Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR #80. DIPINGIT


__ADS_3

Kabar wisuda Alvaro beserta kawan-kawan menjadi kabar baik sekaligus kabar yang bikin sedih.


Kabar baiknya ia lulus dan itu artinya waktu pernikahannya dan Asmi sudah di depan mata. Kabar menyedihkannya, kampus akan kehilangan geng Rampes angkatan Alvaro yang gokil, humble dan selalu meramaikan basecamp antropologi.


Datang akan pergi....


Lewat kan berlalu..


Ada kan tiada....


Bertemu akan berpisah....


Awal kan berakhir....


Terbit kan tengggelam....


Pasang akan surut...


Bertemu akan berpisah....


Yang lama akan tergantikan dengan yang baru, begitupun angkatan mereka.


Jika Asmi sudah pulang ke kasepuhan sejak dari seminggu yang lalu, maka ia baru akan kesana sore nanti selesai acara wisuda. Ganis bahkan sudah menggelar pengajian kemarin sore, karena tidak memungkinkannya dilakukan 2 hari menjelang akad, dengan posisi mereka yang sudah ada di kasepuhan.


Congrats, akang kuman sayang!😘


Maaf Asmi ngga bisa nemenin wisudanya, ya. Asmi tunggu akang disini aja....


Pesan singkat dari Asmi yang membuatnya hatinya hangat, karena itu artinya di tengah kesibukan persiapan pernikahan mereka, Asmi mengingatnya. Hal sepele namun begitu punya arti.


Alvaro tersenyum diantara sesi pidato, kemudian ia mengetik sesuatu disana.


Thanks. See you there, princess.


Asmi tersenyum melihat Alvaro membalasnya, padahal sebelumnya ia sempat menaruh ponsel di meja, mengingat Alvaro sedang berada di acara wisuda, itu artinya ia tidak akan sempat melihat ponsel. Tapi di luar dugaannya, Alvaro ternyata membalas itu. Sungguh hal kecil yang diperlukan untuk keharmonisan suatu hubungan.


Ngga bisa nonton, lepas mahasiswa.


Asmi membubuhkan emoticon mata yang berlinangan. Alva tertawa kecil membacanya, kemudian ia mengirimkan video keramaian acara di kampus, mulai dari gelaran setiap kesenian oleh beberapa prodi.


"Sedih ih ngga ikut!" gumamnya di halaman belakang, ia tengah melihat para ais pangampih yang sedang mengurus taman.




Jika di dunia ini ada orang paling sibuk di dunia, sudah pasti Ganis orangnya. Ibu 2 anak yang sudah tidak muda lagi ini masih sat--set menyiapkan pakaiannya, Wira, dan Bagas, sementara calon manten nyiapin sendiri, kemungkinan mereka akan ada di kota udang selama 5 sampai 7 hari.



Acara pernikahan ini pun menyita lini media massa, cetak maupun elektronik, termasuk akan ditayangkannya berita tentang pernikahan keturunan kasepuhan di channel nasional, *siap-siap masuk tv*.



Alvaro terkekeh menatap potret seorang gadis di ponselnya dengan wajah penuh maskeran sambil kedua bola mata yang dijulingkan.



*Néng nungguin akang sampe muka putih gini jamuran*.



Mereka memang sedang dipingit dan akan bertemu besok ketika prosesi siraman, meski kedatangan Alvaro ada kemungkinan malam tapi keduanya masih belum bertemu meskipun masih di satu komplek kasepuhan.



*Baru mau berangkat néng sayang*, jawab Alvaro lewat pesan singkat.



"Va, udah?" tanya Wira mengejutkannya, Alvaro langsung memasukan ponsel ke saku celananya.



"Udah." ia keluar dengan tas pakaian miliknya, melewati ibun yang bertelfon ria bersama grup keluarganya.



"Nanti ada abdi dalem yang jemput lo, Le. Ngga usah takut nyasar atau ngga diijinin masuk!" ujar Ganis berapi-api.



"Ya udah ya, gue berangkat dulu!" Ganis mematikan ponselnya dan mengunci pintu, sekali lagi ia mengecek semua keamanan termasuk gas, dan listrik.



Bagas sudah duduk manis di bangku belakang dan khusyuk dengan game onlinenya, di sampingnya Ganis dan bangku depan mpap Wira, terakhir Alvaro di bangku pengemudi.



"Bang, gue aja yang bawa," Bagas buka suara saat mereka berhenti terlebih dahulu di sebuah minimarket, karena ibun sempat membeli bekal untuk di jalan.



Alva mengangsurkan kunci mobil pada adiknya, "ati-ati bawanya." pinta Alva, ia sempat menguap mengantuk, beberapa hari ia tidur sebentar menyiapkan acara wisudaan.

__ADS_1



"Kan--kan! Ibun udah bilang, mau nikah malah begadang terus!" Ganis menyerahkan sebotol air mineral pada Alvaro dengan wajah julidnya, "tuh mata, kaya mata panda! Nanti bikin susah yang bedakin!"



Bagas tertawa kecil membuka tutup botol minuman bervitamin dan meneguknya, alisnya sempat mengernyit karena rasa asam, "bikin mati ngga bun?" tanya Bagas sementara Alvaro hanya diam menerima omelan Ganis.



"Mati di tangan ibun kamu," jawab Wira santai nan kalem, Alvaro sampai tersedak air minumnya.



"Si abang...kalo ngomong," oceh Ganis bergumam.



"Nanti aku minta jangan di make up'in lah bun, kaya manten cewek aja," tolak Alvaro.



"Ya ngga bisa gitu, yang namanya penganten pasti dibedakin biar keliatan glowing, ngga dekil, apalagi ini yang kamu nikahin kan keturunan ningrat yang sampe sekarang masih ada, acara nikahan juga bakalan masuk berita...yang bener aja ngga di bedakin!" omel Ganis, Bagas begitu puas abangnya itu diomeli ibun, pasalnya selama ini ia yang sering diomelin ibun.



Bagas memang belum memiliki SIM, namun ia cukup mahir di belakang bangku kemudi.



"Ini Bagas yang bawa?" tanya Ganis.



"Iya bun, masa manten yang bawa...takut celaka, dari tadi nguap terus!" tunjuk Bagas ke arah Alvaro. Dan benar saja, sepanjang tol yang baru, Alvaro memilih memejamkan matanya. Semua beban skripsi dan wisuda telah menguap ke udara dengan hasil yang cukup memuaskan, bebannya hanya tinggal mengucap janji ijabnya di depan Tuhan dan khalayak ramai.



Tidur Alvaro cukup nyenyak, hingga ia tersadar sudah berada di kota udang, dan mpap lah yang menyetir.



Dilihatnya Ganis yang sedang nyemil ciki keju dengan ocehan khas emak-emak dengan tema makanan khas disini.



"Nanti Ganis mau minta anter bu Sekar buat jajan-jajan ah, bang!"




Hanya dengan umbar pujian, para gadis jaman sekarang langsung terpesona dengan dalih kata nyaman. Menurutnya wajar saja, toh ia masih muda, sedang masa-masanya penjajakan, *masih senang sana-sini*, jalan gonta-ganti gadis, ia tidak pernah menganggap hubungannya dengan para gadis yang menjadi kekasihnya itu serius, bagi seorang Bagas, membahagiakan kedua orangtua, terkhusus ibun adalah yang paling utama. Tak ada niatannya untuk serius dalam waktu dekat.



Jalanan dekat dengan kompleks kasepuhan terlihat lebih ramai dari biasanya, orang-orang dengan pakaian sopan dan tertutup terlihat mondar-mandir meski tak sedikit pula beberapa ais pangampih dengan tampilan berbeda dari masyarakat biasa.



Wira menghentikan laju mobilnya di depan kasepuhan, hingga seorang penjaga gerbang depan menyapa dan mengangguk dalam, ketika Wira membuka kaca jendelanya.



"Wilujeung sumping, mangga dihaturanan lebet den..."



Beberapa penjaga depan mulai menghampiri mobil Alvaro dan menyambut kedatangan mereka yang luput dari sorot kamera dan mata masyarakat sekitar karena dirahasiakan.



Dibukanya gerbang masuk keraton yang menjadi kebangaan masyarakat kota ini.



"Punteun aden, keluarga den NataPrawira Adiwangsa tos dongkap...."



Apih, amih, dan keluarga kasepuhan menengok pada apih ketika seorang ais pangampih membisikan sesuatu di jam nge teh mereka.



"Gimana kang?" tanya amih. Apih mengangguk, "calon besan udah datang..." angguknya.



Sasi yang sedang berjalan-jalan di pelataran depan sambil memainkan ponselnya melihat kedatangan mobil Alvaro, dari sana pula turun Bagas yang mencangklok tas di sebelah pundaknya turun dengan menyugar rambutnya.



Senyum Sasi terkembang, "kang Alva!" panggilnya pada sang calon kakak ipar.


__ADS_1


Mereka menoleh termasuk Bagas, baru saja dipikirkan sepanjang jalan, gadis kecil ini muncul di depan mata.



"Hay kang ganteng!" sapa Sasi terkikik pada Bagas.



"Sasi," sapa Alvaro dan ibun.



"Akhirnya sampe juga di gubuk derita!" tawa gadis itu ditertawai Ganis, "keraton indah gini disebut gubuk derita," ujar Ganis.



Sasi terkekeh, "gubuk derita buat teh Asmi sama kang Alva, satu atap tapi tembok keraton menghalangi," imbuhnya.



"Bisa aja," jawab Ganis melangkah bersama dengan calon keluarga barunya itu. Sementara Alva hanya mendengus geli.



"Mangga atuh, bun...Den rara Sasmita antar ke dalam," ucapnya lagi, namun baru saja beberapa langkah seorang ais pangampih dengan pakaian kemben dan jarik mencegat jalannya, "punteun den rara Sasi, saur raden nini atos diantosan di pendopo..." tunjuknya ke arah belakang dengan jempol.



Sasi berdecih dan menthesah resah, ia bahkan menepuk jidatnya, "euhhh lupa!"



Ia melirik Ganis, Wira, Alvaro dan Bagas, "aduhhh, om, tante ibun, kang Alva, kang Bagas....maaf Sasi ngga jadi nganter ke dalem, Sasi lupa kalo nini ngajakin kunjungan ke rumah Bupati, katanya mau ngikut bikin teh sama kue disana sambil sekalian nganterin undangan tétéh," sesalnya.



"Ngga apa-apa, Sasi." Ujar Wira.



"Yahhh ngga jadi masuk dianterin menak atuh?" seloroh Ganis tersenyum hangat mengusap kepala Sasi.



Alva bahkan sudah mencibir, "hati-hati dijodohin." sampai-sampai Sasi menatapnya horor, "ya jangan atuh kang! Sasi mendingan keluar dari kk aja kalo gitu mah!" ia melirik Bagas yang lebih memilih diam memperhatikannya.



"Sakali deui, wilujeng sumping di kasepuhan om Nata, tante ibun, kang Alva, kang Bagas...." imbuh gadis ini.



Ganis dan Alvaro terkekeh, "hatur nuhun geulis..."



"Raden rara Sasmita!"



Sasi menoleh, "Iya!! I'm coming granny yuhuuuu!" serunya tertawa, ia menoleh singkat ke arah Bagas begitupun Bagas yang melihatnya, baru kali ini ia memilih diam di depan gadis, bukan karena ia tak suka atau justru menyukainya, namun ia memilih untuk berhati-hati dalam bersikap pada Sasi, demi menjaga hubungan semuanya.



Saat Sasi berjalan cepat, sepasang orangtua Asmi sudah menyambut hangat bersama keluarga dari kasepuhan, meskipun tak ada Asmi disana.



"Wilujeung sumping!" seruan mereka bertegur sapa begitu hangat, Alvaro menerima sambutan hangat itu, tanpa ia sadari di balik dinding keraton ada sepasang mata hangat yang menatapnya penuh cinta.



*Kutitipkan salam rindu dari balik dinding keraton*....



"Hayooo, pamali loh! Diliatin terus, kamu masih dipingit," ujar sepupunya. Asmi nyengir, "cuma ngintip doang!"



"Hayoo masuk ah, nanti keliatan!" ajaknya, meskipun dari sudut kejauhan sepasang netra kelam itu telah melihat sosok Asmi meski sangatlah jauh.



"Rindu kamu,"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2