Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 66.WILUJENG SUMPING


__ADS_3

Wilujeng Sumping \=> Selamat Datang



"*Wilujeng sumping*," umbar apih dengan senyuman ramah.



Wira dan Ganis mengangguk ramah, meski ramahnya Wira itu hanya seulas senyuman setipis iman manusia.



Sementara Ganis sudah tersenyum manis, "*nuhun*."



Pandangan Ganis dan Wira bertemu dengan pandangan amih yang kini sorot matanya meredup. Tanpa bicara sepatah katapun dan tangan yang tak lepas melingkari lengan apih. Layaknya anak kecil yang takut bertemu orang baru.



"Terimakasih, sudah mengundang kami ke rumah raden Amar..." jawab Wira.



Apih tersenyum menepis udara, "bukan rumah, cuma *saung butut*!" kelakar apih yang jelas sedang merendah. (gubuk jelek)



"Sok atuh, *mangga---mangga*!" tuduhnya pada sofa. Alva ikut duduk, tidak celingukan kemana-mana meski ia tau seseorang belum berada disini, tapi tak mungkin jika Asmi tak ada disini. (silahkan--silahkan)



Yuyun beserta ambu lain membawa beberapa nampan jamuan untuk Alvaro sekeluarga, "ya ampun. Ngga usah repot-repot!" seru Ganis melihat jamuan yang seabrek-abrek mirip lagi hajatan.



"Silahkan dicicipi," lirih amih, membuat Ganis mengalihkan perhatiannya pada amih Asmi ini. Cukup lama Ganis terdiam mencerna, apakah Sekar Taji kesamber gledek?!



Kemudian Ganis mengulas senyumnya, "hatur nuhun."



Coba saja sejak awal, mungkin moment canggung dan tak enak kemarin tak harus ada. Mungkin Ganis tak perlu marah-marah sampai urat leher menonjol dan bikin cenat-cenut kepala.



Rupanya senyuman Ganis menular padanya, hingga Sekar Taji ikut tersenyum, "ini...klepon yang saya buat sendiri..." ujarnya mulai mencairkan suasana, setelah di sisi samping bapak-bapak sudah terlibat obrolan panjang.



"Wah, makasih. Jadi ngga sabar pengen cobain!" jawab Ganis. Meski dalam hati, ngga dikasih racun kan? Kali aja mendadak baik biar percaya! Demi menghargai dan menghormati tuan rumah, Gani meraih secangkir teh manis dan piring kecil untuk menyisihkan klepon.



Mungkin hanya Alvaro yang tidak memiliki lawan bicara disini.



"Ai néng Asmi teh kemana, pih? Ada tamu malah ngumpet?" tanya amih.



"Eh, iya kemana atuh. Coba nyai panggil!" titah apih yang mendapat anggukan dari amih.



"Néng! Néng Asmi!" panggil amih beranjak masuk ke dalam.



Asmi yang masih berada di kamar terkejut namanya dipanggil, "aduhhh kok tegang ya?! Asmi salah kostum ngga ya?! Atau ada yang aneh ngga ya?!Liptin---liptin? Bedak? Takut masih belekan!" gumamnya panik nan khawatir kembali bercermin.



"Néng!" panggil amih lagi.



Kesal, karena amih yang teriak-teriak persis di hutan, tapi tak jua mendapat balasan dari Asmi, Sasi angkat bicara.



"Tétéh mah mesti pake toa, mih! Gini nih!"



"*Punten! Kanu namina Asmi diantos amih di ruang tengah!!! Kumargi amih ngajak tawuran*! Uwiw---uwiwww---uwiiwww!" jerit Sasi tertawa. (Maaf! Buat yang namanya Asmi, ditunggu di ruang tengah! Dikarenakan amih ngajak tawuran!)



"Néng Sasi!" decak amih.


__ADS_1


Jangankan amih, apih dan Wira sampai menghentikan obrolannya demi mendengar woro-woro Sasi.



"Awww! Amih, ampun-ampun!" ketika tangan amih mendarat mulus di telinga Sasi.



"Ini juga, suara amih hampir abis buat manggilin néng Asmi tapi ngga nyaut, kupingnya dibersiin coba!" jewer tangan lainnya di kuping Asmi, "aww! Amih, iya ih Asmi lagi di kamar mandi!" alibinya.



"Boong mih, tétéh mah ada cuma nunggu amih kesel aja dulu!" mulut kompor Sasi.



"Eh, mulutnya ih! Kompor beledug," Asmi hampir mencomot bibir adiknya jika amih tidak menengahi.



"Dua-duanya sama aja, sering bikin amih naik da rah!"



"Udah--udah, ada tamu di depan. Salim dulu. Néng, itu tamu kamu...masa kamunya malah ngga ada!" Asmi sampai melongo di tempatnya mendengar amih memanggil Alva sekeluarga tamu.



"Hayuk!" Asmi mengekori dengan masih tak percaya jika amih mau menerima Alvaro.



DEG



Asmi melemparkan senyum ketika disuguhkan dengan Alvaro yang duduk di sofa depan bersama Wira dan Ganis, ia tampan seperti biasanya.



"Ibun!" sapanya, bukan pada Alva.



"Eh, si cantik!" balas Ganis menaruh piring kecil berisi klepon dan awug.



Asmi mengulurkan tangannya pada Ganis dan Wira untuk kemudian disaliminya takzim.




"Eh ini siapa?" tanya Ganis saat Sasi ikut keluar.



"Nah ini anak bungsu saya," lirih apih.



"Tante, om...kang...saya..."



"Mmm anak bawang---ekhem..." dehem Asmi berucap mencibir dan menggoda Sasi saat adiknya itu baru akan memperkenalkan diri.



Sasi langsung menoleh sinis pada Asmi, "ihhhh, apih! Liat tétéhnya!" rengeknya mengadu, tangannya hampir mendarat di rambut Asmi jika tidak ada amih di tengah-tengah.



"Néng Asmi---néng Sasi!"



Apih berdecak memijit keningnya di depan keluarga Wira, "yahhh begini kang, kalo banyak anak mah..." ucap apih, padahal Ganis sudah tertawa renyah melihat interaksi Asmi dan Sasi.



Wira mendengus tersenyum, "wajar kang."



"Lucu deh bang! Justru bagus kang, Ganis pengen punya anak perempuan malahan, tapi dikasih Allah dua-duanya jagoan!" jawab Ganis.



"Oh, ada satu lagi?" tanya apih.



"Ada, adik Alvaro...Bagas namanya, masih SMA."

__ADS_1



Sasi memutar bola matanya ke atas, "SMA, ganteng ngga tante?!" kelakar Sasi.



Asmi tertawa, "Bagasnya ganteng, tapi ngga mau sama anak bawang kaya kamu!" Asmi tertawa.



Sasi benar-benar melewati amih dan mengejar Asmi yang sudah berlari duluan ke dalam.



"Apih!!!" teriaknya mengadu.



"Astagfirullah!" geram amih dengan kelakuan liar kedua anak gadisnya itu yang kalau sudah saling mengusili layaknya kucing dan guguk.



Alvaro melihat sosok Asmi yang berbeda hari ini, ia begitu bahagia bersama Sasi terlebih diantara keluarga yang mulai menghangat, ia pernah melihat sosok itu, sosok Asmi jika sedang bersamanya.



Alvaro memandang Wira sebagai kode untuk segera mengutarakan niatannya.



"Yakin?" tatapan mata ayahnya itu tegas meminta pertanggung jawaban darinya.



Alvaro mengangguk mantap.



"Kang, bagaimana kalau hubungan silaturahmi ini kita per-erat lagi?" tanya Wira.



(..)



Asmi duduk di bale-bale bersama Alvaro yang memilih merebahkan diri berbantal kedua tangannya. Sementara si penengah Sasi, tengah mengambil ponsel miliknya. Ternyata jadi love diantara dua manusia yang sedang kasmaran itu bagai obat nyamuk, cuma bisa ngebul dan merah-merah merona sendiri tanpa dianggap.


Apih dan Wira sedang berjalan-jalan sebentar ke arah garasi mobil apih, dimana ternyata hobby keduanya sama, suka dengan mobil-mobil lawas namun masih tetap keren termasuk mobil yang sekarang Wira pakai jenis Toyota Hardtop. Apih memiliki beberapa koleksi di garasi mobilnya, seperti merk Volkswagen dan BMW E30.


Amih dan Ganis nguprek di dapur kotor sambil berbagi resep cemilan, termasuk rujak cireng dan klepon. (duduk anteng)


"Kapan akang ke Cireundeu?" tanya Asmi memainkan ujung dress batiknya.


"Jadwal yang dikasih dari kampus minggu depan." Jawabnya.


"Oh, berarti 3 bulan ke depan kita ngga ketemu dong," tanya nya lagi diangguki Alvaro.


"Walaupun masih sama-sama di Jawa Barat, tapi ngga bisa ketemu." Ujar Asmi.


"Kamu bisa maen nanti kesana. Bukannya kalo ada acara ngemban taun, kesana?"


Asmi mengangguk, "insyaAllah."


Di luar ekspektasi, pertemuan pertama dengan mengesampingkan ego ini begitu mendekatkan diri masing-masing, menyamakan tujuan dan hobby satu sama lain.


Apih dan amih, serta Asmi mengantar para tamunya pulang. Bahkan amih sudah mengirimkan undangannya yang kedua kali pada Ganis barusan, ternyata selain karakter cerewet mereka yang sama, ada satu hal lagi dari diri kedua ibu ini yang sama, sama-sama senang jadi pusat perhatian.


Itu kenapa Ganis mengajak ibunya Asmi untuk nge-vlog bareng dengan isi vlog masak bersama.


Asmi melambaikan tangannya saat Alvaro membunyikan klakson mobil ketika pamit.


Senyum di wajah Asmi masih terpancar meskipun mobil Alvaro sudah keluar dari halaman rumah.


"Néng," Asmi terpaksa menoleh dan menghentikan senyuman itu.


"NataPrawira Adiwangsa meminta néng Asmi untuk Alvaro, sama apih barusan."


Asmi mengangkat kedua alisnya bersamaan dengan bibir melengkung amih.


"Apih jawab apa?"


"Apih belajar dari kesalahan kemarin, apih bilang nanya anaknya dulu..." goda apih melengos masuk.


"Ihhh apihhh! Kenapa ngga dijawab mau sih!" jerit Asmi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2