
Kedatangan Alvaro sekeluarga disambut baik oleh keluarga besar kasepuhan.
Mereka yang memiliki da rah biru nan strata sosial lebih tinggi dari masyarakat biasa ini justru nampak lebih ramah dari siapapun yang ada di kota ini.
"Wilujeng sumping," angguk ayah dari apih Asmi dengan gelar sultannya. Alvaro dapat melihat aura ningrat yang begitu lekat di dirinya. Inilah keturunan sultan sesungguhnya, bahkan dari jauh saja dapat terlihat kharismatik seorang menak bersama sang istri dan beberapa anak dari kakek Asmi.
"Suatu kehormatan, menyambut keturunan Adiwangsa..." ucapnya mengulurkan tangan untuk bersalaman tanpa bersentuhan.
Wira mengangguk sopan, karena sejujurnya ia tak pernah dianggap sebegitu istimewa apalagi bermimpi jadi seseorang dari garis keturunan ningrat, yang jaman sekarang bahkan orang hanya akan mencibirnya.
Begitupun Ganis yang serba salah, ia hanya mengangguk dalam dan tak pernah melunturkan senyumannya sampai bibir terasa pegal.
Pihak kasepuhan membiarkan tamunya beristirahat sejenak, sebelum nantinya mereka akan menggelar acara seserahan secara simbolis yang tentunya akan ada peliputan entah itu oleh pihak disana atau media lokal, sebagai berita baik jika kasepuhan sedang berbahagia.
Ukiran khas kota, mega mendung dan beberapanya terlukis hampir di sepanjang dinding termasuk atas gawang pintu kamar.
Aksen berbahan kayu begitu dipakai disini. Suasana adem nyaris menjadi identitas kasultanan.
Kasepuhan tidak dapat dimasuki oleh sembarang masyarakat, apalagi sekarang akan digelarnya perhelatan akbar pernikahan Asmi dan Alvaro yang dikenal dengan pelakrama ageng.
Kamar yang ada disini begitu banyak, termasuk kamar Alvaro yang berbeda dari kamar Bagas dan Wira--Ganis.
Mungkin Bagas akan langsung menjatuhkan badannya di kasur saat ini, demi meregangkan otot-ototnya selama perjalanan, tapi Alva memilih membuka jendela kamar yang langsung berhadapan dengan sebuah pelataran samping.
"Den rara," sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan memanggil seseorang, jika mendengar panggilan itu, selalu mengingatkan Alvaro pada Rashmi.
Ia menggelengkan kepalanya, rindu itu sungguh keterlaluan. Padahal lumrah jika disini akan banyak yang dipanggil den rara, bukan hanya Rashmi saja, bahkan Sasi saja mendapatkan gelar yang sama.
Ia menyapukan pandangannya ke arah luar, jelas tak akan ada Asmi dalam radarnya sekarang, sudah pasti ia akan ditempatkan di blok bangunan berbeda. Mungkin yang tadi, Asmi mencuri-curi waktu kabur untuk melihatnya.
Hanyut terbuai dalam suasana dan pikiran yang melanglang buana, tak terasa jika ia sudah cukup lama memandang ke luar.
Pintu terdengar nyaring diketuk, "Va. Siap-siap, udah ashar langsung acara simbolis seserahan...."
Tak ada mahar ataupun barang yang memberatkan untuk Alvaro, karena sesuai adat disana ia membawa umbi-umbian, kacang-kacangan serta mas picisan (mas kawin semampu sang mempelai lelaki).
Sepanjang acara ini, Alvaro begitu khusyuk menjalaninya berbeda dengan Bagas yang sudah seperti berada di sebuah acara royal wedding, cukup bosan, cukup tegang, cukup malu karena bukan tidak mungkin wajahnya akan masuk koran setempat meskipun bukan di berita kriminal.
"Néng, hayuk!" panggilan amih membuat Asmi begitu excited, setelah seminggu lebih tak bertemu, hari ini----saat ini, ia dapat kembali bertemu dengan Alvaro, kang kumannya.
Dengan kain batik bernuansa hijau, Asmi digiring menuju bangunan (cungkup) diiringi apih, amih, keluarganya dan para sesepuh.
Dengan iringan gending nablong langkah demi langkahnya mendekatkan Asmi ke tempat dimana Alvaro juga berada.
DEG
Pandangan keduanya bertemu setelah sekian lama tak bertemu, Asmi nampak cantik dengan balutan jarik batik hijau yang dikembenkan berselimutkan rangkaian melati di bahu, surai yang tergerai berbandokan rangkaian melati pula menghiasi kepalanya, begitupun Alvaro.
**One step closer**.....
__ADS_1
*Dasar menak gila*,
*Diantara ribuan orang yang Asmi tau di bumi, cuma kamu yang Asmi temuin dan ngga punya hati*!
Sekelebat dialog Alvaro dan Asmi dulu tersirat di otak keduanya, membuat Asmi dan Alva mendengus geli, mengingatnya.
Tatapan mata keduanya menyiratkan kata rindu tak bertepi, ada senyuman lebar meski wajahnya menunduk mengiringi langkahnya bersanding di samping Alvaro.
Keduanya menoleh bersama ketika sudah bersampingan, "apa kabar, néng?"
"Kangen akang," balasnya meski berbisik seperti nyamuk.
Juru rias dan timnya mengoleskan lulur di badan keduanya, mulai dari dadha, punggung dan lengan, untuk kemudian para sesepuh dan keluarga menyiramnya bergantian sampai prosesi itu selesai.
Ada tarikan nafas di setiap siraman air yang berasal dari 7 mata air itu telah direndami pula dengan setangkai mayang (bunga pinang), daun andong merah--andong hijau, daun puring, serta kembang 7 rupa.
*Lo nonton sendirian, bawa berapa pengawal datang ke acara beginian? dengusnya terkekeh sumbang mencibir Asmi saat di konser. Masih tergambar jelas di pikirannya wajah ketus, judes dan sinis Asmi menanggapinya*.
Terdengar suara empuk MC berkata jika juru rias sedang membuang rambut halus di sekitaran wajah sebagai prosesi *parasan*.
*Niat ingsun adus cahayane gusti Allah*--------
Suara khas penyanyi berpengalaman melirihkan mantra murub mancur bak bulan purnama diantara musik karawitan moblong.
Kemudian sisa-sisa air siraman itu tak langsung dibuang. Karena sejurus kemudian saat Asmi dan Alvaro mulai beranjak, para keluarga yang masih gadis dan bujang sudah berjejer untuk membasuh wajah, tangan, kaki tak lupa dicipratkannya air itu ke pucuk kepala dengan makna agar dilancarkan jodohnya di kemudian hari.
"Néng Sasi, cepet baris ikut yang lain!" dorong Katresna.
"Atuh masa! Sasi mah masih kecil ih! Masih lama jodohnya juga," gerutunya tak mau, tapi amih dan keluarganya justru mendorong Asmi untuk ikut berbaris diantara sanak keluarga.
__ADS_1
Sasi melangkah sedikit dengan rasa malu juga tak mau, namun langkahnya seirama dengan langkah Bagas yang juga dimintai untuk berbaris oleh pihak Kasepuhan.
"Biar jodohnya lancar, konon! Yang ada pada basah!" dumelnya manyun diantara balutan kebaya hijau, bocah smp itu nampak menggemaskan, Bagas menyunggingkan senyumnya.
"Aamiin'in aja..."
Sasi menoleh ke samping, terlalu sibuk mengeluh dan menggerutu membuatnya tak peduli sekitar termasuk kehadiran Bagas di sampingnya.
"Eh, akang ganteng!" senyumnya menampakan lesung pipi di kedua sisi. Meski bocah, namun bocah ini nampak cantik.
"Cieee! Akang ganteng ngantri juga, jangan-jangan ngebet nikah juga!" kikiknya sambil memajukan langkahnya.
"Kalo maunya sama Sasi?" goda Bagas tersenyum, Sasi tertawa renyah, "mau! Yu ah besok ke KUA!"
Bagas tak terkejut, karena sudah pasti jawabannya akan begitu, Sasi sama dengan gadis lain yang memuja-mujanya di luaran sana. Namun di luar dugaan.....
"Ngaco aja akang mah ah! Kita kan sodaraan sekarang, ngga mungkin nikah! Maaf ya, Sasi sering godain akang...jangan baper! Akang udah Sasi anggap kaya kang Alva, kakak Sasi sendiri! Maafin adek cantikmu ini ya kang!" akuinya, membuat Bagas cukup terhenyak, jika ternyata gadis ini pandai ghosting anak orang juga.
Jujur saja ia agak baper, *njirrrrr*!
Sasi berlalu karena gilirannya maju dan kecipratan air bekas siraman.
"Kang, maju!" ajak Sasi.
"Iya...iya!" angguk Bagas.
.
.
.
.
.
__ADS_1