Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 68. TUNGGULAH AKU PULANG


__ADS_3

Asmi mendekap lengannya sendiri, menatap nyalang sekumpulan mahasiswa yang siap dilepas untuk KKN oleh pihak kampus.


Diantara puluhan mahasiswa semester antara 5-6 ada Alvaro bersama kawan-kawannya yang sudah siap dengan tas ransel besarnya.


Sesekali mungkin Alva bisa menemuinya, namun tetap saja seperti akan ditinggal pergi jauh dan lama, Asmi merasa sedih. Padahal jika sesuai rencana, ia dan Alva akan melakukan acara tukar cincin selesai Alvaro KKN.


"Kang Alva ikut KKN juga semester ini, Mi?" tanya Fajri melahap ciloknya datang tak diundang pulang tak diusir dari sisi kiri Asmi.


"Kata orang, yang datangnya tiba-tiba dari sisi kiri itu se tan!" ujar Elisa. Mata Fajri membeliak sebesar cilok isi yang tengah ia makan, "si alan."


Asmi menggelengkan kepalanya, tak habis-habis ocehan pertengkaran jika ketiganya sudah bersama.


"Itu kang Anjar ikut KKN juga?" tunjuk Elisa, melihat ada Anjar, Filman juga Saka di barisan Alvaro.


"Iya," Asmi mengangguk. "Kang Anjar satu sub sama kang Alva, kang Filman, kang Saka."


"Tumben Cintya ngga nempel. Biasanya kaya prangko?" tembak Elisa menyadari jika teman posesifnya itu tak ada di samping Anjar.


Asmi menggidikan bahunya tak peduli.


"Mereka lagi renggang, lo ngga tau ya?! Kudet!" jawab Fajrin julid.


"Ha?! Serius?!!" tanya Elisa, sebenarnya dirinya sudah move on, tapi denger mantan crush goyah kok kepo sekaligus seneng?! Apakah ia semacam teman makan teman, ataukah semacam senang menari di atas penderitaan orang?


"Ha ho ha ho! Renggang you know, menjauh! Bukan renggang makanan," sewot Fajrin bernada yang punya warung kalo lagi nagih utang sabun.


"Itu rengginang...." sahut Asmi kalem dengan nada berdendang.


"Rengginang itu istrinya Charlie setia band," tembak Fajrin lagi.


"Reginaaaaa, asem jawa!" Asmi mulai emosi, tapi Fajrin malah tertawa kecil disamakan dengan asam jawa.


"Regina itu kela min perempuan,"


"Itu. Omeshhhh, si Fajrin omeshhh!"


"Omeshhhh! Huuuuu!" seru Asmi dan Elisa.


"Ya maksud gue, hah nya tuh kaget, do ngoo!" dorong Elisa di bahu Fajrin.


"Kenapa, mau jadi orang ketiga?!" tembak Fajrin bisa membaca pikiran jahat Elisa.


"Setan atuh!" sahut Asmi.


"Da udah ketebak, Mi. Otak dia mah ngga jauh-jauh dari ide jahat! Sejenis anak buah van helsing!" balas Fajrin.


"Apa ai kamu, tiba-tiba bawa Van Helsing! Ngga nyambung!" Asmi sudah tertawa mendengar ocehan tak berguna teman-temannya sungguh obrolan yang ngawur, namun bisa mengalihkan rasa sedihnya, ketika Alvaro mulai mengambil sikap sedia dan menarik tali tas bersiap-siap pergi setelah dibubarkan oleh kepala LPPM (Lembaga Pusat Pengabdian Masyarakat).


"Itu, serigala jejadian, katanya serigala tapi bulunya embek garut!" ucap Fajrin lagi, tak tunggu lama ucapannya itu langsung disambar oleh toyoran tangan kuat Elisa.


Ting!


Satu pesan masuk ke dalam ponssl Asmi. Rupanya sejak tadi ada yang memperhatikannya tertawa dan bercanda.

__ADS_1


Langsung pulang. Selama aku ngga ada jangan nonton konser musik. Take care, sweetheart....


Asmi berjalan cepat menuju rombongan KKN yang hampir berangkat.


Menghampiri seseorang yang menjadi tempat rindunya bernaung.


"Akang!"


"Jaga kesehatan," ucap Asmi, diangguki Alva, "kamu juga," Alva menyarangkan usapan sayangnya di pipi Asmi tepat di depan puluhan pasang mata yang memandang meski mereka disibukan dengan kehebohan persiapan keberangkatan.


Alva memutar badannya setelah sebelumnya mendaratkan kecupan singkat di kening Asmi, "pergi dulu ya,"


Asmi mengangguk.


"Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu....selama masih ada waktuuuuuu! Jangan hiraukan diriku, aku rela berpisah demi untuk dirimu, smoga tercapai segala keinginanmu!" dengan suara pas-pas'an Fajrin mencibir interaksi keduanya itu, "cieee! Yang mau ditinggal ayang! Tenang kang, Asmi mah aman disini!" imbuhnya berteriak karena Alva sudah jauh melangkah.


"Fix ini mah, kamu mah takut dimintain peje, Mi!" dengus Elisa.


Asmi mengalihkan pandangan sesaat setelah mobil yang membawa rombongan Alva pergi, "iya ntar pejenya sekalian pas tukeran cincin aja,"


"Ha?!"


"Apa?!" keduanya menganga dibuat Asmi.


"Kurang jelas ya? Tuker cincin." Ulang Asmi.


"Tuker, yang kamu dipasangin cincin sama mamahnya kang Alva téa, gitu?"


"Tabok gue Jrin! Tabok Elisa! Tanpa status, ngga tau kapan jadian tiba-tiba denger kabar mau tukeran cincin! Dunia lagi nge-prank ini mah!" ujarnya setengah panik.


Asmi terkekeh sumbang melihat reaksi berlebihan dari kedua temannya itu, "lebay ah!" usapnya kasar di wajah Elisa dan Fajrin, ia juga berjalan ke arah gerbang keluar, dimana mang E sudah menunggunya.


"Mi ih! Seriusan ini teh, aslinya?!" tanya Fajrin sekali lagi, kali aja Asmi lagi mabok ciu!


"2 rius, 3 rius, 4 rius, aquarius!" jawab Asmi tersenyum usil, membuat kedua temannya ini 98% tak percaya ucapan Asmi, yang 2% nya lagi kesalahan sistem.


"Cih, boong banget!" Elisa berdecih ketika Asmi tertawa, padahal Asmi tertawa karena melihat wajah keduanya, bukan tertawa karena dirinya ketauan sedang jahil.


"Tunggu aja undangannya, nanti baru percaya. Udah ah, Asmi pulang dulu, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh!" pamitnya masuk ke dalam mobil, mang E telah kembali menjadi supir Asmi atas permintaan Asmi.


Bukan ia yang tak nyaman dengan mang Dedi, tapi Asmi tau jika mang Dedi lebih senang bawa mobil ke circle yang kalem, berbau emak-emak kaya amih.


Sementara Eka, ia dapat mengimbangi Asmi.


Asmi menghitung dengan jarinya, kapan upacara adat ngemban taun dilaksanakan, dan ia akan datang bersama keluarganya kesana.


Sebagai anak tanah Parahiyangan dan ningrat yang berpedoman pada sistem Sunda wiwitan, apih akan selalu hadir di acara-acara adat yang digelar. Ibarat kata para penganut Sunda Wiwitan adalah lemah cai keluarga Kertawidjaja termasuk yang ada di kampung adat Cireundeu. (tanah air/tanah kelahiran)



\_Alvaro\_


__ADS_1


Ia berangkat dari kampus siang hari. Ibun begitu sibuk menyiapkan bekal, entah itu pakaian, peralatan mandi dan cemilan.



Awalnya perbekalan yang disiapkan ibun lebih dari 2 koper, bahkan jika memungkinkan, ibunya itu akan membawa satu kamar Alvaro lengkap dengan pintu dan jendelanya agar sang putra tak kekurangan suatu apapun, yang benar saja!



Cireundeu itu masih di Jawa Barat, secara administratif ia masuk ke dalam wilayah kelurahan Leuwigajah, kecamatan Cimahi selatan, kota Cimahi, Jabar. Terletak di sebuah lembah yang diapit gunung Kunci, gunung Cimenteng dan gunung Gajahlangu.



Meskipun kampung adat, tidak menjadikannya tempat yang jauh dari jangkauan modernisasi. Sesuai dengan prinsip mereka,



*Ngindung ka waktu, Mibapa ka jaman* yang artinya **sebagai warga kampung adat memiliki cara dan ciri masing-masing namun, dengan tidak melawan perubahan jaman tapi mengikutinya**.



Ia juga akan selalu menghubungi Asmi agar tak menjadi salah paham juga saling menjaga hati satu sama lain.



Suasana di mobil tak riuh macam anak-anak SD. Lebih kepada sibuk sendiri-sendiri.



Dan ia, lebih memilih memutar musik dari ponselnya dan menatap keluar jendela.



\# *And i won't ever let you go*...


*Wait for me to come home*....



\# *Dan aku takkan pernah melepasmu*....


*Tunggulah aku pulang*....



Sebuah petikan lirik yang dinyanyikan Ed, seolah menggambarkan pesan darinya untuk Asmi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2