
Ibun sibuk menata diri di depan cermin, "untung masih langsing," ujarnya memutar tubuh demi melihat potret dirinya dalam balutan kebaya.
"Masih cantik kaya dulu, ay." Wira mendaratkan kecupannya di kepala Ganis.
"Iya lah, harus! Takut bang Nat kabur ke lain hati. Jadi perempuan memang harus pandai merawat diri, demi menjaga keharmonisan rumah tangga, soalnya mata lelaki tuh suka mencari sesuatu yang indah! Kalo yang di rumah ngga indah ya lompat keluar! Dengan kata lain, makhluk gatel!" sewotnya.
Wira hanya menghela nafasnya, apakah ia adalah sejenis kutu loncat, disebut gatel? Tapi Wira memilih tak membalas ucapan istrinya itu, karena sudah pasti satu katanya akan dibalas ribuan kosakata milik Ganis. Tau gitu barusan ngga usah muji, kirain mau dapet reward ciuman hot gitu, misalnya. Malah dapet gelar kutu loncat.
"Yakin ngga sih, keluarganya Asmi mau ketemu kita? Bang Alva ngga boong kan?" tanya Ganis tak yakin jika apih Asmi mengundang mereka.
Wira menggeleng, "will see.." jawabnya sesantuy itu.
Tak ada baju istimewa yang sampe manggil tailor untuk hari ini. Seperti biasa, Wira hanya akan memakai kemeja hitam, meski sekarang hitamnya bermotif batik mega mendung.
Begitupun Alvaro, yang terbiasa memakai kaos hitam dilengkapi kemeja. Sementara Bagas, ia tak mau ikut. Lebih memilih mengunjungi rumah om uwanya Gemilang untuk bermain bersama Nugie, putra Gemilang.
Ganis keluar dengan stelan kebaya dan samping belah pinggirnya.
"Kunci mobil di meja, panasin dulu mesinnya." Titah Wira diangguki Alvaro. Ganis menatap putra dan suaminya lalu beralih menatap langit, "ini teh cerah, tapi perasaan Ganis mendung gini liat item-item. Ketemu calon besan jangan berkabung atuh! Untung Ganis pake pink gini," ujarnya pada Wira.
Ia tau selera suami dan putranya itu sama, mbok ya ketemu keluarga Asmi di hari cerah ceria gini ngga niat ganti warna gitu jadi pelangi?! Ko kesannya Bandung gelap tiap hari, item terus berasa hidup di lautan aspal.
Asmi sudah bersolek. Saking excitednya, ia sampai bingung harus memakai baju mana. Padahal sudah biasa bertemu, tapi kesannya hari ini adalah hari yang begitu spesial.
Ambu Lilis masuk ke dalam setelah mengetuk pintu, "den rara..."
"Iya ambu, masuk aja."
Lilis tersenyum usil sambil membawa tumpukan lipatan pakaian milik Asmi yang sudah ia setrika untuk dimasukan ke dalam lemari.
"Ambu, Asmi bagusnya pake baju apa, ya?" ia mengetuk-ngetuk keningnya diantara kebingungan, siapa tau bisa bantu ngencerin otak.
Lilis terkekeh kecil, "den rara pake apapun bagus, geulis."
"Ihh, ambu mah!" cebiknya malu-malu guguk.
\=\=\=
"Akang yakin?" amih duduk di tepian ranjang memperhatikan apih yang sedang merapikan kancing di bagian perut, akhir-akhir ini timbangannya naik, kemeja ukurannya terasa mulai sesak terutama di bagian perut.
"Yakin. Sing inget ka purwadaksi nyai...purwa wiwitan, purwa wekasan," jeda apih merapatkan celah diantara kancingnya meski hal itu nyatanya sia-sia.
__ADS_1
"Harus inget darimana asalmu, dimana tinggalmu, kemana kamu kembali," lanjut apih, menyerah dengan usahanya.
"Besok coba belanja kain batik ke pasar baru, jahitkan kemeja akang yang baru sama tailor langganan kita. Dengan ukuran naik satu," pintanya kini mengancingkan bagian lengan baju.
Amih menatap ke bawah nyalang, ia mungkin bisa menerima kenyataan jika Alvaro dapat disandingkan dengan Agah, namun ia bingung bagaimana harus bersikap, jujur saja ia cukup malu dengan sikapnya waktu lalu. Gengsinya teramat tinggi mengalahkan tingginya langit.
"Akang saja yang menjamu Adiwangsa, saya kurang enak badan." Jawab amih.
Apih Amar benar-benar menatap lekat istri yang telah memberinya 4 orang anak ini, dia memilih Sekar Taji, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Baik buruk sang istri, menjadi resikonya untuk dibimbing.
Apih duduk di samping amih, jika dulu ia akan berlutut, maka dengan postur yang tidak lagi gagah ia memilih duduk demi keamanan lutut dan persendiannya, juga perut.
"Bukan dengan berlari kamu menyelesaikan masalah, bukan dengan menghindar cara kamu untuk terhindar dari dosa. Meminta maaf bukan berarti harga diri kamu lebih rendah dari orang lain. Buktikan jika akang sudah berhasil membimbing kamu memiliki sikap seorang ménak sejati."
"Akang yakin, keluarga Adiwangsa tidak seperti yang kamu pikirkan. Mari duduk bersama untuk sesuatu yang baik ke depannya, belajarlah dari kejadian lalu," ajak apih.
Wanitanya ini memang tidak muda lagi, tapi kecantikannya sedikit pun tak berkurang di usia senjanya itu. Apih mendaratkan kecupan bibir hitam karena seorang perokok aktif itu di bibir mengkilat amih sekilas, gelora asmara di ujung senja. Membuat amih memicing dan mencubit pinggang prianya galak.
"Akang tua-tua nakal!" amih beranjak dari tempatnya ke arah luar kamar.
\=\=\=\=
Alva membelokan kemudi ke arah blok rumah Asmi. Mendapati pagar setinggi-tinggi tembok penjara membuat Ganis gatal jika tak berkomentar.
"Tinggi banget! Pantes aja Asmi stress, disini mah ngga bisa kabur! Ketinggian!" ocehnya tak penting, se-kurang kerjaan itu ibun memikirkan caranya Asmi kabur dari sini.
Alvaro membunyikan klakson tepat di depan pagar. Tak lama kemudian mang Ajat membuka pagar sedikit. Alva membuka jendela mobil dan melongokan kepalanya keluar, "mang!" sapanya.
"Eh, kang Alvaro! Sebentar kang!" ia menjepit rokok diantara belahan bibir dan segera membuka pagar rumah.
"Ciee, udah deket aja sama mamang rumahnya Asmi, sering banget kesini kayanya!" sindir ibun menggoda.
__ADS_1
Klakson berbunyi sekali ketika Alvaro membawa mobilnya masuk ke dalam halaman rumah Asmi.
Ganis turun dibantu Wira, bahkan ia digendong Wira karena jenis mobil yang dipakai adalah mobil off road milik Wira.
"Ih, dibilangin pake mobil sejuta umat! Kan, susah Ganis naik turunnya!" omel Ganis.
"Ada mpap, bun." Kekeh Alvaro.
Mang Ajat menghampiri ketiganya, "kang, mau ketemu den rara?"
"Mang, kenalin ini ibu sama ayah saya." Ucap Alvaro memperkenalkan Wira dan Ganis.
"Bu...pak..." mang Ajat membawa tangannya terlipat di bawah segan seraya mengangguk singkat penuh kesopanan.
"Mau ketemu apihnya Asmi," jawab Alva.
"Oh, iya. Saya baru inget kang. Raden bilang mau ada tamu, kirain bukan kang Alva sekeluarga, mari atuh kang, ibu, bapak...saya panggil dulu ke dalam." Ia mempersilahkan mereka dengan gerakan jempol sopan dan menggiring tamu si empunya rumah untuk masuk.
"Punten den, di depan ada tamu..." imbuh ambu Yuyun.
"Oh iya." angguk apih, beranjak ke depan mengajak amih ke depan.
"Yun, itu kue tampah di pisah-pisah aja per satu piring, nanti bawa juga ke depan," pinta amih.
Apih melihat istrinya dan tersenyum simpul, karena ia mau mendengarkan semua kata-katanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.