
"Maaf," lirih Asmi lembut menyatu dengan angin, wajahnya redup tak tertolong, bahkan saat melewati jalanan yang benar-benar tersorot matahari saja tak menjadikan wajahnya menjadi cerah.
Alva melirik Asmi dari kaca spion, "buat?"
"Sikap amih tadi."
Alva tertawa sumbang, "udah biasa."
"Maksudnya?" Asmi menaruh dagu di pundak Alva agar jawaban Alva terdengar oleh telinga yang terhalang busa helm.
"Udah biasa nemu orang dengan sifat amih kamu. Tidak semua orang akan suka dengan diri kita, terlebih aku dengan segala kekuranganku..."
"Hm, merendah. Wushhhh!" cibir Asmi membuat gerakan tangan seperti roket terbang mengudara.
"Besok sampai 2 hari ke depan mungkin aku ngga bisa jemput ke rumah. Aku juga bakalan sibuk," ucap Alvaro.
"Oh, ngurusin konser itu ya?" tebak Asmi diangguki Alva.
"Yahhh, bakalan kangen dong!" adunya dengan bibir merengut.
"Call me aja..." kekeh Alva.
"Ngga usah, nanti Asmi ganggu akang lagi kerja. Semangkaaa!!" imbuhnya manja, memeluk Alva lebih erat lalu mencium aroma jaket yang Alva kenakan.
"Ijin ngirup aroma akang, buat bekel!" ujarnya dibalas senyuman Alva, "bisa gituh ya? Mau cium ketek aku sekalian?" tanya nya kemudian.
"Ihhhh!" Asmi nyengir masam, "kalo boleh?!" ia tertawa.
Asmi menaruh tasnya di meja, entah kenapa saat Alva mengatakan jika esok dan mungkin sampai dua hari, tiga hari ke depan ia akan sibuk, hatinya macam digantung begitu saja kaya jemuran. Asmi pun tak berani menghubungi Alva terus menerus, gadis ini berpikir jika panggilannya justru akan mengganggu pekerjaan Alvaro.
"Den rara...."
Belum raganya beristirahat sepenuhnya, ambu Lilis sudah memanggil dari luar kamar.
"Ada tamu," gumamnya manyun.
"Siapa ambu?" tanya Asmi dengan alis saling bertaut.
"Den Agah..." jawab Lilis tanpa sungkan. Asmi menthesah resah, "ada apa?"
Lilis menggeleng tak tau, "ngga tau den, katanya ada perlu sama den rara... Mau ambu tanyain ngga?" kekehnya tertawa.
__ADS_1
"Iya kalo bisa suruh pulang sekalian! Bilang kalo Asmi ngga maen dulu, ngga punya sendal!" balas Asmi, bahu Lilis semakin bergetar, ia menepis udara, "ah den rara mah!"
"Ya udah suruh tunggu sebentar, amih mana? Biasanya amih yang nemenin."
"Den nganten sedang cek rumah makan, den rara."
Asmi kembali menutup sejenak pintu kamar lalu merapikan diri sebelum akhirnya keluar lagi.
Langkahnya dengan sendal jepit rumahan memasuki ruang tamu, ia langsung disuguhkan dengan Agah yang duduk masih dengan stelan mengajarnya sambil menikmati kopi buatan para ambu.
"Eh, neng." ia menaruh cangkir kopinya di meja. Asmi duduk di sebrang Agah, "kenapa kang? Ada perlu sama Asmi?"
"Iya. Langsung saja ya neng, kira-kira neng Asmi bisa bantu saya? Tepatnya acara ulangtahun kampus obor kujang," jelasnya mengutarakan niatannya.
\\\\
Agah hanya meminta tolong, itupun ada bayarannya. Memikirkan hal itu cukup menghasut mata dan otaknya untuk lelah, hingga akhirnya Asmi tertidur.
Ia menggeliat intens, pantas saja Asmi terbangun karena memang ia sudah terlelap cukup lama. Tak ada pesan apapun di ponselnya kecuali grup prodi dan kedua tuyul Fajrin dan Elisa.
Asmi membuka kontak Alvaro, kemudian ia manyun sendiri karena nyatanya lelaki itu tak ada kabar lagi, say hay atau selamat sore gitu padanya!
Daripada pusing memikirkan kabar dari Alva yang dingin-dingin pengen jambak itu, lebih baik Asmi mengerjakan tugasnya dan mulai melemaskan kembali otot-otot tubuhnya mengingat permintaan tolong Agah beberapa hari lagi, mungkin Asmi juga harus memanggil kembali guru privatnya dari sanggar ternama.
Tuttt---
Tutttt---
"Nyai....."
__ADS_1
Asmi celingukan ke arah mushola dekat dengan basecamp, namun hanya ada Saka, Sony dan yang lain. Banteran ada suguhan pemandangan manis adalah adegan keuwuan antara kang Anjar dan Cintya.
"Nyari kang Alva ya!" Fajrin menunjuk pipi Asmi membuat si gadis itu memicing ketika telunjuk Fajrin menusuk pipinya saat Asmi menoleh.
"Kang Alva ngga ada tuh!" ucap Elisa menggidikan bahunya.
"Tau, dia kayanya langsung balik. Kemaren sih ijinnya gitu, punya kerjaan jadi crew konser underground."
Fajrin sampai mencebik dan menaruh terlebih dahulu sumpit lumpia basahnya ke dalam bungkusnya, "ck! Udah tau ngga ada, terus ngapain ngana cari?! Asem! Saking rindunya?!"
Elisa tertawa kecil dan mendorong kepala Fajrin, "biasa aja atuh, meni sampai muncrat makan teh!"
"Kangen mah emang memba gong kaann!" cibir Elisa lagi untuk Asmi.
Asmi akui ucapan Elisa itu benar! Ternyata benar kata mang Pudin Rindu itu memba gong kannnn. Mana amih ngomporin, padahal hubungan keduanya belum membaik, Asmi terkadang pergi saat amih datang, terkadang rasa takut dan trauma itu masih ada. Miris sekali, disaat orang lain trauma akan hal berbau menakutkan, ia malah trauma pada ibu sendiri.
"Kang Alva tuh crew konser underground ya? Pantesan!" ujar Fajrin, mulutnya masih bisa ngoceh meski sedang mengunyah lumpia basah pedas.
"Pantesan mukanya, muka cacing gitu? Makhluk bawah tanah?!" tembak Elisa, Fajrin mengangkat kedua alisnya, "bukan aku, Mi! Tah si Elisa tah yang ngomong kalo kang Alva se-geng sama cacing!"
Asmi tidak marah, ia justru tertawa, pasalnya teman-temannya itu berani jika orangnya tak ada.
"Maksud gue, kang Alva tampilannya urakan serba item gitu, peak!" sewot Fajrin.
"Eh, bukannya kamu teh seneng musik cadas juga, Mi? Kenapa ngga nonton?" tanya Elisa, Asmi menggidikan bahunya, "ngga ada band kesayangan..."
"Tapi kan ada akang kesayangan..." lirih Fajrin membuat Asmi ikut berpikir.
Iya ya, Fajrin bener! Kenapa ngga datang nonton aja, bukan buat nonton tepatnya nontonin crewnya! Kasih surprise! Kan ngga perlu turunin harga diri bilang kangen, ada alasannya datang ke konser.
Asmi tersenyum lebar, "kamu pinter!" Asmi mengangkat topi Fajrin lalu memasangnya kembali dengan posisi yang salah dengan menutupi wajah Fajrin, "Rashmiii!" teriaknya, karena aksi Asmi bersamaan dengan Fajrin yang ingin melahap toge campur rebung itu.
Asmi segera beranjak, "udah dulu ah! Asmi ada janji ketemu sama nyai Wenti, mau lemesin dulu otot! Ada show, panggilan!" kekehnya sudah dijemput mang Dedi.
"Show apa Mi?!"
"Lemesin otot ngapain, Mi?! Asmiii!"
Asmi menggelengkan kepalanya sambil terkikik meninggalkan teman-temannya menuju parkiran.
"Mang, langsung pulang aja. Nyai Wenti udah otewe ke rumah!"
"Siap den rara, wah udah lama nyai Wenti ngga ke rumah, den rara ada lomba?" tanya mang Dedi tancap gas.
"Iya, ada pentas." jawab Asmi sekenanya, ia juga sibuk mengetik sesuati di link, "ah, masih ada euy tiketnya!"
Ia mengklik dan membeli 2 tiket, untuknya dan Eka.
.
.
.
.
__ADS_1
.