
Apih mengangguk dalam pada Bajra, mengisyaratkan untuk membiarkan Alvaro bertindak. Amih sudah masuk kamar ketika Alvaro hadir, karena Rashmi seolah tak mau tenang ketika amih disana.
"Summer has come and passed, the innocent can never last, wake me up when september ends...." lirik lagu itu keluar dari mulut Alva, suaranya berat nan dalam.
Alva dan Asmi terkekeh bersama, dengan Asmi yang mengusap pipinya, "like my father's come to pass, seven years has gone so fast, wake me up when september ends...." lanjut Asmi meski suaranya begitu parau.
"Katanya neng daki mau belajar gitar sama ibun?" colek Alva di pipi chubby Asmi.
Asmi tersenyum kembali meski senyuman itu bermakna kesedihan.
"Akang ngga ngampus?" tanya Asmi.
"Niatnya mau berangkat bareng kamu, tau ngga aku sampe berantem sama mamang security di depan. Tapi aku mah setrong, bisa masuk walaupun harus keluarin mode pangeran kegelapannya mpap," jawab Alva, dan tawa kecil keluar dari gadis ini.
"Baru permulaan itu kang, baru ketemu security aja...belum ketemu sama gegedugnya, sama yang punya rumah," jawab Asmi nyalang.
Bajra dan apih dapat melihat jika Asmi dan Alvaro begitu full of love, Asmi begitu nyaman bersama pemuda gondrong ini. Padahal ia terlihat seperti lelaki dingin.
**
Nawang menyenggol lelakinya, "percaya ngga? Kalo lelaki dingin itu sweet banget?" bisiknya mirip lebah.
"Aku kan? Kamu lagi ngomongin aku?" bisik Bajra bertanya dan mendapatkan tawa cibiran dari Nawang, kemudian mereka kembali mengawasi Asmi dan Alva.
**
"Ya ngga apa-apa. Aku anggap itu pemanasan. Semakin sulit jalan yang ditempuh, semakin berharga sesuatu yang kamu tuju. Termasuk orang," Alva berkata.
Asmi terkekeh, "wesss! Kang Alvaro quotes! Kalo kang Saka sama kang Filman liat pasti disorakin sambil dilempar kacang," jawabnya.
"Asmi bukan cuma butuh obat medis pih, tapi kasih sayang orang-orang yang dia sayang, Asmi butuh kebebasan..." ujar Nawang pada apih.
Alva menoleh pada teh Nawang yang mengangguk sebagai kode agar ia mau bertemu dengan psikiater di rumah sakit.
"Mi, aku temenin yah?"
"Kemana?"
"Ke rumah sakit..."
Asmi menggeleng, "kang kuman harus ngampus. Bukannya Rampes punya project bulanan, kan?"
Alvaro mengulas senyuman tipisnya, "udah masuk kerjaan Saka, bagianku udah selesai. Tadi banget aku kirim email ke Saka," jelasnya.
"Aku bisa sendiri kang, ditemenin teteh sama aa, akang ke kampus aja. Asmi jangan jadi beban atau penghalang buat kang kuman," jawabnya.
"Ya udah. Besok kalo udah siap ke kampus, aku jemput." Asmi langsung melirik apih dan Bajra, "minta ijinnya sama apih, kang."
__ADS_1
"Kalo itu udah pasti." Alvaro melepaskan tautan tangannya dari Asmi.
"Teh hayuk atuh! Tapi Asmi belum mandi, belum makan.." Asmi bicara pada Nawang.
"Iya sok, neng Asmi makan sama sarapan dulu."
"Hatur nuhun," ucap apih ke arah Alvaro yang mengangguk, ayah dari Rashmi itu mengajak Alvaro untuk duduk bersama.
"Boleh saya langsung to the point?" tanya apih diangguki kembali oleh Alva.
Apih membatalkan acara ngantornya pagi ini demi membereskan urusan Asmi.
"Yun! Tolong buatkan minum buat tamu saya!" pinta apih, mengajak Alvaro duduk di halaman samping, tidak seperti tamu-tamu resminya yang selalu di sambut di ruang tamu agar lebih friendly.
Gemericik air deras mengalir dan bermuara di kolam ikan belakang rumah terdengar riuh tenang bersama hawa yang masih asri, tempat yang dulu pernah Alva sambangi disini saat Asmi sakit.
Sosok ayah Asmi yang merupakan ningrat rupanya tak semenakutkan pikiran Alvaro, ia begitu kharismatik nan penuh wibawa, kendati demikian ramah serta bijaksana. Terlihat benar aura ningrat sesungguhnya yang penuh kedamaian di mata siapapun orang di dekatnya.
"Atas nama Rashmi dan pribadi saya mengucapkan terimakasih banyak untuk Alvaro."
Ucapan ramah khas lelaki dewasa membuat Alva tak sungkan membalasnya, "saya tulus menyukai putri bapak."
Ada senyuman diantara kerjapan matanya, mungkin menyiratkan *siapa yang tak akan suka pada Rashmi*. Mungkin jika ia masih muda dan tidak ada tali kekerabatan atau da rah dengan Asmi apih pun akan suka dan mengejar Asmi mati-matian.
"Punteun, den." seorang asisten rumah tangga membawakan senampan teh manis dan kue putu ayu.
"Ya. Nuhun," angguk singkat apih.
Alvaro tidak akan merendah untuk meminta belas kasihan, sebagai seorang lelaki ia ingin dipandang setara dengan semua lelaki yang pantas untuk Asmi, bukan karena Asmi yang menyukainya ataupun karena ialah yang mampu membujuk Asmi.
"Kamu lelaki kesekian yang bilang begitu," jawab apih santai.
__ADS_1
"Antara kamu dan putri saya...." jedanya.
"Ada hubungan apa?"
"Tidak ada," jawab Alvaro sukses membuat apih menoleh tak percaya, jika keduanya tak memiliki hubungan apapun.
"Putri bapak adalah gadis baik-baik. Tidak berani melanggar aturan ataupun memperkeruh keadaan untuk kepentingan pribadinya."
Apih kembali menyunggingkan senyuman, "saya tau kamu tidak akan meminta Asmi dengan dalih karena telah berjasa."
Apih melihat pemuda yang duduk tanpa rasa takut ataupun percaya diri berlebih, ia terlampau kalem. Pribadinya tak mudah digertak dan terintimidasi.
"Saya tidak akan melarang kamu mendekati anak gadis saya, namun tidak juga begitu saja memberikan restu...jadi silahkan kamu berjuang dengan caramu," ujar apih menepuk pundak Alvaro dan beranjak dari duduknya, "diminum dulu, sudah dibuatkan."
Asmi kembali seperti dirinya, memakai dress rumahan selututnya dengan bandana untuk merapikan rambut panjangnya.
Ada senyuman hangat nan manis darinya sesaat sebelum masuk ke dalam mobil, dari bingkai helmnya Alvaro dapat melihat paras ayu putri priyangan, pujaan hatinya.
Alvaro sedikit memundurkan motor memberi ruang untuk mobil Asmi keluar duluan, sementara ia menyusul dari belakang.
Amih hanya menatap kepergian Asmi dari bingkai jendela, pandangannya dari Alva pum tak lepas meneliti, siapa pemuda yang bernama Alvaro ini, dimana rumahnya? Anak siapa? Apa yang dia punya? Bagaimana pergaulannya?
Sungguh bagi logikanya belum ada figur calon menantu idaman yang bisa mengalahkan sosok Agah.
Asmi membuka kaca jendela lebar-lebar dan memandang Alva dari sisi lain.
"Hati-hati," ucapnya lembut, Asmi mengeluarkan tangannya yang disambut tangan Alva, "get well soon, neng daki."
Asmi mengulas senyuman, "salam buat ibun."
Alva menggeleng, "nanti kamu aja yang sampein salamnya sendiri."
Mobil telah melaju dengan Bajra, Nawang dan apih di dalamnya beserta Kelana, melepaskan tautan tangan Asmi dari Alvaro dan memberikan jarak semakin jauh. Tatapan Asmi masih ke arah samping, dimana Alva mendampingi mobil Asmi hingga akhirnya di persimpangan jalan mereka berpisah jalur.
Alis tebal Bajra menukik bersama mata hitam yang menatap lekat interaksi adiknya dan Alvaro, begitu manisnya Alva, lelaki yang awalnya ia tak begitu respect.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1