Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 40. SISI LAIN ASMI


__ADS_3

Asmi menarik tali tas yang disampirkan di pundak sebelah kanan.


"Njirr, sejak kapan?Witwiwww!" goda Sony bersiul melihat Asmi. Gaya Asmi hari ini memang membuat terkejut sebagian orang yang mengenal sisi feminim dan lembut Asmi, meski tak jarang juga ia usil. Hanya saja, biasanya memang gadis ini selalu menunjukan sisi putrinya.


Dan hari ini, mereka seperti melihat sisi lain dari seorang Rashmi Sundari.


Tatapan Alvaro lekat pada gadis yang sama dengan gadis yang ditemuinya waktu malam dengan tatapan memandang ketus nan sengit kaya ngajakin tinju.


Alvaro berinisiatif untuk berjalan menghampiri Asmi, padahal Asmi tak berniat untuk datang ke arah basecamp anak antropologi. Alvaro melihat ada yang tak beres dengan Asmi kali ini, apa yang sedang terjadi? Sesuatu hal yang buruk kah? Baik kah?


Tapi langkah besar Alva terhenti dengan datangnya dosen, dimana ia masuk ke dalam kelas Asmi, hingga Alva mengurungkan niatannya untuk menyapa sang menak.


Bayangan perubahan Asmi mengusik otak seencer susu milik Alvaro.



Hingga saat waktu bubaran tiba, Alva segera keluar dari kelasnya, sungguh tak sabar menemui Asmi.



"Mi, dijemput akang-akangan!" tunjuk Elisa ke arah seorang lelaki dengan baju hitam senada dengan Asmi dan celana jeans, Alvaro menyampirkan jaket swetternya di pundak seraya bersandar di dinding, menunggu seseorang dari ruangannya.



Asmi menyunggingkan senyuman melihat Alvaro.



"Mi!" Fajrin menangkup kedua pipi chubby Asmi membuat kedua pipi itu tertekan mengerucutkan bibir merah Asmi, "ih gelo ih! Sakit," Asmi mendorong kepala Fajrin lalu menepis tangannya sambil mendengus tertawa.



"Bilang weh, pengen pegang-pegang!" omel Elisa ikut mendorong bahu Fajrin.



"Kamu teh jadian sama kang Alva?!" tanya nya menginterogasi mirip detektif conon.



"Kalo iya kenapa, kalo engga kenapa?" tanya Asmi menaikan kedua alisnya.



"Kalo engga ya engga apa-apa, cuma kenapa atuh meni jalan berdua terus?!" cecarnya menggerutu.



"Ya ngga apa-apa, sama kang ojol aja jalan cuma berdua, ngga rame-rame bawa satu keluarga!" jawab Asmi, Elisa meledakan tawanya, mamposss.



"Cih, maksudnya..." Fajrin menimbang-nimbang, "iya sii, ya masa naik ojek satu keluarga! Ah si Asmi mah!"



Asmi berjalan setengah berlari menyerbu Alva, "nungguin Asmi ya?" tembaknya nyengir lebar.



"Nonton teh jam berapa?" tanya Alva.

__ADS_1



"Jam 7 malem, kenapa? Akang ada acara?" jawab Asmi bertanya dengan mata penuh harap, takut jika Alvaro ternyata sibuk.



"Engga apa-apa, ngga ada."



"Asmi pengen ketemu ibun dulu, tapinya. Udah lama ngga ketemu."



Alva mengangguk memperbolehkan, "sekarang ya?!" mohonnya.



"Boleh."



Asmi tersenyum lebar saat Alva berkata boleh, lalu melingkarkan tangannya di lengan Alvaro, "Asmi mau belajar bikin bolu karamel sama ibun, Asmi juga mau belajar gitar, sama mau tau caranya ngerawat mawar!" ujarnya mengabsen berbagai kegiatan yang sudah ia rencanakan.



Sebenarnya Alva ingin bertanya serius pada Asmi namun gadis ini sudah berjalan duluan dengan riang gembira sambil bawa tas ranselnya mirip si dora, membuat Alva mengurungkan niatannya dan memilih menyimpan itu untuk nanti.



Asmi tak segan melingkarkan tangannya di perut Alva, layaknya sepasang kekasih. Alva tak tau kenapa Asmi bisa *se-agresif ini, hari ini*. Seperti bukan Asmi, atau ia yang baru mengenal Asmi?




Alva menyentuh kulit mulus pualam Asmi dan mengusapnya lembut dengan sebelah tangan, sementara tangan lain memegang stang motor kemudian keluar dari parkiran kampus menuju jalan besar.



Dipayungi langit cerah dan cuaca panas kota Bandung, keduanya hangat bersama, bahkan hingga merasuk ke hati.



"Akang kuman bisa bantuin tugas Asmi engga? Kayanya anak antropologi juga belajar materi sama, minimalnya tau lah." ucap Asmi.



"Materi apa? Siapa dosennya?"



"Bu Inge."



Alva mengangguk, "nanti coba kuliat," balasnya, "mau beli basreng dulu?" kekehnya, jajanan merakyat favorit Asmi jika melewati rumah-rumah di kompleknya.



"Boleh, traktir ya!"

__ADS_1



"Ibun, assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam," Ganis melepas kacamata bacanya dan menutup laptop. Asmi meraih punggung tangan Ganis lalu mengecupnya sayang, tapi di luar dugaan Asmi meminta sesuatu yang tak mahal dari ibu Alvaro ini.


"Meni baru kesini lagi," ketus Ganis lalu tersenyum hangat.


"Bun, Asmi boleh peluk engga?" pintanya. Ganis mengangkat alisnya, belum ia menjawab Asmi sudah menghambur, "pasti boleh! Makasih!"


Ganis terkikik, "nanya sendiri jawab sendiri, tapi jangan lama-lama nanti dia cepu!" tunjuk Ganis dengan dagunya ke arah Alva, Asmi langsung menoleh ke arah Alva dan tertawa, "takut dibilangin ke pacar gelap ibun ya, kalo ibun pelukan sama orang?"


Tawa renyah ibun kembali pecah, ibu Alvaro dan Bagas ini tak terlihat menggunakan daster, atau memang tak pernah memakai? Pasalnya Asmi selalu melihatnya memakai baju casual layaknya anak muda, kalau tidak dress rumahan ya legging dan kaos kebesaran.


"Peluk sekali lagi!" pinta Ganis, tentu saja Asmi kembali memeluknya erat, bahkan ia dapat mencium wangi aroma vanilla dan lemon citrus dari Ganis, ada mata yang memanas dari Asmi, "pasti bakalan kangen sama ibun," lirihnya.


"Kalo kangen ya tinggal datang kesini atuh cantik, kalo kang Alvanya kamu sibuk, datang aja sendiri pake ojol..." jawab Ganis.


Asmi mengurai pelukannya, "eh kenapa nangis atuh?!" jempol lembut itu mengusap ujung mata Asmi meski tak sampai bikin lecet namun mampu menghapus kesedihan, matanya menyipit demi terkekeh renyah, "engga apa-apa." jawab Asmi.


Benar, Alva melihat ada yang tak beres dengan Asmi.


Langkah kakinya membawa Asmi lebih memilih sibuk bersama Ganis di dapur, "ibun ada rencana buat bolu karamel engga? Asmi pengen belajar!"


Melihat nempelnya Asmi pada ibun, Alva menarik kursi meja makan karena ternyata disini ia hanya jadi orang ketiga saja.


Sesekali lirikan netra Asmi jatuh pada lelaki yang kini berwajah datar dan memajukan bibirnya. Sementara ia dan Ganis sibuk mengocok telur.


"Ini, gulanya kapan dimasukin bun?" Asmi benar-benar khusyuk belajar.


"Nanti kalo udah semuanya nyampur," jedanya.


"Ini terus aja dikocok, ibun mau ashar dulu!" ijinnya mengelap tangannya diangguki Asmi, "oke. Nanti gantian aja bun."


"Oke."


"Jadi disini aku cuma dikacangin?" tanya Alva kini menghampiri Asmi dan memainkan tepung, mencolekannya di pipi Asmi yang kedua tangannya sibuk mengocok adonan.


Ia hanya bisa mendesis galak, "ssshhh! Akang ih!" pelototnya galak.


Namun Alva tak gentar, ia kembali mencolekan sisa tepung hingga meninggalkan jejak putih di hidung Asmi, "nih, biar idung peseknya keliatan!" ia tertawa kecil.


"Akang kuman!" Asmi mematikan mixer lalu menaruhnya hati-hati dan meraup tepung saking kesalnya dan mencecar Alva.


"Alva malah kabur ke dalam kamar dan menutup pintunya tepat saat Asmi hendak masuk mengejar, "akang ih curang! Ngga mau ah! Kena idung Asmi!" jeritnya.


"Akanggg yuhuuuu! Pokoknya Asmi tungguin disini! Di gawang pintu liatin aja weh sok! Asmi guyur sebadan-badan sama tepung!" jeritnya.


Alvaro menggelengkan kepalanya di balik pintu kamar, ia lantas diam hanya mendengarkan Asmi mengomel dan berpikir sejenak tentang hubungannya dan Asmi. Lalu senyuman kecil muncul di wajahnya.


"Astagfirullah!" ibun Ganis keliar dari kamarnya lalu menemukan gadis berbalut tepung terigu, "gusti meni kaya careuh bulan!" (luwak/musang bulan)


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2