Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 26. SALING MENERKA


__ADS_3

Alva benar-benar menyertakan Asmi bersamanya, sampai-sampai Ubay dan Gigih saja melohok di tempatnya saat melihat kedatangan Alva bersama Aami dari kejauhan, jika si unyu-unyu manis ini ikut dikantongi oleh Alva kaya gula-gula.


"Itu siapa yang dibawa kang Alva?" tanya Niah menunjuk udara ke arah datangnya Alva.


"Hayooo Ni, ceweknya Alva kali!" goda Lia tertawa kecil.


Niah mencebik nyinyir, "ngga mungkin lah! Kang Alvaro itu ngga punya cewek!" jawabnya yakin.


"Siapa tau, lo aja yang ngga tau. Mana cantik lagi!" jawab Lia mengompori.


Asmi melihat ke arah sekumpulan manusia campur aduk kaya nasi uduk di meja pojok, tidak semua memakai baju hitam-hitam layaknya mau pergi melayad orang meninggoy. Rupanya para panitia acara dan promotor ini nampak biasa saja, normal-normal saja, malahan Lia pake baju warna pink.


"Bray, seriusan lo bawa?" Gigih terkekeh mencibir menyalami Alva dan bertos ria.


Baru juga sampai, tapi Asmi sudah disuguhi tatapan sinis bak pisau roti, udah mengkilat bergerigi pula! Sebut saja Niah tak suka pada Asmi.


"Wehey! Akang ganteng bawa someone!" serunya pada Alva, "apa kabar brother?!" ia menyalami Alva, "alhamdulillah."


Asmi mengulas senyuman simpul dan mengangguk dalam pada semua yang hadir tanpa terkecuali meskipun sejak tadi ada seseorang yang terlihat tak suka padanya.


Padahal seingat Asmi, ia tak pernah memiliki hutang apapun pada siapapun.


"Masih nunggu siapa?" tanya Lia.


"Kang Acuyciplux," jawab Abeng, pemuda itu mendekatkan kursinya pada Asmi, "ceweknya Alva?" tanya nya tiba-tiba seraya nyengir, rasanya bibir Abeng terasa gatal tak terkendali jika tak mengemukakan pertanyaan yang bisa bikin ia mati pincang. Asmi melirik-lirik ke arah Alva yang juga melihatnya dari samping.


"Bukan." geleng Asmi.


"Ha? Yang bener?! Va?!" ia menoleh antusias pada Alvaro. Dan jawaban Asmi hanya dikekehi cibiran oleh yang lain seolah mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Yang benar saja, Alvaro tak biasanya membawa gadis dalam kegiatannya jika bukan someone special. Jika gadis lain sudah pasti akan mengaku-ngaku pacar Alvaro, tapi tidak dengan Asmi.


Alva tak menjawab dan memilih sibuk dengan ponselnya.


"Tanya aja sendiri, ya kan kang?" Asmi memiringkan kepalanya ke arah Alvaro lucu.


"Ngga usah muna, so cantik!" gumam Niah merotasi bola matanya.


Seketika Asmi menatap jengah pada gadis itu. Jika Asmi bukan tamu di acara ini, sudah ia kutuk dan satukan Niah dengan nisan kuburan para leluhur, hingga akhirnya Asmi hanya bisa mencebik kesal dan pindah dari meja mereka, sementara Niah sendiri tersenyum puas karena berhasil menyingkirkan gulma dari sisi Alvaro.


"Kang, Asmi duduk di sebelah sana aja. Takut ganggu!" desisnya menatap julid Niah singkat.

__ADS_1


Mengalah bukan berarti kalah, Asmi.


Alvaro menghela nafasnya lelah, lalu mengikuti Asmi ke arah mejanya membuat senyuman Niah sirna.


"Dia yang muna! Dia teh salah satu korban gamonnya kang Alva atau gimana sih?! Dari awal datang kayanya ngga suka sama Asmi? Punya salah apa Asmi sama dia, kenal aja engga! Asmi ngalah bukan karena takut sama dia ya kang, catet!! Tapi karena hargain orang yang ngajakin Asmi! GARIS BAWAHI! Ngga mau bikin masalah," ucapnya nyeroscos penuh capslock. Ia mendekap kedua tangannya di dadha sebelum Alvaro buka suara.


Bukannya marah, Alvaro malah mengulas senyum tipisnya, "mau pesen minum makan ngga, sambil nunggu aku? Kalo kamu nyamannya disini ngga apa-apa, toh disana juga takutnya pada ngerokok." Jawab Alvaro, Asmi menggeleng, "Asmi bisa pesen sendiri." gelengnya masih mendekap tangan di dadha dan melihat ke lain arah, seperti bocah kecil yang lagi ngambek.


"Kang!" Alvaro memanggil pelayan, tanpa meminta persetujuan Asmi, ia memesan makanan dan minuman untuk gadis ini, "disini adanya cake, ngga ada karedok basreng," ucap Alva setengah menyindir geli.


"Ngga ada bajigur, adanya latte...." kali ini Alva tak bisa untuk tak terkekeh tanpa suara.


"Adanya ice milktea ngga ada pop es."


Kali ini Asmi yang tak dapat menahan kedutan di bibir lalu menyarangkan kepalan tangannya di lengan Alva seraya melotot.


"Abisnya kamu mah aneh, ningrat teh sukanya begituan. Setau aku kalo orang yang banyak uang sukanya makanan mahal, sehat..."


Asmi melengkungkan bibirnya seraya menggeleng, "kang kuman salah, justru karena keseringan nemu makanan mahal nan sehat. Jadinya Asmi mau makanan merakyat!" jawabnya.


Acuy terlihat datang, Alva dan Asmi menoleh sejenak ke arah meja anak-anak panitia, untuk konser kecil kali ini, ayahnya Wira tak ambil job, dan hanya ditangani oleh Acuy beserta generasi penerus mereka.


"Kesana dulu," pamit Alva meninggalkan Asmi saat Asmi mengangguk memberikan ijin, bersamaan dengan datangnya pesanan Alva untuknya. Semakin mengenal Alvaro, lelaki itu ternyata begitu hangat dan manis.


"Lemon cake, potato fries sama ice lemon tea...." ia mengulang pesanan Alva seraya menurunkan pesanan di depan Asmi, "makasih kang." Ia mengangguk.


Amih menatap jauh ke luar jendela, pikirannya memikirkan ini dan itu meskipun di dalam mobil Dhara dan Kelana masih tetap mengoceh tentang obrolan dunia bocah.



"Mang, bisa berhenti dulu sebentar di depan!" pinta Nawang pada supir amih.



"Kenapa teh?" tanya Katresna.



"Itu, teteh lupa mau beli pulsa dulu sebentar," jawabnya lagi.

__ADS_1



"Mih, berenti dulu sebentar di depan ya?!"



Amih mengangguk setuju, "boleh."



Lantas supir menghentikan dan menepikan mobil di depan sebuah konter hape sebrang sebuah cafe, cafe yang ramai namun tak cukup besar.



Pandangan amih masih keluar jendela mobil dan melihat jalanan serta sekeliling area, di matanya amih hanya melihat sekumpulan anak muda yang berkumpul sambil bercengkrama dan tertawa entah apa yang mereka bicarakan, paling-paling tak jauh dari hal unfaedah menurutnya, bukan pasal bisnis! Tak penting!



Kalau Asmi ada disana, sudah pasti ia akan menggeretnya pulang, daripada nongkrong-nongkrong ngga jelas sama modelan anak muda yang tampilannya saja abstrak mirip lukisan Van Gogh.



Amih mendengus, "neng Asmi ngga mungkin kaya gitu."



Asmi menatap ke arah luar cafe sambil mengaduk-aduk minumannya dan sesekali menyeruput, ia menatap sekitar dan sebrang jalan dimana sebuah konter pulsa berdiri bersama para pelanggannya dengan lekat.


Kendati demikian, pikirannya melayang entah kemana. Jika sampai amih tau ia sering terlambat pulang bukan karena mengerjakan tugas, mungkin saat ini juga ia dikurung dan dinikahkan dengan Agah.


Apalagi jika ia sampai tau, Asmi disini bersama Alvaro dan kawan-kawan, mungkin besok ia langsung pindah ke planet Venus.


"Amih jangan sampai tau," lenguhnya lelah.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2