Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 70. SOSOK GADIS ROMANTIS


__ADS_3

Wajah Asmi menghiasi layar pipih milik Alvaro, disaat Saka sudah terlelap dengan indahnya dan tangannya bermain di bawah cawett sana, entah apa yang ia mainkan.


Mungkin Filman juga sedang bermimpi jadi seorang kapiten sambil senyam senyum sendiri, dan Anjar dengan segala mimpi buruknya yang tak pernah usai. Alvaro masih melek memandang seorang gadis.


"Yang lain udah pada tidur, kenapa akang belum?"


Alvaro hanya tersenyum sambil memandangi Asmi penuh makna, gadis ini nampak manis dengan piyama warna pinknya.


Menyadari jika Alva hanya diam saja sambil senyam-senyum sendiri, Asmi buka suara, "akang sehat, kan? Kalo udah ngantuk tidur aja."


"Kamu juga tidur, udah malem. Besok ngampus kan?!"


Asmi mengangguk.


"Jadwal akang besok kemana?" tanya Asmi.


"Ketemu sama abah Uwie, jam 7 pagi mau keliling-keliling."


"Kalo ke Leweung, jangan lupa pake lotion anti nyamuk kang. Lagi musim Dbd,"


"Iya. Abah Uwie juga ngajakin ke leweung baladahan, katanya."


Asmi terkekeh, "mau disuruh panen atau nyangkul lahan?"


"Engga tau. Katanya disini ada leweung larangan?" tanya Alvaro.


Asmi mengangguk, "ngga sembarang orang bisa masuk kang, apalagi kalo wisatawan. Tapi kalo ngga salah, sekarang sih bisa pada masuk dengan syarat dan aturan berlaku."


"Kamu pernah?"


Asmi terlihat mengangguk, "dulu apih ngajak Asmi, buat tafakur katanya di Puncak Salam. Apih juga suka puasa total atau mutih kalo mau masuk ke leweung larangan. Kalo akang penasaran, coba tanya abah Uwie, bisa masuk apa engga. Asmi cuma titip ikutin aturannya, nanti disana ada ais pangampihnya, abahhhhh Eman kalo ngga salah namanya..." Asmi mencoba mengingat-ingat.


"Disana ngga boleh masuk pake alas kaki, kang. Ngga boleh pake baju merah juga. Setau Asmi itu sih aturannya."


"Ada apa disana emangnya?"


Asmi memutar bola mata ke atas, "emhhh, ada apa ya? Ada alam yang terjaga! Kalo di leweung Tutupan sih banyaknya pohon bambu, warga boleh nebang pohon tapi pun harus ada gantinya, ibarat kata satu pohon tumbang ada gantinya yang baru."


"Kalo di leweung larangan itu, banyak pohon pinus, ngga boleh sama sekali ganggu apapun yang ada di alam. Semuanya begitu keramat untuk diusik. Bahkan hati pun harus bersih, makanya apih bilang cocok untuk tafakur, untuk bermuhasabah...karena warga tuh percaya kang, Gusti anu ngasih (Tuhan yang memberi), Alam anu ngasah (Alam yang mendidik), Manusa nu ngasuh (manusia yang menjaga)."


Alvaro mendengkus lucu, Asmi memang sosok romantis, bukan romantis yang melankolis atau puitis tapi ia romantis pada berbagai aspek termasuk alam, apih Amar dan segala lingkungan tempat Asmi dibesarkan telah berhasil mendidik seorang gadis ningrat yang romantis.


Gadis metropolitan jaman sekarang, jarang ada yang seperti Asmi, begitu memperhatikan dan peduli dengan sesuatu yang berbau alam dan sakral.


"Acara ngemban taun, bulan apa?"


Asmi melihat ke atas dan berpikir, "emhhh kayanya Oktober atau November ya, lupa!"


"Akang kan jurusan antropologi budaya, prodi yang berbau-bau hal culture, sakral, kepercayaan, coba deh cari abah Eman. Dia tuh ais pangampih disana, minta dikenalin ke abah Uwie. Bilang aja temennya Asmi," ujar Asmi.


Alvaro mengangkat alisnya sebelah, "kenapa harus ngaku temen?"


Asmi tertawa, "mau ngaku apa atuh, supir?" kelakarnya senang menggoda Alvaro.


"Kalo nyebutin pacar, orang disana ngga akan percaya. Nanti disangkanya ngaku-ngaku!" Asmi lantas menguap.


"Udah ngantuk? Tidur gih. Aku tutup vicallnya ya,"


Asmi mengangguk, "bye. Sleep well."


"Too."



Pagi sekali Alvaro sudah bangun, mendengar suara riuh dan sibuk tuan rumah, tak indah rasanya jika ia masih terlelap.



"Ambu, kamar mandi sebelah mana, ya?" sapa Alva membuat si ibu pemilik rumah menoleh sejenak saat sedang menyalakan besar api tungku di dapur kotornya.



"Eh, a...sudah bangun? Kamar mandi di luar, sok atuh takut mau ambil wudhu..." ia membuka pintu ke arah luar dan mempersilahkan Alvaro.



Memang sejuk, benar-benar asri disini. Sejenak Alvaro duduk di bangku yang terbuat dari kayu dan menikmati udara pagi yang cukup menusuk kulit. Bersama bunyi air yang mengalir deras di sebuah kamar mandi berdinding bambu. Apakah jika ia melakukan ritual pagi harinya tak akan ada yang tiba-tiba mendobrak masuk, atau mengintip?

__ADS_1



Pemuda itu lantas secepatnya masuk, takut jika teman-teman jahilnya keburu terbangun dan berebut kamar mandi.



Alvaro tak langsung masuk, ia lebih memilih duduk di dekat gawang pintu dapur menemani ambu Euis menyiapkan sarapan.



"Ambu, saya boleh nanya?" tanya Alva membuatnya menoleh dan mengangguk, senyuman ramah tak pernah luntur darinya, atau memang ciri khas warga kampung memang seramah ini?



"Ya boleh atuh, a...mau nanya apa?"



"Ambu tau keluarga Raden Amar Kertawidjaja?"



"Raden Amar Kertawidjaja? Raden nganten Sekar Taji?" tembaknya.



"Leres, ambu."



"Ya kenal atuh! Masa engga, ada da rah biru keturunan keraton kasepuhan..." jelasnya.



Alvaro mengangguk-angguk paham, mungkin saat ini Alvaro sedang menyelam sambil minum air, sambil ia mencari bahan skripsi sambil ia menelusuri sejarah keluarga Rashmi Sundari.



"Berarti ambu kenal sama raden rara Rashmi Sundari," ada seulas senyuman saat menyebutkan nama Asmi.




"Apalagi raden rara Rashmi, mojang geulis tur bageur, kalo kesini...raden rara Rashmi itu paling suka rasi dipakein lalapan daun singkongnya sama sambal terasi, udah aja itu makannya teh engga manja!"



Alvaro tertawa geli, bukan ayam tepung ataupun makanan mahal lain, namun yang diminta Asmi begitu sederhana.



"Beda sama raden ngantennya, beda sama den bagus Bajra yang makannnya harus ada ikan nila merah."



Alvaro menuangkan teh tawar panas ke dalam gelas sebagai penghangat di kala udara masih membuatnya beku.



"Mereka sering kesini?"



"Emhh, sekarang udah jarang. Paling sesekali kalo libur atau ada acara adat keagamaan tertentu. Yang sering kesini itu paling raden rara Sasi, karena memang sering ikut paguyuban pencak silat," jelasnya lagi.



"Aa kenal sama keluarga raden Amar?" ambu Euis balik bertanya.



Alva menggeleng, "ah engga. Cuma tau aja, ambu."



"Itu pake nyebutin raden rara Rashmi, udah pernah ketemu? Cantik, ya?!" tembaknya menggoda.

__ADS_1



Alva hanya menggelengkan kepalanya, *cantik. Banget*!



Untung saja obrolan tentang Rashmi sudah selesai saat ketiga temannya itu mulai bangun.



"Kakang mas Alva udah bangun! Kamar mandi dimana, kamar mandi euy?!" tanya Filman panik mencari rokoknya.



"Luar," jawab Alva masuk kembali ke dalam kamar.



"Euhhh, ngga kuat euy! Alam memanggil!" Filman segera melompat keluar kamar.



"Tong lila, Man! Gue juga ngga kuat eung!" teriak Saka.



Sementara Anjar meringkuk kembali menarik selimutnya, "dinginnn!"



"Pules jam berapa lo?" tanya Alva.



"Jam 2," paraunya. "Lo ngobrol sama Asmi aja gue tau, gue denger!"



"Tumben. Yang lain udah ke bo duluan. Udaj Njar, selesain dulu sama Cintya biar lo ngga kesiksa gitu, enak merem enak ngerjain tugas disini."



"Ntar kalo dia ada ngehubungin gue duluan." Jawab Anjar.



"Gengsi lo ketinggian, Cintya disamber orang, lo baru tau."



"Ngga akan, gue berguru dari lo yang dingin sama cewek." ia mengubah posisi tidurnya.



"Itu karena gue udah ngga peduli, udah ngga mau menjalin apapun sama doi-nya." Jawab Alva mengganti bajunya setelah sebelumnya ia selesai mandi.



"Lo lama disini Jar, ngga menutup kemungkinan si Cin-cin bakal nyari lagi."



Alvaro keluar dengan membawa kamera miliknya yang dikalungkan di leher juga laptop yang ia tenteng dalam tasnya.



"Buruan lo bangun. abah Widi udah siap di bale warga."


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2