Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 55. KERAGUAN


__ADS_3

Sepanjang jalan emosi bercokol dalam hati Alvaro. Namun diremehkan begini bukanlah hal baru baginya, dan Alvaro adalah tipe manusia datar.


Diremehkan lebih sakit ketimbang digebukin hingga babak belur, terlebih oleh ibu dari Asmi. Namun inilah perjuangan men!


Untung saja Alvaro tidak memilih untuk berkonyol-konyol ria dengan menggeber mesin motornya dan mati sia-sia di jalanan.


"Va!"



Beberapa mahasiswa rupanya sudah menunggu Alvaro sejak tadi, karena obrolannya dengan amih Asmi, membuat Alva terlambat.



"Hey Guh!" angguk Alva. "Gimana nih, kamana wae atuh?!" mereka saling bersalaman gentle. Puguh, adalah senior dari antropologi yang tahun ini menyelesaikan skripsinya.



"Alhamdulillah lurr, wisuda!!!"



"Wah selamat! Selamat!" Saka, Sony, Anjar dan Filman ikut bergabung bersama para senior yang siap di wisuda ini.



"Prospek kerja kemana euy? IP, IP berapa?!" tanya Filman.



"Rencana pengen jadi pns dulu, di dinas kebudayaan!" jawab Puguh.



"Wah mantap-mantap lah!" Saka mengangguk-angguk.



Di tahun pertamanya di kampus ini, Alvaro sempat berseteru dengan Puguh yang notabenenya adalah senior dan senat kampus, namun kelamaan karena seringnya bersama dalam fakultas dan prodi yang sama keduanya jadi akrab, karena satu tongkrongan bersama.



"Nyanyi atuh euy ah! Perpisahan *iraha* sukurannya?!" tanya Sony membawa gitar milik anak Rampes. (**kapan**)



"Nanti lah udah acara wisuda!" jawab Angger.



"Va, nyanyi Va! Lagu itu weh emhhhh sampai jumpa!" ia menyerahkan gitar pada Alvaro yang menerima-menerima saja.



"Njirrr melow ahh! Kaya bakal ngga ketemu lagi aja!" jawab Iko.



"Biar lebih kerasa euy, inget pas dulu kalo nongkrong bareng!"



Alvaro mulai memetik senar gitar sambil duduk, bersama hembusan udara yang belum terlalu kencang di pagi ini.



Sejenak suasana jadi berubah melow, "*datang akan pergi*


*lewat kan berlalu*


*ada kan tiada*

__ADS_1


**bertemu akan berpisah**....


*awal kan berakhir*,


*terbit kan tenggelam*,


*pasang akan surut*,


bertemu akan berpisah...."



"*Hey, sampai jumpa di lain hari, untuk kita bertemu lagi, ku relakan dirimu pergi, meskipun...ku tak siap untuk merindu, ku tak siap tanpa dirimu, kuharap terbaik untukmu*...." mereka bernyanyi bersama seraya saling merangkul kecuali Alva yang khusyuk memetik senar gitarnya sambil duduk.



Tak sengaja Asmi melintas dan melihat mereka saat hendak ke mushola ketika ia akan melaksanakan solat duha sejenak.



Asmi menghentikan langkahnya, membuat Elisa nyeroscos sendiri sambil berjalan.



"Mi," karena begitu sibuk bercerita, Elisa kehilangan Asmi di sampingnya, "eh si Asmi! Kenapa berenti sih? Jadi engga solat duhanya keburu dosen datang lagi!" Tatapan Elisa mengedar ke arah sorot mata redup Asmi, gadis itu mendadak menatap nyalang nan getir, bahkan hampir berkaca-kaca.



"Apa sih?!"



Elisa mengerutkan dahinya melihat sekumpulan anak antropologi dan media bernyanyi bersama dengan Alvaro memainkan iramanya, "dalem banget. Kaya lagi ngerasain mau pisahan," lirih Elisa semakin membuat Asmi terpukul semakin dalam, apa lagu itu kang kuman nyanyiin buat Asmi? Apa kang kuman mau lepas Asmi?



"Mi?" Elisa memiringkan kepalanya demi melihat wajah Asmi, "kenapa sih? Suara mereka bagus ya?"




"Ih aneh! Ngga jadi nih duhanya?" tanya Elisa ikut berlari menyusul Asmi yang berjalan cepat bak road runner.



Dadhanya gelisah, penasaran! Apakah Asmi harus bertanya langsung atau minta maaf jika selama ini punya salah dan selalu merepotkan? Tapi ia benar-benar tak rela, bukankah semalam Alva sempat mengucapkan sayang padanya, atau justru ini karena bentuk sayang seorang Alvaro, ingin melepaskannya?! Arghhhh! Otak Asmi tak bisa bekerja untuk mencerna setiap penjelasan dari dosen.



Sepanjang mata kuliah, otaknya ngeblank hanya ada wajah Alva yang sedang bernyanyi lagu perpisahan tadi, sampai-sampai saat Elisa mengajaknya ke kantin ia tak fokus.



"Mi ih! Mau pesen mie apa kuah atau goreng?" tanya Elisa.



"Hm?"



Fajrin saling lirik dengan Elisa, "kenapa sih?" Elisa menggidikan bahunya tak mengerti, "ngga tau da, sejak tadi kaya gini, ngehank otaknya!" keduanya tertawa.



"Mau mie apa neng, ngalamun wae ih....ngelamunin apa sih?! Meni tarik gitu!" (kenceng)



Asmi menggeleng, "engga---engga apa-apa, tadi teh nanya apa? Mau mie apa ya? Asmi mie kuah aja, pake telor!" Asmi menguarkan senyuman lebarnya, Elisa berdecih lalu mengusap kasar wajah yang tersenyum palsu itu, "ihhh! Jelek, ngga lucu dipaksa-paksa gitu senyumnya, imitasi!" tembaknya.

__ADS_1



"Kenapa, Mi? Lagi ada masalah?" tanya Fajrin, Asmi menggeleng, "engga."



Fajrin merotasi bola matanya, "terakhir kamu bilang engga, kamu ngga kuliah 4 hari!"



Asmi terkekeh, "Asmi teh agak pusing," jawabnya.



"Pulang atuh Mi, takut sakit..." Elisa menyentuh kening dan leher Asmi dengan punggung tangannya.



"Mang Dedi udah jemput belum?"



"Lagi di jalan," balas Asmi.



"Liat Rashmi?" tanya Alva berjalan bersama Filman ke arah kelas Asmi dimana fakultas seni teater berada.


"Udah keluar kang, dari tadi." jawab salah satu teman yang baru saja keluar dari kelas.


"Tumben, ngga nyamperin ke basecamp, Va? Lagi ada sesuatu?" ia tersenyum geli, Filman bukan tak mengerti jika saat ini Alvaro dan Rashmi memiliki hubungan spesial dan tengah memiliki masalah. Kalau tidak, Alvaro mana mau nyusulin orang begini.


Dan Filman tau kalau Asmi memiliki tempat berbeda dengan gadis-gadis sebelumnya, karena serumit apapun masalah yang terjadi antara Alvaro dan kekasihnya, lelaki di sampingnya ini tak mau sampai menyusul-nyusul seperti sekarang, ketimbang disusulin yang ada putus, ceweknya yang mewek.


"Asmi ngambek." Alvaro menggaruk kepalanya tak gatal.


Filman mendengkus geli ketika mereka memilih kembali, "tumben lo Va, ngga pernah gue liat lo gini selama kenal! Banteran rese putus, emang lo jadian sama Asmi, Va?"


Alvaro menggeleng, "belum."


Filman mengerut aneh, "belum? Jadi hubungan lo sama Asmi apa, kekasih gelap, cinta terlarang?"


"Gue ngga niat jadiin Asmi pacar, Man. Kalo memang serius, mau gue bawa ke yang lebih serius. Asmi bukan cewek biasa, jadi gue pun ngga bisa main-main, laki yang mau sama dia maenannya nawarin kawin, terus gue ngajak pacaran?!" Alva menggeleng.


"Penjajakan bro, bukan pacaran. Asmi masih muda, pikirannya pun masih polos." Balas Filman.


"Karena yang polos gitu yang jarang hadir di dunia," kekeh Alvaro menunjukan kekehannya.


"Kamvreett anjirrr! Sadis, maenan lo sekarang udah seriusan, mau dikasih makan apa anak orang?!" dorong Filman.


"Ya nasi lah. Masa kertas," pertanyaan Filman barusan sama dengan pertanyaan amih Asmi tadi pagi, ia pun tak yakin apakah ia bisa mencukupi kebutuhan Asmi, gaya hidup Asmi, meskipun sejauh ini Alva tau gaya hidup Asmi terlampau sederhana.


"Kakak Asmi kerja dimana emangnya?"


"Di KAI, jadi managemen... Kalo a Bajra dosen, teh Nawang dokter..."


"Punya apa kamu?"


"Apa kerjaan kamu? Serabutan."


"Mau kamu kasih makan apa Asmi?"


"Bisa kamu, mencukupi kebutuhan hidup Asmi?"


Bayangan itu yang memutar di otak Alvaro saat ini. Apakah bisa event organizer konser underground sepertinya menghidupi Asmi? Asmi bahkan punya segalanya, uang jajan Asmi dari kedua orangtuanya bahkan mungkin lebih besar dari penghasilan Alvaro.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2