Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR #47. TEMPAT BERSEMAYAMNYA KASIH SAYANG


__ADS_3

Alva dan Asmi pamit pada mamang-mamang rumahnya.


"Den rara, keliatan seneng pisan sama kang Alva mah..." gumam Eka, ketiga pasang mata itu masih menatap lekat sepasang muda-mudi yang akan berangkat kuliah itu. Pagi ini layaknya hari baru untuk mereka lihat, tak seperti pagi kemarin langit seolah tau jika penghuni cantiknya sedang bermuram durja.


"Karena kebahagiaan tidak bisa diukur dengan harta dan tahta," balas mang Dedi lirih membuat kedua lainnya menoleh tak percaya, Eka lalu tertawa.


"Tapi kalo ada harta dan tahta mah lebih bahagia lagi atuh mang, da jaman sekarang mah pulang ngga bawa duit, saya ditendang sama istri!" jawab Ajat, kembali Eka tergelak puas mendengar itu.


Mereka kembali dikejutkan dengan panggilan mang Engkos, supir apih Amar yang meminta trio mamang itu menyingkir dari gerbang karena mobil apih akan keluar.


"Woy, trio libel bubar! Yang punya rumah mau lewat, yang numpang harap menyingkir, Jat...bukain gerbang!" ujar mang Engkos.


"Iya---iya!"


Tak ada janji atau ikatan apapun selain dari rasa bahagia satu sama lain, namun tautan tangan keduanya menyiratkan jika Asmi dan Alva sedang saling kasmaran.



"Mau ketemu ibun, pulang ngampus?"



"Ngga ganggu gitu? Kayanya engga dulu kang, Asmi baru inget punya tugas makalah," jawab Asmi.



"Apa?"



"Kayanya akang juga pernah belajar deh! Sajak, Rajah, asihan, jampe..."



Alvaro berohria, "kalo gitu kamu berteman sama orang yang tepat, jurusan antropologi budaya!" jawabnya.



"Kayanya aku masih simpen filenya di laptop, tapi harus ke rumah buat ambil." Imbuhnya.



Asmi memiringkan namun tidak sampai membuat celaka, "beneran kang? Ya udah nanti Asmi ngerjainnya di rumah kang kuman aja kalo gitu!" ia tersenyum, sambil nyelam minum air. Sambil ngerjain tugas bisa sambil ketemu ibun Ganis juga.



Tak ada yang tau dengan kondisi Asmi kemarin selain Alvaro, termasuk Elisa dan Fajrin.



"Ciee, yang sakit kalo diantar jemput yang ganteng mah langsung sembuh!" cibir Fajrin.



"Aku mah da yakin, antara kamu sama kang Alva ada apa-apanya!" Elisa sampai mencebik dan menyipitkan matanya melihat Asmi, bisa-bisanya ia menyembunyikan masalah hati.



Asmi hanya mengulas senyuman, "ya udah, ngga percaya mah ngga apa-apa."



"Takut dimintain peje!" Fajrin menunjuk wajah Asmi gemas lalu menangkup dan menjepit pipi Asmi. Fajrin memang berani jika di kelas namun sepertinya ia harus menjaga sikap jika di depan Alvaro, salah-salah ia dipites kalo sampe tersinggung atau cemburu.



"Engga. Paling peje apa kalian mah mintanya juga banteran mie gaco an!" tawa Asmi.



"Ck, ngga akan! Mau minta yang lebih mahal lagi!" jawab Elisa.



"Nyari bahan yu ah, ke perpus!" ajak Fajrin, tapi Asmi menolak, "engga, Asmi mah udah punya!"



Keduanya saling melirik, "tumben?! Nyari bahan makalah ngga bilang-bilang ih! Ngga bestie lagi! Sendirian! Ngga ajak-ajak," sewot Fajrin lebay dihadiahi toyoran kepala dari Elisa dan Asmi.



"Lebay, Asmi ngga nyari, tapi punya orang yang pernah ngerjain tugas sama!"



"Siapa? Biani?" tembak Fajrin berapi-api, "ah males! Nyinyir gitu, mempannya kalo sama kamu meren, da kamu mah tajir plus punya strata sosial tinggi!" mulut julid Fajrin mulai beraksi.

__ADS_1



"Bukan!" gidik Asmi.



"Akang Alvaro!!!!" lanjutnya lagi berseru sambil tertawa renyah.



Fajrin menepuk jidatnya, begitupun Elisa yang menjejak kakinya keras, untung saja bumi tak langsung terbelah, "oh heem lah! Anak antropologi budaya yang sering tau sama mantra asih mah!"



"Otewe kang Saka!"


"Otewe kang Filman!"



Asmi tertawa, "kalo mereka mau, kalo engga?"



"Bener juga!" angguk Fajrin dan Elisa.



"Udah, cari bahan sana! Takut keburu sama yang lain!" cibir Asmi.



Asmi sudah keluar dari kelasnya, ia menunggu Alvaro di dekat mushola kampus.


Kaki putihnya tak mau diam, entah tanah atau kerikil ia tendang-tendang pelan hingga berlarian kesana kemari.


Neng, bisa ketemu?


Satu pesan dari Agah masuk ke dalam ponselnya. Tapi Asmi tak berniat untuk membalasnya.


"Kenapa? Bales aja atuh, kasian." Alvaro baru saja keluar dan menemukan gadis itu tengah sendirian menunggunya.


"Siapa emangnya? Kaya yang tau aja!" balas Asmi memasukan ponsel kembali ke dalam saku.


"Kang Agah?" tembaknya tepat, jelas! Karena setiap apapun yang berhubungan dengan Agah selalu membuat air muka Asmi berubah drastis, redup, risih, tak suka, karena apapun tentang Agah selalu berhubungan dengan amih.


Asmi tertawa kecil menerima permen, "dimakan jangan?"


Alva menoleh tak percaya jika Asmi bertanya seperti itu, yang justru ekspresi itu membuat Asmi tertawa kecil, "santai pak. Ngga mungkin Asmi simpen terus pakein figura."


"Yuk atuh, mau sekarang?" tanya Alva.


"Sebentar aku bales dulu kang Agah," balas Asmi, yang langsung membuat Alva menghela nafas jengah, "meni jujur, neng." lirihnya bergumam menendang-nendang kerikil pelan. Lirikan mata Asmi geli ke arah Alva, cemburunya Alvaro menggemaskan, "katanya tadi disu----"


"Ya udah cepet atuh, tinggal bilang mau ke rumah Alvaro, udah gitu aja." tukas Alva jengkel.


Asmi menggeleng berniat usil, "ya engga gitu lah! Harus ada pembukaannya dulu..." Asmi berdalih dengan alibi yang membuat hati mirip disate.


"Dikira orang mau lahiran, pake pembukaan !" Alva mendengkus sebal.


"Dear kang Agah....." ucap Asmi melirik Alva sambil mengetik, meskipun yang ia ketik hanya kang saja.


Alva memalingkan pandangan ke lain arah, seolah sibuk memperhatikan semut yang lagi hajatan khitanan. Alisnya sedikit mengernyit karena menghalau sinar matahari.


"Akang tersayang, maafin dindamu ini kang...." ucap Asmi dengan tulisan, maaf saja.


"Yang ngga bisa bertemu setelah sekian lama menahan rindu yang bersarang," ucap Asmi lagi. Alva memutar bola matanya, kali aja nanti jadi gasing tengkorak.


"Karena tugas yang diemban dari kampus bersama sun go kong untuk menjaga kitab suci!" Asmi tertawa kecil. Alva ikut terkekeh dengan ucapan Asmi, ia disamakan dengan kera jejadian itu.


"Mungkin di lain hari kita bisa bertemu dan memadu kasih," ucap Asmi lagi.


"Prett ah!" jawab Alvaro mencibir.


"Salam, adindamu yang selalu merindumu Rashmi Sundari Kertawidjaja...." katanya lagi.


"Tamat. Dah, ayok!" ajak Alva menarik pergelangan tangan Asmi. Asmi benar-benar tergelak untuk itu, "apanya ih! Bersambung kaliii! Kan sampai bertemu di lain hari..."




Ia semakin erat dan posesif memeluk Alva, menumpukan dagunya di atas pundak arjuna berkuda besi.



"Kang, hubungan kita teh apa?" tanya nya.

__ADS_1



"Bebas." Singkat Alva tak ingin memusingkan dirinya sendiri.



"Ko bebas ih, pacaran, gebetan, hubungan terlarang atau cuma teman aja?"



"Penting banget ya?" Alva balik bertanya.



"Fajrin sama Elisa nanya terus, sebenernya Asmi ada hubungan apa sama akang kuman, penyesalan kah?!" tawa Asmi.



"Ngga usah di dengerin lah ucapan orang mah, anggap aja angin ken tut..."



"Bau atuh!"



"Senyamannya kamu aja anggap aku apa, apa artinya status pengikat kalo ujungnya nanti status itu bikin kamu atau aku merasa terbebani harus menjaga perasaan satu sama lain. Jangan jadikan hubungan kita ini beban buat kamu, dibawa enjoy aja....kamu anggap aku teman boleh, kamu anggap aku kekasih boleh, anggap kakak boleh, lebih dari itu juga boleh----"



"Kalo dianggap rumput liar boleh engga?" sela Asmi.



"Boleh lah terserah kamu aja," jawab Alva sudah tak aneh dengan ocehan absurd si menak ini.



"Yes! Jadi kalo ditanya Asmi lagi jalan sama siapa?! Asmi jawab rumput liar!" oceh Asmi.



"Tinggal tunggu aja nanti bermuara dimana...."lanjut Alva yang tadi sempat terjeda oleh ocehan unfaedah Asmi.



"Kirain tinggal tunggu aja dibawa ke KUA..." balas Asmi.



"Kamu belum mengenal aku sepenuhnya, aku pun begitu, aku ngga akan menjanjikan banyak hal yang kita sendiri belum tau ke depannya seperti apa Asmi, kalau ternyata nanti aku yang breng sek terus kamu ngga bisa terima itu, nanti kita sendiri yang sama-sama punya hutang karena udah janji....kita nikmati aja dulu masa-masa ini, hingga nanti bisa menentukan sikap." jelas Alvaro.



Asmi menggeleng, "jangan pergi." ia menciumi pundak Alva yang terbalut kaos dan kemeja.



"Semoga Asmi ngga jadi beban buat akang kuman," lirihnya lagi.



"Never." Balas Alva mengusap kembali tautan tangan Asmi di perutnya.



Putaran roda motor melaju begitu kencang menembus aktifitas lalu lintas yang sibuk, diantara racikan rasa tersemai madu manisnya asmara.



°°°°°°°



...*Rasa sayang memeluk menyeruak di dalam dada sebagai ajian rasa dan mantra cinta, Rashmi Sundari---tempat bersemayamnya kasih sayang*....



**Alvaro Karunasankara Ganendra**


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2