
"Hey cowok! Help me atuh ih!"
Sudah dapat ditebak suara siapa yang berseru dari dalam rumah, entah minta tolong apa dan pada siapa ia meminta tolong.
"Mpap aja lah!"
"Ya kamu lah! Masa nyuruh orangtua!"
Bagas dan Wira saling melempar tanggung jawabnya ketika Ganis meminta tolong dibelikan gula putih di warung sayur dekat rumah, plus daun bawang!
"Apa jadinya atuh, cowok keren beli daun bawang....auto jatoh pasaran!"
"Cowok keren ngga mau bantu ibu itu justru gagal keren," timpal Wira.
Dengan jalan yang terseok-seok kaya orang baru marathon dari Jakarta ke Surabaya dan masih berbalut seragam SMA, Bagas menaruh ponsel lalu menghampiri ibun lalu menegadahkan telapak tangannya, "mana atuh uangnya?" mukanya memelas kaya kucing kecebur got.
"Ikhlas ya kasep?" tanya Ganis merogoh uang dari sakunya.
"Buat ibun mah apa sih yang engga?" rayunya.
"Ngarayu ceritanya," gumam Wira duduk di ruang makan dan melahap rujak cireng buatan Ganis.
Alvaro dan Asmi baru saja sampai di sana, berpapasan dengan Bagas yang dengan coolnya memainkan rambut sambil berkaca singkat di pintu depan dengan memakai sendal jepit pink milik Ganis. Asmi sampai gagal fokus dengan itu.
"Kemana?" tanya Alva.
"Disuruh beli daun bawang ke warung," jawabnya, Asmi melipat bibirnya jaman gini jarang sekali pemuda keren mau-maunya beli daun bawang.
"Oh."
"Yu masuk," ajak Alva seiring dengan kepergian Bagas, padahal Asmi masih menatapnya ke belakang, "ngga usah diliatin terus, lama-lama kamu suka sama Bagas."
Asmi terkekeh-kekeh, "Bagas lucu kang, keren-keren pakenya sendal jepit pink pita gitu, mana beli daun bawang! Suka deh Asmi, umur Bagas ada 17 tahun?" tanya Asmi.
Alvaro mengangkat tinggi-tinggi alisnya, "17."
"Berarti sama Asmi cuma beda 3 tahunan, brondong!" cengir Asmi lebar.
"Ngga usah ngarang!" sewot Alvaro.
"Assalamu'alaikum!"
Wa'alaikumsalam.
"Sok atuh dimakan lagi, kira-kira kurang apa bumbunya?" tanya Ganis menpersilahkan Asmi kembali memakan cireng yang ke 4'nya.
"Engga bun, udah cukup lah. Mantep! Dijadiin usaha aja bun, laku pasti! Apalagi kalo nyasar anak muda!" usul Asmi.
"Ide bagus! Nanti ibun suruh Bagas sama Alva bawa-bawa box ke kampus sama sekolah!"
Asmi tertawa membayangkan jika Alva dan Bagas bawa-bawa box cireng.
"Hihh! Ogah!" gidik Bagas, sementara Alva duduk saja tenang tak tergoyahkan.
"Yang pantes mah perempuan, bukan lelaki," jawab Bagas.
__ADS_1
"Emang apa bedanya lelaki sama perempuan?" tanya Ibun.
"Ya perempuan mah lebih cerewet atuh bun, lebih lihai buat gaet pembeli..." jawab Bagas.
"Terus apa kabar sama si abang-abang padang tukang baju, tukang kerudung, tukang semvak di Gasibu, sok?" tantang Ganis, siapapun tak akan menang kalo debat bareng Rengganis Kamania, lalat aja lewat! Otaknya itu menyimpan ribuan kosakata yang tak dijangkau nalar manusia normal sehingga ia bisa membalas ucapan orang lain dalam waktu sepersekian detik, heran! Wira nemu dimana sih? Toko oleh-oleh kah?
Rashmi mengulas senyum, "sekarang udah jaman sosial media bun, udah ngga jaman nenteng box kemana-mana buat jemput bola. Kasih aja iklan menggiurkan low budget, untuk harga promosi kita tawarkan harga modal, setelah mereka nyicip dan tau rasa, kemasan menarik kita bisa mainin harga..." jelas Asmi menaik turunkan alisnya.
"Cireng Rujak Ibun!" Ck, i got you!" Asmi mengerling.
"Setuju!" jawab Ganis.
Wira dan Alva mendengus geli, "kamu tuh mahasiswa seni apa bisnis managemen?" tanya Ganis.
"Mahasiswa seni yang merangkap anak pebisnis, generasi sunda modern dan reinkarnasi bidadari kayangan!" tawa Asmi.
"Cakeppp!" Bagas menyahut.
"Iya bun. Memaksimalkan apa yang ada," jawab Alva.
"Dulu Asmi pernah jadi model iklannya pabrik teh apih, tapi hasilnya malah di cut!" jawab Asmi.
"Kenapa?" tanya Alva.
"Teh nya pait, Asmi refleks bilang ngga enak sambil muntahin lagi teh'nya."
Bagas tertawa, "kacau.."
"Bukan ngga enak tepatnya memang terlalu pekat, dan memang rasa teh ya gitu...itu justru teh kualitas bagus," timpal Wira.
Asmi seakan menjadi dirinya sendiri bersama keluarga Alva, ia bebas mengemukakan pendapat dan mengalir saja seperti banyu.
__ADS_1
Alva menggeser kursor di laptop, mencari file tugas miliknya tahun lalu, berharap masih ada.
Dan Asmi masih ikut memperhatikannya di samping, "yang ini kali kang!" tunjuknya ke salah satu file dokumen.
Wallpapernya bikin merinding, bukan tema underground tengkorak seperti biasanya, melainkan bendera Indonesia di atas awan gunung Bromo, maha karya Tuhan yang memang bikin mata berbinar kagum.
Ada beberapa file pribadi Vulcan dan arsip penting. Tapi mata Asmi yang teliti menangkap satu file diantara banyaknya amplop dokumen.
...Seren Taun Cigugur...
"Ini acara seren taun yang kemaren?" tanya Asmi merebut lapackk kursor jari di laptop Alva.
"Iya."
"Coba--coba pengen liat ih!" antusiasnya.
"Jangan ah, secret!" jawabnya membuat Asmi mendelik sinis, "pelit."
"Takut nanti kamunya ngeri, soalnya ada potret mistisnya!" jawab Alva.
Alis tipis Asmi bertaut, "ah masa?!"
"Ngaco ah! Penampakan gitu maksudnya?" tanya nya penasaran, diangguki Alva.
"Ihhh, makin penasaran. Da emang kata kang Hendi tuh kalo lagi ada acara adat gitu mah suka nyempil lelembut leluhur gitu," balas Asmi.
"Liat atuh kang! Pleaseee!" pintanya merengek seperti anak kecil, mendongakan wajahnya ke arah Alvaro membuat Alva tak bisa untuk tak menjepit pipi chubby Asmi, "tapi jangan takut, nanti ke kamar mandi jangan minta anter Sasi..." gemas Alva.
"Engga lah! Udah biasa!"
Alva mengangguk melepaskan tangannya dari pipi empuk Asmi, begitu empuk nan kengal sampai-sampai ia ingin menggigitnya.
Asmi langsung mengklik icon bertuliskan seren taun.
Dan matanya bersinar berwarna-warni ketika satu persatu gambar itu muncul membentuk semua memory beberapa waktu ke belakang.
Potongan-potongan memory yang terabadikan itu membawa Asmi kembali ke masa dimana ia dan Alvaro bertemu dalam rasa yang berbeda.
"Dulu tuh kalo ngga salah, sebelum moment seruduk banteng itu Asmi kayanya pernah liat akang kuman deh waktu jalan sendirian, pas Asmi bukain jendela...bener ngga sih itu akang, atau akang lupa? Ngga ngeuh kali ya?" tanya Asmi.
Alva mengangguk menyetujuinya, "iya, yang kamu nongolin kepala kaya guguk,"
Pukk!
Asmi menepuk lengan Alvaro, "engga guguk juga meren! Da Asmi mah ngga julurin lidah!"
Alvaro tertawa, selagi Asmi kembali melihat-lihat. Sejurus kemudian ia merasa ada yang aneh saat kursornya bergerak semakin men-scroll ke bawah.
Kebanyakan dari foto yang Alva ambil ada dirinya.
"Kenapa, horor ya?" tanya Alva menahan tawanya.
Asmi mendelik sinis, "yang horor justru akang! Ngefans sama dia ya?" baliknya bertanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.