Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 56. TUMBANG


__ADS_3

Sesekali Asmi terguncang karena goyangan mobil di jalanan yang tak mulus. Tapi sepertinya itu tak mengganggu ia untuk melamun.


Kembali mang Dedi sadar akan hal itu, sudah pasti masalah tak hilang-hilang dari majikannya itu.


Mobil sudah berbelok ke blok perumahan Asmi, senyuman mang Ajat bahkan tak membuat Asmi mau membukakan jendela kaca mobil seperti biasanya.


Ajat menutup kembali pagar menjulang itu dan berlari menyongsong Asmi, "den, den rara!" ia menyamakan langkahnya.


"Kenapa mang?" Asmi menoleh.


"Tadi pagi kang Alvaro jemput kesini, tapi den rara udah berangkat ngampus." lapornya. Alis yang memang sudah mengernyit karena silau semakin mengernyit, "jemput?"


"Terus, mamang bilang apa?"


"Den rara udah pergi sama mang Dedi, tapi tadi raden nganten ngajak masuk terus ngobrol berdu, den."


"Amih?!" matanya membeliak, diangguki Ajat.


"Ya udah makasih mang," jawab Asmi masuk ke dalam, pikirannya menerka-nerka apa yang amihnya bicarakan dengan Alvaro, sudah pasti sesuatu yang buruk.


Asmi segera masuk ke dalam kamar, dan mencoba menghubungi Alvaro, Asmi kembali mengingat nyanyian di kampus tadi, mendadak hatinya khawatir.


"Ih, ini orang kemana juga giliran dicariin ngga ada!" dumelnya. Belun Asmi mengganti pakaian, nyai Wenti sudah berada di rumahnya.


"Den rara, nyai Wenti udah datang, nunggu di pendopo." Ambu Lilis mengetuk dan berlalu begitu saja setelah menyampaikan pesannya.


Asmi terpaksa menaruh ponselnya begitu saja di kasur mengingat nyai Wenti adalah orang yang tidak suka menunggu.


Asmi kembali berlatih sebelum lusa ia perform di kampus Obor Kujang. Cukup lama karena terselang oleh makan siang juga.


"Wen! Makan siang bareng!" ajak Amih saat ia masih mengawasi Asmi.


Wenti mengulas senyuman diantara kulit yang di beberapa bagiannya keriput.


"Kita makan siang dulu, den rara."


Asmi mengangguk, mungkin rasa trauma terhadap amih berangsur pudar karena afirmasi positif berikut vitamin dan obat yang dikonsumsi Asmi, namun kini rasa kesal yang menggantung di dhada sudah hampir jatuh karena begitu beratnya.


Asmi diam saat duduk manis dan makan diantara obrolan nyai Wenti dan amihnya, sungguh ia sedikit tak nyaman. Kendati demikian Asmi sudah terbiasa dengan itu.


Sikap duduk tegak sempurna terlihat karena diantara penari jaipong 3 generasi yang duduk di meja makan ini. Sasi sampai mengerem pakem langkahnya dan mengurungkan niatan untuk makan siang di meja makan.


Bisa jadi besok ia dikirim ke sanggar jika ikut memunculkan batang hidungnya di depan amih, atau nyai Wenti.


"Gawat, negara api menyerang rumah apih ini mah!" Sasi langsung menarik semua bagian dari tubuhnya dari belokan ruang tengah menuju ruang makan, lebih baik menahan lapar ketimbang makan diantara para ronggeng itu, menurutnya Asmi bernasib kurang beruntung dilahirkan dari amih dan berada dalam circle nyai.


Ia dan Asmi memang cukup kompak sebagai adik-kakak, bahkan baju lebaran aja dulu disama-samain beli 1 gratis 1, tapi untuk urusan satu ini ia rela dipecat sebagai adik demi menyelamatkan diri. Beruntung sekali dirinya yang lahir setelah Asmi, karena semua obsesi amih jatuh bersama kelahiran Asmi.

__ADS_1


"Huuu, mendingan beli cilok dulu buat ganjel perut!" ucapnya kembali ke dalam untuk mengambil uang.


Langit sepertinya sudah terlalu berat menampung gelayut awan mendung. Hawa panas menaikan suhu dan menguapkan air ke atas, setelah terdengar gemuruh rintik-rintik hujan mulai turun membasahi seluruh dahaga makhluk-makhluk penghuni bumi.


Termasuk meluruhkan emosi dan hawa panas.


"Wah, hujan nih!" Asmi dapat merasakan hawa sejuknya menyentuh kulit, ia menengadahkan telapak tangan ke luar pendopo demi merasai kucuran air hujan bersama semua rasa haru hari ini.


"Kang kuman lagi ngapain ya?" ia belum bisa menghubungi Alvaro mengingat masih berada di pendopo bersama amih dan nyai Wenti, menemani keduanya ngeteh sore-sore. Sebagai ningrat, tata cara ngeteh cantik sudah khatam Asmi pedomani.


"Neng, tehnya keburu dingin ngga enak buat diracik!" ia tau itu artinya amih memintanya duduk melipat kaki sampai kesemutan sambil minum teh hingga kembung.


"Iya." Asmi duduk melipat kedua kaki dan lututnya macam duduk di keraton. Tangannya mengambil teh giling dan memasukannya ke dalam teko dengan penyaring, lalu memasaknya di atas kompor kecil.


"Asmi mau buat yang baru aja," ucapnya, ia menuangkan itu setelah mendidih dan memasukan gula batu lalu mengaduknya kecil, terkadang juga gula batu tidak masuk ke dalam teh hanya ia gigit ujungnya lalu meneguknya dengan teh panas.


Alvaro lupa tak membekali diri dengan jas hujan, hari ini ia begitu sibuk bolak-balik memasok bahan kaos mulai dari bahan rayon, kw'an hingga yang bagus berkualitas. Ia juga mondar-mandir menemui pemasok dan distributor.



Kepalanya cukup berdenyut. Sehebat-hebatnya manusia ia akan tetap sakit pada waktunya. Baju Alva yang basah sampai berkali-kali basah lagi. Namun memang no pain no gain.



Alva menyulut rokok demi mendapatkan kehangatan, sudah jam 5 sore ia masih keluyuran, mungkin setelah ini ia akan kena omel ibun.




Suara deru mesin motor sampai di halaman rumah, akhirnya ia bisa merebahkan semua rasa lelah dan menikmati sup hangat buatan ibun.



"Astagfirullah! Ini mah kebiasaan ih!" ibun datang dengan centong sayurnya, berharap ia bukan dayang sumbi yang memukulkan itu ke kepala Alvaro.



Alva terkekeh, "tanggung bun, kalo berenti dulu!"



Ibun tak pernah ketinggalan dengan wajah garangnya, " kebiasaan! Kalo sakit siapa lagi coba yang ngerasain! Siapa yang susah?!" Ganis menjewer putra pertamanya yang benar-benar mirip Wira, pekerja keras.



"Nyari duit segitunya sampe ngga inget kesehatan, percuma dapet uang tapi uangnya dipake berobat!" omelnya masuk mengambilkan handuk dan memberikannya pada Alva yang membuka jaket, kaos serta celana jeans yang sudah kuyup kemudian meletakannya begitu saja di bawah.

__ADS_1



Ganis memungutnya dan memasukan itu ke dalam mesin cuci, ia juga membuat susu coklat hangat dan menyiapkan makan Alva dengan menghangatkan kembali sop.



Alvaro mengeluarkan ponsel dan buku-buku penting dari bagasi motor agar tak kehujanan kemudian mengecas ponsel'nya di kamar.


Hatcim!


Alvaro menggosok hidung dan meringkuk di atas kasur, kepalanya kleyengan, badannya terasa panas dingin.


"Bang Alva kemana? Tumben ngga keluar?" tanya Bagas dengan stelan kaos dan celana selututnya.


Wira ikut setuju dengan Bagas, biasanya jam segini anak-anaknya itu akan keluar karena Ganis selalu membuat cemilan.


"Alva sakit, bang Nat kasih job apa sih sama anak?! Dia pulang ujan-ujanan," omel Ganis.


"Apa? Kaya biasanya aja gantiin aku..."


"Dia pulang basah kuyup, kayanya badannya juga lagi ngga vit, makanya tumbang! Persis kaya bang Nat banget! Ngga mau nunda-nunda kerjaan, minimalnya sampe ujan reda kek gitu!" Ganis membawa serta obat dan air putih hangat di atas nampan dan membawanya ke dalam kamar Alvaro, tak lupa cemilan kroket mayo dan smoke beef yang Ganis buat.


Ceklek


Meskipun putranya itu sudah besar, tapi perasaan seorang ibu akan selalu menganggapnya putra kecilnya. Terlebih jika sedang sakit begini.


"Abang Alva, ibun bawain cemilan sama obat...minum dulu terus abis itu terusin lagi tidur, biar besok bisa mendingan."


"Nanti aja bun," ia membuka matanya sedikit demi melihat ibun masuk meski terlihat samar dan pusing. Kepalanya itu terlalu berat untuk sekedar berpindah.


"Cepet ah! Ngga mau nunggu nanti, ibun maunya sekarang!"


Mau tak mau meski merasa pusing dan mual, Alva menurut saja karena ibunya itu akan lebih manja dari orang sakit jika sudah berkeinginan.


Ganis duduk dan membantu Alva, "tuh kan masih panas," ia memegang kening dan leher Alva.


"Mau ibun olesin pake kayi putih ngga badannya?"


Sontak Alva menggeleng kuat, "ngga usah." ia terkekeh, seperti bayi saja.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2