
Tanpa mau meminum teh yang dibuatkan ibun Ganis apalagi memandang para penghuni rumah, amih memutar badannya dan keluar dari rumah Wira, "pulang!" liriknya pada Asmi, lalu beranjak keluar. Langkahnya besar-besar ke arah luar rumah begitu cepat tanpa melihat langkah kaki.
"Eka, mang Dedi nyalakan mobil!" titahnya melangkah dengan cepat menuruni undakan tangga teras. Asmi meloloskan nafas lelahnya, "bun...om Nata, kang, Bagas...maafin amihnya Asmi, ya..." ucap Asmi, ia beranjak dari duduknya dan menyalami Wira juga Ganis dengan takzim.
"Ngga apa-apa neng, dimaklumi. Anggap aja itu cobaan hidup!" jawab Ganis membuat Bagas kembali tertawa dengan ocehan ibunya.
"Cobaan hidup," cibir Wira, sejak dulu mulut istrinya ini seperti tak memiliki rem dari kamus kata-kata menohok.
"Ya iya atuh, cobaan hidup teh ngga harus amnesia, orang ketiga atau finansial. Bisa jadi nasib buruk karena punya emak galak, emak cerewet, kepeleset ee ayam terus jadinya stroke..."
Asmi dan Bagas sudah tergelak puas, padahal Wira dan Alvaro sama sekali tak menarik sudut bibirnya ke atas.
"Yang bener aja bun, stroke gara-gara kepeleset ee ayam ngga level!" tawa Asmi.
"Udah---udah, makin sore malah makin ngaco," Wira meraih kembali foto Sumini Adiwangsa dan masuk kembali ke ruang tengah disusul Ganis dan Bagas.
"Loh, emang bener kan. Masa iya kepeleset ee ayam sampe stroke disebut anugrah!" Sayup-sayup suara Ganis.
"Ya kamu jangan kasih perumpamaan kepeleset ee ayam atuh ay, sampe stroke pula!" balas Wira hampir hilang di pendengaran bersama tawa Bagas.
"So, raden bagus Alvaro?" Asmi tertawa, membuat decihan tercipta dari mulut Alva.
Asmi menghentikan langkahnya sejenak di gawang pintu, "Asmi pulang dulu kang, get well soon..." ucapnya tersenyum simpul.
Alvaro mengangguk, "besok mau kujemput seperti biasa?"
Asmi menempelkan telapak tangan lembutnya di pipi Alva, "masih anget. Yakin mau masuk kampus, bawa motor pula?"
Alva mendengus tersenyum miring, "orang susah ngga pantes manja, Mi."
Asmi mengangguk namun ia tidak setuju dengan ucapan Alva barusan, "bukan orang susah aja. Tapi memang jadi orang itu ngga boleh manja, sekalipun orang berada." Ralat Asmi, kemudian gadis itu melanjutkan langkahnya, tak mau membuat amih menunggu lama, takut singa dalam diri amihnya ngamuk lagi.
Tanpa banyak berkata Asmi masuk di bangku belakang bersama amih, meskipun ada jarak diantara mereka yang cukup membentang luas selain dari beberapa inci bangku mobil.
Asmi merasa bersama orang lain saat sedang bersama amih. Jangankan angkat bicara, untuk melirik saja kepalanya terasa kaku tak bisa bergerak, atau mungkin seluruh saraf otaknya tau untuk mengkondisikan hati yang sudah terlampau sakit karena amih.
Asmi tau jika sifat tak tau diri amih barusan adalah bentuk dari pertahanan dirinya atas rasa malu, dan rasa bersalah.
Sampai mobil dibawa masuk ke dalam halaman kediaman Kertawidjaja, keduanya masih hanyut dalam suasana hening selain dari suara deru mesin mobil.
Asmi sudah keluar duluan tanpa mau melirik amihnya meninggalkan amih sendiri bersama semua pikirannya sendiri.
"Den, sudah sampai..." mang Dedi menegur, Eka sudah keluar dari bangku depan. Suara mang Dedi cukup mengejutkannya kali ini, ia begitu hanyut dalam masa lalu hingga tak terasa jika dirinya terlihat aneh oleh mang Dedi.
__ADS_1
"Ah iya." Ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Seolah ucapan Wira tadi semuanya terekam jelas dan menjadi moment yang ter-rewind berulang-ulang di dalam otak bekunya.
Jika kamu bertanya siapa kamu, pada putra saya Alvaro, maka ia bisa menjawab jika ia keturunan Sumini Adiwangsa alias raden ayu Paramitha.
Amih berjalan dengan sorot mata kosong, lalu duduk begitu saja di kursi miliknya tanpa masuk kamar mandi terlebih dahulu seperti biasanya.
Sang suami melihat kedatangannya setelah Asmi, "darimana?" tanya apih, bukannya menyahut, raut wajahnya terlihat begitu jelas jika ia sedang berpikir keras. Alisnya saja mengernyit dengan menatap lurus ke bawah, entah apa yang ia tatap, mungkin masa lalu terlukis jelas di keramik rumahnya.
Kamu tidak lebih berharga dari Alvaro,
Kamu hanya ronggeng biasa,
》》》》
"Sekar!" seorang gadis berambut panjang berlari mengejar gadis lainnya.
Sekar menoleh, "kenapa?"
"Main karet?" ajaknya. Sekar menggeleng, "mau ke sanggar, latihan jaipong!"
"Idih, dia mah ronggeng colek-colek! Mau-maunya jadi cewek ngga bener, yang cuma jual tubuh!"
"Biar kaya instan!" ketusnya sebal, kenapa semua orang menganggap pekerjaan ronggeng begitu lekat dengan selir ningrat, apa karena kemolekan tubuhnya? Sekar lantas berjalan meninggalkan temannya itu, ia berkaca setibanya di rumah, lekukan tubuh sempurna memang selalu nampak menawan di mata pria.
Sekar adalah gadis cantik, beberapa bagian tubuhnya menonjol begitu cantik di usia remajanya.
"Ambu, Ayu lapar...." suara Ayu sang adik terdengar lirih di telinga Sekar.
"Nunggu bapak dapet singkong ya neng..."
Hati Sekar mencelos terpukul, hidup di antara keluarga yang serba terbatas membuatnya termotivasi untuk menjadi seorang ronggeng ternama, profesi yang mudah mendatangkan uang karena saweran pada masanya. Hanya mengandalkan kemolekan tubuh, kecantikan dan bakat menari.
"Kelak aku tak mau anak-anakku merasakan susah sepertiku dulu, kehormatan harus selalu menyertai mereka," gumamnya lirih dengan penuh ambisi.
__ADS_1
《《《《
Amih larut dalam masa kelam dan penuh perjuangannya dulu.
"Nyai..." apih mengguncangkan bahunya, kali ini hal itu membuat amih tersadar dari lamunannya.
"Kang,"
"Ada apa?" tanya apih dengan alis mengkerut.
Amih menggelengkan kepalanya, " saya bersih-bersih dulu, kang. Akang sudah ngopi? Mau saya buatin?"
Apih menggeleng, "tidak usah, nyai pasti lelah...darimana?" tanya apih.
"Jemput neng Asmi dari rumah temannya," balas amih berdiri dari duduknya.
"Oh," apih mengangguk sekali tanda mengerti. "Biarkan Asmi bersama dunianya, bimbing dan awasi saja dia. Jangan sampai kita menyesal nantinya," pesan apih khawatir jika istri tercintanya itu kembali berulah.
Amih hanya melirik saja tanpa mau bersuara membalas perkataan apih, kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Ia tak menyangka jika pemuda yang ia tolak mentah-mentah akhir ini adalah seseorang. Sebagai seseorang yang mengidolakan Sumini Adiwangsa, Sekar Taji cukup tau dengan semua hal tentang ronggeng panutannya itu, termasuk alamat, tapi kenapa tadi sore ia tak curiga dengan alamat yang dituju mang Dedi? Apakah benar yang Wira katakan, akal sehatnya sudah termakan nafsssuu dunia dan kekalapan?
Ia begitu menolak Alvaro, hingga melupakan sesuatu yang paling penting, mencari tau siapakah Alva beserta asal--usulnya.
Sekar Taji menanggalkan satu persatu pakaiannya, termasuk stagen yang selalu dipakainya demi bentuk tubuh sempurna di masa senjanya. Ia tak mau jika sampai suaminya Raden Amar mencari peraduan lain yang usianya jelas dibawahnya.
Karena menurutnya, cinta tulus itu bullshiitt. Semuanya tentang harta, tahta, dan wanita.
"Tapi jika Wira dan Alvaro adalah keturunan Sumini Adiwangsa, kenapa ia tak pernah melihat keluarga Alvaro jika para menak sedang memunculkan diri di acara-acara adat seantero Jawa Barat. Keturunan Adiwangsa seolah tenggelam begitu saja dari peradaban.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.