Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 23. ONE STEP CLOSER


__ADS_3

Jika telinga bisa disamakan dengan ketebalan ban motor, mungkin saat ini telinga Asmi sudah aus dan gundul, bocor terus tiap hari akibat omelan amih setiap waktu.


Ngung---ngung---ngung----


Kaya bunyi sayap lebah yang masuk ke dalam kepala, tiap kali amih ngoceh, ceramahin Asmi, dan gadis itu hanya meloloskan nafas lelahnya masuk ke dalan peraduan.


Bukannya nangis, gadis ini malah cengar-cengir sendiri kaya kambing baru dapet undian rumput sekandang. Jatuh cinta emang se ngehhhee itu ya!


"Dasar jelek! Jutek ih!" kekehnya menertawakan Alva yang seolah menari-nari dalam ingatan. Asmi segera masuk ke dalam kamar mandi dan mulai bersih-bersih mengingat waktu hampir magrib, dan pantang gadis sepertinya mandi saat magrib.


Tatapan mendelik sinis amih, mirip-mirip tatapan se tan kalo kurang sajen, nyeremin, tajam, silau!


Apih dan Sasi saja merasakan aura kemarahan amih dalam jarak 3 meter, item-item bau angus!


"Iya, Asmi salah." Ia kembali mengalah, karena memang sejak tadi ia sudah mengalah namun amih tetap dalam mode senggol bacoknya.


"Ya da gimana lagi atuh mih, namanya juga mahasiswi. Pasti punya segudang kegiatan, kalo ngga tugas akademik ya tugas sosial, tugas di luar materi kampus, tugas kampus aja sering melibatkan kegiatan di luar kampus kok. Amih kalo ngga percaya sama Asmi bisa cek website nanti hari rabu, bisa liat kalo Asmi beneran nugas!" tantangnya.


Mungkin esok atau lusa, ia akan lebih sering keluar rumah entah dalih apa yang digunakannya. Berbohong itu ternyata enak!


"Amih pegang kata-kata neng! Kalo amih liat website terus neng Asmi bohong, neng tau resikonya."


Asmi mengangguk paham, matanya memutar, mungkin semua kegiatan kampus akan ia ikut mulai sekarang, biar bisa nyolong-nyolong waktu ketemu ibun Ganis. Great! Ide briliant!


Asmi berjalan cepat ke arah kelas, ia pikir sudah terlambat padahal di dalam kelas rekan lain masih pada santai rebahan dan ngobrol, tau gitu Asmi ngga usah jalan ngebut mirip orang nahan mules, Elisa menoleh saat Asmi baru saja datang, "tumben den rara telat? Mi, nanti pulangnya kumpul bareng anak Rampes buat liat hasil kemasan vlog!"



Asmi menjatuhkan semua rasa lelah di atas kursi, "macet banget. Oke!"



Beberapa pesan Agah, hanya Asmi jawab sekenanya saja tanpa ada basa-basi berlebih.



Hati yang menggebu, tak sabar untuk melihat si wajah jutek sudah menggedor-gedor palung hati, cieeee! Orang kalo jatuh cinta ee ayam aja keliatan kaya coklat!



"Mi, kira-kira kang Anjar tuh suka apa ya?" tanya Elisa tiba-tiba dengan wajah dipenuhi bunga mirip kuburan.



Pertanyaan Elisa membuyarkan fokusnya dari ponsel dimana ia baru saja membalas pesan Agah lalu memasukan itu ke dalam tas.



Tangannya menopang dagu yang terasa seberat beban dosa fitnah, "mana Asmi tau, Asmi bukan mamahnya!"



"Kalo menurut kamu ya, Mi. Kang Anjar suka ngga ya sama aku?" Elisa menanyakan pendapat Asmi dengan wajah berseri-seri kaya abis dapet rejeki nomplok.



Kembali Asmi mengernyitkan dahinya yang sudah pusing dengan semua masalah-masalah yang ada, "ngga tau Sa, Asmi bukan cenayang yang bisa baca pikiran orang! Lagian kenapa ngga bilang suka aja sih?!" celetuknya yang justru diamini oleh Elisa.



"Ide bagus, sistah! Kenapa ngga Elisa bilang aja ya?! Udah ngga jaman cowok yang nyosor duluan! Raden Ajeng Kartini tuh udah berjuang keras loh, buat menyetarakan hak! Masa lelaki yang selalu start pertama, cewek juga jangan mau kalah!" usul Asmi justru dianggap lain oleh Elisa, sontak saja Asmi menggeleng kuat, "maksud Asmi bukan gitu ih, oon! Malu-maluin ih! Kamu mau nembak kang Anjar?! Idih!" wajah Asmi mendadak nyinyir.

__ADS_1



"Terus?" tanya Elisa.



"Jangan ditembak lah! Bilang aja suka, tapi ngga usah minta kang Anjar jadi cowok kamu, biar dia mengerti kode kamu, kalo dia ngga berniat nembak kamu, berarti itu artinya dia ngga punya rasa yang sama. Jangan jatohnya jadi kamu yang ngejar-ngejar kang Anjar," omel Asmi mendumel.



Elisa beroh ria, "thank you my sistah!" Elisa langsung memeluk Asmi.



Dan jadilah saat ini, Asmi juga Elisa berjalan ke arah gedung etnostudi, namun kehadiran mereka disambut keriuhan anak KMT dan Rampes yang kini bersorak ria, menyoraki seorang pemuda tengah berlutut di depan anak KMT lain yaitu Cintya.


Mata Asmi membeliak dan menganga di tempat seraya menoleh getir pada Elisa.


"Cin, gue suka sama lo. Mau jadi pacar gue ngga?"


Elisa benar-benar tak menyangka jika bunganya harus layu sebelum berkembang.


"Mi," Elisa memeluk Asmi dan menumpahkan seluruh rasa sakit, kecewanya di pundak Asmi.


Disaat yang lain riuh kaya nyorakin adu pitbul, Elisa merasakan sesak di dada, "kaya gini ya rasanya sakit! Kaya gini rasanya patah hati! Pantes aja kemaren-kemaren aku sering liat kang Anjar deketin Cintya, akunya aja yang ngga peka, Mi." suaranya bergetar diantara tangisan dan latar anak-anak yang beruforia karena Cintya menerima Anjar.


Mata Asmi tak sengaja bertemu dengan netra hitam Alva di sudut belakang, tengah memegang gitar bersama Filman dan Sony, seolah netra kelam itu mengunci Asmi disana.


Asmi mengusap punggung Elisa, memberikannya ketenangan, kemudian membawa Elisa menjauh dari sana.


"Mi, aku ngga mau kesana lagi deh! aku mau pulang aja, kalo kamu mau liat, ngga apa-apa, aku pulang aja." pintanya.


Elisa mencebik dan menepuk lengan temannya itu, "engga lah! Emangnya cowok cuma kang Anjar aja! Aku cuma butuh waktu buat sendiri aja dulu,"


"Iya. Ya udah, nanti Asmi ke rumah kamu deh ya,"


Asmi mengantarkan Elisa sampai di parkiran, melihat wajah lusuh nan sembab temannya itu, apakah nanti ia pun bernasib sama dengan Elisa jika suatu hari melihat Alvaro bersama yang lain, atau justru ia yang harus mengubur rasa indah ini.


Asmi kembali, ia memilih duduk di samping Fajrin. Sementara Cintya berada di samping Fajrin dan Anjar.


"Mi, lama! Dari mana, kamu kelewatan adegan romantis! Si cabe mana?" tanya Fajrin.


"Heem. Memet mana memet?" tanya Cintya.


"Elisa mendadak mules-mules, jadi balik! Adegan apa gituh?" tanya Asmi.


"Selamatin atuh Mi," Anjar ikut bersuara.


"Nih, neng Cin-cin jadian sama kang Anjar!" jawab Fajrin.


"Ohh, selamet! Peje atuh nih!" seru Asmi pura-pura tak tau.


"Wah rame pokonya mah Mi, gini nih tadi teh!" Fajrin tiba-tiba berlutut di depan Asmi, "neng Asmi, aa suka sama neng Asmi, mau ngga jadi cinta sehidup semati a Fajrin?!"


Asmi, Fajrin bahkan Cintya yang tangannya bergandengan terus dengan Anjar tertawa, Asmi malah memasang kuda-kuda dan mematuk jidat Fajrin dengan ujung-ujung tangannya, "sok ngomong sama tangan Asmi, biar dipacok!" (patok) membuat mereka tertawa, meski di lubuk hati sana Asmi merasa sedih untuk Elisa.


"Cantik-cantik gelo ah!" ujar Fajrin membuat gerakan tertembak dan jatuh terjengkang ke belakang hingga rebahan di jalanan dan kembali mereka tergelak. Asmi dan Fajri adalah pasangan kamvrettnya anak teater apalagi jika ditambah Elisa.


Alvaro melihat Asmi disana meski tangannya memetik senar gitar bersama suara lirih dari Sony dan Filman.


"Hayuk atuh, mana ih?! Asmi belum liat, Jrin?!"

__ADS_1


"Tuh, minta trio swara nunjukin lagi videonya, soalnya tadi Asmi telat sih!" ujar Anjar.


Asmi menolehkan kepala ke arah trio padusnya Rampes, "malu ah kang," jawab Asmi, pasalnya ia selalu jadi bahan gombalan anak Rampes.


"Cie, takut digombalin ya Mi?!" Anjar menepuk tangannya memanggil Sony, "Son, Asmi mau liat vlog!" teriaknya, Sony mengangguk dan meminta Asmi mendekat, "tuh jig Mi!" tunjuk Cintya.


"Awas macok Mi!" seru Anjar tertawa, Asmi mengembungkan pipinya lalu melangkah menghampiri Alva, Sony dan Filman.


"Mau apa neng?" goda Saka yang ada disana juga.


"Mau liat vlog." Jawab Asmi.


"Ngga mau ah, harus mau jadi pacar Saka dulu ah!" ujar Saka menggoda. Sony terkekeh mendengar temannya itu, "jangan diganggu atuh Son!"


"Sini!" ajak Alva mengambil inisiatif mengajak Asmi yang sudah berwajah masam.


Dengan menenteng laptop, Alva menggiring Asmi untuk duduk menjauh dari yang lain.


"Kenapa balik lagi?" tanya Alva tanpa mengalihkan fokusnya dari laptop.


Asmi membeo, mengira jika Alva bukan sedang bicara dengannya, "hah? Oh, itu tadi Elisa mendadak sakit."


"Gue kira gara-gara liat Anjar sama Cintya," acuhnya mengklik file disana.


Asmi tersenyum mengehkeh, "jadi selain anak media akang itu nyamar jadi anak antropologi budaya yang hobbynya baca hati orang?!" tembak Asmi menunjuk wajah Alva gemas, Alva menangkap telunjuk lentik itu membuat si empunya mencebik manyun.


Asmi memperhatikan video dirinya dan Fajrin yang telah diedit dan disempurnakan oleh anak Rampes, sementara Alva memperhatikannya seksama yang sesekali tersenyum geli.


"Ini tuh ada yang di skip gitu ngga kang?" tanya nya.


"Ada, sedikit. Durasi soalnya," jawab Alva.


"Hm," angguk Asmi. Sadar akan tatapan Alva, Asmi mendelik, "apa sih?! Ada yang aneh ya?!" tembaknya khawatir. Alva mengangguk, "lo," tawanya. Apa? dia tertawa?!


"Ck!" Asmi berani mendorong pundak Alva, "nyebelin..."


"Ibun ada di rumah engga?" tanya Asmi, saat ini jarak keduanya benar-benar dekat.


"Mau apa?"


"Mau maen," jawab Asmi.


"Ada. Mau ke rumah?" tawar Alva, tentu saja Asmi tersenyum lebar, "mau."


Alvaro melirik jam di tangannya, "masih ada kelas engga?"


Gadis itu menggeleng, "engga ada. Akang masih ada? Biar Asmi tungguin?"


Alva menggeleng, "yuk."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2