Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR #60. RONGGENG TERSOHOR


__ADS_3

Tak ada keangkuhan atau tatapan jumawa saat Wira menghampiri amih Sekar, ia justru sesantai orang mau ngupil. Memasukan tangannya ke dalam saku celana selututnya.


"Mari kita luruskan sebentar sambil nge'teh, sambil nunggu juga adzan magrib. Bukankah, kalo magrib pamali buat keluar?" Wira meminta Alva, Asmi dan Ganis duduk, begitupun amih Sekar.


"Ay, bikinin teh buat raden nganten Sekar..."


Sekar Taji masih berdiri mematung di tempatnya, belum mau duduk dan lebih memilih sibuk menerka-nerka nama Adiwangsa yang lupa-lupa ingat.


Ia cukup tersentak beberapa waktu kemudian ketika otaknya kini mengingat nama Sumini Adiwangsa. Tapi apakah benar yang Wira ucapkan?!


Ganis menghentak kakinya tak ikhlas masuk dapur, mau nolak perintah suami, mau nerima kok rasanya ngga ikhlas layanin daj jal.


"Gue san tet juga nih, pake da rah ayam!" dumelnya mengaduk teh manis lalu membawanya ke depan.


Alva mempersilahkan mang Dedi dan Eka masuk juga, namun kedua supir Asmi itu menolak, mungkin terbiasa diperlakukan begitu oleh keluarga Asmi, membuat mereka jadi segan ada dalam satu ruangan atau meja dengan majikan.


"Mang, duduk aja. Ngga usah segan." Ujarnya lembut, Asmi memang selalu yang paling lembut di rumah pada para asisten rumah tangga.


"Den rara, ngga apa-apa. Mamang di luar saja. Ini bukan ranah mamang berada." jawab mang Dedi.


"Kalo gitu Asmi minta ibun buatin kopi, mau?"


"Rashmi!" bentak amih. Wira, Alva dan Bagas dapat melihat sikap Sekar hanya dari ucapannya sekarang.


"Gas, minta ibun bikin kopi 2 buat akang-akang yang diluar," pinta Wira diangguki Bagas. Asmi begitu terlihat diam terkesan tertekan, siapa juga yang masih bisa tetap bertahan jika situasi rumah dihuni seorang ibu seperti Sekar Taji.


"Saya yakin kamu ingat dengan nama Sumini Adiwangsa, dan akan selalu diingat oleh semua penari jaipong seantero Jawa Barat bahkan Hindia-Belanda sampai kapanpun. Atau mungkin menjadi panutan para ronggeng setiap generasi."


Wira beranjak berdiri lalu melengos masuk terlebih dahulu ke arah ruang tengah, demi mengambil sesuatu dari lemari bufet.


Selembar foto hitam putih dan sudah usang namun masih bisa menampakan potret sosok wanita di gambarnya.

__ADS_1


Wira melemparkan itu di atas meja bersamaan Ganis yang baru saja datang membawa nampan berisi secangkir teh manis hangat dan dua gelas kopi hitam instan.


Ganis menaruh cangkir teh di meja dan menatap amih Sekar dengan tatapan memicing, "heh...mau duduk engga? Tenang aja, kursinya bersih! Ngga bakal bikin kamu gatel-gatel! Ganis bersiin tiap hari!" dengusnya sebal dan berani berucap sengak.


Istri NataPrawira Adiwangsa ini memang berani menantang maut, katanya mau hidup seperti larry, biar mirip slogan merk life is never flat.


Ia sungguh tak peduli apa gelar yang disandang di awal nama ibunya Asmi, mau itu gelar yang diberikan ratu elizabeth, raja brunei, pangeran william ataupun raja negara Wakawakaeaaa sekalipun, ia tak takut selama ibunya Asmi masih sama-sama makan nasi seperti dirinya.


Lagipula apalah faedah gelar ningrat, kalo token listrik tetep mesti bayar! Gelar ningrat ngga bisa bikin jajan cilok gratis. Kemudian ia beranjak dari sana untuk mengantarkan kopi.


"Eh, kenapa jongkok di bawah, kursi ditaro disitu bukan buat dipandangin atau dielus-elus tanpa kepastian!" seru Ganis pada mang Dedi dan Eka karena keduanya malah berjongkok di bawah sambil merokok.


"Eh, ngga apa-apa teh..." keduanya terkekeh mendengar ocehan Ganis, si wanita yang berbeda aura dengan raden nganten. Pantas saja Rashmi lebih betah disini.


Bukan amih Sekar yang penasaran, justru kini Asmi dan Alva memanjangkan lehernya dan meraih foto usang itu.


"Ini?" tanya Alva.


"Hingga pada akhirnya, ia dipersunting seorang menner Londo meskipun hanya dijadikan selir atau istri keduanya disini, di Indonesia." Wira menatap amih yang masih berdiri di tempat.


"Sumini menjadi istri kesayangan yang mampu membuat si meneer tinggal lama di Indonesia, tepatnya di Bandung, disini di Cipaganti, di rumah ini...."


Asmi dan Alva saling melirik mulai memahami cerita Wira.


"Setelah meninggalnya istri sah meneer (dutch) Alard Van Dirk, beliau memutuskan untuk menghabiskan waktu di Bandung, menikmati masa tuanya bersama selir yang telah menjadi istri satu-satunya dengan menjadi tuan tanah di Bandung, memiliki beberapa usaha dan bisnis. Dan berganti nama jadi Abraham Adiwangsa...."


"Singkat cerita, mereka dikaruniai 5 orang anak dengan usaha yang maju, Sumini merubah dan membawa suaminya menjadi orang dengan sikap dermawan hingga semua warga disekitar sini merasa segan serta hormat pada dutch Abraham Adiwangsa. Tak lama setelah itu pemimpin Bandung menghadiahinya gelar orang terhormat, setara dengan ningrat sikep-sentana, hingga beberapa tahun kemudian beliau terpilih menjadi bupati pada masanya."


"Kamu tau siapa saja anak-anak dari Sumini Adiwangsa? Apa harus saya jelaskan secara garis keturunan hingga da rahnya mengalir di Alvaro?"


Wira tertawa sumbang, "dan lucunya ternyata Sumini adalah garis keturunan generasi Padjajaran, yang memang menanggalkan gelar keningratannya karena tak suka dengan aturan yang menuhankan sosok ningrat."

__ADS_1


"Crazy right?" Wira meminta pendapat amih Sekar, "dunia sesempit itu!" ia terkekeh sumbang lagi.


"Jadi, kalau kamu bertanya siapa kamu pada putra saya Alvaro. Maka kini Alvaro dapat menjawab jika ia keturunan Sumini Adiwangsa dengan nama ningratnya raden ayu Paramitha Sumarini dan dutch Alard Van Dirk atau Abraham Adiwangsa."


Ganis yang ikut mendengarkan hanya bisa melolong di tempatnya, "bang Nat teh turunan Belanda?!" tanya nya berseru, "coba Ganis liat lagi cik ah! Mukanya, kok ngga kaya kincir ah!"


"Bang Nat juga turunan menak?!!!" kagetnya pake tanda seru 10 biji.


"Dahsyat!" tambah Ganis. Moment yang seharusnya bikin melongo terkesan jadi mirip sitkom.


"Ganis penghianat bangsa engga, nikah sama turunan penjajah?!" tanya nya bikin Bagas menyemburkan tawanya, "telat bun!"


Ganis terkekeh usil dan mencolek Wira, "hapunten raden Wira...." kekehnya. (maaf)


Kini Alvaro yang mendengus geli mendengarnya, sementara Wira hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap wajah istri absurdnya itu. Sungguh baginya Ganis adalah istri yang harus dibudidayakan kaya jamur tiram.


"Apa sih ay," ucapnya.


"Ah meni berasa geli! Ih, lidah Ganis gatel nyebut aden, abang mah ngga pantes disebut raden! Dah lah, cocoknya jadi presiden Vulcan yang kemana-mana pake warior kalo engga sendal jepit!" akui Ganis tak bisa tak membuat mereka mengulum bibirnya kencang menahan tawanya, kan ngga etis kalo tiba-tiba mereka tergelak di situasi yang seharusnya serius.


"Amih," lirih Asmi memanggil ibunya dengan sorot mata getir. Tak ada kata terucap dari mulut amih. Ia kalah telak, dan hari ini ia benar-benar merasa malu.


"Di atas langit masih ada langit, nyai Sekar. Bibit, bebet, bobot memang menjadi syarat mencari pasangan, namun tidak dengan mengorbankan sisi kemanusiaan dan perasaan. Jadikan gelar ningratmu itu cermin dari kepribadian yang sudah seharusnya seperti jiwa seorang menak sejati...agar tak kehilangan kharismanya..." jelas Wira, "silahkan diminum teh'nya. Teh istri saya cukup nikmat di lidah. Meskipun tak senikmat teh milik keluarga Kertawidjaja."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2