
Jangan lupa jejak cinta kalian gaeesss๐ค๐ค๐๐
Kita akan memasuki babak konflik rumit, bagaimana cara Kent keluar dari cengkraman masalah yang dia hadapi??
Yukk semangatin Kent supaya bisa bersatu dengan damai bersama Jess, yang berhasil mengambil alih semua rasa di hati seorang Kent Rahardjo.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Jess tersenyum lebar kala berhasil menyelesaikan kalimatnya dengan nada penuh percaya diri. Dia melihat kepulan asap mulai mengepul dari ubun-ubun wanita itu. Dia mulai mempelajari sesuatu. Wanita egois seperti Melisa, akan sangat mudah terpancing emosi meski untuk hal-hal kecil.
Seperti saat ini. Padahal wanita itu sendiri yang menyulut percikan api di atas tumpukan jerami kering. Namun sama sekali tak memiliki persiapan, untuk memadamkan api yang terlihat mulai berkobar.
Sungguh jiwa-jiwa picik yang menyedihkan. Memanfaatkan seorang balita demi kepuasan hati dan materi. Benar-benar ibu yang tak layak di sebut sebagai seorang ibu.
Jess memutar langkahnya, kembali melanjutkan langkah lebarnya dengan hati yang sedikit lega. Lega karena berhasil mengeluarkan sekelumit uneg-unegnya pada wanita sihir tersebut. Yang memanfaatkan putrinya demi mendapatkan perhatian Kent.
Sungguh dia tak peduli. Jess hanya ingin lekas enyah dari rumah itu, membawa seberkas luka basah di hatinya. Luka yang akan semakin menganga lebar oleh sikap Kent yang tak dapat Jess artikan.
Pria itu terlalu misterius baginya. Dan dia tak ingin terjebak oleh drama suami istri tersebut lebih jauh lagi.
Kent menatap punggung Jess hingga menghilang dari pandangannya. Dari ujung tangga lantai dua, Kent mendengar semuanya. Namun memilih diam tanpa suara.
Kent tak menyangka, wanita tak banyak bicara seperti Jess. Mampu membungkam mulut berbisa Melisa. Selama ini dia selalu stak kala Melisa sudah mulai dengan dramanya. Namun Jess justru lebih cerdik dalam hal bermain kata. Diam-diam Kent menarik kedua sudut bibirnya. Kekagumannya terhadap Jess kian bertambah setiap harinya.
Wanita yang tak pernah dia bayangkan akan menjadi istrinya. Wanita yang tak pernah dia impikan masuk ke dalam hidupnya yang rumit. Wanita yang tak pernah dia harapkan berada dalam lingkaran hitam, antara dirinya, Melisa dan Alissa putrinya.
Namun kini, wanita itu memiliki tempat teristimewa dalam hatinya. Melebihi puncak tertinggi yang ditempati oleh Eli sang anak semata wayang.
Kent berjalan menuju balkon kamar utama yang mengarah tepat ke halaman depan. Dapat Kent lihat bagaimana Jess yang terlihat tegar, kini tengah mengusap kedua pipinya dengan kasar.
Wanita itu menangis. Entah mengapa hatinya begitu sakit melihatnya. Sakit yang tak dapat Kent urai dengan kata-kata. Air mata yang sepintas dia lihat itu, begitu melukai relung hati terdalamnya.
__ADS_1
"Aku berjanji akan mengembalikan semua ke kondisi semula. Kau akan aku bebaskan dari ikatan tak sehat ini. Ku harap kelak kau menemukan belahan jiwa yang sesungguhnya. Bukan pria brengsek sepertiku." Gumam Kent dengan nada rendah. Kala menggumamkan kalimat tersebut, hatinya bagai disiram air keras. Perih tak terkira.
Setelah ini akan banyak PR yang harus dia hadapi. Kehadiran Melisa dan Eli yang tak pernah dia sangka, akan menjadi problematika baru untuk dirinya. Lebih lima tahun Kent mengelabui kedua orang tuanya tentang Melisa dan Eli.
Kini sepertinya takdir baik tak lagi menaunginya dari masalah pelik tersebut. Harus ada yang dia korbankan agar semua berjalan mulus seperti sedia kala. Entah itu Jess, atau Eli putrinya.
Di lantai bawah. Melisa berusaha menarik perhatian Kent dengan memasak makanan kesukaan pria itu. Rica ayam daun kemangi. Padahal Kent tak pernah menyukai masakan tersebut. Dia hanya pernah mengatakan menyukainya karena Melisa sudah terlanjur membuatnya kala dia sering berkunjung ke Bandung.
Dengan semangat empat lima, melisa berkutat di dapur kotor agar Kent kembali mencurahkan semua perhatian padanya juga Eli sepenuhnya. Meski Melisa selama ini selalu mengandalkan jsa seorang ART, berkutat di dapur bukanlah keahlian dan kesukaannya. Namun jika Kent berkunjung, Melisa akan totalitas sebagai seorang istri yang sempurna.
Jess baginya hanyalah debu, yang di usap maka akan lenyap dari kehidupan mereka. Kent pasti akan lebih memilih Eli putri mereka, daripada wanita yang baru saja dia kenal beberapa bulan ini. Begitulah pikir Melisa jumawa.
Klek
Eli terlihat senang kala mendapati sang ayahlah yang datang.
"Pa? Mama bilang papa akan mengajakku bertemu dengan nenek dan kakek. Apa benar? Lihat ini, baju princess mana yang cocok untukku pakai nanti malam." Kent terpekur.
Namun pria itu tetap tersenyum sembari menilik gaun yang di maksud oleh sang anak.
Kent terkekeh kecil melihat tingkah Eli yang lebih banyak menyerupai ibunya, Melisa. Tidak sabaran dan cenderung berbuat sesuatu tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
"Papa rasa ini cocok. Lagipula kita belum akan mengunjungi nenek dan kakek malam ini. Bagaimana jika kita bermain ke mall saja. Kau bisa bermain sepuasnya dan membeli koleksi boneka Barbie terbaru. Setuju princess?" Ujar Kent bernegosiasi dengan menjawil hidung pesek sang anak.
Eli terlihat cemberut. Ketika bangun tadi pagi, sang ibu sesumbar mengatakan jika sang ayah akan mengajak mereka berkunjung ke mansion orang tua ayahnya. Dalam benak Eli, mansion adalah semacam istana kerajaan yang besar dan indah seperti di negeri dongeng.
Begitulah yang di gambarkan oleh sang ibu. Sehingga Eli sangat bersemangat ketika mendengarnya. Namun kini terpaksa harus menelan kekecewaan karena sang ayah.
"Hei, kenapa cemberut hmmm? Ada lain kali oke? Nenek dan kakek sedang tak berada di rumah sekarang. Mereka berada di Swiss untuk sebuah perjalanan bisnis. Jadi kita tunda saja lain kali." Bujuk Kent menatap sang anak berharap Eli mau mengerti.
Eli terlihat sedang berpikir, kemudian mengangguk paham.
__ADS_1
"Mama bilang aku adalah cucu satu-satunya, jadi nenek dan kakek pasti akan sangat menyayangiku, bukan? Di rumah nenek aku bisa memilih kamarku sendiri ketika aku berkunjung ke sana. Seperti di sini, apa benar begitu pa?" Kent tak langsung menjawab.
Pria itu merutuki kelancangan Melisa yang telah menodai pikiran polos sang anak.
"Kita lihat nanti sayang. Di rumah nenek ada banyak kamar yang bisa kau tempati tanpa harus mengubahnya menjadi milikmu. Bukankah di sini kau sudah memiliki kamar yang cukup luas untuk tubuh mungilmu ini, hmmm?" Seloroh Kent berusaha memberikan pengertian pada sang anak.
Namun rupanya pengaruh Melisa sudah terlalu dalam, tanpa bisa Kent selami lagi. Anak itu tetap ngotot ingin merombak salah satu kamar di kediaman orang tuanya sesuai keinginannya. Sungguh Kent frustasi di buatnya.
"Aku tak mau tau pa, pokoknya aku ingin kamar yang lebih besar di sana nanti. Aku ingin membuatnya seperti kamar tuan putri. Papa bisakan, membuatnya untukku?" Rengek Eli menggoyangkan lengan sang ayah dengan nada manja yang memaksa.
Ini bagian yang paling Kent tak sukai. Kemanjaan Eli telah melampaui batas yang bisa dia toleransi.
"Papa tidak bisa berjanji Eli. Di sana bukan rumah papa, jadi semua terserah nenek dan kakek jika tak menyetujuinya nanti. Kau tak boleh memaksakan kehendakmu pada siapa saja, tanpa peduli dengan apa yang mereka inginkan. Itu tidak baik, Eli sayang." Nasihat Kent lembut.
Melisa yang sejak tadi menguping akhirnya masuk ke dalam kamar.
"Kent? Apa salahnya jika Eli ingin memiliki kamar pribadi di rumah orang tuamu? Dia putrimu, dan Eli berhak atas apa saja milik keluargamu termasuk mansion nenek kakeknya." Cerocos Melisa tak terima melihat Kent menolak halus permintaan sang anak.
Sungguh tipikal wanita tak tau malu seperti yang disindirkan oleh Jess sebelum pergi.
"Itu bukan rumahku, Melisa! Rumah itu milik kakakku karena di wariskan kepadanya. Aku tak memiliki hak apapun di sana termasuk mengusaai aset apapun, yang tak ada sangkut pautnya denganku. Aku harap kau sadar diri, untuk tidak menjerumuskan Eli dalam keserakahanmu itu!" Kent keluar dari kamar sebelum emosinya meluap.
Dia tak ingin bertengkar di hadapan sang anak. Selama ini Kent hanya akan menekan kalimatnya, jika hatinya sudah terlalu dongkol pada sikap diktator Melisa.
Kent membanting pintu ruang kerjanya dengan keras. Pria itu berusaha menahan luapan emosi sejak kehadiran Melisa di rumahnya. Namun sekarang menjadi semakin rumit, kala wanita itu mulai memprovokasi sang anak untuk terlibat serta dalam konspirasinya.
"Bukan tanggung jawab seperti ini yang aku maksudkan, Ren! Harusnya kau tak melakukan kesalahan dan meninggalkan sampah untukku daur ulang. Lihatlah? Aku tak berhasil menciptakan apapun dari sepahmu itu! Sampah itu sudah terlalu rusak parah, meski sudah ku tempa dengan permata sekalipun. Tak ada yang dapat merubahnya menjadi berharga walau satu sen pun." Umpat Kent menatap sebuah pigura di atas meja kerjanya dengan perasaan berkecamuk.
Ada kemarahan yang dia pendam, namun tak bisa Kent jelaskan apalagi melampiaskannya. Semua beban di pundaknya kini semakin berat. Kent di paksa keadaan untuk memikul tanggungjawab yang bukan kewajibannya. Dan kini pria itu sudah mulai kewalahan menghadapinya.
Kent ingin sejenak melarikan diri dari semua himpitan beban tersebut, namun tak ada celah lagi baginya untuk melangkah pergi.
__ADS_1
TBC
Lope lope para kesayangan buna Qaya ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ