
Asmi sudah mandi, ia sudah bersuci juga.
"Néng, sekarang aja keburu nanti keburu makin panas atau justru hujan, nini sama aki juga udah nungguin..."
Asmi mengangguk telah siap, rombongan keluarga Asmi siap meninggalkan bangunan untuk ziarah makam.
Apih sedang pamit sebentar pada Wira yang kebetulan ada di depan teras area kasepuhan.
Bersamaan dengan Asmi yang berjalan bersama keluarganya yang lain keluar keraton.
"Mau pada kemana itu, bun?" tanya Bagas, pasalnya si bocah gemesin pun ikut dalam rombongan.
"Prosesi ziarah makam, Asmi mau ke makam sunan sama makam leluhur raja-raja disini, di Astana Gunung Jati..." jawab Ganis.
"Oh," Bagas berohria, tatapannya tertumbuk pada Sasi yang sedang mengusili Dhara.
Alvaro mendaratkan pandangan ke arah si jantung hatinya, entah magis apa yang terkandung dalam mantra murub mancur. Namun Asmi semakin terlihat cantik dan mendebarkan di matanya sekarang.
Pandangannya harus terjeda ketika grup w.a'nya terlalu berisik nan heboh membicarakan perihal pernikahannya dan Asmi yang terkesan amazing!
Alva menyunggingkan senyum miring, membayangkan jika anak-anak underground datang ke acaranya batikan. Karena ia sempat membaca jikalau mereka akan datang dengan memakai mobil milik beberapanya, dan menyewa sebagian. Teman kampus pun tak kalah hebohnya.
Gue pengen ngerasain datang ke kondangan ningrat, jangan cuma nonton di tv doang!
Alva terkeleh halus membacanya. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah tadi Asmi berada, namun sepertinya Asmi memang sudah pergi bersama rombongannya untuk ziarah.
Asmi benar-benar khusyuk berdo'a pada Allah, juga meminta do'a restunya di pintu pasujudan, pintu ketiga dari sembilan pintu menuju makam sunan di puncak bukit. Ia juga nyekar dengan membawa bunga setaman serta air ke cungkup sultan sepuh, raja-raja terdahulu kasultanan.
Rombongan keluarga Alvaro dari Bandung, Jakarta tiba di kasepuhan pada sore hari.
"Ngimpi apa gue, mendadak jadi keluargaan sama ningrat begini, Nay!" ujar Gale ketika mobil telah dikawal oleh abdi dalem masuk melewati gerbang depan alun-alun keraton.
"Naya kaya masuk di jaman kerajaan Mataram gitu, ya mas..." akuinya melongo melihat area kompleks keraton.
"Itu barang seserahan titipan Ganis awas penyok di mobil belakang, bareng anak-anak," ujar Shania.
"Iya ih, upeti tuh dari kerajaan Mahesa sama Adiwangsa!" tunjuk Gale membuat riuh tawa tercipta. Andro menggelengkan kepalanya terkekeh.
Indy bersama Gemilang berada di mobil kedua, sementara putra Gemilang di mobil ketiga membawa barang seserahan, dan mobil ke empat adalah keluarga Yeni serta Nengsih.
__ADS_1
Hari yang ditunggu seluruh orang terkhusus Asmi dan Alvaro akhirnya tiba.
Detik demi detiknya begitu mendebarkan, semua orang cukup sibuk dengan hari ini.
Tak luput dari nuansa hijau dan hitam, Asmi sudah menjalani proses make up, bahkan juru rias yang dipersiapkan telah berpuasa terlebih dahulu demi menjalankan tugasnya dari gusti PRA.
Polesan demi polesan alat make up mewarnai dan melukis wajah ayu sang putri, siger khusus berbentuk bulat di tengah masih tersimpan rapi di dalam kotak kacanya.
Untaian ronce melati terpasang bersama mahkota siger di kepala Asmi.
Para abdi dalem (ais pangampih) sudah bersiap dengan seragamnya untuk bertugas sesuai gladi resik waktu lalu.
Amih mengusap baju di bagian pundak apih, suaminya itu selalu memiliki kharisma di usia senjanya. Kemudian ia berputar menghadap sang suami.
"Saya masih belum menyangka kang, Asmi menikah..." imbuhnya, tetap saja seruan hati seorang ibu, mendadak membuatnya melow pagi ini.
Apih menyunggingkan senyumannya, "nyai menyesal, Asmi tidak menikah dengan Agah? Dan tidak jadi besanan dengan keluarga raden ajeng Kutamaya?" tanya apih, amih lantas menggeleng.
"Bukan itu, kang. Tapi...." ujarnya.
Apih mengangkat dagu amih, "apalagi akang....kita berdua sudah membesarkan Asmi semampunya, mendidik dan mengajarkan semua hal semestinya. Akang adalah cinta pertama néng Asmi, akang pula yang sekarang akan menyerahkan Asmi pada Alvaro, setidaknya akang sudah menunaikan salah satu kewajiban akang dengan menjadi wali nikah néng Asmi." ujarnya semakin membuat amih berkaca-kaca.
"Hanya tinggal si bungsu, néng Sasmita..." lanjutnya.
"Akang mau, akang bisa menuntaskan semua kewajiban sebelum nantinya akang tiada. Sebagai anak ketiga, sudah pasti tahta tak akan jatuh pada akang, setidaknya akang tidak memiliki beban pada rumah... Tapi sebagai ayah, kepala keluarga di rumah, akang masih punya kewajiban..." jelasnya.
Amih tersenyum mendengarnya.
Tok---tok---tok
Keduanya menoleh ke arah pintu, "sudah waktunya..." lirih apih diangguki amih.
Masyarakat yang ingin menyaksikan hanya dibiarkan masuk sampai alun-alun keraton saja, sisanya penjagaan begitu ketat.
Beberapa pengawal keraton dan para abdi dalem datang ke gedung tempat keluarga Alvaro berada, mereka sudah siap dengan seragam bernuansa hijau hitam yang disiapkan.
Sebagai bagian dari acara pernikahan hari ini, kedua abdi dalem datang dengan seragam lengkap menjemput Alvaro seorang diri tanpa keluarganya, yang disebut prosesi adat Tenteng penganten.
Jepretan kamera dan roll video membayangi langkah Alvaro dalam balutan baju kebesaran. Sungguh tak menyangka, jika dulu ia sering mengabadikan moment adat begini untuk tugas kampus, maka sekarang ia mengalaminya sendiri.
"Loh, loh??!" Naya menunjuk kemana perginya Alvaro, sementara ia bersama yang lain sejak tadi sudah siap berdiri kaya pager betis.
"Kok Alvaro sendiri mas, kaya tawanan gitu?" tanya Naya berbisik aneh.
"Emang prosesinya begitu. Ijab kabulnya ngga boleh di saksiin sama pihak orangtua atau keluarganya lelaki." Jawab Andro.
"Ah, mas so tau!" jawab Naya, namun Andro menunjukan layar ponselnya yang menunjukan artikel prosesi adat menenteng pengantin, sehingga istrinya itu berohria.
Gale tertawa mendengar obrolan keduanya, "padahal udah siapin kamera ya, Nay...buat videoin prosesi," tunjuk Gale pada ponsel yang tergantung di leher Naya san dalam mode kamera on.
Naya tertawa, "iya." Ganis berdecak melihat kedua sepupunya itu, "berisik."
__ADS_1
"Uuuu, ibu hajat marah!" cibir Gale.
Alvaro berjalan masuk ke dalam ruang utama dimana kini sudah disiapkan tempatnya akan mengucap janji sehidup semati dengan Asmi.
Ia meneguk salivanya sedikit sulit, nyatanya menjadi orang kalem tetap bisa merasakan perasaan deg-degan juga jika situasinya seperti ini.
Musik karawitan lembut mengalun menciptakan suasana syahdu nan khidmat namun tak meninggalkan sisi kesakralan acaranya.
Kedatangan Alvaro langsung disambut oleh amih yang membawa kain untuk menutupi Alvaro.
Senyuman terhangat dilemparkan Sekar Taji untuk Alvaro, senyuman seorang ibu yang sampai hingga ke ulu hati, sebuah sorot mata pengharapan menitipkan putri kesayangannya.
Alva digiring ke tempat ijab dimana apih sudah menunggu bersama penghulu tanpa Asmi.
Meski musik mengalun lembut, suasana tegang tetap tercipta diantara Alvaro dan apih, ditambah ia merasa kerdil sendirian dengan disaksikan seluruh keluarga besar keraton, untuk pertama kalinya Apih menjadi seorang wali nikah untuk putrinya.
Kedua tangan besar itu berjabat tangan diantara semerbak wangi melati dan kenanga. Sapuan angin sepoi-sepoi di pagi hari menuju siang menjadi teman Alvaro menenangkan diri dari rasa gugup dan tegang.
Dibimbing penghulu dan apih, serta bekal menghafas, Alvaro berdehem mengambil nafasnya.
"Siap Va?" tanya apih. Alvaro mengangguk.
Dengan bahasa Cirebon Bebasan, Alvaro mengikat raden rara Rashmi untuk hidup dan matinya.
.
.
.
__ADS_1
.
.