
Tak hanya dari kampus Alvaro saja, ada pula kampus lain yang mengirimkan mahasiswanya dari berbagai prodi untuk meneliti kampung adat disana.
Mobilnya sudah masuk jl. Pasteur, dimana dulu ia pernah mengantarkan Asmi saat pulang konser kesana, ahhh! Jadi ingat Asmi kembali.
Seolah kenangan bersama Asmi tergambar di setiap jalanan kota kembang ini, baru juga beberapa puluh menit, ia sudah merindukan gadis itu.
Mobil bergerak melewati jalan raya Leuwigajah, masuk ke jalan Kerkof, Saptadaya, dan tak lama dari situ sudah masuk ke kampung adat. Kampung yang luasnya 64 hektar, dengan 60 hektar lahan pertanian, dan 4 hektar pemukiman ini menyihir mata para tetamu yang datang.
Tidak jarang wisatawan lokal dan mancanegara berkunjung kesini, menjadikan Cireundeu salah satu tempat tujuan destinasi wisata edukasi culturenya.
Angin sejuk menyapa, meski saat ini sudah masuk waktu lewat dari dzuhur.
Sebuah papan kayu dengan aksara sunda beratapkan ijuk dan ukiran ciri khas kampung adat berdiri kokoh menyambut para tamu.
...Wilujeng Sumping di Kampung Cireundeu ...
Alva bersiap dengan kameranya dan membidik beberapa angle yang menurutnya penting untuk dokumentasi dan bahan skripsi nanti.
Seorang sesepuh kampung menyapa para mahasiswa bersama pimpinan lengkap berpakaian pangsi, ciri khas Jawa Barat tak lupa bengker mastakanya.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam."
"Abah,"
Bukan Alvaro yang berlaku sebagai pimpinan KKN disana, sempat dipilih pun ia mundur. Bukan apa-apa, ia hanya ingin lebih khusyuk menjalankan KKN nya tanpa di risihi oleh orang lain, seperti sudah menjadi karakternya.
"Lahan sama rumah gedean lahan pertanian jo!" bisik Saka pada Filman, dianggukinya karena memang benar adanya.
"Mangga atuh, silahkan masuk. Wilujeng sumping kanggo para mahasiswa anu nuju KKN, mugia betah sareng tiasa saling--saling lah, nya?!" abah Uwi menyambut. (selamat datang untuk para mahasiswa yang tengah melaksanakan KKN, semiga betah dan bisa saling-saling....)
"Saling menjaga, saling menghargai, saling menghormati..." lanjutnya membawa mereka masuk. Bangunan-bangunan rumah warga pun masih begitu dijaga ciri khasnya, meski tak sedikit pula yang sudah menggunakan bangunan kokoh dari campuran batu bata dan semen.
Aroma bambu menguar, bukti dari kesederhanaan hidup dan penyatuan dengan alam.
...PETA WISATAWAN KAMPUNG CIREUNDEU...
...Bersama abah Uwi, mereka menyusuri dimana titik-titik penting jika sedang berada disini, cukup jauh mereka berkeliling, hingga hampir senja mereka berjalan....
Hingga tiba di salah satu rumah yang dijadikan tempat untuk menginap. Sebenarnya tidak semuanya dikumpulkan dalam satu rumah, satu sub kembali dipecah sesuai kebutuhan di stayhome yang berbeda, seperti waktu lalu saat di Cigugur.
"Mangga kalebet, aa, akang..." (silahkan masuk, aa, akang) pinta si pemilik rumah yang bersedia disinggahi oleh Alvaro dan kawan-kawan.
Alva mengangguk sopan, "hatur nuhun, ambu. Assalamu'alaikum..."
Rumah yang ditempati Alva beserta kawan-kawan masih bersifat panggung, macam rumah adatnya, membuat suasana seperti syahdu dengan alam sekitar.
"Sok, atuh kalo mau istirahat mah silahkan. Kamarnya sudah disiapkan..."
"Nuhun, mamang. Punten ngarerepot!" balas Filman. (makasih, mamang. Maaf merepotkan!)
"Hente ah, teu sawios!" (engga ah, engga apa-apa!)
"Va, rebahan ah! Pegel kaki gue jalan sampe sore begini, mana perut lapar minta diisi!" Saka langsung merebahkan dirinya di kasur yang digelar di lantai kayu setelah sebelumnya menaruh tas ransel secara sembarangan.
"Tutup Jar, tutup!" pintanya ke arah pintu kamar.
Baru saja Anjar akan menutup pintu kamar si pemilik rumah, kang Awan sudah kembali, "aa punten, sateuacan istirahat...mangga atuh taruang heula, supados istirahatna teu kawagel patuangan anu ngoet!" kekehnya tau jika para mahasiswa ini pasti belum makan, karena kabar ketibaan mereka siang tadi telah sampai di telinga warga bersama abah Uwi yang membawa mereka berkeliling kampung agar tak lupa jalan-jalan penting. (maaf aa, sebelum istirahat...silahkan pada makan dulu, biar istirahatnya tidak terganggu sama perut yang keroncongan)
"Ah si akang, tau aja!" kekeh Anjar, "muhun kang. Sakedap deui abi sareng rerencangan ngiringan tuang," jawabnya.
__ADS_1
"Mangga, diantos." (silahkan, ditunggu.)
"Apa cenah brad?" tanya Saka.
"Mau makan kagak? Tuh ditawarin makan!" ujar Anjar ikut bergabung merebahkan diri bersama Saka dan Filman, sementara Alvaro sibuk mengecek notifikasi ponselnya, membuka satu persatu pesan yang belum ia baca, "sinyal manteng ngga Va?" tanya Filman.
"Lumayan," singkat Alva.
"Hayu lah makan euy! Laper gue." Ajak Saka.
"Ni makhluk satu, kalo diajakin jalan...ngga tau dimana-dimana makan aja bawaannya! Malu-maluin!" Filman buka suara.
"Kaya yang engga aja lu,"
"Siap-siap aja beradaptasi!" sahut Alvaro menaruh kembali ponselnya di saku.
"Adaptasi apa, masakan?! Gue mah apa aja juga hayu!" katanya, "asal jangan batu sama kayu aja!"
"Justru itu, disini makanan pokoknya ketela pohon a.k.a ubi kayu, a.k.a singkong, a.k.a sampeu! Namanya Rasi, nasi singkong!" jawab Alvaro.
"Ah yang bener, Va? Ngga makan nasi?" tanya Saka bangun dari posisi rebahannya.
Filman mengangguk seraya tertawa, "kenapa lo, baru tau?"
"Ya iyalah." jawabnya melengking.
"Makanya kenali tempat yang bakal lo tempati!" Anjar berujar sewot.
"Kenapa mesti singkong, emang disini kagak nanem padi?" tanya nya lagi.
Filman dan Anjar tertawa, "ngajarin dia mah, kaya ngajarin anak SD, Va." cibir Filman.
"Serius, gue ngga tau." akuinya.
****
Berteman tempe goreng tepung, kerupuk, sambal terasi, dan urab, mereka menikmati santap siang yang kesorean itu.
Saka yang awalnya tak biasa menyantap Rasi, nyatanya suka-suka saja. Bahkan sampai nambah 2 kali.
"Busyettt! Anak gembel darimana nih?!" tawa Anjar, setidaknya acara KKN ini bisa menjadi pelipur lara, di kala hubungannya dan Cintya sedang tak baik-baik saja.
"Mangga atuh aa, ditambihan deui. Masih banyak!" (silahkan aa, nambah lagi.)
"Muhun akang, ambu, hatur nuhun..."
Alva meneguk teh tubruk hangatnya dari gelas belimbing, makannya memang tak sebanyak Saka, namun cukup untuknya.
"Lu tau darimana Va, kalo makanan disini bukan nasi?" tanya Saka berbisik.
"Asmi." singkatnya.
"Asmi mah kayanya jangan ditanya, jadi menak hobby jalan-jalan, mesti tau seluk beluk daerah adat gini!"
__ADS_1
"Cocok!" setuju Anjar. Alvaro menggeleng, "bapaknya Asmi memang menak yang meyakini kepercayaan Sunda Wiwitan, kalo istilahnya Cireundeu ini udah kaya keluarga sendiri."
Filman mengulas senyuman gelinya, "sejauh itu, Va."
Anjar dan Saka garuk-garuk kepala tak mengerti kemana arah bicara Filman.
"Kapan atuh?" tanya Filman lagi.
Alva menyunggingkan senyuman miring, tanpa mau membahas waktu dirinya dan Asmi akan menggelar acara bahagianya, ia tipe manusia yang tak mau mengumbar sebelum itu benar-benar terjadi, ataupun mengumbar hal privasinya.
Senja bergulir ke malam, sudah biasa disini akan selalu terdengar binatang malam yang lagi konser.
Anjar menyesap rokok di teras luar berteman kopi hitam bersama yang lain dan tentunya si pemilik rumah.
Jika Filman asik mengobrol bersama Saka dan kang Widi sang pemilik rumah, maka Anjar lebih memilih termenung menatap lurus sambil menikmati rokok dan kopi, "cewek tuh ribet, Va."
Alva mendengkus sebal dan mengepulkan asap dari batangan rokok yang ikut disesapnya.
"Asmi sering ngambek ngga jelas ngga sih, sama lo? Hal kecil aja jadi ribut gede!" keluhnya.
"Kalo menurut lo cewek ribet itu Cintya, dan lo ngga bisa ngimbangin. Kenapa ngga udahan?" tanya Alvaro.
"Gue masih sayang."
"Lo yang milih buat jalin suatu hubungan, harusnya lo tau resikonya. Lo milih Cintya jelas lo yang paling tau Cin-cin dibanding orang lain. Pacaran itu buat hiburan, motivasi, penjajakan pencarian pasangan, jangan dibikin ribet plus kesel. Wajar bakalan ada ributnya, ngga sesuai sama keinginan masing-masing, karena lo sama Cintya pribadi yang berbeda."
"Kalo masih sama-sama sayang, coba kesampingkan ego, jangan merasa paling benar. Lo kesini, jadiin ajang buat saling berkaca diri, saling merenung sambil lo KKN. Lo laki-laki mesti bisa ambil sikap, ngga mau putus tapi lo ngedumel tiap waktu, sampe ganggu urusan lo yang lain..." Alva menepuk pundak Anjar, lalu bergabung dengan kang Widi yang menceritakan sejarah, kenapa warga Cireundeu beralih pada makanan pokok Rasi.
.
.
.
__ADS_1
.
.