Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 44. TERSENYUM DALAM GENGGAMAN


__ADS_3

"Neng," apih membelai surai indah putri tersayang dan menempatkan diri di sampingnya.


Hati apih mencelos melihat Asmi jadi begini, "Nawang, jam berapa janji temu dangan psikiater?"


"Jam 9 apih,"


Asmi melirik pada orang yang membelai hangat, sementara di sudut sana suara terisak mengalir begitu deras menghujani hati, adalah tangisan tergugu amih melihat putrinya begitu karena ulah ambisi.


Ambisinya menghancurkan Asmi.


Tatapan kosong Asmi beradu dengan tatapan Apih yang hampir menitikan air mata, "neng, pulang geulis..."


Nawang bahkan sudah terisak di bahu Bajra, penyesalan memang selalu datang terlambat. Sasi saja yang masih smp, tau jika Asmi sudah berada di ambang kehancuran, apakah ia pun akan bernasib sama?


"Teteh," lirihnya bergumam menangis.


Bajra meminta Kelana turun dan bermain bersama Sasi, "Si, bawa Lana maen dulu gih,"


Sasi mengangguk menyeka ekor mata yang mendadak becek, "iya. Ayok Lana, sama bi Sasi dulu yuk! Bi Sasi punya slime!" ia menggiring Lana layaknya menggiring domba kecil keluar kamar Asmi.


Bibirnya sudah bergetar, namun lidahnya kelu untuk berucap mengeluarkan kata maaf, amih merasa kakinya mendadak kaku melangkah. Bajra merangkul bahu sang ibu dan mengusapnya.


Asmi masih disana, namun jiwanya begitu remuk. Ia menangis tanpa suara, hanya matanya kini sudah tergenang.


"Ikut apih mau?" bujuknya, Asmi menggeleng, "Asmi ngga akan kemanapun. Takut bikin amih marah," lirihnya.


"Neng Asmi anak apih," balas apih mendekap putrinya, mencoba mengembalikan kewarasan Asmi.


"Neng, ketemu sama temen teteh yuk!" ajak Nawang ia duduk melipat kedua lututnya, bersimpuh di depan Asmi, dengan snelli yang masih ia pakai, Nawang yang awalnya sudah sampai di rumah sakit, ditelfon oleh apih.


Asmi tetap menggeleng tak mau meninggalkan kasur empuknya, ia mendekap guling semakin erat dan menggeleng seperti mereka ingin berniat merebut sesuatu yang berharga miliknya mirip orang ngga waras, atau memang sudah tak waras.


"Asmi ngga mau," jawabnya.


"Neng," amih memanggilnya parau karena tangisan. Sorot mata sayu itu menatap ibunya kosong, tanpa sorot cinta ataupun takut dan rasa-rasa lainnya.


Deg!


Amih kembali terisak, sebegitu hancurnya sang anak karena dirinya. Asmi tiba-tiba menggeleng dan menutup kedua telinganya.


"Engga---engga---engga! Engga!!! Asmi ngga mauuu!" teriaknya histeris.


"Asmi takut amih!"


"Asmi ngga mau!!!"

__ADS_1


"Neng!"


"Neng Asmi!" apih dan Bajra berusaha menenangkan Asmi.


"Amih keluar dulu mih," titah Bajra. Amih menangis semakin kencang, begitupun Eka, Lilis dan para asisten rumah tangga disana.


Alva sudah beberapa kali menyalakan bel, ia juga sudah menunggu cukup lama di luar pintu pagar.


Baru kali ini ia mau menunggu lama hanya untuk bertemu dengan seseorang saja. Hingga akhirnya pintu terbuka sedikit menyembulkan kepala, "cari siapa?"


"Mang, saya Alvaro teman Rashmi."


"Aduh, maaf den rara ngga ada." jawabnya singkat namun terlihat tergesa dan panik melihat ke dalam.


"Oh, Asmi pergi mang?" tanya Alva.


Terdengar suara berteriak di dalam, "Jat! Siap-siap buka gerbang, mobil den rara mau keluar!"


Alvaro mengernyitkan dahinya, bukankah tadi si mamang bilang Asmi tak ada?


Ia mengepalkan tangannya, bisa-bisanya ia bohong.


"Siap!"


"Hey, minggir! Ada mobil mau keluar!" titahnya mengusir Alvaro.


"Eh! Eh!"


Cengkraman Alva tak dapat dielak olehnya, juga tak dapat dilepaskan, matanya menusuk tajam bak pisau kujang.


"Rashmi ada di rumah kan?!" bentak Alva tak takut dengan security itu.


"Eh, kamu teh tamu kurang aj ar!"


Ia berusaha melawan, namun tenaga Alva lebih kuat. Hingga akhirnya teejadi perkelahian Alvaro dan security rumah Asmi.


"Eh---eh! Apa ini!" Mang Dedi yang sudah menyiapkan mobil mendapati Ajat dan Alvaro tengah berseteru.


Ia ingat wajah Alvaro, adalah pemuda yang selalu bersama Asmi belakangan ini, dan ia cukup tau.


"Jang Alva?"


"Jat! Sudah---sudah! Ini saya kenal baik!" jawab mang Dedi melerai keduanya.


"Mang, Asmi ada di rumah kan?" tanya Alva. Mang Dedi ragu menjawab pertanyaan Alva, keraguannya terselamatkan oleh panggilan panik teh Nawang, "mang Dedi!"

__ADS_1


"Alvaro?" netranya tertumbuk pada pemuda yang menjadi crush Asmi. Nawang setengah berlari, "Alva?"


"Teh, maaf saya masuk tanpa ijin. Saya cuma mau ketemu Asmi, teh." ujar Alva dengan penuh pengharapan.


Nawang mengerjap dan menyeka matanya, "Asmi...kamu mau ketemu Asmi kan?" Nawang yakin jika Alvaro dapat membujuk Asmi untuk mau berobat.


Alva mengangguk, Nawang mengajak Alva untuk masuk, "ikut teteh! Kamu juga bisa tolong Asmi kan?"


"Asmi? Asmi kenapa?"


Alvaro begitu terkejut, hatinya terasa seperti genderang perang terlebih ketika mendengar jeritan pilu Asmi dari dalam.


Ia bagai tak menjejak tanah, perasaannya seolah dipukul hancur oleh gada, melihat Asmi sedang ditenangkan apih dan Bajra di kamarnya.


"Asmi diprediksi mengalami gejala depresi Alva, sebelum semuanya terlambat, dan kehilangan Asmi, keluarga mau bawa Asmi ke rumah sakit untuk melakukan tes..." Nawang kembali melemparkan pandangam ke lain arah, tak kuasa melihatnya.


Alvaro tak dapat lagi berkata-kata, ia sudah meluruh melihat sang pujaan hatinya begitu. Asmi pandai menyimpan bom untuk dirinha sendiri. Alvaro tak akan bertanya kenapa bisa begitu, ia sudah tau jawabannya.


"Asmi," lirih Alva berat di gawang pintu. Asmi terdiam dari tangisnya, ia tidak berlarian seperti orang gila sampai melempar-lempar barang, namun Asmi menolak siapapun yang mencoba merangkulnya. Bajra dan apih menoleh disusul Asmi melihat Alvaro.


"Pih, ini Alvaro...temen kampus Asmi." Nawang memperkenalkan.


Kang kuman, lirih Asmi dalam hati.


Alvaro berusaha masuk, "akang ngapain kesini?" tanya Asmi, wajahnya begitu kuyu dan lesu.


"Aku udah bilang kan, kamu ngga bisa pergi gitu aja setelah menerbangkan aku ke atas nirwana. Lalu seenaknya kamu hempaskan aku ke jurang tak berdasar, Asmi." Ucap Alvaro, membuat bibir pucat itu bergetar menangis, terlihat soror mata Asmi yang merindu.


Asmi menggeleng pelan pada Alva, "kang."


Alvaro berjongkok di depan Asmi yang duduk di tepian ranjang dengan masih mendekap guling sambil menatap Alva penuh damba, "aku sudah bilang, aku siap jika harus melewati jalanan terjal, aku berjuang kamu pun ngga boleh pasrah disini..." Alvaro meraih tangan Asmi begitu mudah bahkan di depan Bajra dan apih.


Bajra hampir mencegah, namun apih keburu menahannya duluan. Apih rasa, Alvaro sedang menyentuh hati Asmi yang paling dalam.


"Alvaro...." benaknya menilai Alva.


"Kamu pegang janjiku, kamu akan bahagia..." ucap Alvaro lagi.


"Rashmi Sundari...aku suka kamu, aku sayang kamu, tak peduli siapa kamu, meski kamu pesek..." kalimat cinta itu tak segan Alvaro ucapkan di depan Bajra, apih dan Nawang. Asmi dapat tersenyum diantara genggaman tangan Alvaro.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2