Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 38. JIWA YANG TERKEKANG


__ADS_3

Tatapannya ke luar jendela kaca mobil, namun jelas Asmi sedang melamun.


"Den rara,"


Mang Ali sudah 5 kali memanggilnya, namun Asmi tak bergeming, seolah tuli dan pikirannya lari entah kemana.


Supir Katresna itu memutuskan untuk tidak memanggil kembali adik majikannya itu, dan memilih meneruskan tugasnya saja meski terasa hening tanpa obrolan.


Mobil sudah masuk ke dalam halaman rumah Asmi, ada helaan nafas berat dari Asmi, dan ia sempat terdiam lama di dalam mobil hingga mang Ali harus menegurnya, "den rara punteun, udah sampe."


Asmi sedikit tergelonjak, "eh iya mang. Makasih ya udah anter Asmi," ia keluar secepatnya dari dalam mobil dengan tergesa karena takut amih mengomel lagi.


"Den! Den rara!" teriak mang Ali, namun teriakannya tak cukup membuat Asmi menoleh, karena Asmi sudah masuk ke dalam.


"Den rara, kayanya lagi punya masalah atau memang buru-buru?! Sampe buku segede ini sama hapenya ketinggalan di jok." Ia kembali menarik rem tangan dan keluar dari mobil.


"Kenapa Li?" tanya mang Dedi.


"Ini kang, hape sama buku den rara ketinggalan di jok belakang. Dipanggil keburu masuk," ringisnya.


"Oh, biar saya kasiin Li."


"Iya kang, ini. Punteun ya ngerepotin!" kekehnya kembali masuk ke dalam mobil.



Amih celingukan saat Asmi datang, "mana den Agah, ngga ikut masuk? Suruh ngopi dulu..."



Asmi menggeleng, "Asmi pulang dianter mang Ali, abis dari rumah a Candra."



Dengan otomatis alis amih mengernyit lalu menukik setajam turunan nagreg, "loh?! Tadi bukannya den Agah minta ijin buat jemput neng Asmi? Emangnya ngga ke kampus?"



"Ada." jawab Asmi, "tapi Asmi yang nolak, ngga usah ngerepotin lah! Kasian den Agah kan orang sibuk, kalo anter jemput Asmi----"



"Neng! Kamu nolak den Agah?!!!" teriaknya.



"Astagfirullah! Kamu teh neng, orang-orang mah pada mau diperhatiin, pada muja-muja den Agah sama keluarganya, ini mah! Kaya gadis ngga tau diuntung...kurang apa kamu mah neng, disukai sama den Agah sama raden mas Harya Enjan, sama raden ajeng Kutamaya-nya! Tapi kamu ? Mau cari suami yang sempurna gitu dimana lagi?!"



Asmi benar-benar lelah, otaknya mendadak berputar seperti gasing.



"Den, maaf." Mang Dedi menjeda omelan amih, "kenapa mang?"



"Ini, hape sama buku den rara ketinggalan di jok mobil den Candra," angguk mang Dedi menyerahkan buku dan hape Asmi.



"Oh, iya. Makasih mang." tangan putih itu menerima buku tebal dan ponselnya.



Hingga mang Dedi pergi kembali, amih menggelengkan kepala, "ceroboh! Amih ngga mau tau, kamu harus minta maaf sama den Agah dan tebus semua kesalahan neng Asmi. Jangan bikin den Agah berpaling dari neng Asmi! Jangan nanti dia batalin perjodohan ini," titah amih.



Asmi tertawa sumbang, "den Agah-----jangan sampai den Agah batalin, jangan sampai den Agah berpaling, jangan sampai den Agah sakit hati dan kecewa, terus Asmi??? Siapa yang bakalan mikirin perasaan Asmi, apa yang Asmi mau?"


__ADS_1


Gadis itu membawa seluruh beban dan beban ke dalam kamar, kepalanya terasa berat nan puyeng. Asmi bahkan tak perlu repot-repot membuka sepatunya, tak masuk kamar mandi dan langsung menjatuhkan begitu saja badannya, dipandangnya langit-langit kamar putih yang berwarna kelam di mata Asmi.



Ia tertawa garing, menertawakan hidupnya namun kemudian menangis sesenggukan begitu pilu, Asmi menjerit sekencangnya, bangkit dan mengobrak-abrik selimut dan seluruh barang yang ada di ranjangnya.



Sontak beberapa orang rumah yang mendengarnya berlarian panik ke arah kamar Asmi, "den rara! Den, kenapa?"



"Asmi?!"



Asmi masih menjerit mengeluarkan seluruh uneg-unegnya yang selama ini ia tumpuk.



Bayangan masa kecil yang hidup dengan penuh aturan, Asmi kecil yang sering kena hukuman, Asmi remaja yang menjadikan hukuman amih seperti cemilan harian, perintah dan aturan amih yang selalu meminta Asmi tampil sempurna nan paripurna, hingga menyita kebahagiaannya selama ini, sejak pertama kalinya Asmi bernafas di dunia adalah kontrak harga matinya, jiwanya langsung diikat oleh aturan amih, *anak perempuan pertama yang diidamkan keluarga Raden Amar dan Raden nganten Sekar Taji*.



"Neng!"



"Neng Asmi!"



Orang rumah berhamburan panik termasuk Sasi, "teteh! Teteh kenapa?"



"Neng buka !!!" teriak amih.




"Kesurupan bukan ya, den rara?" tanya Nining pada Lilis, "soalnya den rara pulang udah mau magrib?"



"Ah kamu mah ngaco!"



"Mang, coba dobrak aja pintunya!" pinta amih kini rasa paniknya bercampur rasa khawatir. Tangannya sedikit mendingin panik mencoba menghubungi sang suami dan anak-anaknya.



Satu, dua....blughhh!



Mang Dedi dan mamang--mamang lainnya termasuk Eka begitu khawatir dengan majikan kesayangan, Asmi adalah anak yang supel, baik, menyenangkan, ramah juga cepat akrab bahkan dengan asisten rumah tangga sekalipun. Diantara semua majikan dan putra-putrinya adalah raden Amar dan Asmi yang begitu baik selain dari keusilan Sasi.



"Coba Ka, kamu mah masih muda. Dobrak!" Eka mengangguk.



Satu----dua----



Brakkkkk!


__ADS_1


Pintu terbuka dengan kunci yang agak sedikit koyak karena dobrakan Eka, ia tak menghiraukan lengan yang pegal akibat mendobrak pintu, namun perhatian mereka langsung tertuju pada gadis yang sudah menenggelamkan wajahnya di lutut di bawah samping ranjang sambil sesenggukan.



"Astagfirullah den rara!"



"Neng!" amih langsung menyerbu dan menangkup kedua pundak Asmi, "kenapa?!" alisnya masih bertaut kencang.



Asmi mendongak dengan wajah basah dan tampilan semrawut, "Asmi ngga apa-apa...." jawabnya loyo.



"Amih keluar! Amih keluarrrrr!" usirnya dengan menyeka air mata, "Asmi ngga apa-apa, Asmi ngga apa-apa!"



"Neng, kamu teh kenapa?!" Asmi beranjak dan meminta amih pergi dari kamarnya termasuk Sasi dan para asisten rumahnya.



"Udah pada pergi aja! Asmi ngga apa-apa!" bentaknya mengusir dan mendorong semua orang, lalu kembali menutup pintu kamarnya.



Blugh!



Ia merosot dan meluruh di pintu kamar.



"Amih, teteh teh kenapa?" tanya Sasi khawatir, pasalnya kakaknya itu tak pernah seperti itu, Asmi sekarang seperti bukan Asmi.



Amih Sekar menggeleng tak mengerti, ia mulai memikirkan apa yang diucapkan Nawang dan Katresna tempo hari tentang Asmi.



Selang 1 jam apih datang ke rumah dengan tergesa disusul Candra dan Katresna juga Bajra dan Nawang.



"Mana neng Asmi?!"



"Mi," Nawang mengetuk pintu kamar Asmi mencoba membujuknya.


"Tadi Asmi dari rumah kamu, kan? Kenapa Asmi bisa gitu?" tanya amih pada Candra.


Candra mengangguk, "iya. Asmi ngga apa-apa tadi pas di rumah. Cuma memang Asmi pundung waktu Candra ngomongin den Agah, udah lah mih! Ngga usah ada jodoh-jodohan Asmi, kasian....jadi beban buat Asmi....amih terlalu nuntut Asmi buat jadi anak perempuan sempurna di mata amih dan ningrat lain. Amih teh kaya terobsesi buat jadiin Asmi putri sempurna..."


"Selama ini Asmi ngga apa-apa, cuma belakangan ini aja kaya gini! Pasti ini mah pergaulannya!"


"Mang! Mang Dedi!" amih malah memanggil mang Dedi untuk menginterogasinya.


"Kamu tau engga temen-temen Asmi, atau temen baru Asmi? Sering kemana aja Asmi belakangan ini?!" cecar amih.


"Mih! Asmi kaya gini karena terkekang!" jawab Katresna. Melihat istri dan anak menantunya ribut Raden Amar tak bergeming yang ia lakukan adalah menghampiri Nawang berusaha membujuk putrinya, "Mi...ini apih neng," ucapnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2