
Sebagaimana lazimnya, pertunjukan pertunjukan teater legenda mitos Sunda begini selalu diawali dengan melantunkan rajah.
Musik pentatonis menyihir dan membius para penonton, citrarasa yang begitu sakral menjadikan malam ini seolah adalah malam di tahun Hayam Wuruk tertarik pada seorang Citraresmi.
Beberapa lagu yang dikawihkan oleh nini dayang dapat menghidupkan pertunjukan seolah nyata. Para pemeran yang merupakan maestro sunda menampilkan suguhan peran yang begitu luwes, epic, nan mendalami peran, terlebih pemeran utama.
Mata Asmi berbinar melihat sosok peran Citraresmi, yang begitu sukses diperankan...sosok yang kharismatik, lungguh, kewes, pantes, teuneung, dan ludeung, cukup mengisyaratkan sosok perempuan sunda. Apakah itu dirinya? Ia tersenyum.
"Kaya Asmi ngga kang?" bisiknya bergumam di telinga Alva mirip nyamuk.
Alvaro menoleh, "sedikit. Peseknya..." ia terkikik tanpa suara melihat wajah sinis Asmi, tangan lentik itu bahkan sudah mencubit pinggang Alva.
Asmi menghela nafas berat dan mulai sesak, saat adegan di depannya menyiratkan jika Citraresmi adalah putri sejati dengan sikap, keputusan dan perjuangannya membela harga diri, kehormatan baik bagi dirinya, keluarganya, serta rakyat kerajaan Sunda Galuh dengan menerima pinangan Hayam Wuruk, itulah yang senantiasa menggetarkan sukma, meski telah berabad-abad masa itu terlewati, akan selalu terkenang di sanubari masyarakat sunda.
Alvaro melirik Asmi, yang menatap tanpa jeda adegan di depannya.
"Kamu bisa menjaga harga diri dan kehormatan keluarga juga nasib ribuan karyawan tanpa harus menyerahkan diri, aku yakin kamu bisa." Alva meyakinkan gadis di sampingnya, namun sepertinya Asmi sudah memiliki keputusannya sendiri, ia tersenyum lebar tanpa mengatakan apapun.
Kawih dan tarian ronggeng gunung mengharmonisasikan irama serta makna gerakan semakin membuai para penonton terus masuk dan merasuk jiwa diantara dinginnya hawa kawasan Bandung.
Hingga tibalah puncak konflik saat apa yang dikhawatirkan putri Citraresmi benar-benar terjadi, jika kalimat manis yang membuai hanyalah selubung dari sebuah pengkhianatan atas keluarga, dirinya, rakyat serta kerajaan.
Ia dibohongi, terkhianati, dan merasa diinjak-injak harga dirinya menjadi tekad yang semakin kuat untuk menentukan sikap.
Alunan musik tarawangsa menyayat-nyayat hati para penonton memperkuat ruh pertunjukan dalam dialog pergulatan batin sang putri, mengaduk-aduk emosi setiap khalayak yang menyaksikan, membentuk imajinasi-imajinasi baru yang semakin terasa memukul hati seolah mereka merasakan sendiri apa yang Citraresmi rasakan, terlebih Asmi.
Hingga tanpa sadar air mata semakin deras jatuh, tak sedikit pula penonton yang terisak larut nan dalam seolah larut dalam cerita.
Asmi merasa jika putri Sunda yang kisahnya berakhir tragis nan menyedihkan itu adalah dirinya, tangannya mengusap pipi yang sudah basah, Asmi mulai berkeringat dan menggertakan kakinya cepat seolah sedang panik.
"Lebay ah," Alva memegang tangan Asmi demi menghentikan apa yang terjadi pada Asmi saat ini, sejujurnya Alva khawatir dengan gadis di sampingnya itu. Apakah sebegitu berat beban yang dipikul Asmi atau entah ia yang terbawa suasana.
"Aku Citraresmi, masih berdiri tegak memegang bakti. Aku tak akan lari juga tak akan berserah diri. Tak akan kuberikan diri sebagai upeti. Akan tetap tegak kehormatan dan harga diri. Aku, Citraresmi perempuan yang mereka cari, perempuan yang akan menentukan takdirnya sendiri."
Kemudian sejurus kemudian sebagian penonton terlihat meringis syok ketika ia menghunuskan patrem dengan kedua tangan tepat ke dadha seraya diikuti oleh sebagian perempuan dalam rombongan kerajaannya.
Tangan Asmi mencengkram di lengan jaket Alvaro saat itu terjadi, diantara pasukan dan keluarga yang telah dibant ai, sosok harum bunga kerajaan paling dipuja diseluruh negri karena kecantikannya itu tergeletak bersimbah da rah membuat sang raja agung kerajaan paling berpengaruh saat itu tak bisa membendung kesedihan dan kepedihan kehilang calon permaisurinya.
Kejadian itu pula yang membuat Gajah Mada terpukul mundur dan mengasingkan diri, karena keputusan sepihaknya yang mengakibatkan satu kerajaan yang begitu terhormat terbantai dalam peristiwa Bubat.
Suasana taman budaya ini akhirnya pecah dengan riuh gemuruh sorak-sorai tepukan tangan para penonton. Ada pula yang sampai standing applause.
Alvaro dan Asmi masih duduk di kursi penonton, membiarkan para penonton lain berjubel menyerbu pintu keluar.
"Mau langsung pulang?" Alvaro melirik jam di tangan yang menunjukan pukul 9 lebih seperempat malam.
Asmi mengangguk namun ada rasa ragu nan sedih. Akan ia ingat dalam hati dan pikiran jika ini adalah malam paling indah dalam hidupnya dan akan menjadi memory yang selalu ia ingat.
Pengunjung sudah menyurut, membuat jalan terbuka lebar dan lengang. Alvaro mulai beranjak, "yuk. Mau nginep disini?!" ia menarik Asmi untuk bangkit, tapi Asmi justru menarik Alva untuk kembali duduk.
__ADS_1
"Kang," lirihnya memanggil.
"Hm?" Alva kembali duduk, ia tau jika Asmi menginginkannya kembali duduk di sampingnya sejenak.
"Makasih..."
Alis tebal Alva masih menukik mengernyit.
"Atas semua yang sudah akang kuman kasih buat Asmi, terutama kebahagiaan...." matanya mengerjap diantara temaram lampu tempat ini.
Bersama dengan sisa emosi dan rasa pertunjukan tadi, Asmi menguatkan diri. Ia sengaja menjadi dirinya sendiri, menghabiskan semua keinginannya untuk kemudian meninggalkan dan melepaskan semuanya.
"Akang adalah sesuatu yang terlalu indah untuk Asmi miliki. Semua yang pernah terjadi diantara kita, bukanlah sebuah penyesalan."
Alva mulai paham, kenapa Asmi berpakaian all out menunjukan sisi dirinya yang sebenarnya, kenapa Asmi mengabsen semua kegiatan yang ia ingin habiskan bersama ibun Ganis, kenapa saat ini ia begitu agresif memeluk Alva, dan seberani ini keluar hingga larut, rupanya itu adalah cara Asmi untuk mengucapkan perpisahan pada Alvaro.
Asmi mendongak dan menatap dalam-dalam wajah rupawan Alva, dengan berani ia menyambar bibir tebal Alvaro yang meski perokok namun masih terlihat merah.
*Selamat tinggal cinta pertama, sampai jumpa di lain waktu di dunia yang berbeda*.
Asmi menitikan air matanya hingga menganak sungai meski bibirnya masih menempel di bibir Alvaro.
Alvaro tak bisa untuk tak membalas kecupan itu, tak peduli mereka berada di tempat umum, yang jelas ia tau saat ini Asmi sedang menyalurkan rasa sayangnya.
Alvaro kemudian melepaskan tautan keduanya, "kamu yang ngga tau aku, Mi. Aku udah pernah bilang jangan pernah mencoba menghindar atau menjauh atau kamu tanggung akibatnya. Kamu harus tanggung jawab atas perasaanku sekarang. Bukan pergi gitu aja." Jawabnya dingin.
"Akang ngga tau apa yang akang hadapi. Sejak awal Asmi yang salah, Asmi nyeret akang ke dalam pusaran kehidupan pelik Asmi. Jangan sampai Asmi menyesal karena sudah menyayangi kang kuman. Asmi ngga mau akang, ibun, atau temen-temen ikut nanggung masalah Asmi." jawab Asmi menghapus jejak-jejak air matanya dan mencoba tegar setegar Citraresmi, Asmi mengungkung masalahnya sendiri meski itu akan meledak layaknya bom dan menghancurkan dirinya sendiri.
"Kang, ijinkan Asmi membiarkan akang bahagia dengan yang lain tanpa harus terganjal restu ataupun membuat akang merangkak di jalanan terjal...ijinkan Asmi kembali ke kehidupan yang seharusnya,"
__ADS_1
Alvaro menggeleng tanpa berkata-kata.
"Den rara,"
Keduanya menoleh, "Asmi telfon mang Dedi, biar akang ngga perlu ketemu amih. Makasih kang....seenggaknya Asmi pernah nyicipin yang namanya jatuh cinta berbalas..."
Asmi melepaskan tangannya dari lengan Alva perlahan bersama perasaan ikhlas nan lapang, setelah sebelumnya mengecup punggung tangan besar milik Alva.
Langkah kaki Asmi mantap meninggalkan Alvaro di area taman budaya. Asmi memutuskan untuk meninggalkan sang cinta, daripada harus mengorbankan banyak orang kedepannya.
*Disini aku jatuh cinta, disini pula aku harus meninggalkannya*.
*Rashmi Sundari Kertawidjaja*.
Suasana ini terlalu indah untuk moment yang terlalu pahit. Alva berjalan menyusul dan meraih lengan Asmi, "ngga bisa!"
"Kamu ngga bisa gini, Asmi!"
.
.
.
.
.
.
Noted :
\* Rajah : Lagu pembuka sebagai kata pengantar untuk memohon ijin, maaf, penghormatan pada leluhur agar selamat selama pertunjukan berlangsung.
\* Lungguh : kalem.
\* Kewes : cantik dan istimewa.
\* Pantes : pantas / layak
\* Teuneung : mandiri.
\* Leudeung : berani
__ADS_1
\* Patrem : tusuk konde