
Asmi keluar dari kamarnya, bersiap untuk makan malam bersama, meskipun setiap acara makan adalah acara yang paling ia takutkan dan malas.
Apih dan Sasi sudah menunggu di sana, namun amih tak jua memunculkan batang hidung, atau sanggulan setinggi-tinggi menara eiffel'nya di hadapan Asmi.
Tak biasanya Sekar Taji akan terlambat seperti ini, ia adalah orang paling disiplin dan keras di rumah ini, jangankan waktu makan yang sampe ngaret, anak-anak salah aturan ambil teman nasi dari yang terjauh saja ia bersuara bak ambulans, lebih kejam ketimbang seorang danki militer.
Benar-benar orang yang memegang teguh poin-poin kedisiplinan seorang menak.
"Amih mana pih?" tanya Asmi, sekedar berbasa-basi biar suasana ngga terlalu sepi mirip di kuburan. Mumpung amih ngga ada kenapa ngga diramein, kan!
Sasi justru lebih cuek, kenapa juga harus nanyain amih disaat-saat damai seperti ini.
"Kenapa, kangen di omelin ya?" kekeh Sasi membuat apih dan Asmi menoleh dan sedetik kemudian tertawa.
"Amih ngga enak badan," jawab apih membuat tawa keduanya terhenti. Bagaimanapun amih adalah wanita yang telah melahirkan keduanya ke dunia, sosok wanita yang mengurus mereka hingga mereka besar meski dengan bantuan pengasuh.
Sosok yang memang terkadang disiplin, galak, namun mereka tau itu semua untuk kebaikan. Sosok yang terlalu memikirkan nasib mereka ke depannya.
"Neng," panggil apih pada Asmi.
"Iya pih,"
"Sejak pulang bareng neng Asmi, amih jadi aneh gitu...ada apa yang terjadi?" apih merasa ada yang tak beres terjadi, masalahnya sekian puluh tahun bersama Sekar, baru kali ini ia begitu, murung, banyak melamun.
Asmi menggeleng, namun kemudian Asmi bercerita pasal apa yang terjadi di rumah Alvaro tadi.
Apih menarik alisnya ke atas cukup tinggi sebagai tanda jika ia pun terkejut saat mengatakan jika keluarga Alvaro adalah ningrat Adiwangsa, ia mencermati setiap perkataan Asmi dengan anggukan manis sambil tetap mengunyah makanan dengan tenang.
Apih menaruh sendoknya usai Asmi bercerita, "Adiwangsa, Sumini Adiwangsa ronggeng idola amih kamu," lirih apih.
"Hm? Ronggeng?!" Sasi pun ikut terkejut.
"Panjang lah ceritanya, pokoknya setau apih Sumini memang ronggeng tersohor namun itu ia gunakan sebagai kedok atas pelariannya dari singgasananya di Padjajaran."
"Kedok yang berkepanjangan?" tanya Asmi.
"Mungkin sudah terlalu nyaman dan menemukan seseorang yang dicintainya, dutch Abraham Adiwangsa...." balas apih, "seperti apih menyukai amihmu yang seorang penari," dua kata menohok itu lantas bikin kedua anak gadisnya mati sawan.
"Amih ronggeng?!" tanya Sasi menepuk-nepuk dadhanya mendadak tersedak oksigen, sepertinya nasi yang barusan ia telan masuk ke dalam paru-paru dan berenang bersama para sel darah merah! "unbelievable!!!"
Apih mengangguk mengiyakan, "dulu amih ronggeng, dan apih jatuh cinta waktu amih ngisi acara di kesultanan, sempat ditentang keluarga, namun keluarga tak bisa berbuat banyak karena tekad apih.
Sasi dan Asmi saling lirik tak percaya.
"Oke kita skip dulu masalah lovely doveynya apih sama amih yang kaya romeo julietnya tanah jawa," tukas Asmi yang sontak membuat Sasi terbatuk menyemburkan makanannya ke depan, "teteh mah ih!"
__ADS_1
"Kenapa keluarga Adiwangsa tenggelam?" tanya Asmi.
"Setau apih, dulu sejarahnya...dutch Abraham sempat difitnah saat menjabat jadi pimpinan daerah disana, ada pribumi yang tak suka dengan dia, sebabnya dia dutch, mereka menganggap penjajah kembali menjajah tanah parahiyangan, jika membiarkan dutch Abraham berkuasa. Maka timbulah fitnah yang sampai membuatnya lengser," apih menjeda ceritanya dengan meneguk air minum terlebih dahulu.
"Terus?" Asmi sudah tak berselera menghabiskan makanannya lagi.
"Karena nama Adiwangsa sudah kadung jelek pada masa itu, anak-anak dari Sumini dan Abraham akhirnya memutuskan menanggalkan nama Adiwangsa termasuk gelar keningratan mereka yang ternyata tak punya pengaruh apapun selain dari membawa kesi alan, karena dianggap penghianat negri."
"Usaha dan bisnis mereka?" tanya Asmi penasaran begitupun Sasi, kayanya cerita sejarah ini belum pernah ia dapatkan sebelumnya, dan apih adalah guru terbaik. Fix! Apihnya itu guru sejarah yang lagi cosplay jadi ningrat dan pebisnis.
"Kayanya apih harus jadi guru sejarah, deh!" sela Sasi di lirik usil oleh apih.
"Sepeninggal Sumini dan Abraham, juga anak-anaknya. Cucu-cucu mereka memecah dan berebut harta gono-gini. Tak bisa meneruskan usaha keluarga secara utuh, kelamaan bisnis mereka bangkrut." Jelas apih lagi meminum obat kolesterol miliknya.
Asmi mengangguk mulai paham dengan sejarah keluarga Alvaro.
"Apih ngga nyangka, kalau Alvaro adalah keturunan Sumini Adiwangsa. Apih sempat mengenal seseorang keturunan Adiwangsa, tapi setau apih ia sudah lama meninggal, meninggalkan dua anak, yang pertama lelaki dan perempuan."
"Om Wira sama tante Indy," gumam Asmi.
"Hm, ya...ada Wira---Wira'nya begitu namanya." Apih mengingat-ingat lagi, karena kejadian itu terjadi sewaktu ia masih muda.
Asmi terjengkat ringan, "itu ayah sama tantenya Alvaro, pih."
Apih mengangguk-angguk paham, "lain waktu, neng undang lah mereka ke rumah...bilang saja atas nama apih," ucap apih, seolah memberikan angin segar nan membahagiakan untuk Asmi.
"Ya neng, atur jadwal dulu. Siapa tau kan mereka pun sibuk...."
"Asikkk! Siap!"
"Amih?" tanya Asmi khawatir dengan amihnya yang masih seperti orang kena serempet kontainer.
"Biar amih jadi urusan apih," angguknya dalam, "dan sampaikan permohonan maaf apih untuk Alvaro sekeluarga atas ketidaknyamanan yang kemarin dan sebelumnya terjadi."
Asmi tersenyum lebar, menak sebenarnya memang tercipta dari sikap dan sifat, bukan garis keturunan, "iya apih. Asmi sayang apih!"
"Sasi?? Sasi?!"
"Sasi juga!"
Apih tertawa dipelukan anak-anak gadisnya, "anak-anak gadis apih teh udah gede! Sebentar lagi apih tereh mantuan lagi!" tawanya renyah dari raden Amar.
"Teteh aja duluan! Sasi mah ngga mau mikirin tentang cinta, bikin pusing setengah gila! Sasi mah mau sama apih aja, cinta pertama Sasi..." jawabnya ketus duduk di pangkuan apih.
"Nyindir kamu! Huuuu!" tukas Asmi sewot mencubiti pipi adiknya, terang saja Sasi tak terima, "teteh ih, apih liat tetehnya gera!" omelnya marah.
__ADS_1
"Udah---udah! Awas ah, berat kalian tuh!" pinta apih menyingkirkan kedua anak gadisnya yang sudah mulai besar, dirinya yang sudah berada di usia senja hampir tak mampu lagi memangku kedua anak gadisnya itu bersamaan.
"Yun! Mana makanan yang buat istri saya?" tanya apih.
"Punteun raden, sudah diantar ke kamar raden..." lungguhnya.
"Oh iya, nuhun Yun..." jawab apih seiring ambu Yuyun yang undur diri dengan teratur.
"Apih ke kamar dulu, liat permaisuri..." ucapnya terkekeh yang langsung mengundang rasa geli sampai ingin muntah dari kedua anak gadisnya itu, "huweekkk apih ih!"
Asmi menjatuhkan dirinya di kasur, ia menelungkup dengan leher terangkat, tak ada lagi bibit, bebet, bobot yang harus dipermasalahkan sekarang.
Namun rasanya, hatinya merasa masih ada yang mengganjal, tapi apa?
Ponsel Asmi berdering dengan menunjukan raden Agah yang menghubungi.
Mata Asmi membeliak, ia sampai lupa dengan janjinya pada Agah adalah besok, seharusnya hari ini ia gladi resik di kampus Obor Kujang.
"Allahu, Asmi lupa!"
"Hallo," ia menerima panggilan Agah.
(..)
Alhasil hari ini Asmi ijin tak kuliah, demi menunaikan janjinya pada Agah.
Asmi langsung berangkat dari rumah dengan dijemput mobil Agah, setelah sebelumnya ia menghubungi Alvaro jika ia cuti ngampus karena ada acara.
Ia juga sempat mengatakan pada Alva jika hari ini ia memiliki janji bantuan tampil di kampus Obor Kujang.
"Oke, nanti kujemput di kampus Obor Kujang setelah selesai pentas," jawab Alvaro.
.
.
.
__ADS_1
.
.