
Asmi menatap keluar jendela mobil, lampu-lampu kendaraan yang berkelip tak mengganggu acara melamunnya.
"Mang E, maaf Asmi udah bentak-bentak tadi. Kita ke minimarket sebentar ya mang," pintanya.
Eka melirik dari rear vision, "ngga apa-apa den ra, kaya sama siapa aja. Mang E mah udah tau sifat den rara..."
Asmi menjatuhkan pandangan pada jam di pergelangan tangannya, "mang, masih jam 8...mampir aja dulu di gerai seafood, kita jajan!" ajaknya menepis segala kesedihan dan gundah gulana tentang Alvaro.
"Siap!" jawabnya memutar kemudi ke arah deretan foodcourt berspanduk.
Asmi tak main-main, ia mengajak Eka mukbang seafood dan merekamnya menjadi status whatsappnya dengan tujuan agar amih atau keluarganya tau jika terpaksa ketauan kabur.
Seafood sambal padang dengan kepiting seberat 1 kilo tersaji di depannya bersama puluhan kerang, menggugah selera dan cukup pedas. Meski tak lebih pedas dari kejadian lalu, anggaplah Asmi sedang menyalurkan amarahnya lewat makanan ini.
"Den rara, ini ngga kebanyakan?" Eka mengerjap.
"Engga mang! Pokoknya malam ini kita pesta seafood!" jawabnya menaruh ponsel dan mengaturnya sedemikian rupa agar dapat mengambil sisi terbaik dari rekamannya.
Alvaro mencoba menghubungi Asmi, bukan tak mau berlari menyusul layaknya film bollywood, namun Alvaro memiliki tanggung jawab atas tugasnya malam ini, ia tak bisa pergi begitu saja dari acara dan tanggung jawab pekerjaannya.
Sedetik kemudian saat ia benar-benar berdecak, status di whatsapp'nya mendapat notifikasi bahwa kontaknya ada yang mengunggah status baru.
"Asmi?"
Alva tertawa bukan karena acara konser atau pekerjaannya, namun karrna video yang dibuat Asmi.
"Mang E, belum trittt ih! Jangan ambil udang Asmi! Nanti sama-sama atuh ih!"
"Eh, maaf den rara, kirain udah ngambil?! Nih atuh mamang balikin,"
Asmi menjerit, "mang E ih!!! Ambil lagi, masa udah dipegang dibalikin lagiii!"
Video berakhir dengan Eka yang diomeli Asmi, bibirnya memerah karena rasa pedas, wajahnya berpeluh, rupanya gadis itu sedang jajan seafood satu meja full.
Awalnya Alvaro khawatir jika Asmi akan menangis menjadi atau peristiwa lalu terulang kembali, namun ternyata ia tidak perlu se-khawatir kemarin, karena nyatanya Asmi baik-baik saja.
"Kang, sorry....tadi gue refleks aja saking paniknya..." Niah menyeka air matanya dan menghampiri Alvaro tak enak hati, sebenarnya ada bagusnya juga Asmi jadi salah paham pada Alvaro tapi kenapa harus ponsel miliknya yang raib di gondol copet saat berdiri dekat kerumunan penonton, acara begini memang riskan dengan kejahatan termasuk pencopetan.
Alva menoleh dingin, "lain kali lo jangan sembarangan peluk orang, Ni." Ia langsung melengos pergi meninggalkan gadis itu tanpa mengucapkan oke ataupun gue maafin.
Alvaro mencoba menjemput Asmi, ia membelokan stang motor ke arah gang rumah Asmi.
*Mi, aku udah di depan rumah*.
Pesannya terkirim ceklis dua, namun Asmi belum membacanya.
Alva membunyikan bel rumah Asmi membuat pagar kayu itu terbuka sedikit menyembulkan kepala mang Ajat.
"Eh, ada kang Alva....mau jemput den rara ya?" tembak mang Ajat.
Alva mengulas senyum tipis dan mendengkus, "ada?"
"Yahhh, kang Alva telat. Barusan den rara udah pergi dianter kang Dedi."
Alva memudarkan senyumannya, air mukanya berubah, "oh udah berangkat?" ia mengangguk-ngangguk mengerti.
__ADS_1
"Emangnya kang Alva ngga bilang dulu sama den rara mau jemput? Atau den rara ngga bilang mau pergi bareng mang Dedi?"
Alva berpikir sejenak, mungkin Asmi masih marah dengan kejadian semalam.
Marahnya perempuan memang ribet, Alva berdecak ingin segera sampai di kampus.
Amih yang kebetulan sedang berada diluar melihat Alvaro di celah pagar yang dibuka mang Ajat dan tengah berbicara dengan security rumahnya itu.
Dengan wajah sinis penuh keangkuhan, amih berjalan cepat ke arah pagar.
"Tunggu!" tahannya ketika Alva ingin menyalakan mesin motornya hingga Alva akhirnya mengurungkan niatannya.
"Kamu bisa masuk dan mengobrol ngopi pagi sebentar?" tanya amih. Alvaro mengangguk tanpa rasa gentar meski tatapan amih begitu mengintimidasi bak ular.
Alvaro masuk saat mang Ajat membuka pagar lebih lebar, tak sampai parkiran, Alva memilih memarkirkan motornya di samping pos satpam dan membuka helmnya.
Amih berjalan cepat meski dengan jarik di depan Alvaro membuat hentakan keras di kainnya sampai bersuara.
"Duduk!" pinta amih.
Alvaro mencium aroma-aroma tanjakan terjal saat ini, namun akan ia dengar dan hadapi tanpa rasa takut.
"Baru mau berangkat?" tanya amih basa-basi.
Alva mengangguk, "iya."
"Asmi sudah pergi."
"Saya tau, barusan mang Ajat yang bilang." balas Alva. Ucapan keduanya harus terhenti karena kedatangan ambu Yuyun membawa senampan suguhan berupa 2 cangkir teh manis hangat.
"Nuhun ambu," ucap Alva melihat cangkir teh yang masih mengepulkan asap di dorong ke depannya.
"Yun, punya saya gulanya 3 sendok teh kan?" diangguki ambu Yuyun.
__ADS_1
"Sumuhun raden," ia membungkuk dalam kemudian berlalu, "mangga..."
"To the point saja. Saya tidak suka kamu...." ucapnya meraih cangkir miliknya dan menyeruput lembut air teh manis hangat itu nikmat.
Alva diam karena ia pun sudah tau tanpa harus amih Asmi bicara, bahkan semut ataupun lalat saja tau hanya dengan melihat sorot mata tajamnya.
"Saya tidak suka lelaki manapun selain orang-orang yang sudah saya pilih untuk Asmi!" tatapnya tajam pada Alva.
"Saya ngga tau, apa yang Asmi lihat dari kamu?" raden nganten menaruh cangkir miliknya di meja, kuku-kuku berkuteks merahnya nampak mengkilap terkena cahaya.
"Kalau ibu tanya saya, ibu salah. Karena jawabannya saya ngga tau. Tapi kalo ibu tanya saya, kenapa saya suka Rashmi, jawabannya simpel karena Asmi memiliki dunia saya."
Sekar Taji tertawa sumbang, "siapa yang tak suka Rashmi?!"
Alva tak berniat mendebatnya, karena percuma apapun yang akan ia katakan, tak akan menjadi putih di depan Sekar Taji.
"Tinggalkan Asmi setelah Asmi membaik...." ia kembali menyeret cangkirnya.
"Tolong," ucap amih menatap tajam Alva. Disaat ia ingin memperjuangkan Asmi, ibundanya malah memintanya untuk meninggalkan Asmi.
Alvaro kini menarik cangkirnya lalu meneguknya dalam sekali tegukan hingga tandas, "kalo begitu, beri saya satu alasan kenapa saya harus meninggalkan putri ibu? Jika masuk akal maka akan saya lakukan?"
Sekar Taji kembali mendengus sebal, "kamu ngga ngaca? Apa yang kamu punya ?!"
"Saya tau kamu hanya bermain-main dengan putri saya, maka tinggalkan Rashmi karena saya akan menjodohkannya dengan lelaki yang serius! Jangan kamu halangi usaha saya ataupun lelaki yang benar-benar serius dengan putri saya!" intonasinya meninggi.
"Kalau ternyata perkiraan ibu salah, saya serius pada putri ibu bagaimana?" tanya Alva membuat Sekar Taji meradang, bocah macam Alvaro tak mungkin serius.
"Mau kamu kasih makan apa putri saya? Bisa kamu menghidupi dan mencukupi finansialnya? Masa depannya, anak-anaknya nanti?!" ia hampir berteriak, namun Sekar Taji meredam emosinya dengan memijit pangkal hidungnya, "sudah. Silahkan pergi, bukannya kamu harus ke kampus?" Ia beranjak meninggalkan Alvaro di luar.
Alvaro bukan tak marah, ia sangat teramat marah serta tersinggung, namun masih cukup berakal untuk tidak mengamuk di rumah orang.
.
.
.
.
.
__ADS_1