
"Den rara, jangan jauh-jauh dari mang E!" ujarnya, tak berani menggenggam apalagi merangkul majikannya, takut jika majikannya yang sewangi bunga mawar itu jadi kebawa bau an jink kecebur kolam macam dirinya.
"Iya," Asmi memegang ujung kaos Eka agar tak hilang, diantara lautan manusia berlumur dosa ini.
Suara vokalis band yang membuka acara dan bersiap bernyanyi sudah menggema mengajak para audiens untuk mengalun bersama.
Hingga suara dentuman sound keras hampir memecah gendang telinga membuat kerumunan penonton bak riakan air.
Lain halnya dengan Eka yang hanyut setengah menjaga kewarasan demi menjaga majikannya, Asmi sudah sibuk nan gelisah mencari Alvaro.
"Mang E, disana yuk!" tarik Asmi di kaosnya. Eka masih asik menyanyi, meski begitu ia langsung patuh mengikuti kemauan yang punya hajat dan bergeser ke arah samping panggung.
"Atuh disini mah vokalisnya cuma keliatan sepotong kaya kue den rara!!" teriaknya beradu kencang dengan suara musik.
"Ngga apa-apa mang, kan suaranya tetep kedengeran, yang penting aman ngga kena senggol rusuh!!!"
Seperti di hutan keduanya saling berteriak saat berbicara. Asmi mengikuti irama, sesekali. Sambil tetap mencari dimana keberadaan sang arjuna, radar cinta nya bekerja.
Hingga akhirnya, Tuhan mempertemukan sang jodoh. Senyuman Asmi mengembang seperti donat madu.
"Mang! Asmi kesana dulu ya!" tunjuk Asmi ke arah dimana beberapa crew acara berdiri.
"Kemana lagi den rara?"
"Itu Alvaro mang E!" tunjuk Asmi gembira.
"Wah, jadi kerjaan kang Alva teh jadi crew konser, den ra? Hebat euy lah!" angguk Mang Eka.
Asmi mengangguk cepat penuh binar rindu.
Asmi menarik ujung kaos Eka lantas berjalan ingin memberikan surprise pada Alva dengan kehadirannya.
Meski terganggu, Eka mengikuti kemauan Asmi, yang penting Asmi bahagia.
Senyuman itu semakin merekah dan merona cantik ketika Asmi mulai menyongsong jalan tanpa terhalang lagi, wajah Alva sudah di depan mata tak terhalang oleh apapun atau siapapun.
Asmi sudah siap berkata kejutan dengan gerakan tangan dan lompatan mesra.
"Ak----" ucapannya tertelan kembali.
"Kang!" seorang gadis tiba-tiba memeluk Alvaro dari belakang dan mendusel-dusel wajahnya, menenggelamkan semua muka di dadha Alva saat Alvaro memutar badannya refleks demi melihat siapa yang melakukan itu.
Seketika Asmi mengerem langkahnya melihat adegan dramatis yang tersuguh di depan matanya.
__ADS_1
Jantungnya terasa dipanah oleh racun,
Kang, sebenernya hubungan kita tuh apa sih? Pacar, temen, musuh, penyesalan?
Ngga usah denger kata orang. Anggap aja angin ken tut.
Otaknya berdengung mengingat pertanyaan beberapa waktu ke belakang.
"Rashmi Sundari aku suka kamu, aku sayang kamu...."
Asmi menyeka mata yang tiba-tiba berkaca-kaca dan mengembun, "bohong!!!" gumamnya lirih.
Patah hati ternyata sesakit ini,
"Kang Alpa!" lidah sunda Eka tak peka dan tak dapat diajak kompromi. Ia berteriak dan memanggil sesuka hatinya bahkan mang Eka melambaikan tangannya tinggi-tinggi pada Alva.
Membuat tatapan keduanya bertemu, "Asmi?" lirih Alvaro.
"Mi,"
"Mang E, kita balik sekarang." Ucap Asmi mengalihkan pandangan dan memutar badannya sehingga membelakangi Alvaro.
"Eh, kenapa den? Katanya----"
"Kita balik!" sentak Asmi.
"Asmi," Alva memang sudah melepaskan tautan tangan Niah dari badannya tapi kini ia benar-benar menyerahkan urusan Niah yang ponselnya dicopet pada yang lain.
Dan kini semakin kencang Asmi menghindar bersama Eka yang tergusur olehnya, semakin cepat pula Alva mengejar.
"Mi!" Secepatnya Asmi tetap tak akan bisa secepat Alvaro, pemuda itu menghadang langkah Asmi membuat Asmi mengambil langkah ke arah sampingnya, begitu pun Alva kembali menghadangnya.
"Mi, kamu nonton?" tanya Alva.
"Iya kang, den rara ngajakin mamang nonton...udah siap-siap sampe kabur----"
"Mang E!!" bentak Asmi menghentikan cerita Eka.
"Kita balik! Asmi mau pulang!" ujarnya sengit pada Eka.
"Kenapa? Konsernya belum selesai...malah baru mulai?" tanya Alva, tapi kemudian ia melihat ada yang tak beres dengan Asmi, "kamu nangis? Kenapa?"
"Hayuk mang!" Asmi menepis tangan Alva yang menahan dirinya.
__ADS_1
"Nanti dulu. Jawab dulu aku, Asmi." Tarik Alva di lengan Asmi.
Asmi diam seribu bahasa, ia tak tau apakah ja bisa marah? Karena sudah jelas statusnya bukan siapa-siapa Alvaro, apa haknya?
"Engga!" sengit Asmi.
"Asmi kesini cuma nonton aja tapi ternyata ngga rame! Sekarang Asmi mau pulang, minggir!" jelas Asmi benar-benar sengit. Wajah Alva mendatar.
"Apa karena barusan Niah?" tembak Alva. Jantung Asmi bergemuruh tak karuan, ia hanya bisa memalingkan pandangannya ke lain arah, ciri khas Asmi jika sedang menghindar dan kesal.
"Kamu cemburu? Liat aku, Asmi..." pinta Alva meraih kembali tangan Asmi. Asmi langsung menepis sehingga Alvaro mengangkat kedua tangannya melepaskan tangan Asmi yang enggan untuk dipegang, "oke. Sorry,"
"Mang E, kita pulang....Asmi capek.."
"Ngomong dulu, ngga bisa maen pergi gitu aja..." imbuh Alva kembali, paling sebal dengan tipe manusia yang tak mau terbuka. Ia bukan cenayang yang bisa menerawang, ia benci harus menerka-nerka karena tidak sedang bermain judi.
"Ngomong apa? Asmi sakit hati liat akang sama cewek lain gitu? Asmi bukan siapa-siapa akang....ngga ada hak Asmi larang akang!" tukas Asmi cepat, musik yang keras seolah berpacu dan menjadi pemicu emosi Asmi semakin meluap-luap.
"Sekarang Asmi tau kang, Asmi ngerti...kalau maksud akang hubungan kita tak perlu status karena akang pun punya yang lain. Asmi yang salah karena menganggap hubungan kita to special..." jelasnya, dan di akhir lagu yang tengah di bawakan di depan sana, Asmi memutuskan untuk pulang.
"Mang, ayok pulang....takut amih atau apih sadar Asmi ngga ada," diangguki Eka, "pegang lagi kaos mamang, den rara...takut kesenggol orang..."
"Mi,"
"Aku sayang kamu, Asmi." lirih Alva di belakang.
Asmi mendengar tapi tak berniat berbalik kembali, ia terus saja berjalan lurus, "den rara, ngga mau disamperin dulu? Bicara baik-baik sama kang Alva? Mamang yakin kenyataannya ngga seperti yang terlihat," ucap Eka memberikan saran.
Namun rupanya hati yang tengah kecewa dan sakit akan sulit menerima saran maupun perkataan siapapun, kepalanya masih terlampau panas, belum mendingin.
Asmi berjalan dengan isakan yang terurai di sepanjang jalan, bahunya bergetar namun ia tak pernah membalikan badannya kembali.
"Rashmi Sundariii! Gue sayang lo, Mi!" teriak Alvaro, ia tak pernah se-memalukan ini sebelumnya, bahkan untuk siapapun orang terpentingnya saat itu.
Alvaro bukan tak mau menjadikan Asmi kekasih, tapi tanpa restu keluarga, ia belum berani se-gegabah itu. Alva juga tak ingin membuat hubungan pacaran bersama Asmi, jika pada ujungnya hanya akan putus dan menyisakan sakit.
Terus terang saja, Alva berniat mengejar dan menghalalkan Asmi....
.
.
.
__ADS_1
.
.