Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 49. LEGOWO


__ADS_3

Asmi mengklik satu persatu dari sekian banyak foto yang ada dirinya di dalamnya.


Ada senyuman yang semakin lebar ketika potret dirinya terlihat begitu cantik dalam jepretan kamera Alvaro, terutama saat ia tengah bersuka cita.


"Cantik." Alvaro ikut menatap potret Asmi sama seperti yang dilakukan oleh si pemilik wajah, Asmi menoleh ke arah samping dimana wajah Alva tak berjarak dengannya.


Rahang tegas Alva menunjukan pribadi yang kokoh, tak ada jambang kotor semrawut ataupun kumis, Alva begitu bersih, juga aroma tubuh maskulinnya membuat Asmi tak bisa untuk berkedip terlalu lama.


Dan jantungnya semakin berdegup kencang ketika, si kuman menoleh ke arah wajah Asmi. Untung saja hidung keduanya tak sampai bersentuhan, memberikan sengatan menggetarkan, meski begitu hawa nafas keduanya saling menyentuh menyapa kulit wajah masing-masing.


Asmi menggigit bibir bawahnya gugup, "dia cantik," kata Alva. Double kill untuk Asmi, untung saja ia tak meleleh seperti mentega kepanasan.


"Akang nyimpen foto dia dari awal ketemu?" tanya Asmi berujar pelan.


"Iya." Dan demi apa? Jawaban setenang itu membuat Asmi gagal bernafas. Dadhanya menyeruk dalam sambil mendengkus dan menunduk, ia kalah jika harus berada dalam situasi in tim seperti ini, Alva layaknya dewa cinta dan ia terbuai di dalamnya, pesona Alvaro di situasi ini dapat membius Asmi.


"Boleh disimpen kan, buat pribadi?" tanya Alvaro kembali membuat Asmi menoleh padanya lalu ia tertawa kecil, "asal jangan dipake buat nakutin tikus di bawah ranjang," gerakan tangannya membawa serta surai yang terburai bebas membuat risih wajah itu ke belakang telinga.


Alva tidak tertawa dengan kelakar receh Asmi, ia lebih tertarik menarik dagu bulat Asmi demi menatapnya lekat.


《▪》"Asihan aing si burung pundung,


Maung pundung datang amum,


Badak galak datang depa,


Oray laki datang numpi,


Burung pundung burung cidra ku karunya,


Malik welas malik asih ka awaking," ucap Alvaro dengan mata menatap tajam ke dalam retina mata Asmi, lalu ia meniup lembut wajah Asmi.


Sedetik kemudian pipi chubby itu merekah menandakan jika si empunya sedang tersenyum lebar dan terkekeh, "akang lagi jampein Asmi pake asihan pelet?"


Alvaro menyunggingkan senyuman miringnya, "katanya lagi cari mantra asih buat tugas, itu salah satunya," Alva mengarahkan wajah Asmi ke arah laptop yang entah sejak kapan sudah beralih file menjadi tugas makalah milik Alva dengan isian mantra asih, jampe, rajah, kawih buhun.


"Eh, udah ketemu file'nya?" pandangan dan fokus Asmi sudah beralih pada makalah milik Alva.


"Kirain Asmi, akang lagi melet Asmi..." deliknya sinis sebentar kemudian kembali pada kesibukannya.


"Jadi pusing ngga? Linglung gitu, muka ku selalu di pikiran kamu?" tanya Alva terkekeh usil. Asmi mengangguk, "iya ih! Asmi jadi pusing, linglung, selalu kebayang-bayang wajah lelaki, dia teh selalu hadir di hari-hari Asmi, waktu Asmi di jalan mukanya nongol di pandangan, waktu Asmi di warung mukanya keliatan lagi di dinding, tapi sayangnya bukan akang...apa Asmi udah dijampein sama cowok lain ya kang?" tanya nya panik.


"Muka siapa?"


"Muka calon presiden! Coblos nomer 1!" Asmi memeletkan lidahnya.


Alva mengacak rambutnya, "keliatan da pamfletnya dimana-mana!"


"Kayanya mah harus dipuasain, jadi kamu linglung, wajahku yang ada di otak kamu,"

__ADS_1


Asmi tersenyum, "ngga perlu pake mantra asih, ngga perlu dipuasain, Asmi udah suka sama akang apa adanya. Akang mau, wajah akang Asmi liat tiap hari?"


"Apa? Dicetak di pamflet, kaya iklan sedot wese?" Alva bergidik seraya memainkan scroll laptop.


Asmi tertawa, "bukan ih!"


"Halalin aku!" tambah Asmi.


Alva langsung menoleh ke arah Asmi, lalu menepuk jidat gadis ini, Plak!


"Tuh udah, di cap halal! Dapet sertifikat dari MUI." Jawab Alva menyemburkan tawa Asmi.


"Akang mah ih, ngga bisa digombalin! Emang bener kata anak-anak, the cool man nya Institut Seni mah kang Alva."


Asmi turun dari mobil, ia dijemput oleh mang Dedi karena apih yang memaksa, padahal Alva berniat mengantarnya pulang.



Ia membawa serta rujak cireng, oleh-oleh dari ibun Ganis dalam kotak makan.



Dan rupanya kehadiran Asmi sudah ditunggu oleh keluarga Raden Mas Harya Enjan sekeluarga.




Senyuman kecut tersalurkan kedua raden ini untuk Asmi, "neng Asmi baru pulang?"



Asmi berinisiatif bersimpuh sambil menyalami para orangtua tak terkecuali Agah, "iya raden. Habis cari bahan buat tugas makalah."



Ia menggeser dan berjalan dengan lutut lalu meraih punggung tangan raden mas dan raden ajeng.



Usapan lembut di kepala Asmi, apakah dapat Asmi anggap sebagai penerimaan kata maaf mereka atas pembatalan perjodohan ini?



Ketika Asmi berada di hadapan Agah, lelaki dewasa itu menatap Asmi lekat, "neng, bisa akang bicara sebentar, berdua?"



Asmi melemparkan tatapan pada apih sebentar, kemudian saat anggukan singkat apih tercipta Asmi ikut mengangguk, "boleh kang, mau dimana?"

__ADS_1



"Sambil jalan-jalan di luar aja,"



Asmi berdiri, "sebentar. Asmi simpen tas sama ini dulu." Ijinnya berlalu ke arah kamar dan menaruh semua benda yang melekat termasuk menaruh kotak makan berisi rujak cireng di meja makan begitu saja.



Sekilas Asmi melihat Dhara, itu artinya teh Katresna dan a Candra ada disini.



Agah berjalan tegap nan gagah meski kini pandangannya tak tau arah dan rasa, "apakah akang sudah kalah?"


Asmi menoleh, kenapa lelaki yang selalu bersamanya memiliki perawakan setinggi-tinggi egrang! Membuatnya sakit leher.


"Sejak awal Asmi udah bilang tapi kang Agah tetep maksa, hati Asmi ngga bisa dipaksa. Asmi sudah coba, tapi tetep ngga bisa."


Agah mengangguk paham, "Alvaro sudah terlalu kuat menancapkan perasaannya untuk kamu,"


Keduanya berjalan memutari halaman samping rumah Asmi, selalu itu menjadi tempat favorit baik para penghuni rumah ataupun para tamu.


Gemericik airnya selalu bisa membawa ketenangan jiwa, aliran air yang menghipnotos mata untuk damai dan mengantuk pada akhirnya, seolah menjadi penenang alami bagi siapapun yang berada disini, paket lengkap untuk tempat bermuhasabah ataupun bicara dari hati ke hati.


Agah menghentikan langkahnya, memetik daun jeruk sambal yang tumbuh di pojokan dekat gazzebo, buahnya baru muncul sebesar kelereng, menurutnya sudah cukup besar karena memang besaran jeruk sambal ya sebesar-besar itu.


Ia menggosok daun di telapak tangannya dan membaui itu, memberikan kesegaran tersendiri, "Akang sebenarnya belum mau menyerah, masih penasaran. Apakah selama ini kita mengenal neng Asmi sama sekali tak memiliki perasaan apapun pada akang?"


Asmi diam hanya menatap aliran air yang cukup deras, "akang hargai kejujuran neng Asmi. Berikut permintaan maaf kedua orangtua neng, jangan takut hal itu akan mempengaruhi hubungan kedua keluarga meskipun nantinya akan ada kecanggungan," Agah tersenyum kecut.


Agah mengulurkan tangannya pada Asmi, "bukan berarti menjadi musuh ataupun orang lain? Akang masih bisa main kesini kan?"


Asmi tersenyum manis, "hatur nuhun akang!" ia menghambur memeluk Agah layaknya pada Candra. Agah mengerjap tak percaya, hatinya memang sakit namun daripada harus membuat Asmi tersiksa seperti yang diceritakan raden Amar tadi, ia lebih tak sanggup.


.


.


.


.


.


Noted :


《▪》asihan si burung pundung bermakna semua binatang liar saja seperti harimau, badak, ular saja akan patuh, takluk dan nurut. Apalagi burung yang cedera, artinya orang yang kita cintai akan balik mencintai kita.

__ADS_1


__ADS_2