
Tak ada kecanggungan sedikit pun, Alvaro terjun langsung ke kebun dengan melinting celana jeans panjangnya sebatas lutut.
"Hah! Cape!" Saka menaruh kasar cangkul miliknya dan menjatuhkan diri begitu saja di pinggiran kebun. Keringat yang mengucur dari sekujur badan bersinaran ketika terkena sengatan matahari, bukti nyata jika bertani tidaklah semudah yang dibayangkan.
Anjar bahkan melirik kedua telapak tangannya yang memerah karena harus mengeluarkan tenaga ekstra demi mencabut singkong bersama batang-batangnya, tidak sembarangan, semua ada tata caranya.
"Cape geningan bah," Filman menyeka kening dengan punggung lengan. Alvaro tak bersuara, ia pun merasakan hal yang sama, hanya saja tidak mengumumkannya layaknya sendal jepit yang ilang.
Alvaro duduk meringis, ternyata tenaga yang menurutnya lebih gagah dibanding pemuda lainnya, apalagi jika tawuran tak ada apa-apanya dibandingkan dengan warga kampung ini.
"Bah, tipayun!" seru seorang warga lain yang memanggul beberapa cabang singkong di beberapa pohon dalam sekali panggulan pundak. Reaksi para pemuda ini membuat abah Uwie tertawa, "kalau kalian bilang cape, usia produktif dan muda kalian berhak dipertanyakan!" cibirnya terkekeh. (Bah, duluan!)
"Edannn! Bukan main, ck--ck!" decak Saka. Filman dan Anjar sudah kembali ke kebun, Alvaro terkekeh menggelengkan kepalanya.
"Hidup itu harus kuat! Seperti prinsip warga disini!" Abah ikut menyeka keringatnya, tubuh yang sudah berada di angka senja lebih cepat lelah dan sering kelelahan, sedikit-sedikit encok, sedikit-sedikit asam urat.
"Teu boga sawah, asal boga pare. Teu boga pare, asal boga béas. Teu boga béas, asal bisa nyangu. Teu nyangu asal dahar, teu dahar asal kuat!" ucap abah Uwie menjabarkan prinsip masyarakat kampung Cireundeu.
(Ngga punya sawah, yang penting punya beras. Ngga punya beras, yang penting bisa masak nasi. Ngga bisa masak nasi, yang penting bisa makan. Ngga makan, yang penting kuat!)
"Teu dahar mah tilar dunya atuh bah!" sahut Saka ditertawai yang lain. Abah Uwie ikut tertawa. (ngga makan mah, meninggal atuh bah!)
"Karena prinsip itu, yang merangkum sejarah kenapa masyarakat disini teh jadi beralih makan rasi. Kalaupun makan beras pun, ada masanya kami puasa makan beras dalam tempo waktu tertentu." Jelas abah duduk sejenak diantara tanah kebun.
"Tujuannya, untuk mendapatkan kemerdekaan lahir dan batin...sebagai pengingat pada Sang penguasa kehidupan." pungkasnya diangguki mereka.
Terlihat di tengah cuaca terik begini, para bocah lelaki berlarian memainkan layangan. Tampak begitu harmoni dengan alam, meskipun hal yang sederhana seraya beberapa lainnya membunyikan alat karinding, ujung telunjuk mereka menyentil alat bambu yang menempel di bibir itu.
"Abah," seorang gadis manis berusia sma menyapa seraya membawa air juga teko yang ia jinjing, dengan senyuman malu-malu kucing ia menatap para mahasiswa yang kini sedang bersama abah Uwie.
"Néng, sok simpen weh didinya tah!" tunjuk abah di pinggiran kebun. (simpen aja disitu tuh!)
"Iya,"
"Ekhem, néng." sapa Saka.
"Wah, kadal beraksi." cibir Anjar dikekehi Alvaro dan Filman.
Néng Intan, namanya. Anak bungsu abah Uwie, ia mesem-mesem saat melihat Alvaro, "kata ambu, makan siang udah siap, bah!" ucapnya mencicit malu.
"Aduhh, si néng meni malu-malu mpuss gini ah! Kalo pindah kk, bayar ngga ya?!"
Mereka tertawa mendengar gombalan receh berkedok pertanyaan itu.
"Ya udah, bah. Néng pulang dulu!" kembali ia menatap Alva yang diam saja.
Alvaro mengetik sesuatu di laptopnya, hasil kegiatan seharian ini. Ia kumpulkan satu persatu hasil penelitian dan ikut sertanya atas kegiatan-kegiatan warga kampung adat disini.
"Rajin amat bang!" Filman menghampiri Alva yang sedang berada di beranda rumah.
"Assalamu'alaikum," Filman dan Alvaro mendongak ke arah datangnya sumber suara.
"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya.
__ADS_1
"Punten aa, ini ada sedikit cemilan buat nemenin mengerjakan tugasnya dari abah," Intan menyerahkan piring rotan yang ditutupi daun pisang ke arah Alvaro dan Filman ditemani seorang gadis lainnya yang juga menyenggol-nyenggol manja Intan melihat mahasiswa-mahasiswa kece itu.
"Oh nuhun," angguk Filman menerima, Alva mengangguk singkat kemudian kembali pada pekerjaannya.
Filman membuka daun pisang yang menutupi piring, terasa hangat itu artinya sesuatu yang ada di piring itu masih panas.
"Wah rejeki babang tamvan nih!" ucapnya melihat singkong, ubi, kacang, dan pisang kukus.
Alva tak bergeming melihatnya.
Ifa menyenggol kembali Intan, "meni ganteng, tapi yang paling ganteng mah kaya ngga respect gitu, Ntan."
"Iya. Dingin, tapi da ganteng atuh! Bener kan kata saya, ganteng-ganteng yang tinggal di rumah kang Widi mah!" balasnya cekikikan bersama Ifa.
Alvaro sudah cukup lama berada disana, sejauh ini ia dan kawan-kawan betah, baik-baik saja, tak ada masalah apapun.
Ia juga bisa beradaptasi dan cukup mengenal dekat beberapa warga disini. Hanya saja ia jadi lebih intens ditelfon ibun yang khawatir dengan kondisinya, "perlu dikirim obat-obatan ngga?" tanya ibun di satu waktu saat Alva sedikit terserang flu ringan.
Belum lagi Asmi yang selalu merengek rindu, gadis itu bahkan sampai menangis yang menganak sungai karena rindu berat, "akang jadi kurus gitu!" suaranya bergetar.
Alva tertawa, "ngga usah lebay."
"Mungkin disana akang ngga bisa makan rasi, perutnya perut nasi!" meweknya lagi.
Alva kembali tertawa melihat wajah Asmi yang memerah karena menangis, "jangan cengeng, bikin aku pengen pulang kalo kaya gini tuh,"
"Pulang atuh," rengeknya parau.
"Tanggung atuh, udah 2 bulan setengah. Tinggal setengah bulan lagi," jawab Alva. "Tugasnya juga hampir rampung, kapan mau kesini?" tanya Alva.
"Tanggal berapa ya, Asmi belum nanya ke apih."
"Ya udah nanti kabarin aja."
Asmi mengangguk, "i miss you..."
"Miss you more," balas Alvaro.
"Ka, buruan oy! Kebelet bok3r gue!" ketok Anjar. Pagi ini mereka mengantre masuk kamar mandi.
__ADS_1
Alva masih mengalungkan handuknya di leher ketika ambu Euis melintas dan sudah bersiap.
"Ambu, pagi-pagi gini mau kemana?" tanya Alva.
"Mau siap-siap a, kan sudah mulai masuk penutupan tahun sunda wiwitan. Udah mulai ngumpulin hasil panen, buat acara ngemban taun."
Alva mengangguk berohria, "oh, kapan acaranya, ambu?" tanya Alva lagi.
"Seminggu lagi, untung masih disini ya? Jadi bisa ikut ngerayain acara ngemban taun disini, ada keluarga Raden Amar Kertawidjaja juga nanti, ada si cantik raden rara Rashmi!" goda ambu Euis pada Alva yang tak tau jika sebenarnya Alva adalah kekasih si menak cantik yang dimaksud ambu Euis.
"Aamiin, pengen liat secantik apa raden rara'nya kasepuhan!" kekeh Alva.
"Pasti nanti kesemsem lah!" Ambu Euis memakai topi caping'nya, "hayuk atuh, ambu ke kebun dulu! keburu siang! Kalo mau nyusul tinggal ke kebun aja," pamitnya diangguki Alvaro.
Tatapan Alva jauh ke depan saat ambu Euis berpapasan dengan seorang pria tua bepakaian pangsi dengan raut wajah dingin, kedua tangannya selalu melingkar ke belakang saat ia berjalan, dan kakinya tak pernah menggunakan alas kaki, membuat jarak jemari jempol lebih jauh merenggang.
"Bah Eem, kamana? Turun *leweung*?!" tanya ambu Euis yang masih bisa di dengar Alva.
Abah Eman mengangguk, "iya ngecek kondisi kampung," jawabnya namun pasang mata itu melirik ke arah Alvaro dan menatapnya lekat, cukup lama sampai membuat ambu Euis ikut menoleh, "mahasiswa yang lagi KKN, dari Institut Seni..."
Sadar dirinya diperkenalkan Alva merasa harus menghampiri, entah keberanian darimana, Alvaro menghampiri lelaki tua yang menatapnya lekat itu.
"Abah," Alva mengulurkan kedua tangannya untuk salim. Ia tak seramah abah Uwie, akang Widi apalagi ambu Euis.
Ia hanya mengangguk singkat tanpa berkata-kata hanya seolah sorot matanya menyiratkan rasa penasaran yang dalam atas aura dalam diri Alvaro.
.
.
.
.
Note:
\*leweung : hutan.
__ADS_1
.