Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 27. SIAPA NAMAMU?


__ADS_3

Nawang sudah kembali ke dalam mobil, "udah teh?" tanya Katresna diangguki kakak ipar dokternya itu.


"Ya udah jalan, pasti apih udah di rumah, nungguin." ucap amih meminta supir untuk melajukan mobilnya.


Alva langsung menyambar kentang goreng di piring Asmi dan duduk di kursi samping gadis ini begitu saja, "lama engga?"



Asmi mengangguk setuju, kendati demikian ia mengerti dan tau resikonya, ia sendiri yang memaksa ingin ikut.



"Ngga apa-apa, kan Asmi yang mau ikut! Udah selesai gitu rapatnya?"



"Udah, konser kecil gini mah ngga perlu meeting sampe ngabisin waktu." jawab Alvaro.



"Emang siapa bintang tamunya?" tanya gadis itu penasaran.



"Cuma band lokal Bandung aja," singkatnya enteng.



"Kapan? Ada di post di sosmed?" tanya nya lagi.



Alva melirik dengan mata usilnya, "mau tau apa mau tau banget?" raut wajah Asmi langsung sinis dengan pipi yang menggembung, Alvaro menyemburkan tawanya hingga jakunnya naik turun. Orang dingin gini kalo ketawa bikin hati meleleh.



"Kamu tuh ih, kalo promotornya kaya kamu mah ngga akan laku, nyebelin!" ketus Asmi.



"Ah laku-laku aja tuh," balasnya semakin membuat Asmi mendelik sinis dan lebih memilih melahap lemon cake yang tersisa satu sendokan besar dalam sekali, hap.



"Mau pulang sekarang?" tanya Alva.



Alisnya berkerut dengan bibir mengerucut, "kok balik?! Asmi nunggu lama bukan pengen dikacangin abis itu balik!" sungutnya kesal. Alva terkekeh,



"Terus? Mau ke rumah?"



"Mau!" angguknya mantap dan penuh binar. Karena itu artinya ia akan bertemu dengan ibun, si makhluk pinky di antara penghuni underground.



"Ya udah abisin dulu makanannya, mubadzir udah kubayar."



Asmi cepat-cepat melahap semua sisa makanan yang ada di meja mirip-mirip ngga makan seminggu.



"Pelan-pelan atuh neng," imbuh Alva.



"Biar cepet," selangnya mengunyah, kemudian ia minum lalu beranjak.



Tak lupa Asmi menyematkan lengannya untuk melingkari lengan Alva, "yuk!" senyumnya senang dengan melirik Alvaro.

__ADS_1



"Kok kesannya Asmi kaya gandengan sama tiang bendera ya?!" tawanya, lantas Alva mendorong kepalanya lembut, "aku kaya gandengin bocah." balasnya tak kalah karena perbedaan tinggi yang cukup bikin Asmi kecengklak bagian leher kalo liat Alva lama-lama.



"Pada di rumah ya?" pertanyaan itu lirih terucap dari mulut Asmi, melihat motor Bagas, mobil dan motor Wira berjejer dempet-dempetan kaya cabe-cabean di halaman depan, sampe-sampe rumpun mawar ibun Ganis terlihat pucuknya saja.


"Kayanya." lelaki itu memasukan motor ke dalam halaman.


Ada rasa nervous di hati Asmi, mengingat manusia dingin modelan Alvaro kini mendominasi rumah, pantas saja dari luar rumah ini terasa bagai istana es nya si Elsa frozen.


Baru nginjek halamannya saja Asmi langsung diserang hipotermia, padahal ia sudah menaklukan satu orang Yeti Everest di sampingnya itu.


Sampai di teras rumah jantung Asmi sudah beku, apakah ia harus pulang saja, lalu jual jantungnya buat pedagang es serut?!


"Masuk," imbuhnya saat Asmi diam di gawang pintu, Alva ingat dengan ucapan gadis ini yang tak mau masuk jika belum dipersilahkan, benar-benar terdoktrin aturan ketimuran dengan sempurna.


"Assalamu'alaikum," salamnya masuk.


Wa'alaikumsalam.


Alva melengos masuk lebih dalam beberapa saat, hingga kini bergantian ibun Ganis yang keluar dari dalam.


"Eh, si cantik!"


"Ibun," Asmi langsung berdiri meraih tangan Ganis dan menyalaminya takzim, "kemaren Asmi kesini, ibunnya ngga ada, katanya ke rumah opa..." adu Asmi.


"Iya ih, dikirain Asmi ngga kesini. Biasalah, setor muka biar ngga dicoret dari daftar penerima warisan," tawa Ganis.


"Suka apa?" Ganis berniat masuk ke dalam.


"Suka ibun!" jawab Asmi dikekehi Ganis.


"Ahhhh, ibun meleleh jangan?" tanya Ganis.


"Jangan atuh bun, nanti kang Alva ngga punya mama!"


"Ya udah deh," angguknya masuk lebih dalam, "sini mau masuk ke dalem lagi ngga? Ada anak buahnya dark lord!"


Asmi menahan tawanya, takut jika nanti tawanya akan membunuh dirinya sendiri.


"Sutthh, ganteng!" panggil Ganis pada Wira, suaminya. Lelaki itu mendongak ketika punggungnya dicolek sang istri, "mau kenalan sama calon mantu engga?" tanya nya namun sambil melengos masuk dapur.


Wira kembali melihat kertas-kertas laporan Vulcan.


"Siapa?" lirihnya bertanya, meskipun mata dan fokus tetap pada pekerjaan.


"Temennya abang Alva, coba deh keluar!" ajaknya membawa serta senampan cemilan dan teh manis.


Ganis melangkah ke depan, dan Wira beranjak mengikuti ke depan, cukup penasaran dengan ucapan Gania yang tidak biasa, padahal Alva sering membawa pacarnya yang sebelum-sebelumnya namun Ganis tidak serespect ini, lain hal dengan yang ini.


Ganis adalah indikatornya, jika sang istri respect dan setuju maka ia pun mengikuti.


"Ibun meni ngga usah repot-repot, Asmi barusan udah minum sama makan loh, ditraktir kang Alva..."


"Ya engga apa-apa, disini kan yang punya rumah pacarnya ibun...bukan kang Alva'nya kamu," jawab Ganis, Asmi terkikik, sejak kapan Alva jadi kang Alva miliknya.


"Ibun kita engga---- maksudnya Asmi bukan siapa-siapanya kang Alva," jelas Asmi, bersamaan dengan keluarnya Alvaro.


Ganis menaruh nampan di meja, "ya udah jadiin aja kalo gitu, repot amat!"


Ibun Ganis benar-benar membuat dua muda-mudi ini salah tingkah.


"Apanya yang jadi?" Wira keluar dari dalam membuat mereka menoleh. Raut wajah Asmi langsung dilanda gugup, semenak-menaknya ia, yang pernah bertemu dengan keturunan raja sekalipun, tapi tak ada yang membuatnya segugup bertemu ayah dari Alvaro si akang kuman.


Sosok lelaki paruh baya yang masih nampak cool, berkaos hitam dengan gambar tengkorak dan mawar menambah kharismanya, yang memiliki aura tersendiri. Ia bahkan terlihat lebih datar, ibun Ganis benar....pacarnya itu lebih dingin dari Alvaro.


"Nah! Asmi, kenalin---ini pacar gelap ibun!" Ganis memperkenalkan Wira dengan bangga dan melingkarkan tangannya di lengan kekar itu.


"Bangganya!" Bagas ikut bergabung rupanya.


"Gue Bagas, adeknya kang Alva'nya kamu," kekeh Bagas menyenangkan, setidaknga tidak semua penghuni rumah ini seperti Wira, hanya Alva dan Wira saja.


Jika Asmi sudah malu dan salah tingkah, lain halnya dengan si dingin Alva, sepertinya dikira sepasang kekasih adalah hal biasa, atau justru pemuda ini playboy?!


"Asmi?!" tanya Wira mengerutkan dahi, ia merasa tak asing dengan nama itu, "iya kang. Yang waktu lalu beli tiket konser yang di Saparua, terus akang nyuruh Asmi datang ke Vulcan's," angguk Asmi.

__ADS_1


"Oh, Rashmi?!"


"Iya, mpap. Rashmi satu kampus sama Alva," tambah Alvaro.


Wira berohria tanpa suara, "wah suka musik cadas juga apa beliin buat orang? Soalnya jarang-jarang cewek cantik suka yang begini?!" tanya Ganis angkat bicara bukan angkat galon.


"Suka bun, apalagi Alone at Last, atau SHA, Rocket rockers, Rosemary?!" tembak Asmi mengabsen satu persatu.


Ganis melirik dan mencolek Wira, "apa?" tanya Wira.


"Kaya Ganis ya?!" kekehnya.


"Kamu mah fans musiman," jawab Wira kembali ke dalam.


Ganis berdecak, "ya udah atuh, ibun mau pacaran dulu! Bang Alva, kalo ada tetangga cari ibun bilang aja ibun lagi pergi!"


Bagas tertawa, "udah tua juga ih!" kemudian ia masuk kamar, seperti kebiasaannya, menyisakan Alvaro dan Asmi berdua di ruang tamu.


"Kirain Asmi, kalo Bagas kaya kamu. Tapi ternyata lebih ramah," ujar Asmi.


"Emang aku ngga ramah?" tanya nya tak terima.


"Kamu mah galak, jutek, nyebelin! Pertamanya Asmi takut sama kamu," akuinya.


"Takut kenapa? Punya dosa, ya?! Udah nubruk-nubruk kaya banteng?"


"Kamu tuh kaya mau nerkam, mirip macan! Baru ditatap aja orang-orang udah pada lari, kaya dikejar pangeran kegelapan!"


"Tadi kenapa kamu nanya tiket konser, mau nonton?" tanya Alva.


"Kapan konsernya?"


"Bulan depan, tanggal 17. Sore,"


Asmi terlihat mele nguh, "ngga tau kang, nyari dulu alesan pergi. Kayanya besok pun pulang cepet ke rumah, takut amih marah sama curiga kalo Asmi bukan ngerjain tugas kampus," jelasnya meredup seperti mengguratkan kekecewaan dan kesedihan.


Alvaro mengerti, apa yang dialami Asmi, "kang. Asmi pulang sekarang, udah jam segini...amih takut nyariin..."


"Oke, aku ambil dulu kunci motor. Masuk deh, pamit dulu sama ibun." Asmi mengangguk.


"Bun, Asmi mau pamit!"


Ganis yang duduk di samping Wira mengernyit, "eh, kenapa udah pulang lagi?! Baru juga dateng, da masih sore ini!"


"Karena udah sore bun, takut dicariin amih..." jawab Asmi salim takzim. Ganis bukan tak percaya Asmi, tapi ia tak percaya putranya sendiri, hari gini alesan dicariin ortu itu klasik nan munafik untuk ukuran mahasiswa.


Tatapannya jatuh pada Alva, "


diapain anak orang? pelototnya.


Alvaro menggeleng, "ngga diapa-apain bun, dia emang takut dicariin ibunya."


"Ah masa? Masih sore juga," mereka saling berbisik di belakang Asmi yang sudah berjalan keluar.


"Asmi ningrat, bun..." jawab Alva.


"APA??!! Ah becanda, ningrat apaan!" Ganis terkejut lebay lalu menutup mulutnya saat Asmi menoleh.


"Kenapa bun?" Asmi bertanya tersenyum.


"Mi, ibun mau nanya boleh?" ujar Ganis to the point saking tak percayanya jika putranya memiliki teman seorang ningrat.


"Boleh atuh bun, nanya aja!" kekehnya.


"Nama lengkap Asmi siapa, kalo ibun boleh tau?" tanya nya di ambang pintu.


Asmi menatap Alvaro penuh tanya dan meminta penjelasannya, pemuda itu mengangguk singkat, tanda jika ibun Ganis sudah tau.


"Raden Rara Rashmi Sundari Kertawidjaja, bun." jawab Asmi nyengir.


"Hah?!" Ganis menyeru.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2