Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 46. MENYESAL TIADA GUNA


__ADS_3

Suara cicitan roda yang membawa alat-alat serta riuhnya percakapan dokter dan perawat.


Bau obat-obatan tak seharum kayu manis memang, namun Asmi maklumi itu, namanya juga rumah sakit.


Bukan tes da rah atau semacamnya yang seperti ada di kepala Asmi, namun semacam tes wawancara dan sebagainya, ujung-ujungnya Asmi diberi vitamin dan penenang di kala ia mulai merasakan panik yang berlebihan.


"Beruntung Rashmi belum terlalu jauh dok, ini sih kalo terapi konseling sama gaya hidup sehat, kasih sayang udah cukup bikin Asmi kembali sehat."


Apih dapat tersenyum lega, apa jadinya jika Asmi benar-benar hilang? Ia akan menyalahkan dirinya sendiri melebih apapun.


"Hanya jangan terlalu membebani pikiran dan hati Rashmi. Jangankan manusia, coba bayangkan dengan barang kalau sudah mencapai limit pasti ada bagiannya yang konslet, atau lebih parahnya meledak. Rashmi adalah tipe anak yang memendam perasaannya, jadi lebih sering mengorbankan perasaannya sendiri dan menyimpan luka, lama-lama perasaan itu meledak, dan mungkin sekarang dia sudah benar-benar tak kuat."


"Jadi? Apih masih akan meneruskan rencana perjodohan Asmi dengan Agah?" tanya Bajra, duduk berteman kopi dan angin pagi yang nampaknya bersahabat disini, sementara Asmi sedang berada bersama dokter Angel dan Nawang.



Apih menggoyangkan gelas kopi yang menyisakan setengahnya agar kembali sesuatu yang mengendap di bawah sana tercampur dan terasa nikmat di mulut.



"Masih apih pikirkan. Tentunya ini butuh berpikir ulang, bagaimana bagusnya untuk semua, mengingat Asmi menolak namun apih dan amih sudah ada obrolan jauh dengan Raden Mas Harya Enjan dan Raden Ajeng Kutamaya."



Bajra mengangguk setuju, "memang harus apih pikirkan resiko dan dampaknya nanti."



"Saya ngga setuju, kang!" ia memutar badannya yang tegak sempurna, tenggeng khas lekukan postur penari.


Bedak beras terpoles melapisi kulit wajah langsatnya, Bedak dingin Sari Pohaci. Agar senantiasa lembab, kenyal dan meluruhkan sel-sel kulit yang mati. Di usia senja begini, ia tetap harus menjaga penampilan agar Amar tak sampai memiliki selir.


"Kalo akang langsung memutus begitu saja perjodohan, pasti akan berdampak untuk hubungan kita dengan raden Enjan, akang tidak berpikir bagaimana jadinya nanti?" ia membuka pakaian menyisakan stagen yang selalu membentuk tubuh indah itu lalu menyusul sang suami duduk di atas ranjang.


"Akang tau! Akang sangat tau! Tapi kita lupa perasaan anak kita sendiri, kamu tega setelah melihat Asmi begitu? Kita hampir kehilangan anak sendiri!"


Amih menunduk, tatapannya nyalang pada sprei hijau daun dan begitu berpikir keras, mungkin masker bedak dingin itu langsung kering dan berjatuhan saking panasnya wajah Sekar Taji.


"Biarkan Asmi memilih jalannya sendiri, sudah cukup kita sebagai orangtua mengatur hidupnya. Beri Asmi kepercayaan, dia bukan gadis kecil lagi, bahkan kamu memperlakukan Asmi lebih dari Sasi...Sekar," ucap apih membujuk istrinya.


"Ini sudah jaman modern, akang yakin jika Asmi adalah pribadi soleha, tau mana hak dan yang bathil. Kamu tau, jika akang masih berpikir dengan pola pikir kepercayaan keluarga akang, kamu bukan satu-satunya, kamu akan memiliki madu, Asmi akan memiliki adik atau kaka lain ibu...."


Sekar Taji menatap suami yang telah ia layani dan dampingi selama hampir 35 tahun ini nyalang, "bagaimana dengan hubungan kita dengan keluarga raden Enjan? Bisnis kita?" tanya nya.


"Biar kita serahkan pada Yang Maha Kuasa. Sejak awal kita sampai lupa jika kita punya Allah. Bukan dengan mengorbankan dan merenggut kebebasan juga kemerdekaan Asmi. Toh, selama ini bisnis kota baik-baik saja tanpa keluarga Raden Enjan."


"Tapi kang,"


Tatapan tajam menusuk dilayangkan apih pada amih, "kalau pilihan Asmi adalah lelaki tadi, saya tidak setuju!" jawabnya menolak kehadiran Alvaro.


"Don't judge the book from the cover. Kamu belum mengenal Alvaro, biarkan dia bersaing dengan Agah ataupun pemuda lain untuk Asmi...tanpa campur tangan nyai," ia mengusap pundak istrinya lembut. Sifat Sekar Taji memanglah keras kepala dan ngeyel, itu kenapa Asmi juga Candra memiliki sifat demikian.


"Sudah, sekarang tidur. Besok siap-siap bertemu dengan keluarga Amar." titah Apih.


"Apa neng Asmi masih belum mau ketemu saya, kang?" tanya nya merebahkan badannya.


"Untuk itu, kamu harus berusaha mendekatkan diri dengan neng Asmi."


"Kenapa jadi seperti ini kang?"


Apih Amar menoleh, "bukan pada akang kamu bertanya, tapi pada dirimu sendiri, nyai...." jawabnya.



Asmi bersolek seperti biasanya, sebelum ia ke kampus.



"Den rara, mau makan di kamar atau di ruang makan?" ambu Lilis berbicara dari balik pintu kamar.


__ADS_1


"Disini aja ambu, *punteun* ya..." Asmi menyembulkan kepalanya dari balik pintu.



"Siap den," Lilis tersenyum senang, melihat wajah Asmi sudah kembali memiliki sarinya.



Amih melihat Lilis melintas begitu saja dari arah kamar Asmi, "Lis, neng Asmi mana? Ngga ikut sarapan?"



"Den rara minta sarapan di kamar den nganten, permisi...." jawabnya membungkuk dalam.



Ada lengu han panjang darinya, inikah hukuman untuknya dari Asmi? Dijauhi putri sendiri jauh lebih sakit daripada dijauhi kekasih.



Tanpa Asmi di ruang makan, hanya terdengar suara alat makan saja yang beradu. Semua terasa kaku setelah ini, bahkan Sasi yang biasa cerewet pun ikut diam.



"Sasi berangkat dulu pih, amih..." salamnya meraih punggung tangan apih dan amih.



"Hati-hati neng, jangan jajan sembarangan." Ujar amih.



"Iya amih," balas Sasi. Ada tatapan getir, ia jadi sedikit salah tingkah di depan Sasi, khawatir Sasi pun akan sama seperti Asmi.



Alvaro masuk dengan lancarnya ke rumah Asmi, tanpa harus berdebat atau adu urat seperti kemarin dengan Ajat dan security lain, atas titah apih ia memiliki akses sendiri masuk ke kediaman Asmi.




"Den," sapa mang Dedi. Alvaro terkekeh dengan sapaan mang Dedi di pos security. Rasanya tak pantas saja, ia disebut aden.



"Ngga usah panggil den lah mang, saya bukan menak!" Alvaro menaruh sebungkus rokok di meja coklat kecil bersama beberapa gelas kopi yang masih mengepulkan asap, tanda jika para security rumah Asmi baru saja diberikan asupan vitamin pagi dari si tuan rumah.



"Kan temen den rara atuh! Masa mau panggil nama!"



"Saya cuma manusia biasa, mang. Bukan siapa-siapa, sama-sama makan nasi!" Alvaro memilih berjongkok saja di bawah di gawang pintu pos.



"Eh jangan disitu jang, nanti *nongtot jodo*!" ujar Eka kini sudah berdamai dengan Alva.



"Halah, kamu saja yang duduk disini sampai sekarang masih belum nikah, Ka! Itu mah mitos, tabu!" sewot mang Dedi. Ajat ikut tertawa, pagi-pagi begini enaknya sarungan sambil ngopi dan ngerokok, namun sayang di tanggal tua begini dompet sudah tinggal sisa-sisa harga dirinya saja.



"Kang, boleh minta engga. Mau nyesep tapi udah kosong euy!" ujar Eka tak malu-malu.



"Sok atuh, diambil aja kang! Saya sengaja simpen disitu bukan buat pamer!" jawab Alvaro.

__ADS_1



"Kenapa engga masuk aja kang, nunggu den rara di ruang tamu atau saung samping?" ujar Eka memutar-mutar batangan rokok dan meberikan pijitan agar padat, layaknya isian tembakau dan kertas pahpir, membuat Ajat tertawa, "Ka, kamu mah aduh! Ini rokok dibuat sama mesin, nhga mungkin kopong isinya, dikira bapak aki yang ngisi *bako*'nya!"



Alvaro ikut tertawa tanpa suara tergelak, ia menggelengkan kepalanya.



"Ngga usah lah mang, enakan gini...kalo di dalem bawaannya kaya di dalem istana, berasa lagi tour sejarah, saya ngga cocok." jawab Alva berkelakar.



"Bisa aja kang Alva mah!" jawab Eka kini menyalakan batangan rokok miliknya.



Asmi pamit pada apih, namun saat melihat amih ada rasa takut dan tak mau melihatnya hanya saja bibir Asmi bergumam, "Asmi berangkat dulu, amih."



"Iya, neng. Hati-hati...." jawabnya bak teriris sembilu.



"Iya neng, bilang Alvaro jangan ngebut!" ucap apih diangguki Asmi.



Asmi segera keluar dari rumah untuk menyongsong kang kumannya.



Netra indah beningnya mengedar ke sekeliling dan jatuh ke pos ronda, dimana Eka, mang Ajat dan mang Dedi sedang berkumpul dan bercengkrama, ada sosok lain yang ikut bergabung disana sambil jongkok, Asmi mengulas senyuman sehangat sorot srangenge.



"Aduh----aduhhh! Bapak-bapak lagi pada ngebul pagi-pagi sambil gosipan!" serunya berkacak pinggang mengejutkan mereka.



"Den aduhhh den maaf!" Eka langsung terperanjat, mang Ajat bahkan panik dengan membawa gelas kopi dan pentungan, sementara mang Dedi sudah tergelak melihat kepanikan mereka.



"Pasti ini da, biang keroknya!" Asmi menjewer kuping Alvaro yang berada paling dekat di gawang pintu.



"Ah den rara mah, ngagetin aja! Dikira raden nganten!" jawab Eka.



Asmi tertawa dan melepaskan tangannya dari cuping telinga Alva ketika pemuda itu berbalik dan menjiwir hidungnya.


.


.


.


.


.


.


Noted :


\* nongtot jodo : susah mendapatkan jodoh

__ADS_1


\* bako : tembakau


__ADS_2