Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 35. PENOLAKAN ASMI


__ADS_3

Asmi segera berbalik dan berlari ke arah Alva dan kawan-kawan.


"Mi...yahhh bocah mau kemana?! Malah balik lagi!" Fajrin menoleh ke arah perginya Asmi.


Alva dikejutkan dengan Asmi yang datang dan memegang lengannya posesif, "kang."


Alisnya terangkat, "udah selesai?"


"Udah. Kamu masih ada kelas atau udah selesai?"


"Udah selesai," angguknya.


"Mau pulang atau mau jajan dulu?"


"Pengen ketemu ibun," jawab Asmi.


"Tapi aku mau ke Vulcan." Ada raut wajah sendu di muka Asmi.


"Mau ikut?" ajak Alva, jelas saja diangguki Asmi, "mau!"


"Ah, kamu mah mau aja!" Alva terkekeh mengacak rambut Asmi gemas.


"Apalagi kalo diajak jajan, pasti mau!" tambahnya.


"Mau! Diajak nikah juga mau!" tawa Asmi, Alva membalasnya dengan serius, "bener?"


"Canda, kang." Ia nyengir.


"Kang, aku nunggu di gerbang utama ya?!" ujar Asmi menggoyang-goyangkan lengan Alva menggemaskan, seperti bocah kecil.


"Kenapa? Kan motor aku disitu." Dagu Alva menunjuk area parkiran gerbang keluar.


"Asmi lagi pengen lewat gerbang utama." jawabnya, namun Asmi tak pandai berbohong pada Alva, lelaki ini melepas tangan Asmi dan memilih memeluk lengannya sendiri dan menatap Asmi dengan sorot mata menginterogasi.


"Lagi bohong ya?" tembak Alva.


"Engga---suer, potong kuping kucing kalo boong," jawab Asmi.


Alva menarik senyuman miring dan mencondongkan badannya hingga tak berjarak pada Asmi, "kenapa ngga kuping neng daki aja?"


"Soalnya kalo kuping Asmi nanti dimarahin Komnas perempuan," jawabnya. Alva tertawa tanpa suara, "ngaco. Mau jujur atau aku yang cari tau sendiri?" tantang Alva.


Asmi menatap lelaki ini seraya menggigit bibir bawahnya, "ishhh!"


"Liat aja sendiri lah! Pokoknya Asmi nunggu di gerbang utama aja!" ketusnya cepat ingin segera beranjak, namun Alvaro malah menahannya dan menarik tangan Asmi ke parkiran.


"Biasakan hadapi masalah, bukan lari dari masalah. Kalo kamu lari-larian gini, dia justru ngga kapok buat datang, lelaki tuh kaya gitu!"


"Tapi kang, ih!" Asmi terpaksa berjalan bersampingan dengan Alva dan saling bergandengan.


Agah yang mencoba menghubungi Asmi, dikejutkan dengan kedatangan Asmi bersama Alva terlebih tangan Asmi yang digandeng Alvaro.


"Neng," sapa Agah saat berpapasan.


"Akang sengaja kesini buat jemput neng Asmi," ucapnya.


"Tapi Asmi biasa dijemput mang Dedi, kang." jawab Asmi.

__ADS_1


Tatapan Agah pada Asmi dan Alvaro sangatlah berbeda, jika saat memandang Asmi ia begitu lembut nan penuh sayang lain halnya pada Alva, seperti Alvaro adalah sebuah ancaman untuknya.


"Mang Dedi ngga akan jemput kamu hari ini, barusan akang telfon dan minta amih Sekar biar neng Asmi, saya yang jemput." ujarnya mengakui.


OHHH! Asmi dan Alva berohria bersama dan saling lirik, "minta amih kamu," cibir Alva berbisik pada Asmi.


"Kenapa kang Agah ngga hubungin Asmi dulu sebelumnya kalo mau jemput? Asmi ada perlu dulu, kang."


"Sama dia?" tunjuk Agah tak nyaman dengan kehadiran Alvaro. Sementara Alva hanya diam, tak sedikit pun berucap.


"Iya."


"Urusan apa?" tanya Agah lebih posesif. Belum apa-apa lelaki ini menunjukan tanda-tanda posesif dan otoriternya, apakah dia semacam amih wanna be?!


"Emangnya akang harus tau?" tanya Asmi lagi. Alva tidak sejulid itu untuk mencampuri urusan Asmi dan Agah, ia memilih beranjak menuju motornya lalu menunggu Asmi disana.


"Kang, Asmi tau...akang lagi mencoba meraih hati Asmi, tapi kalo harus mengekang gini, Asmi ngga suka..." ucap Asmi lirih.


"Maaf, bukan maksud Asmi tidak menghargai kang Agah....tapi Asmi memang punya urusan dulu," sebenarnya Asmi cukup tak enak hati menolak Agah begini. Tapi jujur saja ia tak suka dengan sikap Agah yang hampir mirip amihnya, bertindak sesuka hati seakan-akan Asmi miliknya.


Tanpa berucap, Agah memutar badan dan masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari sana dengan menelan pil pahit tanpa Asmi bersamanya.


Mata bening nan bulat itu menatap mobil Agah yang semakin menjauh, ada rasa tak enak hati dan sedih harus begitu pada Agah. Namun semakin Agah memaksa, hati Asmi justru semakin menolak lelaki itu.



"Naik," pinta Alva diangguki Asmi.




"Engga juga. Semuanya aku kerjain, desain...ikut printing, meeting bareng partner bisnis mpap, kasir, pramuniaga, packing juga." Suara Alva beradu dengan hembusan angin.



Asmi mengangguk-angguk paham, lelaki ini pekerja keras. Atau memang didikan dari kedua orangtuanya begitu.



"Kalo baju yang pernah Asmi beli, desainnya siapa?" tanya Asmi lagi.



"Aku."



"Pasti kang kuman lagi patah hati ya? Soalnya hatinya ketusuk belati?" tebaknya ngasal, membuat senyuman miring tersungging di bibir Alva.



Jika dulu Asmi datang bersama Elisa, kini ia datang bersama anak pemiliknya.


"Aa brad!"


Ciri khas Vulcan, musik bergenre cadas underground yang mengusung kebebasan terputar disini, namun kali ini lagu yang diputar agak sedikit melow.

__ADS_1


"Wey, bawa siapa brad? Cewek--ini teh cewek?!" tanya salah satu pegawai, kelihatannya mereka begitu akrab, meskipun notabenenya Alvaro adalah anak dari atasan mereka, tapi seperti tak ada kata canggung diantara mereka.


"Ya cewek atuh, masa rambut panjang dengan tubuh aduhai gini makhluk berjakun!" timpal satunya lagi.


"Teh," angguk dalam pria dengan tatto penuh se-lengan kanannya.


Asmi membalas anggukan, "panggil aja Asmi."


"Duduk dulu," Alva membawa Asmi di belakang meja kasir tepat dimana dirinya berada. Alva menaruh tas dan duduk sejenak di samping Asmi.


"Ngga apa-apa nemeninnya sambil kerja, kan?"


Asmi menggeleng, "justru Asmi yang minta maaf, sering ngintilin kamu kerja! Risih engga?" tanya gadis ini. Alva terkekeh, "kalo bilang risih, kamu pulang engga?"


Bibirnya merengur maju, "ya engga mau lah! Masa udah cape-cape ikut, harus pulang! Asmi mau liat kamu kerja, siapa tau nanti Asmi juga punya minat part time!" jawabnya sewot.


"Kamu mah udah banyak uang, ngapain kerja?" cibir Alva.


"Yang banyak uang apih Asmi, bukan Asmi! Asmi mah cuman numpang hidup, numpang makan, numpang tidur!" balas Asmi.


Karena jam sudah menunjukan waktu makan siang yang terlewat, beberapa pegawai Vulcan bergantian untuk istirahat.


"Tar, berentiin tukang cuanki!" tunjuk Dion berteriak.


"Mang! Cuanki!"


Seorang pedagang dengan tanggungan yang membawa serta kompor dan panci berhenti di depan Vulcan.


"Sok siapa dulu ini teh yang mau istirahat?!" tanya Dion.


"Gue dulu ah!"


"Gambreng!"


"Sok, gambreng ah...kalo ngga suit jepang!" ujar mereka heboh, senyum dan tawa kecil keluar dari bibir Asmi, "itu karyawan Vulcan lucu banget pake gambreng segala buat nentuin istirahat?!" ucap Asmi melihat pasukan hitam aksen orange itu gambreng mirip si unyil dan kawan-kawannya.


Alva menoleh sejenak ke arah depannya lalu tersenyum, "biasa itu. Biasanya aku juga ikutan,"


Asmi menoleh cepat, "oh ya? Akang kuman? Gambreng gitu bareng karyawan?" Alva mengangguk sekali.


"Emang kenapa? Karyawan itu bukan bawahan yang kastanya di bawah kita, tapi mereka partner bisnis..." jelas Alva, "kalo ngga asa mereka, kita ngga akan bisa urus bisnis sendirian. Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan!"


Ck! Ck! Asmi berdecak, "super sekali!" keduanya tertawa.


"Asmi mau cuanki juga, kang!" pintanya merengek pada Alva.


"Ya udah pesen aja! Paling ngantri terus disuruh gambreng!" jawab Alva.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2