Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 73. SIKAP SEORANG NINGRAT SEJATI


__ADS_3

Alvaro baru mengingat, jika nama belakang Kusumadinata tersemat di nama Agah, raden bagus Agah Kusumadinata. Ia menghela nafasnya panjang, mencoba menyingkirkan dan mengusir rasa tak nyaman.


Perasaan tak adil yang bisa menyebabkan penyakit hati. Asmi mengatakan, jika masuk leweung larangan harus dengan hati yang bersih, ia selalu menjadikan ucapan Asmi sebagai pedomannya singgah disini.


Tak ada kemarahan yang memuncak meskipun kini ia tau pelaku pemitnahan itu.


Ada rasa kecewa, sakit, namun tak seberapa. Dari tidak tau maka kembali tak mau ambil pusing.


Yang berlalu biarlah berlalu, karena marah serta menangis pun tak akan bisa mengembalikan keadaan, tidak akan bisa memutar kembali waktu lampau.


"Abah tau darimana, hal ini?" tanya Alva membiarkan bara menghabiskan bakau dan kertas pahpir yang ia apit dengan telunjuk. Biarkanlah bara api meluluhlantahkan hati tanpa harus ia berbuat apa-apa, Alva tidak ingin menyisaka hati bersih yang teracuni oleh sisa bakaran gosong ataupun baunya.


"Abah adalah generasi paling akhir ais pangampih (abdi dalem) dan cerita itu turun temurun diturunkan. Dulu, leluhur abah adalah ais pangampih keluarga Kusumadinata, merasa jika majikannya sudah melampaui batas...maka kami pergi dan berkelana sampai ke Cigugur, bertemu dengan Kertawidjaja...dan disinilah kami berada sekarang,"


"Leluhur abah, meminta cerita ini diteruskan agar kelak fakta itu akan tersampaikan pada keturunan Adiwangsa, sekaligus meminta maaf, jika kami mencoreng nama baik ais pangampih yang telah menjadi pengecut dengan tidak membongkar aib raden sendiri karena rasa takut...." ucapnya masygul pada Alva.


Tatapan Alvaro masih sama pada abah Eman. Tak ada emosi yang menggunung darinya, entahlah! Mengetahui fakta yang merugikan sekaligus akan membersihkan nama keluarga besarnya tak membuat Alvaro gila kekuasaan. Apakah karena pembawaan hutan ini atau memang ia saja yang merasa ikhlas. Toh, baginya pandangan orang sudah tak penting, yang penting keluarganya tak begitu.


Baginya yang penting adalah pandangan raden Amar dan raden Nganten juga Rashmi padanya.


Abah Eman menyunggingkan senyumannya, "da rah Sumini dan Abraham memang ada di diri kamu," ucapnya.


"Sepertinya tak perlu abah meminta, dengan sendirinya kamu bisa bijak mengontrol dan mengolah rasa..." ujar abah. Alva mendengus bangga, "sesuatu yang buruk, jika dibalas dengan keburukan maka tak akan ada akhirnya, seperti kisah Ken Arok. Yang lalu biarlah berlalu. Biar menjadi cerita sejarah yang akan diturunkan pada anak cucu. Bagi saya, cerita masa lampau hanya menjadi gambaran sejarah, bukan sebagai tolak ukur pribadi keturunan, karena meskipun seda rah, manusia tetap berbeda karakter dan prinsip." Ujar Alva, sama sepertinya dan Agah. Dia dan Agah sama-sama memperebutkan Asmi, bahkan sampai Asmi hampir gila. Namun karena hati besarnya, Agah merelakan Asmi untuk mengejar kebahagiaan tanpa memaksakan kehendak apalagi sampai menghalalkan segala cara.


Mungkin sejarah nenek buyutnya dan Agah dinodai oleh noda hitam keningratan, namun sekarang sudah berbeda. Ia bukan Sumini apalagi Abraham Adiwangsa, Agah pun bukan Anggara Kusumadinata.


Abah tersenyum kembali dan menepuk pundak Alva seraya beranjak dari bale, "mau bikin kopi sendiri atau abah buatkan?"


Alva menggeleng, "tidak usah bah. Nanti merepotkan."


Abah tertawa menampilkan gigi yang sudah ompong, "terakhir kali ada orang itu Tarman, itupun minggu lalu. Abah tak pernah punya tamu, selain dari keluarga Kertawidjaja." Imbuhnya sambil melengos masuk ke dalam, membukakan pintu rumah selebar mungkin.


Terbiasa hidup sendiri, membuat rumah ini terasa dingin, meski tak menyeramkan.


Justru rumah ini cukup rapi dengan kaligrafi Al-Qur'an di atas pintu masuk, juga kalender penanggalan sistem sunda wiwitan.


Di sudut lain adalah koleksi kujang sang ais pangampih, dari mulai yang besar hingga yang paling kecil seukuran mustika peninggalan kerajaan.


Alva duduk di kursi, sedikit berdebu. Mungkin karena jarang kedatangan orang lain.


"Abah kenal keluarga Raden Amar Kertawidjaja?" tanya Alvaro.


Dari arah dapur, abah tertawa sedikit kencang, "bercanda kalau abah tak mengenal mereka. Setiap ada acara, bahkan beberapa waktu sekali mereka datang kemari, ke keluarga sendiri."

__ADS_1


"Kalau gitu abah kenal raden Rashmi Sundari,"


Abah kembali dengan membawa dua cangkir kopi, miliknya dan Alvaro, lalu mendorong milik Alva ke depan pemuda itu.


"Den rara Rashmi sudah seperti cucu sendiri. Hanya saja sekarang dia jarang kesini. Sudah begér!" kekehnya, membuat Alvaro ikut terkekeh. Iya begér, begérnya tuh padanya. (begér\= puber)


"Kenal?" kini abah Eman yang balik bertanya pada Alva, "kenal."


"Sampai batas mana?" kini alis tajam itu menukik dalam seperti sedang menginterogasi calon cucu mantu.


"Do'akan saja bah, semoga disegerakan."


Abah Eman mengangguk sekali, "insyaAllah, aamiin. Jangan lupa, tengok abah dulu disini." pesannya.



Alva dan abah Eman berjalan bersama, menanggalkan seluruh keegoisan dan kembali menyerahkannya pada alam.



"Sekarang abah berasa plong! Beban tanggung jawab, pikiran dan hati yang setelah sekian lama tak dapat tersampaikan bahkan oleh para pendahulu abah, akhirnya bisa tersampaikan."




Perjalanan semakin menanjak, bersama dengan obrolan berfaedah anatara abah Eman dan Alvaro.



"Oh ya bah. Kata Asmi kalo kita masuk kesini dilarang memakai baju merah, kenapa?" tanya Alva.



"Karena warna merah adalah simbol pembentukan emosi, kemarahan. Dan siapapun yang datang kesini tidak boleh membawa serta hati yang kotor, terpancing emosi dan ego yang tinggi." Jelasnya.



Sesekali mereka menemukan pacet, ataupun sekedar ulat bulu dan kaki seribu sebesar-besar jempol. Abah Eman menyisihkannya ke pinggiran, tak boleh ada yang tersakiti."



Alvaro dapat merasakan hembusan angin kencang diatas sini. Namun kedamaian yang ia dapat, ternyata ini yang membuat apih Amar begitu betah dan sering bertafakur disini.

__ADS_1



"Semakin tinggi kedudukan manusia, semakin besar angin yang berhembus untuk menggoyahkan," ucap abah Eman.



Suara hewan yang biasa berbunyi jika menjelang senja sudah mulai bersahutan menyapa pendengaran, begitupun kabut yang mulai turun.



Sepertinya memang malam ini, Alvaro harus bermalam di rumah abah Eman.



"Kita pulang, sudah sore. Kabut sudah turun. Khawatir semakin banyak binatang malam yang buas mulai mencari mangsa." Ujar abah Eman diangguki Alvaro.



Abah Eman menurunkan kasur randu yang lebih sering ia gulung dan simpan di atas lemari karena tak ada yang memakai.



Alva membantunya menggelar di atas ranjang, tak ada televisi apalagi laptop, bahkan sinyal pun tak ada, sudah pasti teman-teman satu subnya akan mencari-cari keberadaannya yang tak pulang.



Dibaringkannya badan di atas ranjang, sementara sayup-sayup ia mendengar suara orang mengaji dengan lantunan macam qari.



Ia masih tak dapat tertidur, otaknya memikirkan hal ini dan itu, belum lagi dirinya yang berada jauh di tengah hutan bersama abah Eman tanpa seorang pun tau.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2