Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 41. BANTU AKU BERJUANG


__ADS_3

Alvaro tertawa puas sampai kulit perutnya terasa pegal, tak perlu hiburan sampai mengundang komedian, dengan menghadirkan Asmi saja sudah menjadi hiburan tersendiri untuknya. Atau hatinya saja yang akan seperti pelangi setelah hujan jika Asmi disini, hingga membuatnya selalu bahagia.


Asmi terpaksa harus numpang mandi di rumah Alvaro karena dirinya yang sudah seperti dodol ladu, untung saja ibun tidak memungut bayaran kaya di wese umum.


Alvaro benar-benar membuat Asmi menjadi penganan moci, putih-putih, manis kenyal.


"Udah, pake baju ibun aja," Ganis memberikan pakaian ganti miliknya pada Asmi dengan wajah manyunnya yang tak henti mengomeli Alvaro, "anak ibun tuh ngga ketulungan ih usilnya!" Asmi merengut kesal.


"Ibun ngga punya anak perempuan jadi baju ibun buat Asmi aja."


Sejenak wajah manyun itu merekah, "sedekah sama menak ya bun," tawa Asmi berkelakar dan itu cukup membuat ibun mengembangkan senyuman.


"Menak apaan, menak kok maunya disumbang!" Alva melahap kue bolu yang akhirnya jadi juga, meskipun direcoki. Dan rasanya bisa dimaafkan, karena ada andil ibun di dalamnya. Kalau Asmi seorang yang membuat, alamat oven ibun meledak karena tak kuat menanggung beban malu menampung kue buatan Asmi.


"Biarin!" sengak Asmi galak lalu masuk kamar mandi.



"Makasih bun, bajunya cocok!" jawab gadis ini melirik-lirik baju yang wangi pelembut pakaian meski bukan baru namun terlihat terawat.



Asmi masih komat-kamit mengomel pada Alvaro sesekali melempar barang-barang di atas meja pada lelaki itu, padahal ia sudah mandi dan mengganti bajunya. Moment keusilan barusan, ia tak ikhlas ! Karena Alva tak bisa ia balas. Lelaki itu curang!



"Dingin ngga?" tanya Alva. Asmi mengikat tali sepatunya selagi Alva keluar dengan jaketnya.


"Lumayan. Asmi lupa ngga bawa jaket." ia terkekeh, lalu sejurus kemudian Alva kembali dan keluar membawa swetter tebal milik Ganis.


"Pake." pintanya singkat menjatuhkan swetter yang kemudian menumpuk di pundak Asmi.


"Punya siapa?"


"Punya ibun, kalo punya aku...nanti keliatan banget dapet pinjemnya!" kekehnya mendapat cebikan kesal dari Asmi.

__ADS_1


"Berasa dipeluk ibun," Asmi memeluk dirinya sendiri yang berbalut swetter Ganis.


Jangkrik dan kodok saling bersahutan membentuk satu kelompok paduan suara meskipun tak semerdu suara Mahalini dan harus berbagi ruang dengan bisingnya suara kendaraan serta riuh para penghuni perumahan.


Diraihnya tangan mungil Asmi, dan ia masukan ke dalam saku jaket biar tetap hangat, ada senyuman hangat menguar hingga ke ubun-ubun saat Asmi memastikan kedua tangannya dibawa Alvaro ke dalam saku.


Ia tak akan bertanya apakah dirinya berarti? Karena Asmi terlalu takut, ia hanya ingin menghabiskan hari ini bersama sang Arjuna, tanpa memikirkan apapun lagi.


Helaan nafas menusuk begitu segar, itu artinya mereka sudah masuk ke kawasan Dago.


Semilir angin malam yang dingin tak serta merta dapat membekukan perasaan hangat Asmi dan Alva.


Parkiran nampak ramai sekaligus riuh rendah, di area taman budaya dengan panggung terbuka berkapasitas 1200 penonton ini, teater menyuguhkan suasana mendukung, belum apa-apa Asmi dan Alva dapat merasakan aura syahdu dan sedikit bumbu mistis.


Alva merapikan rambut Asmi, bukan rambutnya, hingga Asmi tak bisa untuk tak memperhatikan Alva balik.


"Kamu kalo dibuka iketannya jadi kaya model sampo!" tawa Asmi menyugar dan menyisir rambut Alva.


Asmi menyemburkan tawanya saat dengan tiba-tiba Alva berucap, "aku? Jadi duta shampoo lain?! Ups!"


Asmi memukul-mukul lengan Alva karena sungguh wajahnya itu bikin geli, "hahaha! gantiin Anggun!" Asmi menjambak gemas rambut Alvaro yang tergerai berhamburan saat ia menyugar dan menyisir dengan tangannya, "Asmi pasti bakalan kangen kaya gini," lirihnya menunjukan raut terharu dan sedih, sambil terus menatap wajah rupawan dengan rambut hitam legam. Dulu, Asmi sangat ingin menjambaknya sampai botak karena begitu kesal dengan si pemiliknya yang jutek dan bermulut cabe.


Asmi menggeleng, sejenak ia diam nan ragu, kemudian bibirnya bergetar, "amih kekeh jodohin Asmi sama den Agah, kang. Ada beban di pundak Asmi, beban beraaattt banget." akuinya jujur yang kini menunduk memberikan akses untuk lelehan air matanya mengalir bak hujan dibulan November. Asmi sungguh sudah tak kuat lagi menahan beban hati dan mental, ia sakit.


"Bibit, bebet, bobot jadi syarat yang paling utama buat amih tanpa berpikir Asmi terkekang, Asmi tersakiti. Ada kehormatan, harga diri dan ribuan perut yang bergantung di bisnis apih sama amih. Hhhh----" helaan nafas berat hampir tak bisa Asmi keluarkan ketika dadhanya mulai sesak.


"Kalo Asmi nikah sama den Agah itu bisa menjamin kelangsungan masa depan semuanya," lanjutnya.


Asmi menyandarkan ujung kepala di dadha Alva seolah sedang menubruknya, dan kali ini kepalanya itu terlalu berat hingga hampir limit, terjatuh, dan menggelinding ke arah kaki, dapat Alva rasakan itu.


Alvaro mengusap kepala Asmi dan membawanya tegak kembali, ia hanya bingung harus berkata apa, solusi pun tak punya, ayahnya benar, memperjuangkan Asmi butuh mental dan modal yang kuat.


"Semuanya bakal baik-baik aja, jangan pernah nyerah gitu aja. Kalau memang apa yang terjadi dengan kita harus diketahui keluarga kamu, maka beritahulah, aku siap!"


"Aku akui, jika dibandingkan dengan Agah...aku kalah telak Asmi, tapi untuk urusan hati....aku ngga bisa diem aja tanpa berjuang. Janjiku buatmu,"

__ADS_1


Asmi menggeleng, "kamu bakal remuk duluan Alvaro," jawabnya sangsi.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama masih punya Tuhan. Kalah saat berjuang lebih baik ketimbang diam dan tak memperjuangkan..."


"Udah, ngga usah nangis terus. Aku tau sejak memilih melihat kamu, maka aku harus siap dengan jalanan terjal terutama keluargamu. Dan please, kamu pun jangan menyerah, bantu aku untuk berjuang..." Alva menghapus jejak air mata di wajah Asmi, mata dan hidung yang memerah tampak berbinar diantara temaram lampu taman.


"Mau masuk sekarang, keburu penuh, nyari tempat yang lumayan enak buat duduk." Ajak Alva merangkul Asmi, namun gadis itu melepaskan tangan Alva dan lebih memilih melingkari lengan lelaki itu, "lebih enakan nyender gini, Asmi lagi butuh bahu untuk bersandar!" ia tertawa sumbang.


Meski pada akhirnya tangan Asmi menjalar turun dan saling menggenggam dengan Alvaro. Jemari lentik Asmi saling bertaut dengan jari besar Alva, seakan mengisi kekosongan satu sama lain seperti keduanya, yang mengisi kekurangan masing-masing.


Keduanya saling menggenggam, berjalan masuk bersama barisan penonton regular lain yang sudah tak sabar menunggu pertunjukan.


Baru saja langkahnya memasuki pintu masuk, aroma wewangian bunga dan dupa menguar memenuhi penciuman. Pantas saja semua terasa begitu emosional dan mistis karena memang dilakukan dengan tanpa sembarangan.


"Kang di sebelah sana aja," tunjuk Asmi, kursi penonton dari kayu berlapis busa sofa berbentuk lingkaran mengelilingi area pertunjukan yang nampak elok dengan sentuhan artistik instalasi bambu.


Cuaca cukup mendukung dengan tidak menurunkan hujannya diantara panggung terbuka, dan justru semakin membuat merinding karena sentuhan sinar rembulan yang ikut andil menerangi jalannya pertunjukan.


"Lumayan dingin euy!" Alva menggosok-gosok tangannya dan tangan Asmi demi menyalurkan rasa hangat.


Hamparan pasir berwarna merah bata dan beberapa tombak dengan ujung berupa kujang tertata di sisi kanan dan kiri arena pertunjukan sebagai latar yang diambil.


Lantunan kawih buhun dipirig gitar dan suling, menghantarkan para penonton berkelana menuju ruang dan waktu dimana tempat dan kejadian kisah legenda berlangsung.


Gemericiknya suara air berteman jangkrik dan cihcir semakin kentara ketika suasana mulai hening dan lampu kian meredup.


Lighting yang diatur mulai merambatkan cahayanya perlahan menuju arena pertunjukan, tangan Alvaro semakin erat menggenggam tangan Asmi dan gerakan tak terduga lainnya adalah ketika Alva membawa tangan Asmi ke depan bibirnya dan mengecupnya lembut.


Meski gelap, namun binar mata Asmi menunjukan jika ia teramat bahagia, tak akan ia tukar perasaan ini dengan harta apapun.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2