Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 43. JATUHNYA ASMI


__ADS_3

Mang Dedi melihat kesedihan yang teramat, sampai-sampai langit saja ikut merasakan kesedihannya.


"Amih bikin mamang risih ngga?" tanya Asmi dengan tatapan masih keluar jendela mobil.


Mang Dedi mengalihkan pandangannya pada rear vision demi menatap majikannya itu diantara kesibukannya melihat jalanan.


Ada perasaan tak enak dan kasihan jika harus mengatakan yang sebenarnya, "engga den rara,"


Asmi tersenyum miring, karena ia tau pasti jika mang Dedi sedang berbohong. Hal yang mustahil jika amih sebaik itu tak merecoki dan menyiksa hidup orang lain.


Asmi sudah siap berperang dengan amih, dengan hukumannya, karena itu hal yang terlalu biasa. Namun kini bebannya semakin berat manakala ia harus berperang dengan hatinya sendiri yang jelas-jelas menyayangi Alvaro.


Hampir jam sebelas malam, Asmi baru saja tiba di kediamannya. Dan sudah dapat ia tebak langkahnya dicegat amih yang berwajah sekeruh air luapan banjir.


"Assalamu'alaikum---"


Plak ! !


Tamparan keras mendarat di pipi Asmi, jangankan mang Dedi, apih saja cukup terkejut dengan suara itu.


"Mih, apa-apaan kamu ini?!" bentak apih. Asmi tak memegang pipi yang mulai memerah dan berdenyut perih. Ia bahkan tak menunjukan raut sakit ataupun menangis. Hatinya memang sudah remuk dan berceceran di jalanan seiring ia yang memutus Alvaro.


"Kenapa ngga sekalian aja ngga usah pulang! Sejak kapan neng jadi liar begini?!" sentaknya tak peduli dengan suaminya nanti, apih memang tipe lelaki yang tak pernah memarahi istrinya di depan anak-anak. Ia tak pernah mau menunjukan kekasaran seorang lelaki di depan anak-anaknya, namun hari ini, justru istrinyalah yang begitu. Apih sudah mengeratkan kepalan tangannya.


"Sekar Taji !!!" Apih menarik istrinya itu untuk masuk ke dalam, "neng Asmi masuk! Bersih-bersih sudah malam!" apih benar-benar murka.


Asmi masih mematung di gawang pintu, malam-malam rumah ini sudah diributkan dengan kejadian menegangkan dimana seharusnya ini adalah jam tidur.


"Den rara, ambu masakin air hangat, ya?" tawarnya, memaksa diri untuk terbangun kembali saat mendengar suara Raden nganten memarahi Asmi.


Asmi menggeleng, ia menatap ambunya yang sudah seperti biyung sendiri karena memang Lilis lah yang mengasuh Asmi sejak berusia 4 tahun, sementara ia masih 18 tahun.


"Ngga usah ambu, makasih. Asmi ngga apa-apa mandi pake air dingin aja."


"Nanti sakit den," tangan yang selalu menyuapi Asmi itu menyentuh lengan majikannya.


Asmi menatap Lilis dengan tatapan yang sudah tak lagi bisa menahan kesedihan, hingga tumpahlah tangisan kehancuran Asmi di pundak pengasuhnya itu.


"Asmi udah sakit ambu, Asmi udah ancur! Tamparan amih ngga seberapa, tapi sakit hati Asmi yang ngga bisa Asmi tahan lagi..." peluknya. Lilis sampai ikut menitikan air matanya, "sabar den rara, lelakon hidup memang tak seindah pewayangan atau novel..."


Puk-puk, "diraksukan kabaya, nambihan cahayana, dangdosan sederhana, mojang priangan...." Lilis menyanyikan lagu yang biasa ia nyanyikan untuk Asmi, ketika tangannya sibuk mengoleskan minyak seledri dan kemiri di rambut Asmi sehabis mandi.


Nyanyian yang ia dendangkan sebagai do'a untuk anak majikannya itu, dan ternyata benar Asmi memang secantik pribadi wanita sunda. Lilis ingat betul bukan hanya Agah saja yang pernah datang pada Raden Amar untuk meminang Asmi menjadi istrinya, ada beberapa pengusaha muda dan anak menak lain. Namun kesemuanya tereliminasi oleh sosok Agah.


Lilis sedang berusaha menenangkan den rara'nya, "angkat ngagandeuang, bangun taya karingrang, nganggo sinjang dilamban, mojang priangan....Umat-imut lucu, Sura-seuri nyari, larak-lirik keupat, mojang priangan...."


Asmi memutuskan untuk ijin kuliah hari ini dan menghabiskan harinya hanya berada di dalam kamar seharian, menatap ke arah jendela kamar yang bahkan tak ia buka.



"Den rara,"



Beberapa kali Lilis mengetuk dan memanggil lirih namun seakan bibirnya bisu, telinganya tuli, Asmi tak menyahut siapapun.



"Mana Asmi, Lis?" tanya apih saat tak menemukan putri ketiganya bergabung, Sasi turun dari kursi dan melangkah menuju kamar kakaknya, kejadian semalam, ia tak tau jika kakaknya itu ditampar amih.



"Teh! Teh Asmi...teteh lagi apa sih?! Sarapan woy!" ketuk Sasi di pintu Asmi, namun sama halnya dengan Lilis, Asmi tak bergeming.



Amih menunduk, semalam suaminya itu benar-benar murka padanya sampai mengancam akan menghukumnya dengan mengasingkan ia di villa sendiri.



"Minta maaf." Titah Apih pada amih.



"Orangtua tidak selalu benar, dan anak tidak selalu salah. Dan tindakanmu semalam sudah tidak bisa ditoleransi! Bukan seperti sosok orangtua yang seharusnya mengayomi serta melindungi," Apih menaruh sendok dan garpunya lalu beranjak ke arah kamar Asmi. Tatapan tajam beradu dengan tatapan sendu amih sekilas.



"Neng,"

__ADS_1



Sasi menoleh khawatir, "apih, teteh ngga biasanya gini...teteh sakit kayanya," ujar Sasi.



Asmi hanya menatap kosong area kamarnya, ia hanya bisa tertidur 2 jam saja semalam dan sisanya melamun kencang.



Air matanya tak dapat lagi menetes, menjadikan ranjang sebagai sarangnya atau mungkin tempat peristirahatan terakhir.



"Neng, sarapan dulu. Bareng sama apih...."



15 menit apih dan Sasi berdiri di depan kamar Asmi dengan rayuan dan bujukan namun Asmi tak jua memberikan respon.



Sekar Taji menghela nafasnya, ia menopang kepala yang mendadak pening, selama ini ia selalu keras dan menyangkal demi mengelak atas semua kenyataan.



"Asmi terima-terima aja, selama ini Asmi mau-mau saja," gumamnya. Hingga terbersit potongan kenangan manis Asmi yang ceria.



*Amih cantik deh, mau digendong dong sama orang cantik*!



*Asmi sayang amih, apih marah ngga kira-kira*?



*Pantesan cerah, amih cantik banget ngalahin mentari! Bersinarnya*!




Ia selalu bangga ketika nama Asmi dielu-elukan diantara teman sosialita lainnya. Asmi yang cantik, Asmi yang pintar, Asmi yang penurut, Asmi yang berprestasi dalam segala bidang, Asmi yang mampu membuat putra ningrat lain bertekuk lutut.



Asmi adalah anak perempuan pertamanya, semuanya ia siapkan untuk kehidupan Asmi, apakah benar selama ini ia terlalu merebut kehidupan Asmi? Tapi ini untuk kebaikan Rashmi.



Hingga suara Bajra dan Nawang memecahkan lamunannya, kedatangan keduanya adalah atas titah suaminya Amar.



"Mana Asmi, mih?" tanya Bajra meraih punggung tangannya. Bersama Kelana sang putra yang salim pada amih.



"A, neng...udah sarapan, makan dulu bareng..." pintanya.



"Udah, enin amih..." jawab Kelana. "Kelana udah 'mam..." ia naik ke atas kursi dan duduk di samping amih Sekar.



*Neng, apih udah pegel disini atuh neng*....



Nawang dan Bajra langsung menoleh ke arah suara apih lalu menghampirinya.



Terlihat Sasi yang menempelkan daun telinga di pintu kamar Asmi.


__ADS_1


"Pih..." sapa Bajra menautkan alisnya, begitupun Nawang, "kenapa pih? Asmi masih tidur?" tanya Nawang.



"Teh Asmi ngga mau keluar a, Sasi sama apih udah ada meren se-abad disini ! Sampe jamuran ih!" keluh Sasi, "tetehhhhhhh! Teh Asmiiiiii!" jerit Sasi.



"Biar Bajra coba, apih ngga ke kantor?"



Apih mengangguk, "nanti sebentar lagi."



"Neng! Ini aa sama teh Nawang," Bajra menempelkan bibirnya di dekat pintu kamar. Karena penasaran Bajra kembali mendorong-dorong pintu kamar Asmi yang terkunci dari dalam begitu kuat.



"Dikunci." gumam Bajra, "neng!" Rasa khawatir semakin menjalari semua yang ada disana, karena Asmi sama sekali tak menyahut.



"Eka! Ka! Kunci serep kamar Asmi!" teriak apih. Si asisten berlari mencari Lilis yang menyimpan kunci cadangan kamar sang anak majikan.



Amih yang ikut khawatir beranjak dari duduknya, ia mulai dilanda khawatir dengan apa yang terjadi dengan Asmi.



"Neng Asmi belum mau keluar, pih?" tanya nya menggendong Kelana.



Sasi dan Nawang yang menggeleng, "ini kenapa lagi, a?" bisik Nawang pada Bajra.



Eka berlari dengan membawa kunci cadangan kamar Asmi. Lilis tak kalah khawatir dengan den raranya, ia bahkan menghentikan pekerjaannya barang sebentar demi melihat.



"Den rara kenapa, aden?!" ucapnya menyiratkan kekhawatiran.



Ceklek....



"Neng...."



Asmi duduk di tepian seraya mere mas guling, sambil menyanyikan lagu, "*diraksukan kabaya....nambihan cahayana....dangdosan sederhana, mojang priangan*...."



"Ya Allah neng Asmi!!!"



"Den rara, gusti."



Alva naik ke atas motornya, pagi ini ia akan menjemput Asmi untuk ke kampus bersama, ia akan mendatangi rumah sang pujaan hatinya tak peduli apa yang akan dilakukan keluarganya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2