
Alva sempat mengajak Filman, tapi nyatanya Filman malah sedang tak enak perut, katanya gara-gara kemarin ia makan sambal terlalu banyak, belum lagi semalam ia masuk angin.
Alva juga mengajak Saka dan Anjar, tapi keduanya ogah-ogahan, dengan alasan malas.
Hingga akhirnya Alvaro berjalan sendiri menyusuri kampung berniat membantu ambu Euis, sudah pasti ia akan kesulitan membawa hasil panen jika hanya berdua bersama kang Widi.
Setidaknya, ia bisa memberikan bantuan kecil mengingat mereka tinggal di rumah sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak itu.
"Ya udah, gue jalan sendiri!" dengus Alvaro beranjak keluar dari halaman rumah, mengambil arah ke kiri.
Setelah berjalan cukup jauh, ia menggaruk kepalanya, "apa gue salah jalan ya? Ck!"
"Masa udah hampir 3 bulan disini ngga inget!" omelnya pada diri sendiri. Alva kembali berbalik untuk mengambil arah jalan ke balikannya, mumpung masih cukup pagi.
Ia berjalan dengan seluruh kegelisahan, karena mendadak pilon.
Diantara langkah yang semakin cepat, ia bertemu dengan seseorang yang sempat bertemu sebelumnya. Jarak mereka hanya sebatas beberapa jengkal, dan keduanya memutuskan untuk menghentikan langkah masing-masing.
"Mulih Kajati, Mulang Ka Asal..." lirihnya terucap dari bibir hitam nan tertutup tirai kumis yang hampir memutih keseluruhan.
(Setiap manusia, akan kembali ke asalnya....)
Ia memakai kalung kujang yang tergantung sempurna di lehernya, jemari yang dihiasi cincin batu akik itu mengulurkan tangannya pada Alva.
Tau jika itu adalah kode untuknya menyambar, Alvaro membalasnya, "Abah Eman? Saya Alvaro..."
"Abah ada perlu sama saya?" tanya Alva memberanikan diri untuk bertanya, karena dari gelagatnya abah Eman ini seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Sabuni-bunina nendeun bang kee tetep bakal kaambeu. Sabuni-bunina nutupan jatidiri, abah bakal nyaho..." balasnya berucap.
(Serapat-rapatnya menyembunyikan bang kkaii tetap bakal tercium. Serapat-rapatnya menutupi jati diri, abah bakal tau)
Alvaro mengangkat kedua alisnya tak mengerti, "abah masih belum percaya, masih bisa menemukan da rah Pajajaran..."
Alva sampai tertohok tak percaya, jika rupanya si abah ini dapat menebak yang bahkan Alvaro saja masih menganggap jati dirinya itu lelucon.
"Mau ngopi bareng abah?" tawarnya, Alva sempat bingung karena awal tujuannya adalah ke kebun untuk membantu ambu Euis. Namun rasa penasarannya akan abah Eman dengan apa yang akan ia sampaikan begitu besar. Bukankah Asmi pun pernah berkata dan memintanya mencari seorang bernama abah Eman? Itu artinya kalo ngopi bareng, aman!
"Boleh abah, rumah abah dimana?" tanya Alvaro.
"Dekat, den. Dekat leweung Larangan." Jawabnya.
__ADS_1
Alva sempat menaikan kedua alisnya itu artinya ia harus menempuh jarak yang lumayan.
"Ah, pake mikir sagala! Raden ayu Sumini juga kabur jauh, ngga banyak ngeluh! Mana perempuan!"
"Abah?!"
"Sudah, nanti saja ceritanya. Abah ngga punya temen, sengaja turun gunung cuma mau beli kebutuhan sehari-hari sambil lihat kondisi kampung, biasanya mah ada Tarman yang nganterin kebutuhan abah, tapi si Tarman habis kecelakaan." giringnya mendorong Alva agar ikut dengannya.
Keduanya berjalan melewati kebun warga, menyusuri sumber air hingga sampai ke area yang mulai dingin dengan intensitas pohon bambu banyak.
Asmi bilang yang pohon bambunya banyak namanya leweung tutupan.
Alva mengedarkan pandangan kampung adat ini, ternyata cukup luas jika isinya perkebunan yang terhampar.
Keduanya masih berjalan, meski bedanya Alva dengan sendal gunungnya, sementara abah Eman masih setia tanpa beralas kaki. Salut! Di usia tuanya itu kaki-kakinya begitu tangguh menembus rimbanya hutan.
Daun-daun terhampar berserakan. Beberapa undakan tangga yang terbuat dari tanah merah dibatasi bambu terasa licin seperti terkena hujan, padahal semalam tak hujan. Mungkin sebabnya adalah daun-daun yang embun paginya menetes ke tanah. Gemerisik dedaunan yang membentuk suatu irama alam menenangkan membuat jiwa tenang, bersama pohon-pohon pinus tinggi menandakan jika mereka sudah mulai masuk ke hutan larangan, meski belum terlalu dalam.
"Tuh, saung abah!" tunjuknya ke arah satu rumah kayu beratapkan ijuk begitu asri.
Satu bale-bale layaknya gazzebo juga ada disana, menurut Asmi bale-bale itu memang disediakan untuk para wisatawan atau warga beristirahat jika hendak berniat pergi menapaki puncak Salam, satu bukit di ketinggian 905 mdpl sebagai tempat bermuhasabah dengan kata lain merenungkan diri atas segala nikmat Tuhan.
"Leweung larangan adalah tempat bertafakur, menyatu dengan alam, jangan sampai satwa ataupun tanaman terganggu. Termasuk semut sekalipun."
Kaki putih Alva kini tanpa alas kaki, dapat ia rasakan tanah merah nan lembab hutan ini. Seolah rasa haru nan bergetar seluruh kalbu.
"Dibersihkan hatinya, menyerahkan semua sama Gusti Allah," lanjutnya.
"Bah,"
"Ya?"
"Mau ke puncak salam?" tembak abah Eman, "tapi itu artinya kamu harus mondok disini." pungkasnya.
"Saya cuma mau nanya." balas Alvaro.
"Abah tau silsilah keluarga saya? Abah juga bisa tau kalau saya keturunan Sumini Adiwangsa."
Abah Eman menyunggingkan senyumannya miring.
"Apa yang abah tidak tau tentang Pajajaran, apa yang abah tidak tau tentang Adiwangsa....karena sejatinya para ningrat yang tersebar di Jawa Barat sadudulur..." jawabnya mengambil duduk di bale-bale rumahnya. (satu kerabat, satu keluarga)
__ADS_1
Diraihnya kertas pahpir dan bungkusan tembakau, tangan-tangan tua yang sudah keriput itu dengan lihai melinting bakau berbungkus kertas rokok itu.
"Nyesep?" tawar abah Eman, Alvaro menggeleng, "bukan bako, bah." kekehnya.
"Coba!" pintanya memaksa menyodorkan bungkusan dan kertas itu di depan Alvaro.
Mau tak mau Alvaro mengambilnya demi menghargai abah Eman, padahal ia tau rasanya ketir dan kurang mantap.
Alva sempaf terbatuk dan merasakan lidahnya yang agak kelu akibat menyesap itu, abah Eman tertawa, "kehidupan Adiwangsa lebih pahit dari rasa bako itu. Tapi kamu tidak lebih beruntung dengan menyembunyikan identitas, megatkeun silaturahmi, mareman obor kakeluargaan."
(Memutuskan silaturahmi, memadamkan obor kekeluargaan)
"Abah tau sejarahnya, kenapa Adiwangsa sampai begini?"
Abah Eman menyesap bakau dalam sekali sesapan namun mampu membuat bara api itu hampir menyentuh bibirnya, Alva sampai membeliak. Apa ngga sesek tuh?
"Hate nu sirik, hate nu buruk! Ngikis kasucian rasa...." lirih abah Eman, bersama riuhnya gemerisik dedaunan yang semakin heboh seakan sedang ikut menceritakan betapa waktu itu terjadi begitu membuat guncangan di tanah parahiyangan, sejenak Alva mendongak melihat ke arah rerimbunan pohon. (Hati yang sirik, hati yang buruk! Mengikis kesucian rasa...)
Aneh, mistis. Namun nyata.
Tiba-tiba abah Eman mendendangkan kawih dengan suara beratnya. Membuat suasana menjadi menyatu dengan alam. Terhanyut dalam emosi jiwa bersama alam.
"Kusumadinata....Anggara Kusumadinata, hate buruk ngancurkeun sagala-gala..." ucapnya lagi. (hati yang busuk, menghancurkan segala-galanya)
"Maksud abah?" tanya Alvaro.
"Bulan Safar, Kusumadinata dengan hati menggebu nan obsesi membara, menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekuasaan dari Abraham Adiwangsa, tak terima jika kaum dutch menjadi pemimpin tanah parahiyangan dan berpikiran kalau dutch kembali menjajah," jelasnya sebuah fakta baru yang Alvaro baru ketahui.
"Kusumadinata?" Alvaro seperti tak asing dengan nama belakang Kusumadinata.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1