Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 79. DON'T MISS IT


__ADS_3

Kakinya masih digoyangkan, ongkang-ongkang mirip tante kun yang lagi di pohon nangka. Mungkin jika dihitung, sudah ayunan yang ke 7 lusinnya kaki Asmi bergerak demi menunggu seseorang untung ngga langsung copot engselnya. Namun itu tak membuat Asmi bosan, ia akan melakukan hal sebisanya untuk Alvaro.


"Lama ya? Aku anter kamu pulang dulu ya, abis ini?" Alva mendudukan pan tatnya begitu saja di kursi hijau plastik samping Asmi. Sementara disekeliling mereka, orang-orang sibuk menata panggung konser beserta perintilan lainnya.


"Ngga usah. Asmi cuma datang nganterin makan aja buat kamu. Ngga niat ganggu, kamu kerja aja..." jawabnya, toh mang E juga sudah menunggu di depan parkiran, kasian ditanem lama, bisa-bisa ia matang karena diperam di mobil.


Alva mengangguk lalu mengacak rambut Asmi, tanpa sungkan ia mengecup pucuk kepala calon tunangannya itu.


Asmi terkekeh renyah karena itu. Melihat Alvaro yang begitu bekerja keras, ia tau jika Alvaro adalah tipe lelaki bertanggung jawab, padahal mudah untuknya meminta koneksi apih, mpap Wira ataupun ibun Ganis untuk mendapatkan pekerjaan dengan posisi enak. Tapi Alvaro hanya mengatakan jika semua itu soal prinsip.


Asmi mengeluarkan tissue dari dalam tasnya, sempat merogoh lama, karena tissue yang dibawanya berukuran kecil namun kemudian ia mendaratkan usapan kecil di pelipis, kening dan sekitaran garis wajah Alvaro. Wajah itu cukup basah karena keringat, jangan sampe nanti banjir jadi kubangan deh!


"Kalo gitu Asmi pulang dulu, ya. Takut keburu magrib."


Alvaro mengangguk, ia tak mengijinkan Asmi menemaninya sampai malam apalagi sampai pekerjaannya selesai dan mengganggu istirahat gadis itu.


"Jangan sampai lupa istirahat, masih harus siap-siap nyusun skripsi kan?" Asmi membukakan paper bag dan mengeluarkan seluruh isinya, ada kotak makan, sebotol air mineral, kotak makan kecil berisi potongan buah.


"Ini baru mateng, jadi pasti masih panas. Nih tuh, berembun..." unjuknya.


"Dibukain aja dulu atau ngga langsung makan aja. Jangan disisain..." perintahnya, belum juga jadi emak-emak beneran, gadis ini sudah jadi ibun wanna be!


Alvaro mengangguk mengulas senyuman miring, "baru tau kalo ibun tuh bawa virus nular sama kamu," jiwirnya di hidung Asmi.


Mata Asmi memicing, "kualat ih! Ngatain ibunya sendiri virus menular." desisnya membela sang calon mertua.


Pemuda itu cengengesan, "ya udah kalo gitu---" Alvaro melirik terlebih dahulu jam tangan dan menjeda ucapannya, "nanti kumakan, sama kotak-kotaknya sekalian. Udah mau magrib. Nanti kemagriban di jalan, amih marah. Aku juga harus kerja lagi, cari tambahan buat modal kawin sama wisuda."


"Iya." Asmi merapikan tali tas di pundaknya yang merosot hingga ke lengan.


Tak ada ucapan sampai jumpa yang mesti sampe gelar karpet atau tabur kembang segala apalagi sampe mewek guling-guling. Asmi berlalu pergi dan diperhatikan oleh Alva sampai ia masuk mobil dan hilang dari radarnya.


Acuy masih sibuk mengorek-orek gigi bolong yang tersumbat remahan nasi dan lauk. Kalo udah tua, bukan cuma dompet yang suka bolong, tapi gigi ikutan rapuh. Mudah untuk berlubang, tinggal nunggu tanggal saja dan nyanyian anak-anak tentang kakek--nenek yang giginya tinggal dua itu benar adanya.



Keluarga besar apih dan amih dari kasepuhan turut diundang beberapanya hari ini, terlebih para sesepuh.



Sepasang om-tante dokter dari Jakarta turut hadir menyisihkan waktunya, khusus untuk Alvaro. Termasuk Andro-Naya yang meluangkan waktu dari sibuknya bisnis. Gemilang bahkan sudah sejak jauh-jauh hari mengosongkan jadwalnya dari kasus-kasus yang harus ditangani.



"Momy ngga bisa dateng, Nis. Katanya titip salam buat lo, Nata, Alvaro, Bagas sama calonnya Alva dan keluarga. InsyaAllah nanti nikahan datang," ujarnya.



"Ngga apa-apa, kosim."



"Sekarang? Udah siang soalnya." Tanya Wira.



Ganis mengangguk dan masuk ke dalam mobil.



"Anak gue udah gede lagi, udah mau bikin anak lagi....Gue udah bau tanah belom sih?!" oceh Gemilang.



"Bukan bau tanah lagi, tapi bau kafan!" jawab Ganis. Bagas tertawa bersama putra Gemilang.



"Harusnya kalo udah tua gini, sadar umur...mulai memikirkan bekal buat di akhirat, betul papa? Bukannya yang diinget tuh bekal duniawi aja," sindir istrinya. Ganis terkikik puas jika sang kakak ipar sudah mode ustadzah begini, itu artinya ia punya teman satu kubu untuk melawan Gemilang.



"Kapan berangkatnya ini?" tanya Indy melongokan kepala keluar jendela mobilnya.



"Yuk! Yuk! Berangkat yuk, jangan bikin yang punya rumah nunggu lama!"



Suasana rumah Asmi layaknya ballroom acara adat, sudah ditata sedemikian rupa untuk acara pertunangan Asmi dan Alva. Padahal sih maunya Asmi dan Alva cuma tuker cincin mah ngga usah sampe rame-rame kaya orang mau hajatan beneran, ngabisin biaya! Tapi jika berhadapan dengan keluarga Asmi, maka apa boleh buat?!


Mungkin disinilah letak kesulitan lainnya yang menjadi pr Alva, menyamakan pikiran, pendapat dan prinsip dengan keluarga Asmi yang notabenenya masih begitu terikat dengan unsur adat dan budaya yang begitu kental.


Tak pernah luput dari aksen bambunya, suara musik kecapi suling serta instrumen bernada salendro menyapa pendengaran begitu syahdu.


Dokter anak itu baru benar-benar percaya jika calon keponakannya itu bukan orang sembarangan setelah melihat rumah kediaman Asmi. Terlebih Ganis berkata jika nanti saat Alvaro melaksanakan nikahan, mereka akan menggelar di kasepuhan, dengan otomatis ia harus terbang dari Jakarta ke kota udang, kotanya Sunan Gunung Jati, sesuai tempat tinggal keluarga Kertawidjaja.


"Mimpi apa gue, dapet besan keluarga kasepuhan!" ujar Gemilang merapikan pakaiannya dari sisi badan mobilnya.


"Mimpi kejedot pintu emasnya Fir'aun kali bang Gem!" jawab suami Indy.


"Si alan," umpat Gem yang langsung dihadiahi tepukan istrinya dan pelototan sinis darinya.


"Mendadak ngga pede gue sama baju, sama gelar!" akui Gale ikut-ikutan nervous. Mendadak orang-orang yang tingkat kepedeannya melebihi orang ngga waras ini ciut saat menginjakan kakinya di halaman rumah Asmi yang sudah terlihat ramai. Mereka bahkan disambut oleh para asisten rumah tangga macam abdi dalem kediamana Kertawidjaja.


"Apalagi gue! Takut salah ucap, mulut gue kan ngga ada saringannya!" tawa Gemilang.


"Ntar di dalem ngga usah pada malu-maluin sama calon besan gue! Udah pada diem aja ngga usah ngomong, cukup angguk-angguk kakak tua aja! Atau geleng-geleng mirip orang gagu," jawab Ganis.

__ADS_1


"Si alan, ngga gitu juga Nis..."



Mc sudah membuka acara dengan do'a dan ucapan pembukanya, menghaturkan salam untuk para sesepuh, keluarga besar Kertawidjaja dan Adiwangsa.



Kakawihan sunda dilantunkan seiring do'a yang dipanjatkan di tempat yang bernuansa coklat dan cream ini.



Sementara di kamar, Asmi sudah siap dengan riasan sederhana oleh Katresna.



"Néng sebentar, itu benerin dulu sedikit..." pinta Katresna merujuk pada pipi yang kurang sedikit merona. Ia memang bukan MUA profesional namun setidaknya ilmu yang didapatnya sewaktu kuliah tidak mubadzir dengan seringnya ia dipanggil untuk merias di acara nikahan sanak keluarga dan kerabat.



"Tétéh jangan terlalu merah," tolaknya.



"Ya engga atuh néng, ini mah engga merah kaya tomat. Justru merah-merah merona, pengen nyium!" kelakar Katresna menggoda.



Suara berat nan dalam Alvaro menggema di setiap sudut ruang acara, meminta Asmi secara langsung di depan keluarga besar serta kasepuhan.


Dan saat namanya dipanggil oleh MC, Asmi keluar bersama Katresna dan Nawang dari dalam kamar ke arah ruang tamu.


Kebaya sederhana bergaya leher sabrina menampilkan tulang selang ka yang mulus nan putih tanpa dihiasi apapun, karena nanti rencananya Ganis akan menyematkan kalung milik ibu Wira yang konon katanya milik keluarga Adiwangsa yang diturunkan secara turun temurun pada Asmi.


Lekukan sempurna milik amih tercetak jelas di diri Asmi, dan wibawa putri parahiyangan terpancar darinya. Berlian akan tetap menjadi berlian tanpa harus dipoles sedemikian rupa.


Tatapan sepasang muda saling mencinta jelas sedang berkata aku cinta kamu, menautkan cincin ke jari manis satu sama lain adalah bentuk ikatan yang serius dari keduanya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi.


Lingkaran emas itu begitu pas di jari Asmi, namun saat memasangnya, Alva dapat merasakan jika tangan Asmi terasa dingin.


"Nervous ya? Sampe dingin plus tremor gini?" bisiknya terkekeh.


"AC," kilahnya beralibi jika itu gara-gara AC ruangan.


Dengan stelan kemeja batik coklat berlengan panjang Alva bersanding bersama Asmi dengan kebaya senada. Rona bahagia menyelimuti kediaman Kertawidjaja, mungkin Asmi harus sedikit sabar menunggu Alva sampai beres sidang dan wisuda, tapi baginya tak apa. Karena keduanya masih sama-sama muda, dan ingin menikmati masa-masa pacaran selama itu.


Tatapan keduanya mendarat di netra masing-masing, masih teringat kejadian itu, rasanya seperti baru kemarin mereka bertemu di acara seren taun, baru kemarin mereka meributkan siapa yang lebih tak waras, dan baru kemarin mereka saling menatap tak suka.


"Hey kamu! Kalo ditanya teh jawab atuh, punya mulut engga?!"


"Lo, ngga bisa liat ini den rara, apa perlu bukti kalo ini mulut?"


"Diantara ribuan orang, cuma lo. Orang yang Asmi temuin, mulutnya lebih kasar dari bibir pecah-pecah!"


"Raden rara Rashmi Sundari Kertawidjaja,"


"Lo nonton sendirian?"


"Engga. Ngga liat tuh banyak orang?!"


"Lo tunggu disini, jangan kemana-mana!"


Sekejap kemudian wajah manyun Asmi menghiasi pikiran Alva yang membuatnya mendadak terkekeh.


"Dasar br3ng sekk! Asmi nungguin kamu lama!"


"Hamili aku, please!"


"Badan kamu ngga semox, bau kembang 7 rupa! Mana gue navsuuu!"


Dan semua kejadian terjadi seperti air mengalir diantara mereka, hingga akhirnya sesuatu mulai muncul diantara kedua hati anak manusia itu.


"Aku suka kamu, Mi. Bilang sama aku, kamu mau kuajakin serius?"


"Asmi dijodohkan sama kang Agah, kang. Terimakasih untuk semuanya...."


Tiba-tiba teh Nawang menghampirinya dengan panik dan berkata, "tolongin Asmi, Alva..."


Tatapannya kosong tanpa jiwa, "jangan pergi Asmi...."


"Amih ngga setuju!"


"Alvaro adalah garis keturunan Sumini Adiwangsa,"


Takdir memang selucu itu, demi menyatukan kedua insan yang sudah ada dalam suratan takdirnya, ia mampu me-reka jalanan nasib.


Asmi masih memilah-milah kartu undangan yang akan dibawanya ke kampus.



"Mang E, ngga usah anter Asmi ke kampus. Soalnya pulangnya Asmi mau nganter undangan bareng kang kuman," imbuhnya pada Eka sang supir.



"Iya den,"



Alvaro masuk ke dalam rumah ketika tak juga mendapati Asmi keluar rumah, "ditungguin, malah masih ngurusin kartu...yuk!" ajaknya.

__ADS_1



"Va, sarapan dulu!" pinta apih yang baru selesai sarapan.



"Udah pih barusan, nuhun. Amih mana?"



"Masih di belakang." jawabnya, "biasalah ibu-ibu mah."



"Néng, jangan lupa undangan buat den Agah?" amih muncul dari dapur langsung ke ruang tengah.



"Mih," Alva meraih punggung tangannya untuk salim takzim.



"Udah. Kalo gitu Asmi berangkat dulu, mih--pih...assalamu'alaikum!"



"Jangan lupa, besok ngga boleh ketemu lagi!" amih melantangkan suaranya.



"Iya!"



Alva tersenyum, "dipingit nih nanti ceritanya."



"Heem. Harus kangen, awas kalo engga!" ancam Asmi dikekehi Alvaro, "Filman udah duluan sidang, jadi sekarang lagi di rumah, nanti anternya sekalian anter undangan buat kang Agah aja, kost'annya deket kampus Obor Kujang..."



Asmi mengangguk paham. Bahkan beberapa teman kampus masih belum percaya jika Asmi akan menikah dengan Alvaro. Jangankan menikah, satu circle pertemanan saja tidak, tapi mereka bisa sejauh ini.



Alva dan Asmi menunggu di parkiran, atas permintaan Agah. Dari kejauhan Agah sudah menyiapkan hatinya, jujur saja mengusir bayangan Asmi yang sudah bertahta di hati selama ini begitu sulit.


Ia menghela nafas panjang, mencoba memupuk dan mengumpulkan keikhlasan. Sebuah gambaran cukup menguras emosi hati terpampang nyata di depannya.


Diantara hembusan lembut yang membuai dari angin siang serta gemerisik daun kering ketiga keturunan ningrat ini bertemu.


Tak ada tatapan dendam atas masa lalu yang telah terjadi, Alvaro mengulurkan tangannya, "apa kabar kang?"


Asmi yang berada di antara keduanya hanya bisa mengulas senyuman manis.


"Alhamdulillah, gimana nih calon penganten belum dipingit?" tanya Agah, Asmi menggeleng, "masih besok."


"Berangkat ke kasepuhan?" tanya nya lagi.


"Besok sore."


"InsyaAllah saya datang bersama Apa dan ambu...selamat," senyumnya melepaskan beban hati.


"Makasih kang, kalo gitu Asmi sama kang Alva pulang dulu, mau lanjut..." Asmi menunjukan beberapa undangan yang belum disebar.


Agah mengangguk paham, ditatapnya kepergian Asmi dan Alva yang pamit padanya, lalu sejurus kemudian ia membuka plastik dan lembaran demi lembaran.


Dengan huruf yang dicetak bold dan font indah.


...❤ Save The Date ❤...


...ALVARO KARUNASANKARA GANENDRA...


...&...


...RASHMI SUNDARI KERTAWIDJAJA...


...Akad : Sabtu, 25 November 202X pukul 19.00 WIB (Keraton kasepuhan)...


...Resepsi : 💞 Keraton Kasepuhan, Minggu 26 November 202X pukul 10.00 - selesai....


...💞 Gor Saparua, Bandung Senin 27 November 202X pukul 10.00-14.00 WIB....


...💞 Kampung Adat Cireundeu, Bandung, Selasa 28 November 202X pukul 10.00-14.00 WIB....


...Don't miss it........




Senyum terukir di wajah Agah, "selamat néng, samawah..."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2