
"Den rara," panggil ambu Euis menghentikan celotehan Asmi dan yang lainnya.
"Saur, abah Uwie mangga atuh gera dicandak nyiru'na..." tunjuk ambu dengan jempolnya ke arah tampah olahan hasil panen.
"Oh, muhun ambu. Hatur nuhun," balasnya.
"Kang, Asmi ketemu abah Uwie dulu." ijin Asmi. Baru bertemu keduanya harus kembali dipisahkan oleh sebuah tanggung jawab dan kewajiban.
Bukan hanya Asmi, namun juga Sasi, Intan, Ifa dan beberapa gadis desa pilihan lainnya yang bertugas membawa tampah berisi sesajian olahan hasil panen, sebagai kampung swasembada, dan mandiri pangan. Kampung Cireundeu selalu rutin mengadakan upacara adat Ngemban Taun untuk menghormati ibu padi, Sanghyang Pohaci Asri atau Dewi Sri (Jawa).
Asmi memimpin di depan, ia berlutut di depan abah Uwie untuk sebuah jampian yang menyertakan puji-pujian pada Sang pemilik hidup serta Dewi padi.
Mulut abah Uwie komat-kamit melafalkan do'a, mencipratkan air dari kendi pada kepala Asmi dan tampah yang ia bawa, tak lupa ia menangkup kepala Asmi dan meniup pucuk kepalanya.
Sungguh moment yang sayang untuk dilewatkan tanpa diabadikan.
Asmi tersenyum saat abah Uwie meyampaikan pesan dan petuahnya dengan anggukan manis si gadis menak, ada kedutan manja dan seulas senyum yang menular pada Alvaro.
Dibawah sinar matahari yang masih terasa hangat dan mengintip 45 derajat, ningrat from WestJava itu nampak secantik matahari pagi ini.
...▪》*Rashmi Sundari, katineung nu nyangkaruk dina emutan. Titisan Rahyang Dewa Niskala nu aya dina galur simpay....
...Rashmi Sundari, aksara nu salawasna ngusik manah*....
...▪》Rashmi Sundari, kasih sayang yang bersemayam dalam pikiran. Titisan Rahyang Dewa Niskala ( julukan untuk raja-raja Sunda yang telah meninggal) yang ada di alur cerita hidup. Rashmi Sundari, 1 kalimat/kata yang senantiasa mengusik jiwa....
Alvaro Karunasankara Ganendra
Dari gerbang utama desa, rombongan mulai berjalan ber-arak mengular menuju bale Saresehan, tepatnya di tengah-tengah pemukiman masyarakat.
Dengan musik karinding yang mengumpulkan seluruh perasaan syukur pada Yang Maha Kuasa, mereka berjalan dengan khusyu menuju bale Saresehan. Suasana tercipta begitu syahdu disertai angin sepoi-sepoi pagi menuju siang ini.
*Ya Allah*.....
*Kami haturkan syukur untuk hasil panen tahun ini, semoga tahun-tahun mendatang mendapatkan hasil yang lebih baik lagi, bersama Sanghyang Pohaci Asri yang selalu diberikan keberkahan*.
Pikulan-pikulan berisi sayur mayur, buah-buahan, serta kacang-kacangan dan umbi-umbian, ditaruh di tengah-tengah bale.
Sebagai simbolis peletakan pertama, Asmi membawa serta untuk yang pertama dengan dipayungi, payung adat.
"Njirr, Va. Kalo acara adat gini teh hawanya asa ada yang merhatiin gitu hal mistis apa gimana ya?!" bisik Saka, sementara Alvaro sudah khusyuk memperhatikan dan memotret berlangsungnya acara.
Filman bahkan mem-videokannya.
"Musik karindingnya euy, bikin merinding !" balas Anjar mengusap-usap lengan seolah sedang kedinginan padahal matahari sudah hampir menggantung tinggi.
Asmi menaruh tampah, disusul gadis lainnya beserta para bapak dan ibu.
Dengan duduk berderet, keluarga Amar Kertawidjaja memposisikan dirinya paling depan bersama para sesepuh kampung dan pejabat desa.
Duduk bersimpuh melantai bersama warga kampung. Abah Uwie maju ke depan dengan membungkukan badan sopan sambil permisi ria kala melewati apih dan yang lain.
"Assalamu'alaikum...."
Abah Uwie sebagai sesepuh, membuka acara dengan sejarah kampung Cireundeu. Semua menyimak cerita abah, termasuk Asmi dan Alvaro. Di dalamnya pun tak luput menyeret kisah sejarah keluarga Kertawidjaja.
__ADS_1
Asmi sesekali mengedarkan pandangan dan menjatuhkan netranya di tempat Alvaro berada.
Persis orang pacaran jaman dulu, keduanya hanya bisa saling lirik bermain mata di kejauhan.
Saking asiknya bermain mata, tak terasa abah Uwie telah menutup dengan kalimat do'a, rasa syukur dan terimakasih, juga salam.
"Makannya berbaris saja, antri biar tertib!" pinta akang-akang lain. Layaknya makan di hajatan, kini warga yang hadir diminta untuk berdiri mengantre untuk menikmati sajian khas acara, terutama berbahan dasar ketela pohon.
Para ibu sudah menyiapkan makanan berbahan hasil panen di meja panjang, demi menjamu semua warga yang datang. Setelah sebelumnya mereka bergotong royong memasak bersama untuk perayaan ini.
Sungguh satu sikap kebersamaan yang harus dilestarikan sampai anak cucu kelak. Rasa kebersamaan dan gotong royong yang mencerminkan masyarakat tatar sunda.
Berhubung Asmi dan keluarga mendapatlan keistimewaan berbaris duluan, ia sengaja membawa dua piring.
"Tétéh ih, licik!" sewot Sasi, "taro! Satu aja, jangan maruk!" serunya. Asmi mendekap kedua piringnya.
"Suka-suka tétéh lah! Mulut-mulut tétéh juga yang mau makannya, kalo mau mah ikutin!"
Tak mau kalah, Sasi mengambil dua piring untuknya sendiri mengikuti cara Asmi, lalu memilih makanannya begitu heboh dan excited.
Alvaro ikut berdiri dan mengantre bersama yang lain, "mirip hajat gini euy!" ujar Saka.
"Ngga tau ngantri sembako!" kekeh Anjar, ditertawai Filman.
"Hayuk ih!" ajak Asmi. Tanpa bantahan atau penolakan Alva ikut dengan gadis itu.
"Kemana néng?" tanya Alva.
Asmi membawa Alva keluar dari ruangan, lebih ke belakang bale dan tentunya berada di luar.
Ternyata di undakan tangga sudah ada dua buah piring yang sempat dijaga seorang bocah lalu ia pergi ketika Asmi datang bersama Alva, "nuhun Mpit," ucap Asmi diangguki bocah itu, "sami-sami den rara."
"Akang ngga usah ngantri lagi, Asmi udah bawain buat akang!" ucapnya mengajak Alvaro duduk disana.
"Selama disini akang udah nyobain ini belum?" tanya Asmi.
"Apa? *Katimus*?" tanya Alva.
"Di tukang bandrek juga ada, néng." jawabnya sambil menerima suapan katimus dari tangan Asmi.
"Yang ini, tau ngga namanya apa?" tunjuk Alva pada olahan singkong dengan dua warna hijau dan merah muda, lalu pisang di tengahnya.
__ADS_1
"Tau!" seru Asmi.
"Apa?"
"Putri no'ong!" tukas Asmi memajukan wajahnya ke depan Alva, Alva tertawa tanpa suara, hanya jakunnya saja yang naik turun, "no'ong apa?"
"No'ong cowok yang lagi mandi!" pungkas Asmi dengan bangga.
"Omesh!" jiwir Alvaro di hidung Asmi yang lembut tanpa komedo.
"Ini tau ngga apa," comot Asmi lalu melahapnya, Alva mengangguk, "urab sampeu."
"Kirain kalo cowok kaya akang mah taunya baso cuanki doang!" tawa Asmi mencibir.
"Ya engga atuh, mentang-mentang kalo jajan, cuanki."
"Kamu nginep?" tanya Alvaro.
Asmi mengangguk, "nginep."
"Di rumah siapa?" Asmi menyuapkan setiap makanan yang ditunjuk Alvaro ke dalam mulut lelaki itu, manjanya Alvaro...
"Apih punya rumah disini, kang. Samping rumah abah Uwie, yang suka ngurus ya keluarga abah Uwie."
Alva berohria, "boleh ngapel engga?"
Asmi tertawa, "boleh kang. Sambil nonton wayang ya?!" tembak Asmi memakan bola ubi yang saat di gigit melelehkan kinca dari dalamnya.
"Asik!" jawab Alva.
"Berasa jaman mana ya, ngapelnya nonton wayang?!" akui Alvaro.
"Ngga apa-apalah, anggap aja di jaman kerajaan Pajajaran yang lagi ngapel ke kasepuhan!" jawab Asmi terkekeh.
.
.
.
.
.
Noted :
\* Katimus : penganan yang terbuat dari parutan singkong dicampur kelapa, diberi parutan gula merah di tengahnya dan dibungkus daun pisang lalu di kukus.
\* putri no'ong : penganan yang terbuat dari parutan singkong dan kelapa, umumnya diberi dua warna hijau dan merah dengan pisang di tengahnya dan dikukus.
__ADS_1
\* urab sampeu : penganan dari potongan kecil singkong yang dikukus lalu diberi taburan kelapa parut yang telah diberi garam.