Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
bab 48


__ADS_3

...I'am back again bestieh 🤭 😁 🤗...


...Komen n like gratis yaa😁...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Kent tiba di rumah dan mendapati sang istri tengah duduk santai bersama Eli dan Yuni serta bi Sum di taman samping.


"Bibik kok bisa seperti itu ya? kok Yuni tidak bisa? bi Sum curang pasti, ini..." ucap Yuni tak terima. Jess tersenyum geli melihat ekspresi Yuni yang tengah mengerucutkan bibirnya. Gadis itu kesal karena sejak tadi dia tak pernah bisa melawan bi Sum,dalam memain dua benda bulat menyerupai bola tenis dengan dua tali yang terhubung di dalamnya.


Apalagi kalau bukan mainan yang membuat para emak kadang geram dengan keberisikan suaranya. Lato-lato, mainan anak-anak hingga dewasa yang suaranya bikin rusak gendang telinga.


Bi Sum tersenyum jumawa, sembari kembali memperlihatkan kemahiran dalam memainkan benda tersebut.


"Bibik udah suhunya Yun, kau masih kecil mana paham." Bela Jess terkekeh kecil. Membuat bibir gadis itu semakin maju hingga 10 centimeter.


"Bibik kan udah katam sama lato-lato nya si bapak di kampung, Yun. Apalagi cuma ini mah, kecil." Ujar wanita paruh baya itu mesen-mesem sendiri.


Yuni bergidik dengan tatapan jengkel.


"Bibik por no ih, Yuni 'kan masih di bawah umur sama kaya non Eli." Sungut gadis itu kesal, membuat Jess dan bi Sum tertawa renyah.


Eli yang tengah asyik bermain plastisin pun ikut-ikutan tertawa, meski tak memahami apa yang sedang di tertawakan oleh para wanita dewasa tersebut.


"Tuhaan, tolong perlihatkan hilal jodoh hamba meski masih di ujung komplek. Paling tidak aromanya sudah bisa terendus dari sini. Nasib nasiiib, jadi jomblowati mah." Ratap Yuni dengan ekspresi sedih yang di buat sesedih mungkin.


"Khemmmm..." suara deheman berat membuat mereka terlonjak kaget seraya menoleh serentak.


"Papa!" seri Eli yang kembali dekat dengan sang ayah pasca kejadian beberapa waktu lalu.


Kent merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang anak ke dalam pelukannya.


"Eli main apa, hmmm?" tanya Kent lembut setelah berhasil menangkap tubuh mungil putrinya dalam gendongannya.

__ADS_1


"Tuh, Eli sedang membuat domba dan gembalanya." Tunjuk Eli sembari menjelaskan apa yang tengah dirinya buat. Kent tersenyum mendengar penjelasan sang anak, pria itu memberikan beberapa kecupan di wajah sang anak yang baru mulai dekat kembali dengannya.


Sungguh dia merindukan putrinya itu.


"Ayo kita menyapa bunda," ajak Kent berjalan pelan menuju tempat sang istri tengah duduk di atas karpet bersama bi Sum dan Yuni. Kedua wanita itu serentak bergeser menjauh, untuk memberikan ruang bagi sang tuan menghampiri istri tercintanya.


"Sayang, apa kabar kalian hari ini?" ucap Kent sembari mengecup kening sang istri dengan sayang. Tak lupa telapak tangan lebarnya mengusap perut sang istri yang sudah mulai membuncit.


"Kami baik papa, apa papa membelikan pesanan bunda?" tanya Jess sedikit memutar kepalanya untuk mencari sesuatu yang dia pesan pada sang suami.


"Ada dong, tuh papa taruh di atas meja makan. Ayo masuk, udah sore." Ajak Kent kemudian membantu Jess berdiri. "Bibik udah masak belum, tadi pagi aku pesan bistik daging tidak lupa 'kan?" lanjut Kent menatap pada sang ART.


Wanita paruh baya itu menepuk keningnya dengan ekspresi meringis. Kent tersenyum geli, dia yakin wanita itu pasti melupakan pesanannya. Entah mengapa dirinya begitu ingin makan malam dengan lauk bistik daging.


"Maaf tuan, si bibik lupa. Eh, tidak lupa sih. Dagingnya sudah bibik marinasi di kulkas, cuma lupa di masak saja." Ucap wanita itu menjelaskan dengan senyum cengengesan.


"Ih, si bibik gimana sih? masak kok bisa lupa, makanya jangan suka mainin tuh barang. Eror 'kan jadinya," ucap Yuni sewot. Semua mata tertuju pada gadis itu, membuat Yuni salah tingkah sendiri.


Rupanya gadis itu menyimpan dendam kesumat terhadap bi Sum karena mengalahkan nya dalam bermain lato-lato.


Sontak membuat kedua mata bulat Yuni melebar sempurna. Gadis itu sangat malu apalagi ada sang tuan di sana.


"Bibik ih, Yuni 'kan malu." Desis gadis itu misuh-misuh di samping bi Sum. Wanita itu malah tertawa renyah melihat tingkah Yuni seperti anak kucing yang merindukan sang tuan.


Setelah drama bistik dan lato-lato, Jess kini tengah menyiapkan pakaian kedua orang kesayangannya. Eli minta mandi bersama sang ayah, dan Kent tak keberatan. Pria itu sibuk memandikan Eli terlebih dahulu, agar dia bisa mandi bersama sang istri setelahnya. Begitulah rencana licik Kent.


"Papa kenapa tidak ikut mandi sama Eli?" tanya gadis itu polos.


"Hmmmm, papa kesulitan menggosok punggung papa sayang. Hanya bunda yang bisa melakukannya," elak Kent tersenyum kikuk.


Eli kecil hany mengangguk paham sembari ber O ria.


"Loh? papa tidak ikut mandi sama Eli?" tanya Jess yang keheranan melihat Kent yang masih kering kerontang.


"Papa bilang tidak bisa gosok punggung sendiri, bun." Sahut Eli cepat. Kent mengerling penuh arti, membuat Jess mengesah pasrah. Akan sangat lama ritual mandi dan gosok punggung ala sang suami tercinta.

__ADS_1


"Sini bunda bantu pakaikan baju," ujar Jess menghampiri sang anak yang terlihat kesulitan mengancingkan dress nya.


"Wanginya anak bunda, anak siapa sih ini hmmm?" ucap Jess sedikit menggelitik perut sang anak.


Membuat Eli terkikik kegelian.


"Anaknya Bunda Jess yang cantik dong, sama papa Kent yang tampan." Sahut Eli polos. Kejujuran seorang anak kecil mampu menembus dinding hati sekeras apapun. Sangat mengherankan, Melisa tak dapat melihat ketulusan sang anak di balik wajah polosnya.


"Makasih sayangnya bunda yang juga tak kalah cantik dari princess manapun." Balas Jess memeluk sayang putri sambungnya tersebut. Tak peduli siapapun ibunya, namun Jess yakin jika darah sang kakak mengalir di tubuh Eli. Kontur wajah Eli sangat serupa dengan mendiang kakaknya, itu terlihat sejak pertama kali Jess melihat gadis kecil itu.


Kent mengusap sudut matanya yang mulai basah, momen seperti inilah yang dia inginkan sejak dulu. Sayang Melisa tak bisa merubah sikapnya, padahal Kent sudah berusaha menerima wanita itu sebagai istrinya meski tak ada rasa.


Namun Kent bersyukur, dengan begitu dia tak perlu terjebak dalam hubungan rumah tangga yang toxic bersama Melisa.


"Eli sudah cantik, sekarang giliran bunda yang mau mandi terus make gaun cantik seperti Eli. Eli turun duluan ya, sama sus Yuyun." Ucap Kent mulai melancarkan akal bulusnya.


Jess menggeleng pelan melihat sang suami berusaha membujuk sang anak untuk pergi secara halus.


Eli kecil hanya mengangguk patuh, gadis kecil itu keluar kamar orang tuanya sambil bersenandung kecil.


Kent lekas mengunci pintu kamar, lalu menyeringai ke arah sang istri.


"Yuk, giliran bundanya anak-anak yang harus mandi supaya semakin cantik. Apalagi kalau tidak memakai apapun," ucap Kent dengan tatapan mesum.


Jess bergidik ngeri, wanita itu berjalan duluan ke kamar mandi untuk menghindari sang suami. Namun langkah lebar Kent mampu mencapai daun pintu kamar mandi terlebih dahulu. Jess mengesah pasrah, apalagi saat Kent mulai mengangkat tubuh kecilnya ke dalam kamar mandi.


Ritual menggosok punggung pun dimulai. Bisa di pastikan akan selesai bertepatan dengan waktu makan malam. Untung saja Queen sudah pindah alam, ke kediaman orang tunua. Jika tidak, wanita itu pasti akan mengomel karena harus menunggu pasangan tersebut.


Sedangkan Si bule mesum, pria itu sudah dua hari tak pulang. Kent tak ambil pusing, sepupunya sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri di luar sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Jangan lupa jejak petualang kalian ya gaesss 🤗🥰🙏

__ADS_1


Lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍


__ADS_2