Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 63. STATUS YANG SAMA


__ADS_3

Alvaro masih menyugar rambutnya saat anak-anak satu angkatannya mulai riuh membicarakan KKN.


"Wehhey, kangmas baru datang...." Filman melongokan kepalanya ke arah belakang Alva yang jelas-jelas hanya ada angin dan bayangan saja.


"Asmi?" ia menanyakan gadis yang selalu mengekor


"Ijin ngampus."


Filman hanya berohria saja mendengarnya, "anak-anak lagi ngapain?"


"Biasalah, penempatan KKN." jawab Filman berjalan bersama ke arah kelas.


"Oh, udah ada kabar." Filman mengangguk-angguk layaknya burung.


Asmi melakukan gladi resiknya sekali dengan pengiring. Menyesuaikan irama ketukan dengan tarian dan gerakan patahannya, tak butuh waktu lama bagi Asmi beradaptasi, karena memang ia penari yang bisa dibilang sudah pro.



Dengan riasan dibantu oleh wardrobe pementas lain dan pakaian ronggeng milik pribadi, Asmi sudah berubah tampilan.



"Sebentar neng," pinta seorang yang membubuhkan make up di wajah Asmi, saat kepala Asmi sedikit turun.



Agah masuk ke dalam ruang rias dimana Asmi bersiap-siap. Ia yang sudah dengan stelan kemeja batik panjang menghampiri seraya menyunggingkan senyumannya melihat Asmi, "udah siap neng?" tanya nya berdiri tepat di belakang Asmi.



"Udah. Asmi tampil urutan ke berapa, abis apa?" tanya nya dapat melihat Agah dari cermin yang ada di depannya.



"Jam 11 neng, abis karawitan."



Asmi mengangguk, Agah membawakan air minum serta nasi kotak untuk Asmi, namun berbeda dengan nasi kotak pengisi acara lainnya, milik Asmi ia pesan secara khusus lewat online.



"Diminum dulu, sambil nunggu tampil."



"Wihh, waktunya chat euyy!" Asmi meraih minuman dingin berboba miliknya yang dibawakan Agah.



"Nanti yang lain sirik atuh kang, masa Asmi konsumsinya beda sendiri?!" kekehnya menusukan sedotan ke cup dan menyedotnya.



"Favorit neng Asmi, kan?" tembak Agah yang mengetahui segalanya tentang Asmi. Ada senyuman terurai dari gadis ini, belum pernah Agah merasa sedekat ini bersama Asmi ketika ia menyatakan cintanya, saat Agah justru memilih mundur Asmi bisa ia raih, apakah harus ia perjuangkan kembali Asmi?

__ADS_1



"Udah makan?" Agah menyodorkan kotak makan bento dari restoran jepang ternama.



"Eh, ngga usah repot-repot kang. Asmi udah sarapan dulu tadi."



"Ya udah simpen aja buat nanti selesai acara, bisa buat makan siang neng Asmi." ujarnya.



"Makasih kang, ini kesukaan Asmi semua!" jawab Asmi tersenyum cantik, suatu godaan yang tak termaafkan dengan tampilan ayu nan molek Asmi, inilah yang membuat Agah jatuh cinta pada Asmi dulu.



"Nanti pulangnya akang anterin kalo Asmi berkenan."



Asmi menggeleng, "Asmi dijemput kang Alva, kang."



Seketika senyumnya menjadi kecut, "oh, iya. Kalo gitu akang tunggu di luar bareng dosen lain..."



Asmi mengangguk mengiyakan.



Selama beberapa bulan ia akan terpisah jarak dan waktu dengan keluarga dan Asmi, namun bersyukur jaraknya tak terlalu jauh.


"Mau kemana atuh, Va. Buru-buru amat? Biasanya juga ntar baliknya pas ashar!" tawa Sony melihat Alvaro sudah memakai helmnya.


"Urusan cinta. Diem kamu, yang jomblo ngga usah nanya takut ngenes!" jawab Anjar menjawab pertanyaan bernada seloroh Sony.


"Anjayyyy, jomblo pun bahagia!" balas Sony membela diri.


"Jomblo irit bensin ya, Son?!" tanya Alva mengurai senyuman mendengus sambil memundurkan motornya.


"Hahaha! Bener pisan!"


"Gue duluan," pamit Alva.


"Ya sok, Va."


Dari kampus, Alva langsung meluncur ke kampus Obor Kujang, dimana ia berjanji menjemput Asmi.


Cukup megah, berada di kawasan yang ramai streetfood dan strategis.


Suara riuh terdengar dari gedung kampus meski sayup-sayup, dari arah luar banyak berlalu lalang mahasiswa beralmamater sekaligus para perangkat kampus. Di luar pun berjaga security memeriksa keluar masuknya tamu, meskipun tak menutup untuk umum.

__ADS_1


Alvaro masuk dan parkir di dekat pos security. Bila dibandingkan kampusnya dan Asmi, kampus ini memang lebih besar.


Ia turun dari motornya lalu merapikan pakaian dan berjalan menuju sumber suara musik dan arah ramainya orang berjalan. Mungkin diantara mereka, hanya Alva yang tidak memakai almamater senada.


Kendati demikian, mereka tak begitu mengindahkan karena terlalu sibuk dengan acara dan tak menduga juga jika Alva bukanlah mahasiswa disini.


"Denger-denger mah, yang nari jaipong tadi teh calonnya kang Agah, dosen pertanian."


"Masih muda atuh, cantik banget!"


"Kayanya mah masih kuliah juga!"


"Ada yang bilang kampus seni Bandung."


"Siapa namanya tadi teh? Rashmi?!"


"Ada raden rara'nya! Parah sih itu mah turunan ningrat kayanya!"


Alva menoleh, ketika telinganya mendadak panas oleh ucapan dari segelintir mahasiswi yang menjadikan gosipan sebagai kegiatan berfaedah.


Langkah yang semakin dalam membawa Alva masuk ke area lapang kebangaan kampus Obor Kujang, dimana orang-orang sudah ramai berkumpul menyaksikan acara demi acara. Termasuk saat melihat di ujung sana Asmi sedang mempertontonkan aksinya menari jaipong di depan sana diiringi suara riuh sorakan terpukau untuknya, kebanyakan kaum adam.


Untung saja Agah menjaganya dengan tidak mengijinkan bagi siapapun kaum adam melakukan sawer, menari bersama apalagi mencolek Asmi.


Alvaro terdiam di tempatnya melihat penampilan Asmi dalam balutan pakaian ronggeng begitu dan menari jaipong. Ia cukup mengerti kenapa di kampus teman-temannya kebanyakan menargetkan crush pada mahasiswi fakultas seni tari, karena kemolekan tubuhnya, kecantikan dan sifat sensualitasnya.


Alva cukup dibuat gerah dengan itu, kalau bisa ia ingin membungkus Asmi dengan jaketnya saat ini juga.


Alvaro semakin berdehem ketika raut wajah cantik itu memberikan kesan menggoda. Tak ubahnya para pejabat terdahulu yang sering tergoda oleh para ronggeng karena memang begitu pula sekarang faktanya.


Selesai perform, Asmi banyak mendapatkan bucket bunga, entah itu dari mahasiswa ataupun dosen yang mengagumi performnya.


"Terimakasih untuk Raden Rr. Rashmi Sundari Kertawidjaja atas kontribusinya di kampus kami, ngga niat untuk pindah kampus den?" tanya pembawa acara berseloroh pada Asmi, gadis itu tersenyum dan tertawa lirih seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dadha.


"Barakallah, wilujeung tepang taun kanggo Kampus Obor dan Kujang, mugia sukses sareng barokah!" (Barakallah, selamat ulang tahun buat kampus Obor dan Kujang, semoga sukses dan berkah!) Asmi mengucapkannya dengan mata mengarah pada dekan dan para tenaga pengajar dimana Agah ikut beranjak dari sana demi menyambut Asmi turun.


Sontak saja moment manis itu menjadi perhatian semua mata yang ada disana dan candaan pembawa acada serta pihak pengajar yang mengenal Agah.


"Cocok! Tinggal nunggu undangan kang," seloroh si pembawa acara dari mik.


"Setuju ya, kang Agah, dosen paling kalem nikah tahun ini?!" tanya nya pada audiens.


"Setujuuuu!" seru mereka menjawab, memotret moment Agah membantu Asmi turun, yang begitu heboh dengan semua bunga di tangan. Pasti besok hal ini akan menjadi trending topic disini, akun sosial media Asmi akan diserbu para mahasiswa Obor dan Kujang.


Alva hanya menatap tak terpengaruh, menunggu Asmi membaca pesannya, yang memberitahu jika ia sudah disana.


Bagi Alvaro, sejak dulu statusnya dan Agah sama saja. Sama-sama manusia, tak ada ningrat ataupun rakyat hanya ada manusia beriman. Apalagi sekarang, statusnya lebih jelas, ialah kekasih Asmi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2