
"Puter-----patahannya sampe mentok den rara...masa lupa!" nyai Wenti merapikan gerakan patahan dan keluwesan Asmi dengan menekan pinggangnya agar lebih nampak molek dan melenggok apik.
Asmi hanya nyengir, sudah hampir beberapa bulan ia tak berlatih jaipong lagi, mungkin hampir setahun sejak masuk kuliah jadinya agak-agak kaku.
Amih baru saja pulang ketika melihat putrinya tengah melenggok dengan kain selendang di pendopo kecil milik keluarga dekat taman bersama nyai Wenti yang notabenenya adalah teman satu angkatan dengannya semasa menjadi penari jaipong dulu.
Ada senyum terukir di wajah lelah amih melihat Asmi dapat meneruskan bakatnya, pernah menyabet beberapa penghargaan meskipun awalnya harus dipaksa.
Lalu amih masuk ke dalam rumah kembali membiarkan Asmi berlatih, sebelumnya raden ajeng Kutamaya mengatakan jika Agah meminta tolong pada Asmi untuk mengisi acara ulang tahun kampus Obor kujang, tempatnya mengajar.
Sasi berjalan mendekati Asmi dan nyai Wenti, "den rara Sasi..." sapa nyai Wenti.
"Nyai," Sasi menyalaminya takzim.
"Mau ikut latihan lagi?" tawarnya, "hayuk atuh, masa amihnya dulu penari ternama, sampe bisa gaet apih. Den rara Asmi juga menang terus kalo ada perlombaan, masa den Sasi ngga bisa?"
Sasi cuma bisa meringis, "aduh nyai, usia Sasi udah ngga bisa dibenerin meren buat patahannya nanti malah kaya robot!" alibinya berkilah, membuat nyai Wenti tertawa meringkik mirip kuntilanak.
"Masih bisa kok den rara, udah SMA aja masih bisa...."
"Nyai, Asmi ke belakang sebentar ya," ijinnya diangguki nyai Wenti yang menoleh.
Asmi turun dari sana dan mencari Eka, "E...to the Ka! Mang Eka yuhuuu!" teriaknya.
"Ka, suara den rara nyariin bukan?" ucap Ambu Yuyun.
Eka sedang nikmatnya menyeruput kopi sambil benerin saringan penutup saluran kolam.
"Iya gitu?"
"Mang Eka,"
Sayup-sayup suara Asmi terdengar di pendengaran, "oh iya."
Eka langsung beranjak dari sana dan mencari sumber suara, "ya den rara!"
Asmi tersenyum melihat sang mamang yang satu frekuensi dengannya, dan sudah lama terpisahkan karena titah amih saat ketauan Eka mengikuti kemauan Asmi menonton konser band cadas yang cukup rusuh.
"Mang E, hari sabtu...siap-siap nonton konser ecek-ecek lah! Tiket udah di tangan cuma tinggal kemon aja!" ajaknya, Eka menggaruk kepalanya mendadak gatal, "aduh den, kalo ketauan den nganten gimana, ngga berani mamang mah takut di pecat!" jawabnya.
Asmi menepis udara yang mana tak ada nyamuk sama sekali disana, "gampang lah itu! Kabur lewat benteng belakang aja! Nanti kalo sukses, Asmi traktir beli rokok sepuluh bungkus! Kalo ketauan pun, ngga usah takut, biar Asmi sendiri yang tanggung jawab!"
Eka terlihat menimbang-nimbang, jika sudah begini ia tak dapat menolak, "ya okelah den, kodein aja sebelumnya biar mamang bisa siap-siap!"
Asmi tersenyum lebar, "siap!"
2 hari tanpa bertemu Alvaro rasanya kok ya kesel sendiri. Hanya sesekali ia melihat Alva begitupun Alva melihatnya sekilas namun Asmi tak melihat Alvaro.
Berkabar pun hanya singkat-singkat saja karena Alva yang datar dan juga sedang sibuk.
__ADS_1
"Va, itu kabel gede bawain dari ruang teknis!"
Alvaro mengangguk, baginya tak kerja keras ya tak dapat uang. Baginya pula yang tak memiliki perusahaan besar nan megah, itu artinya tak bisa hanya ongkang-ongkang kaki, otak dan tenaga begitu harus mau bekerja ekstra, setidaknya begitu yang diajarkan mpap.
"Kang, minum dulu!" Niah menyodorkan sebotol air mineral untuk Alvaro, ia sungguh menyukai Alva sejak pemuda yang berusia 21 tahun ini sering bergabung dengan crew konser bawaan Wira, sementara ia diajak oleh Acuy tetangganya.
Alva menerima air pemberian Niah, "thanks, Ni."
"Sama-sama,"
"Kang...cewek yang waktu itu nemenin di cafe, mana?" tanya nya.
Alva yang meneguk minumnya langsung melihat ke arah Niah, "siapa? Asmi?"
"Kenapa emangnya?" tanya Alva. Niah menggeleng sambil tersenyum, "engga. Cuma nanya aja, kirain ikut ngintilin kesini!"
"Asmi bukan cewek yang kurang kerjaan, yang bisanya ngintilin gue kemanapun gue pergi." Alva melengos pergi masuk ke ruang teknis.
"Ck, kenapa sih gue suka banget sama kang Alvaro!" gumamnya menggerutu.
Asmi sudah memakai rok lipit selutut berwarna hitam, karena naik mobil ia memilih memakai rok saja, meskipun kaos hitam bergambar tengkoraknya dimasukan dalam lipatan pinggang rok, tak mengurangi sisi liar gadis itu.
Bayangan seorang gadis berlari menuju dinding pembatas rumah tergambar samar di kolam ikan belakang.
Meskipun belum terlalu larut, namun para penghuni rumah sudah masuk kamar jam segini. Sesekali Asmi menunduk dan mengendap-endap ketika para mamang mondar-mandir ke kamar mandi, lalu setelahnya berkumpul di pos security sambil main gapleh.
"Tikukurrrrr wokkkk!" adalah kode Asmi untuk Eka yang menunggu di luar, bukan mobil yang biasa ia pakai atau orang, melainkan mobil sewaan.
__ADS_1
"To...ke!" Eka membuang puntung rokoknya ke bawah lalu menginjak itu hingga baranya padam.
Asmi membalikan pot gerabah yang telah rusak lalu menginjaknya perlahan untuk dijadikan tumpuan. Sisi terendah dan luput dari cctv ini adalah tempat langganan Asmi untuk kabur dan Eka adalah partner sejatinya.
"Mang E!" bisik Asmi menyamai tante kun.
Eka mendongak ketika Asmi sudah naik, "aduh den rara, kenapa pake rok? Nanti mamang bisa noong atuh!" kekehnya siap-siap menerima majikan nakalnya itu kalau-kalau ia terpeleset. (ngintip)
Blugh!
Asmi mendarat dengan selamat dengan bantuan Eka bertumpu di atas beberapa bebatuan dan barang bekas lain yang telah Eka susun agar Asmi dapat mendarat.
"Ngga apa-apa den rara?" tanya nya khawatir, lecet dikit nyawa taruhannya.
Asmi menggeleng, "ngga apa-apa mang, aman! Yuk ah!" ajaknya segera masuk.
"Yuk!" Eka yang tak kalah siap dengan stelan hitam-hitam mirip kumbang hitam masuk ke kursi pengemudi.
"Band apa aja den?"
"Band trok!" tawa Asmi, "band jang!"
Eka ikut terkekeh, "salah kostum atuh kalo mau nonton bentrok sama benjang mah!"
"Di cingised, mang E."
"Siap meluncur!"
"Gas!" seru Asmi, keduanya pergi dari tempatnya sekarang, melesat menuju tempat acara dimana konser band-band cadas lokal kota Bandung diadakan.
Euforia konser merasuk ke tiap inci kulit, pendengaran dan penglihatan setiap penikmat musik underground.
"Wohooo, den! Meni udah lama pisan mamang ngga liat konser!" imbuhnya excited.
"Terakhir kapan ya mang? Waktu kita disandingkan weh mang!" jawab Asmi ikut mengingat-ingat tingkah mereka dulu saat Eka masih menyupiri Asmi sebelum diganti mang Dedi, sepasang supir majikan ini memang sama edyannya, bagi Asmi, mang Eka ini bukan supir biasa.
"Nanti lah, Asmi minta sama apih buat nuker mang Dedi sama mang E lagi!"
Suara jedag-jedug dan lengkingan bass juga melodi terdengar memekik, Eka mengambil parkir agak sedikit jauh, lebih tepatnya menitipkan mobil di dekat toko agar lebih aman.
Asmi keluar dari mobil dengan anggunnya, padahal outfitnya sudah totally underground.
Ia tidak terlalu fokus pada rombongan penonton bergaya monsternya buku ghostbump, ia lebih mencari sosok-sosok bername tag crew dan mencari seseorang yang spesial.
.
.
.
.
__ADS_1
.