
Beberapa bucket bunga ditaruhnya di kursi dimana tasnya berada. Asmi meraih jaket yang langsung ia pakai demi menutupi badan bagian atasnya yang terbuka sampai bagian bawah tulang selang ka. Asmi merogoh ponsel dari tasnya, "eh, ada kang kuman..."
"Ini teh ruang apa namanya, kang?" tanya Asmi pada Agah.
"Ruang aula seni." Singkatnya, Asmi segera mengetik pesan pada Alvaro untuk menyusulnya ketempatnya, yang sebenarnya Alva sudah mengikuti kemana arahnya pergi sejak di bawah panggung.
"Dimakan dulu neng, udah jam makan siang." Agah mendorong kotak makan tadi ke hadapan Asmi sebagai perhatiannya.
"Akang tinggal solat dzuhur dulu atau mau solat bareng?" tawar Agah.
"Emang mushola'nya dimana kang?" ia balik bertanya menoleh pada Agah seraya melepas semua perintilan bunga-bungaan di rambutnya.
"Ya udah bareng aja atuh, sekalian diimamin mau?" tawarnya kembali dengan kekehan.
"Mi,"
Asmi menoleh ke arah pintu masuk, merasa hafal dengan suara yang memanggilnya.
"Kang kuman," lirihnya tersenyum lebar, membuat Agah ikut menoleh pada arah Asmi bicara.
Ia tersenyum miring saat Asmi langsung beranjak menyambutnya, hal semanis apapun yang ia lakukan akam tetap menjadi nomor sekian karena selamanya ia hanya akan menjadi pemain figuran saja di kisah Asmi. Alvaro tetaplah pemenangnya.
"Va," Agah mengangguk sekali, kemudian menepuk pundaknya.
"Kang," balas Alvaro.
"Kalo gitu akang ke mushola dulu, neng."
Asmi mengangguk, "Asmi sekalian pamit pulang ya, kang...sama kang Alva," ujar Asmi.
"Iya. Hati-hati, makasih Mi. Uang jajan sudah akang transfer buat yang barusan, tapi maaf ngga banyak..."
Asmi menggeleng, "ih ngga usah padahal mah! Asmi kan udah bilang ngga usah, lagian akang tau nomor rekening Asmi dari mana? Amih?!" tembaknya.
Agah tersenyum, "cuma sekedar uang minum, makasih sekali lagi."
"Iya kang." Asmi melebarkan senyuman dan melambaikan tangannya. Mungkin jika malam itu ia tak bertemu Alvaro di konser, mungkin Asmi bisa saja luluh dan menerima perjodohannya dengan Agah. Namun semuanya memang sudah jalannya begitu.
Tatapan Alva dan Asmi masih tertuju pada Agah yang semakin menjauh, sosok lelaki dewasa yang memang berpikiran bijak nan matang.
"Raden Agah kasih jajan buat kamu, tapi aku belum bisa..." ujar Alva memecah kediaman diantara mereka.
Asmi mendelik sinis pada lelaki yang tak biasanya peduli dengan apapun ini, apalagi iri pada orang lain. Apakah ini, apa Alvaro sedang iri, cemburu pada Agah?
"Apa sih, kang kuman." Ia mendaratkan tangannya di wajah Alvaro yang langsung diraih Alva dan digenggamnya, "pulang ah panas."
Asmi tertawa, "mendung ah!" godanya masuk ke dalam untuk mengambil tas dan barang-barang miliknya.
Melihat banyaknya bucket bunga yang di dapat tak bisa untuk tak membuat Alva berdehem tak nyaman.
"Masih bagusan mawarnya ibun di rumah!" gidiknya acuh saat mengangkat satu bucket bunga mawar merah berpita pink. Asmi masih mesam-mesem sendiri ketika mengambil baju gantinya, "kang tunggu dulu sebentar, Asmi mau ganti baju dulu..."
Alva diam dan masih melihat satu persatu bucket bunga yang didapat Asmi, gadis itu mencondongkan wajahnya ke depan Alva, "cemburu bilang bosss," bisiknya tertawa dan berlalu dengan membawa baju.
"Mau diimamin ngga?" tawar Alva sontak meledakan tawa Asmi karena perkataannya itu hampir mirip dengan Agah, atau Alva memang sedang mencibir Agah?!
__ADS_1
"Boleh, kisanat." Jawab Asmi berjalan bersama menyusuri selasar ruang kelas setiap fakultas menuju parkiran.
Muka Alvaro masam, dimintai tolong oleh Asmi membawakan semua bucket bunga miliknya. Yang benar saja gadis ini! Minta dilipat kaya kertas origami.
"Kenapa ngga dibuang aja? Aku kasih satu kebon sama pohon-pohonnya, sama tanah-tanahnya sekalian!" imbuhnya.
Asmi terkekeh gemas, "ngga mau ah, banyak durinya, takut kempes kalo ketusuk!" Asmi tertawa.
Alvaro berdecak, ia kemudian berjalan lebih cepat dan disaat dekat dengan tong sampah, dengan tak berhatinya ia menjatuhkan itu semua ke dalamnya.
"Eh, akang!!! Akang mah ih! Kenapa dibuang?!" Asmi seketika dilanda panic attack.
Alvaro dengan wajah datarnya menatap Asmi, "kamu pikir aku kurang kerjaan bawain yang begituan. Kamu mau mawar? Aku bawain satu kamar penuh buat kamu! Cepet pulang!" Alva berjalan duluan meninggalkan Asmi, yang menahan rasa kecut.
"Ngambek deh, ngambek ah!" gumamnya mengejar Alvaro. Alvaro memasangkan helm di kepala Asmi dengan wajah yang tetap datar tak mau menatap Asmi, padahal si empunga kepala udah mandangin kaya orang minta sumbangan.
"Akang ih!" rengeknya menusuk-nusuk punggung Alvaro, namun sayang sekali aksinya tak membuat Alva bergeming.
"Akang, apih ngundang kang kuman sekeluarga ke rumah." ujarnya, Alvaro mendengarkan dan memahami namun ia masih belum mau menunjukan kepeduliannya.
Kesal, tak jua dapat membuat Alva mencair, Asmi membuka helmnya. Ia paling benci di cuekin gini.
"Nih! Helmnya! Asmi mau pulang sendiri aja! Ngga enak dikacangin sama yang bawa, kesannya kaya yang ngga ikhlas!" ngambek Asmi menyodorkan helmnya.
Alva menarik alisnya sebelah menatap Asmi yang angkuhnya mirip-mirip amih.
"Pake!" titah Alva dingin. Asmi mencebik, karena Alvaro yang saat ini di depannya beda dengan Alva yang kemarin.
"Nggak! Akang aja yang pake, nih tuh Asmi taro disini!" Gadis itu melangkah memutar badannya hendak pergi, tapi Alva tak kehilangan akalnya, ia turun dari motor yang sempat ia nyalakan mesinnya, dengan sekali hentakan ia menangkap Asmi dan menggendongnya ke arah motor, membuat Asmi menjerit.
__ADS_1
"Akang ih! Kumannn!" teriaknya dibawa macam gabah hasil panen.
"Cewek emang senengnya bikin naik da rah. Sukanya juga dipaksa!" ujar Alva menurunkan Asmi tepat di atas motornya lalu memasangkan helm di kepala Asmi yang malah mengggelengkan kepalanya membuat Alva kesulitan.
"Diem." Tatap Alva menangkup kedua sisi wajah Asmi memberikan sorotan mata tajamnya, namun sayangnya gadis ini sudah kebal dengan sikap dingin Alvaro, ia justru memajukan mulutnya dan mengatupkan deretan giginya layaknya piranha, yang ingin menggigit hidung Alva bak daging.
Alvaro menaruh tumpuan tangannya di samping kiri dan kanan Asmi hingga membuat keduanya bertatapan dengan jarak beberapa inci saja.
"Bilang sama apih kamu, insyaAllah sabtu kita ke rumah. Setiap sabtu, mpap ada di rumah..." jawab Alva, "sebelum aku berangkat KKN."
Seketika senyum yang akan merekah itu kembali melempem kaya kerupuk kesiram air.
"Akang udah dapet jadwal KKN?" Asmi bertanya khawatir.
Alva mengangguk mantap, "ngga jauh...di kampung adat Cireundeu," jawab Alvaro kini memainkan rambut Asmi yang menghalangi alis dan bulut mata lentiknya.
"Cimahi? Berapa bulan?"
"Kurang lebih 3 bulan,"
"Lama...." keluhnya.
Asmi tersenyum getir, "abis itu akang pasti bakal sibuk ngurusin persiapan skripsi..." seolah ada rasa kecewa tersirat.
Alvaro mengangguk, "abis wisuda aku mau coba usaha atau cari kerja, terus sibuk rebut hati keluarga kamu..." lirih Alva membuat lengkungan di bibir Asmi tercipta begitu indah.
.
.
.
.
__ADS_1
.