
Kata Sah dunia dan akhirat menggema mengisi setiap inci ruangan itu. Tangan-tangan yang bersyukur mengusap wajah dengan penuh rasa syukur.
Alvaro menghela nafas leganya, setelah beberapa puluh menit ia dilanda kegugupan yang berlebih sampai membuat tangannya berkeringat.
Sekar Taji melepas kain miliknya dari Alva sebagai makna bila mempelai sudah mandiri, tak lagi ada dalam tanggung jawab kedua orangtuanya.
Setelah kata sah berkumandang, anggota keluarga membawa Asmi ke dalam ruangan untuk bertemu dengan Alvaro yang sudah sah menjadi suaminya sekarang.
Dan inilah yang ditunggu-tunggu sejak tadi, Asmi berjalan perlahan dengan pakaian khas pengantin kota udang bersama seluruh perhiasan keraton yang wajib dipakai turun temurun oleh para keturunannya saat menikah.
Binar mata bahagia, terharu, sedih bercampur aduk jadi satu.
Pertemuan kembali keduanya setelah kemarin mereka melakukan siraman, ada waktu yang berhenti meski sepersekian detik.
•••••
Hamili aku please!
Asmi malu, Asmi udah jatuhin harga diri sendiri di depan kang kuman.
••••••
Alva menyunggingkan senyumannya, dengan mantap memasangkan cincin di jemari Asmi untuk kemudian Asmi melakukan hal yang sama dengannya, jemari Asmi cukup tremor melakukan hal itu, tangannya bahkan mendingin hampir membeku.
Ia mencium takzim punggung tangan Alvaro, tangan yang dulu sempat ia tepis karena menepuknya yang sedang tersedak asap rokok. Ia terhenyak ketika Alvaro meraihnya lalu mengecup kening Asmi romantis, meski terhalang siger, namun Asmi dapat merasakan kecupan hangat Alvaro sampai ke hatinya.
Keduanya digiring ke teras untuk selanjutnya prosesi injak telur.
Tak ada keraguan ketika kaki-kaki besar Alva menginjak kulit bundar telur ayam yang ditaruh bersama batu persegi panjang dan dibungkus kain putih yang disebut pipisan.
Seketika telur itu pecah terinjak Alvaro, lalu Asmi meraih sebuah kendi berisi air bersih untuk membasuh kaki Alvaro dan mengelapnya dengan kain bersih.
"Mangga (silahkan), kanggo (untuk) den rara, dicium dulu tangan suaminya takzim, sungkem sebagai tanda hormatnya pada sang suami dengan pengabdian penuh cinta dan kasih...." suara lembut nan empuk sang pembawa acara seketika membuat Asmi mengu lum bibirnya tatkala pandangannya dan Alvaro beradu.
Geli sekali rasanya ia sungkem takzim pada Alvaro yang notabenenya, mereka selalu bercanda.
Asmi tertawa semakin intens nan renyah, "akang jangan gitu natapnya, Asmi ngga kuat pengen ketawa!" Asmi justru menepis tangan Alvaro saking gelinya.
"Terus harus gimana atuh?" tanya Alvaro.
"Cepet sungkem." pintanya justru membuat Asmi semakin tergelak.
"Neng!" geram Sekar Taji di pinggir. Asmi berdehem mengusir rasa geli nan gatal lalu menyentuhkan kedua tangan Alva di wajah serta ujung hidungnya, "Asmi tuh pengen ketawa liat akang pake baju beginian...." akuinya berbisik yang hanya bisa di dengar Alvaro.
"Kenapa kaya raja Pajajaran ya?" balasnya berbisik, bahu Asmi kembali bergetar karena tertawa tertahan.
"Neng Asmi tuh apa-apaan sih kang!" gerutu amih Sekar kesal dengan tingkah anaknya itu.
__ADS_1
Semua prosesi ini dinamakan prosesi salam temon.
Beberapa abdi dalem berjejer masuk membawa serta barang seserahan yang semalam dibawa oleh keluarga besar Ganis---Wira dari Jakarta dan Bandung dan ditaruh rapi di dekat tempat mereka ijab kabul tadi.
Dengan posisi yang masih berada di teras bangunan ini, Asmi dan Alvaro duduk bersama dipayungi oleh ais pangampih, pengasuh Asmi...ambu Lilis.
"Selamet den rara, den Alva...ambu mah ikut terharu..." ucapnya membuka payung berwarna hijau blink-blink dengan hiasan manik-manik yang menggantung cantik. Seiring dengan kawih yang dinyanyikan oleh sinden, butiran beras kuning, kunyit serta uang receh meluncur melewati payung itu sebagai adat saweran atau Surak, di dalam prosesi ini mengalir deras harapan keluarga dan orangtua akan keharmonisan rumah tangga anaknya kelak.
"Makasih ambu," jawab Asmi.
Seorang sesepuh menghampiri keduanya dan memposisikan diri di depan Asmi serta Alvaro, tangannya terulur menaburkan pugpugan, terbuat dari ilalang atau daun kelapa yang sudah lapuk di kepala keduanya, sebagai makna agar pernikahan keduanya awet seperti ilalang yang terikat sampai lapuk.
Naya menggertakan kakinya tak sabar, "ihhh, kelewat kan acara sawernya!" dumelnya membuat Galexia terkekeh, "minta ganti Andro aja ntar malem, sawer di kamar, Nay!"
"Sawer pake duit segepok, Ndro!" timpal Ganis.
"Biasanya tuh teh, kalo di Giri Mekar ada kawinan, Naya suka paling banyak nangkep uang sama Wati, suka sampe pada kotor rok! Tapi bukan berapa banyak uangnya sih, keseruannya!"
"Gue juga kaya gitu dulu, seringnya tuh dapet permen doang! Jarang dapet doorprizenya, mesti manggil abang Nat dulu, karena dia jangkung!"
"Hey ibu-ibu, asik banget kalo udah ngegosip. Tuh udah dijemput sama abdi dalem," tunjuk Fatur. Akhirnya rombongan keluarga Alvaro dijemput oleh para ais pangampih beserta Bajra disana, "pak, bu.. Mangga atuh, sudah sah."
"Alhamdulillah!" Ganis menyerbu memeluk Wira, yang seketika suasana menjadi haru, masih terbayang dalam ingatab Ganis bagaimana ia dulu mengandung Alvaro, setiap detiknya setiap menitnya tak luput dari luapan kegembiraan sebagai pengganti pir.
Lalu ketika Alvaro lahir yang tak diduga, ketika Ganis sedang di kolam renang hingga moment-moment Alvaro kecil yang kini bertumbuh menjadi lelaki dewasa dan sudah sah beristri.
Mereka berjalan dengan iringan keluarga Asmi untuk bersama mendampingi Asmi dan Alvaro di pelaminan.
Terlihat jelas raut wajah terharu ketika keduanya menyambut keluarga besar dari kedua belah pihak.
Adep-adep sekul, adalah prosesi yang harus mereka lakukan setelahnya.
3 orang abdi dalem dengan jarik ketat di pinggang berjalan cepat membawa nampan berhias berisikan 13 butir nasi ketan kuning yang dibentuk bulat-bulat.
Amih dan apih ikut maju, sesuai interuksi pembawa acara demi menyuapi keduanya.
Tangan besar apih mengambil satu butir untuk Alvaro dan menyuapkannya pada Alvaro, dipandangnya Alvaro yang kini telah menjadi menantunya itu, ia mengulas tersenyum menerima Alvaro bak anaknya sendiri seiring dengan suapan yang diberikan.
Lalu butiran kedua ia ambil dan disuapkan pada Asmi, ada lengu han dan helaan nafas berat menatap putrinya itu, begitupun Asmi yang malah menitikan air matanya menatap apih.
Mata sama dengan mata Asmi kecil yang selalu memohon, merengek dan berkeluh kesah padanya pasal kejamnya dunia.
"Apih," ia mengunyah tak nikmat suapan nasi ketan dari tangan apih karena penuh dengan kegetiran, seolah mereka akan berpisah jauh selamanya. Setelah apih lalu amih, dan bergantian dengan Ganis serta Wira.
"Ibun," lirihnya, Alvaro tercekat seret di tenggorokan, seakan nasi itu tak dapat tertelan lancar oleh rasa haru biru.
8 butir habis tersisa 5, dan 4 butir mereka lahap dengan saling menyuapkan satu sama lain, moment itu tak luput dari lensa kamera, bahkan kini teman-teman kampus, teman Alvaro dan Wira pun telah berdatangan meskipun masih tertahan di alun-alun keraton dan menyaksikan acara demi acara dari layar besar yang digelar di tengah alun-alun.
__ADS_1
1 butir tersisa untuk keduanya perebutkan meskipun akhirnya mereka makan berdua sebagai perlambang keharmonisan akan pembagian rezeki yang didapat. Prosesi ini dilakukan dengan cara duduk berhadapan (adep-adep), bermakna kerukunan pasangan, orangtua, menantu dan mertua.
Ganis dan Wira digiring untuk duduk bersampingan dengan apih dan amih dan para sesepuh keraton di kursi pelaminan.
Alvaro dan Asmi berjongkok bersungkem ria pada mereka bergiliran.
Hingga sampai, langkah Asmi terhenti di depan apih dan amih, menaruh wajahnya di pangkuan kedua orangtuanya itu bersama Alvaro yang berada di pangkuan Ganis.
Bayangan masa kecilnya yang selalu meminta perlindungan apih terlintas begitu indah diiringi kidung kinanti yang menjadi latar prosesi sungkeman ini, dari sekian banyak yang berada disini, tak ada yang tak terharu ketika kidung kinanti yang sarat akan nasihat, petuah, dan luapan kasih sayang dikawihkan.
Asmi dibuai dalam dekapan, apapun apih dan amih lakukan demi terhentinya tangisan Asmi. Sekarang Asmi sudah menjadi hak milik sang suami, maka apih dan amih lepas Asmi dengan ikhlas lillahita'ala.
"Sing janten (semoga jadi) istri anu soleha, néng..." apih mengusap kepala, ronce melati hingga punggung Asmi lembut lalu mengecup kening Asmi yang terisak kencang, "maafin Asmi, pih...belum bisa bahagiain apih sama amih..."
"Do'ain Asmi----" ucapannya terjeda karena luapan kesedihan yang menahan sesak di dadha hingga tercekat di area tenggorokan. Alvaro mengusap pundak Asmi yang bergetar berharap bisa mengurangi rasa sedih Asmi, ia bukannya tak sedih, namun Alva masih bisa mengontrol rasa sedihnya di depan umum.
"Njirrr, sedih gue." Gumam Afifah mengusap hidungnya yang tiba-tiba mampet.
Sasi menunduk ikut terharu, dengan otomatis kakak perempuannya itu akan ikut Alvaro, ia mengalihkan pandangan ke lain arah dan memilih pergi dari sana, ia menolak bersedih.
Kepergian Sasi terlihat oleh netra Bagas, ia pun yang tak terbiasa dengan moment melow seperti ini memilih menemani adik ipar abangnya itu.
"Lebay ya?" tembak Bagas berdiri di samping Sasi. Sasi mengangguk, "Sasi ngga suka yang sedih-sedih, kang..Kaya mau pergi ke arab aja, terus ngga balik-balik lagi!" jawabnya, Bagas menyunggingkan senyumnya.
"Akang laper ngga? Mau ambil makan duluan ngga, tapi langsung ke dapur?!" ajak Sasi menaik turunkan alisnya.
Bagas menaikan alisnya sebelah, bocil ini tau saja hal yang menyenangkan dan mengenyangkan, "boleh!" angguknya mengacak gemas rambut bagian depan Sasi membuatnya sedikit acak-acakan.
"Arghhh! Jangan atuh a! Udah di dandanin ih!" tepisnya menjauh.
"Ck!" Bagas berdecak, "mau di dandanin mau engga juga sama aja!" cibirnya.
"Enak aja! Sebentar lagi pacar aku mau datang! Jangan dirusak," Sasi berjalan seraya merapikan rambut dan penampilannya.
"Pacar siapa?" Bagas tertawa garing, "bocil mah dilarang pacaran! Sekolah dulu yang bener! Ngga ada pacaran-pacaran!" entah kenapa Bagas tak suka Sasi menyebutkan kata pacar aku.
"Dih! Biarin, Sasi udah smp, bentar lagi juga 2 tahun lagi sma! Lagian akang larang-larang, siapanya Sasi?!"
"Hey bocil, gue kan kakak lo!" jawab Bagas memajukan wajahnya pada si bocah gemes ini, "buru dimana dapurnya, mendadak aus euy!"
.
.
.
.
__ADS_1