaa, kloter kedua!" Asmi menepuk lengan Alva merengut, bukan karena ia yang ingin jajan duluan tapi tak mau menerima kekalahan Alvaro barusan, "ih kalo Asmi yang gambreng pasti menang da."


Alvaro terkekeh sambil menepuk-nepuk pucuk kepala Asmi, "kaya yang bisa aja!" cibirnya meragukan. Asmi menoleh dengan mendelik, "sembarang, bisa lah! Asmi jagonya gambreng kalo main petak umpet!" jawabnya jumawa.


Alvaro melengos kembali, "ah palingan juga ngumpetnya di kolong ranjang!" kembali ia mencibir.


"Aa brad duluan!" Dwiki berteriak.


"Sok duluan istirahat!" ucap Alvaro, Dion, Dini, Wika, dan Dwiki keluar duluan.


"Kamu kan anak bos, kenapa ngga duluan?" tanya Asmi.


"Fairplay neng. Tapi kalo kamu udah lapar sok duluan aja. Biar bareng sama Dini." Alva memberikan pilihan untuk Asmi.


Kendati demikian, Asmi menggeleng, "mau sama akang aja."



"Aa brad, cuanki?!" tawar Dion membuka pintu toko demi menyembulkan badannya setengah dan mengangkat mangkok putih bergambar ayam ke arah Alvaro.



"Sok, duluan!" ucap Alvaro.



Suara pintu terbuka dari belakang dan menampakan sosok Wira dari ruangan belakang, "Va, ada tukang cuanki?"



"Ada."



Mata Wira jatuh pada Asmi yang dengan setia duduk di dalam kasir menemani Alva.



"Kang," angguk Asmi dalam seraya tersenyum ramah.



"Ada Asmi," angguk Wira singkat mengulas senyum tipis.



"Va, pesenin satu. Kamu ngga pesen?"



Alvaro mengangguk, "mau, nunggu gantian dulu sama yang lain."


__ADS_1


Pemuda jutek dan judes ini keluar dari dalam kasir dan melangkah keluar, Asmi memperhatikannya begitu lekat nan penuh arti. Sampai sini ia bisa menilai jika sikap Alvaro diantara orang-orang terdekatnya ternyata tak sedingin di luar, arghhhh! Susah dijabarkan, ia sungguh manis! Mengutamakan karyawannya dan patuh pada ayah--ibu, hal sepele saja ia lakukan tanpa bantahan.



Ponsel Asmi bergetar,



*Mamihnya Dhara* 💞



"Hallo teh?!"



(..)



Alvaro masuk kembali ke dalam dengan membawa semangkuk baso *cari uang jalan kaki* (cuanki) yang menguarkan aroma baso dan siomaynya lalu melewati Asmi yang tengah menerima panggilan dan masuk ke dalam ruangan di belakang.



Beberapa karyawan masuk kembali ke dalam, "aa brad! Kalo mau istirahat sok, kita udah da!" ujar Dini.



"Oke."



Alva meraih terlebih dahulu botol air mineral dan meneguknya, kemudian berjongkok di depan Asmi, "hayuk atuh, jajan cuanki..." ia meraih tangan Asmi dan mengusapnya lembut.



Dan perlakuan manis itu membuat Asmi seakan melayang di atas nirwana. Bisakah waktu terhenti untuknya? Karena Asmi tak ingin hari ini berakhir.



Asmi membawa tangan besar itu ke pipinya, agar Alva dapat merasakan kehangatannya.




"Tentang apa?" tanya Alvaro.



"Citraresmi, kebetulan lagi kamu garap buat tugas bulanan dari disdik kan? Siapa tau dapet ilham dan referensi..." Asmi melebarkan senyumnya.



"Boleh, jam berapa?"



"Abis magrib kalo ngga salah. Tapi nanti Asmi bawa dulu tiketnya dari teteh."



Alva mengangguk, "boleh. Call me aja," genitnya mengedipkan mata yang langsung kena tamparan pelan Asmi, "geli ih!"



"Hayuk atuh, ngga laper gitu?" ajak Alva diamini Asmi, "laper atuh!"



Sepasang sejoli ini berjalan ke depan toko bergabung dengan kedua karyawan lain yang sudah berebut saos sambal.



"Aku mah mau dipakein nasi!"


__ADS_1


"Sok sanguan!" kekeh Alva.



Bahagianya sederhana, Asmi dengan wajah putih yang memerah karena sorot matahari itu memilih dan menunjuk pilihan menunya, "Asmi mau tahu putihnya 3, a..." ia memanjangkan lehernya di depan panci sehingga dapat merasakan kepulan asap aroma kuah baso.



Asmi juga menuangkan saos dan sambal di mangkok miliknya, satu botol dengan pembeli lain, satu mangkok bekasan pembeli lain meskipun sebelumnya si mamang cuanki sudah mencucinya.



Gadis itu begitu senang duduk di pinggiran toko menikmati semangkuk baso cuanki bersama Alva dan karyawan Vulcan sambil bercanda dengan tukang cuanki.



Beberapa kali ia sampai tersedak karena makan sambil tertawa.



Alvaro menatap si cantik yang selalu menempel padanya, Asmi sederhana....ia lebih cantik karena bahagia. Tangannya terulur ke atas kepala Asmi, selalu gatal ingin membelai rambutnya.



Begitu hitam legam, bergelombang nan halus dan wangi, meski berada di pinggiran jalanan begini, benar-benar terawat.



"Kamu ngga akan sakit perut jajan kaya gini? Salah-salah nanti minta ganti rugi?!" Alva bersuara, Asmi menatapnya sengit, "kamu mah ih! Bisa ngga sih jangan nyindir terus?! Kayanya mulut akang kuman gatel kalo ngga nyindir Asmi!" bibirnya sengaja dimanyunkan, nampak begitu merah menggoda akibat kuah bersambal yang dimakannya barusan.



Alva mendengus, "kan mangkoknya bekas makan orang lain," tunjuk Alva ke arah mangkok Asmi yang tinggal menyisakan kuahnya saja, berwarna merah pekat.



"Iya gitu?!" matanya membeliak terkejut.



"Mang! ini mangkok yang dipake Asmi bekas orang lain gituh?! Sumpahnya?!" tanya Asmi. Alvaro tertawa diantara rasa pedas, asin dan manis.



"Ya iya atuh neng, mangkok bekas tapi dicuci dulu pake air sama sabun. Kalo harus mangkok baru mah, mamang harus bawa mangkok sepabrik atuh neng, kalo jualan?!" jawab si mamang sukses bikin alis Asmi mengernyit lalu tertawa, "oh iya ya! Hahaha! Kamu mah ih!" Asmi meninju lengan Alva keras, namun lelaki itu tak merasa kesakitan sama sekali justru tertawa.



"Kaget Asmi ih! Kirain bekas orang beneran, ngga dicuci dulu! Ngeselin!" omel Asmi.



Alva begitu senang menggoda Asmi, wajah ceria selalu nampak tatkala Asmi ada di dekatnya. Bisingnya jalanan tak membuat keduanya terganggu. Debu saja iri melihat keromantisan keduanya.



"Oon ya bro? Tapi aneh bisa jadi mahasiswi!" senggol Alva pada kang cuanki mencibir Asmi, terang saja gadis itu mendelik sinis, "emang minta dikeramasin pake kuah cuanki da dia mah, a!" sewot Asmi nyinyir melihat Alvaro. Asmi menaruh mangkoknya dan mencengkram kaos lalu mengguncang-guncangkan Alva yang kembali tergelak karenanya.



Mereka sudah selesai dengan acara jajan kenyangnya, "mau ku anterin pulang sekarang?" lirik Alva ke arah jam dinding.


"Boleh, anterin ke rumah a Candra aja. Asmi mau ambil tiket teater buat besok, sekalian mau jengukin Dhara," jawabnya.


"Aku ambil dulu kunci motor, sekalian pamit," Alva mengambil kunci motor di dalam tas.


"Jangan lama-lama nanti aku rindu!" gadis ini tertawa renyah, Alvaro menggeleng seraya tersenyum simpul lalu masuk ke dalam ruangan berpintu hitam.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Noted :


* hareeng : sakit


__ADS_2