
Asmi menjambak rambut hitam yang terburai, selain karena tebal, namun rambut Asmi bergelombang besar di bagian bawah hingga membuatnya semrawut mirip tante kun.
Di jam segini ia belum mandi, bahkan belum mengganti pakaiannya, Asmi tak peduli.
Panggilan dari teman-teman kampus ia abaikan, termasuk pesan dari Alvaro.
"Neng, dibuka dulu ini apih."
Ceklek, jeblag!
Wajahnya kusut, "astagfirullah," gumam teh Nawang dan apih melihat tampilan kacau Asmi.
Gadis itu menatap apih dengan mata yang sembab dan datar, meraih punggung tangan apih dan menciumnya, "apih baru pulang?"
Apih menyentuh dan menangkup pipi Asmi, "neng Asmi udah makan?"
Asmi menggeleng, "belum. Asmi lagi diet, takut nanti den Agah ngga suka Asmi lagi, nanti den Agah batalin perjodohan, and then, Asmi kena semprot amih...katanya Asmi perempuan ngga tau diuntung----" mendadak mulutnya bergetar dan air matanya menganak sungai.
Nawang menggeleng tak kuasa melihatnya.
"Astagfirullah," apih memeluk Asmi dengan segala kehangatan seorang ayah, namun kemudian Asmi melepaskan begitu saja pelukan apihnya, "apih bilang, ada terlalu banyak kepala keluarga yang menggantungkan nasib perut anak istrinya di pabrik, di rumah, dan di resto, jadi Asmi kesampingkan urusan hati, urusan kebahagiaan demi apa yang menurut amih sama apih terbaik. Ada harga diri dan kehormatan yang harus Asmi dahulukan diatas urusan pribadi."
Asmi lantas melengos begitu saja melewati apih dan Nawang ke arah ruang tengah.
Nawang melihat seisi kamar Asmi yang berantakan, "ya Allah..."
Katresna, Bajra, Candra dan amih menoleh seketika.
"Neng,"
"Amih, sampein permintaan maaf Asmi sama raden ajeng Kutamaya juga den Agah...lain kali Asmi bakalan terima kalo dia jemput," kembali Asmi memukul hatinya ke dalam palung yang paling dalam hingga tak akan bisa kembali lagi.
"Asmi," a Bajra menghampiri adiknya yang kusut.
"Neng, ikut aa sebentar?" ajaknya. Asmi menatap Bajra dengan tatapan kosong, "kemana? Ke neraka?" ia terkekeh sumbang, "ini aja udah di neraka, a....mau kemana lagi?"
Katresna sudah terisak dan beranjak dari sana sedikit menjauh namun tak pergi.
"Asmi!" tegur amih.
"Ke rumah sakit," jawab Bajra membujuk.
Asmi menggeleng, "Asmi ngga sakit!" ia melengos pergi sambil merapikan rambutnya, ambu! Ambu Lilis, Asmi mau dibikinin bandrek, boleh ngga?! Yang instan aja, ngga apa-apa!" teriaknya ke arah dapur.
"Amih liat?!" tanya Bajra. Apih ikut bergabung bersama anak menantunya.
"Nawang udah ngomong sama temen psikiater, udah bikin janji juga. Cuma tinggal nunggu neng Asminya aja,"ujar Nawang.
"Asmi ngga gila, Nawang!" sahut amih meradang saat Nawang mengatakan psikiater.
"Psikiater bukan untuk pasien gila aja mih," jelas Bajra.
"Apih yang salah, terlalu memaksakan kehendak. Apih yang terlalu berharap tinggi tanpa mau tau perasaan Rashmi, sebelum semuanya terlambat. Bujuk saja atau paksa Asmi menemui psikiater..." titah apih turun.
"Pih, Asmi itu baik-baik aja! Cuma harus dikontrol pergaulannya!" Amih masih beralibi, sikap koersifnya adalah bentuk defensif terhadap logikanya sendiri yang mengatakan jika andilnya pun besar atas apa yang terjadi pada Asmi.
"Astagfirullah mih, coba amih lihat pergaulan Asmi! Asmi tidak mempunyai banyak teman dan kita tau itu, kita juga tau mereka! Jadi salah dimananya? Salah Asmi memiliki teman?!"
Katresna ingin sekali memukul kepala mertuanya dengan palu, yang salah bukan pergaulan Rashmi, namun otak mertuanya yang terlalu terobsesi dengan kehidupan sempurna Asmi, ia seolah me-reka hidup Asmi sedemikian rupa seperti Asmi adalah bonekanya sesuai dengan apa yang ia mau.
Kayanya mertuanya itu waktu kecil kurang banyak main barbie!
__ADS_1
Katresna berdesis, "enaknya amih tuh diapain sih teh!" bisiknya pada Nawang.
Asmi bergulingan di atas ranjangnya, malam ini ia kesulitan untuk tidur.
Mengerjakan tugas kampus pun percuma karena otaknya mendadak koslet, tak bisa berpikir.
Asmi hanya memainkan ponselnya dan mihat sosial media, ia hanya berpikir biasanya ia akan mengantuk dengan memainkan ponsel.
Tiba-tiba sebuah notifikasi mendarat di ponsel Asmi.
*Belum tidur*?
Senyuman terbit di wajah Asmi diantara cahaya lampu ponsel, "kang kuman?"
*Udah* 😴
Jawabnya, sontak saja langsung dibalas dengan emot wajah malas dari Alva, Asmi tertawa kecil disana, mengingat wajah itu mewakili wajah datar Alvaro saat ini.
Asmi melebarkan senyumannya mendapatkan perhatian Alvaro.
*Akang juga belum tidur*.
Alvaro sedang mengetik pesannya dan Asmi tak sabar mendapatkan jawaban Alvaro, paling ngga jauh jauh dari kata iya atau enggak.
*Ini mau tidur, tapi kamu juga harus tidur*. Pinta Alvaro, Asmi mengangguk di tempatnya, cukup lama mereka malah berdebat saling mengirimkan pesan hingga akhirnya Alvaro meminta Asmi segera mematikan ponsel.
*See you kang kuman, nice dream*.
*Too, sleep well daki*.
Meski hanya jawaban singkat dan se simpel itu, Asmi merasa nyaman dengan Alvaro, tak ada kepura-puraan, keterpaksaan dan bujuk rayu. Semuanya mengalir seperti yang mereka inginkan dan rasakan saat ini.
__ADS_1
Asmi tak banyak bicara seperti biasanya, ia terkesan diam nan hening di meja makan.
Jika ditanya ia menjawab seperlunya, tak ada lagi celotehan usil yang dapat membuat gelak tawa seisi penghuni meja makan bahkan rumah, ia benar-benar menjadi seperti yang amihnya mau.
"Asmi ijin keluar abis magrib." ucapnya terjeda.
Amih langsung melihatnya sengit, "mau kemana?"
"Dikasih tiket sama teh Katresna, nonton teater mau ajak temen. Sayang daripada mubadzir." jawabnya dingin. Apih menatap amih sengit saat istrinya itu akan membuka mulut.
"Mau ditemenin mang Dedi?" tanya apih.
Asmi mengangguk, "boleh. Biar mang Dedi ngga kena semprot lagi, kasian."
Apih menghela nafasnya melirik amih, ia memang tau jika istrimya itu terlampau protektif pada putra-putrinya namun ia tak sampai menyangka jika Sekar Taji akan sebegitu memusatkan sikap posesif terhadap Asmi.
Asmi memang istimewa, Asmi memang disukai oleh seseorang yang diidamkan banyak ningrat lain tapi ia juga tak menyangka jika istrinya sampai mengorbankan Asmi.
Setaunya dari sang istri, Asmi ada respon terhadap Agah tapi nyatanya.....
"Apih," matanya membeliak, namun digelengi oleh sang suami.
Asmi keluar dengan celana jeans robek di beberapa bagian, tak peduli amih akan melotot dan berubah jadi hulk, ini mungkin bisa dikatakan bentuk dari sikap berontak Asmi terhadap otoritas amih.
"Astagfirullah!" seru amih saat Asmi berdiri dari kursinya. Padahal Asmi masih berpakaian, bagaimana jika Asmi sampai telan jank?!
"Neng Asmi!" teriaknya. Asmi berlari keluar rumah dan meminta mang Dedi segera tancap gas.
"Asmi?!" Fajrin terkekeh melihat outfit Asmi hari ini.
"Wewwww, neng Asmi! Kemana atuh gaya!" tawa Elisa, sebenarnya ia sudah tak aneh melihat outfit begini. Hanya saja Asmi tak pernah seperti ini saat akan pergi kuliah ataupun terang-terangan begini, Asmi akan edann hanya pada waktu malam konser!
"Sekali-kali!" jawab Asmi. Jujur saja Asmi terlihat lebih rawrrr! Tanpa gaya feminimnya.
"Va, itu Asmi?!" tunjuk Filman.
Alvaro mengarahkan pandangannya pada arah telunjuk Filman.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1