
Sebelum bab ini ada bab sebelumnya, tpi di yolak sama Ntun, jadi mohon maaf jika ceritanya sedikit tidak nyambung 🙏🙏🙏
...----------------...
Di suatu tempat, seorang wanita menatap sengit ke arah bayi yang terus menangis di hadapannya itu. Tatapan kebencian tersirat dalam di netra wanita itu.
"Bisa diam tidak! dasar bayi sialan, mengganggu saja." Teriak Melisa pada bayi mungil tersebut.
Dia baru saja selesai melayani pelanggan kedua hari itu di kamar apartemennya. Rumah pemberian Kent telah dia jual demi memenuhi kebutuhan hidup nya yang tak sesuai dengan kemampuan. Kini dirinya berkahir di sebuah apartemen murah dengan satu kamar ukuran tak lebih dari 3x4 meter.
Tangis bayi itu semakin kencang. Jelas saja, bayi itu kelaparan. Sumber kehidupan nya telah Melisa berikan pada para pria haus belaian yang membutuhkan jasanya.
Bayi Melisa terlihat sangat memperhatinkan. Bayi itu jelas mengalami gizi buruk akibat sering di cekoki obat tidur tanpa takaran dosis yang benar. Dan lagi tak seharusnya bayi di berikan obat tidur. Hanya Melisa lah, ibu paling biadab di dunia ini yang tega melakukan nya.
Melisa meraih pompa ASI, wanita itu berusaha mengeluarkan sisa-sisa air kehidupan itu dari sumbernya meski hanya beberapa tetes saja.
Melisa baru saja melayani pelanggan ke duanya, dan dua-duanya begitu rakus melahap sumber kehidupan sang anak tanpa ampun. Melisa bahkan sampai meringis menahan perih dan ngilu, karena setiap pelanggan nya selalu gemas dengan isi da danya yang mengembung akibat terisi penuh oleh ASI.
"Ini, pegang sendiri aku lelah!" tukas Melisa menghempas kasar botol susu di atas mulut sang anak. Bayi tersebut menggunakan insting nya untuk meraih botol susu nya meski hanya sekedar saja.
Melisa memilih langsung tidur di atas kasur yang masih berantakan dan menyisakan aroma-aroma dosa. Sementara sang anak di baringkan di dalam sebuah keranjang pakaian begitu saja dengan beralaskan sebuah kain tipis.
Padahal popok bayinya sudah penuh, namun Melisa enggan mempedulikan nya. Karena begitu kelelahan, Melisa langsung tertidur begitu saja tanpa peduli pada tangisan bayinya lagi.
"Pak, kok seperti ada suara tangisan bayi? apa ada kuntilanak anak ya di apartemen ini? ternyata ini alasan daddy menyerahkan proyek renovasi apartemen ini padaku. Rupanya di sini banyak setannya, iiiiihhhh!" ujar seorang pria bergidik ngeri. Pria itu kebetulan baru saja memenangkan tender untuk merehab apartemen tersebut. Jadi kini dirinya melakukan olah lokasi yang akan dia bangun ulang. Seluruh penghuni apartemen di relokasi ke sebuah perumahan kelas menengah sesuai kemampuan masing-masing.
"Bukan tuan, di apartemen sebelah sana itu ada seorang wanita dengan seorang bayi yang baru berusia bulanan gitu. Kasihan sekali bayinya, sering di tinggal sendirian sama ibunya di dalam rumah menurut cerita para tetangga di sini." Cerita pria itu menjelaskan.
"Lah, kok bisa? memangnya ibunya kemana? masa bayi di tinggal sendirian, ibunya gila apa gimana?" sahut si pria penuh keterkejutan.
"Biasa tuan, mencari mangsa yang kurang kasih sayang." Seloroh si pria bernama Boni tersebut. Pria itu merupakan pengurus apartemen yang juga bertugas membantu dalam proses renovasi apartemen tersebut.
"Wih, fix ibunya memang tidak waras! eh, tapi ngomong-ngomong itu suara tangisan nya sekencang itu memang ibunya tuli? masa tidak mendengar nya sedangkan kita di luar saja mendengar dengan jelas." Timpal pria itu lagi semakin di dera rasa penasaran.
"Udah biasa tuan. Bukan tidak dengar, tapi kelelahan sepertinya. Lihat pria perut buncit yang berpapasan dengan kita di depan lift tadi?" si pria mengangguk pelan.
__ADS_1
"Nah, itu salah satu pelanggan nya. Mungkin lelah karena baru saja menyusui bayi bangkotan, jadi bayi kecilnya sampai di lupakan." Terang Boni sedikit terkekeh.
"Dasar wanita gila!" umpat pria itu kesal. Sebejad-bejadnya dia, tak tega rasanya mendengar suara tangisan tersebut terus berkumandang seolah meminta pertolongannya.
"Pak Boni, kita dobrak saja pintunya. Saya khawatir sama bayinya," ucap si pria tiba-tiba menghentikan langkahnya. Membuat Boni mengerutkan keningnya heran sekaligus terkejut.
"Tapi tuan, saya tidak ingin terlibat masalah dengan wanita galak itu. Bisa berabe hidup saya, wanita itu nekat. Bisa jadi dia mengatakan kita sedang berusaha melecehkan nya lalu meminta ganti rugi. Tidak tuan, saya ogah menambah beban hidup. Mending pura-pura tidak dengar saja, mari tuan kita pergi saja dari sini." Ucap pria itu menolak tegas.
Namun si pria tadi tetap pada keputusannya. Dengan dua kali tendangan, pintu terbuka lebar, suara tangis semakin terdengar nyaring.
Dengan langkah lebar, pria itu menuju ke sumber suara. Kedua matanya terbelalak kala melihat pemandangan yang sungguh membuatnya serasa terserang diare mendadak.
Di mana seorang wanita tengah berbaring telentang dengan kedua kaki menjuntai kelantai, tanpa mengenakan sehelai kain pun di tubuh nya. Lalu si pria menoleh pada sebuah keranjang pakaian berwarna merah.
"Astaga! wanita ini memang sudah gila, bagaimana bisa di meletakkan bayinya seperti meletakkan pakaian kotor." Dengan sedikit kaku si pria mengangkat bayi tersebut, namun merasa kan tubuh bayi itu rupanya sangat basah hingga mengenai kepalanya.
"Kau memang bukan manusia Melisa. Akan ku buat kau menyesal telah memperlakukan anakmu seperti ini. Ayo sayang, aku akan membersihkan mu dahulu, setelah itu kita ucapkan selamat tinggal pada wanita gila itu." Ucap pria itu pada si bayi.
Setelah selesai membersihkan bayi tersebut, Sadam membalut tubuh si bayi menggunakan jasnya. Karena tak Sadam lihat ada kain lampin bersih di sana. Hanya ada tumpukan pakaian kotor yang sudah seperti gunung Himalaya.
"Ck, saya menyelamatkan nyawa bayi malang ini dari wanita Dajjal di dalam sana. Pak Boni tak ingin cuci mata terlebih dahulu?" ucap Sadam mengerling. Ya pria itu adalah Sadam. Karena tuntutan sang ayah, akhirnya Sadam terpaksa menerima tantangan untuk merenovasi apartemen tersebut, sebagai proyek pertama yang akan di tangani.
Jika tidak, Sadam di ancam akan di coret dari kartu keluarga. Dan akan di blacklist dari semua aset milik keluarganya. Meski tak kekurangan keuangan, Sadam tak rela jika harta keluarga nya di kuasai oleh adik sang ibu yang serakah itu.
Namun kini takdir rupanya ingin bermain-main dengan sang Casanova kelas kakap itu. Sadam kembali di hadapkan dengan wanita yang pernah berbagi kehangatan dengannya.
"Cuci mata bagaimana tuan?" tanya Boni memperlihatkan tampang bodoh nya.
"Coba saja cek ke dalam kamar di dalam sana, di jamin pak Boni akan langsung minta pulang setelah nya. Atau bisa jadi ingin mengolah apa yang pak Boni lihat." Ujar Sadam menyeringai penuh makna.
Dengan polos nya, Boni mengikuti instruksi Sadam yang jelas-jelas akan menyesatkan nya.
Sedangkan Sadam terus mendekap tubuh mungil yang terlihat kurus tersebut dengan perasaan yang entahlah. Pria itu menatap manik bening tak berdosa itu dengan tatapan penuh kasih. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Sadam yang penuh kebebasan, dirinya merasakan perasaan aneh tersebut.
"Aku akan merawat mu princess, tenang saja. Mulai sekarang kau adalah putriku, dan namamu..." Sadam terdiam sejenak, pria itu tengah berpikir untuk memberikan nama pada bayi Melisa itu. Yang kini telah dia klaim sebagai anaknya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Shakila Sadam? Aku akan memanggil mu Kila, apa kau menyukainya?" tanpa di duga, bayi mungil itu tersenyum manis. Sungguh hati Sadam langsung meleleh di buat nya.
Sedangkan di dalam apartemen, Boni masih menatap tubuh polos Melisa tanpa berkedip. Entah apa yang pria matang itu pikirkan, yang jelas ada sesuatu yang mendesak di bawah sana untuk meminta di legakan saat itu juga.
"Ck, ini semua gara-gara ulah tuan Sadam. Dasar bos jahanam, bisa-bisanya dia menjerumuskan ku dalam dosa seperti ini." Gerutu pria itu kesal sendiri. Sedangkan Melisa seperti mayat hidup. Wanita itu kelelahan. Sejak semalam dirinya tak berhenti untuk melayani pelanggan nya. Dan mulai pagi hingga menjelang siang, Melisa sudah menerima dua pelanggan lagi.
Terang saja tubuhnya babak belur dalam peluh dosa, hingga membuatnya lemas tak berdaya.
Sadam rupanya memilih menunggu di dalam mobilnya, pria itu baru saja membeli kebutuhan bayi di minimarket depan gedung apartemen. Ada sepasang baju bayi juga selimut hangat,yang kebetulan dia beli di toko yang ada di samping minimarket.
"Sekarang kau sudah hangat bukan? tunggu sebentar oke, paman Boni sedang menggarap sawah di atas sana. Doakan saja agar paman Boni tak menabur benih nya di lahan basah ibumu. Atau kau akan punya adik lagi, itu akan menjadi bencana dahsyat. Daddy tak akan sanggup menjadi ayah sekaligus ibu untuk satu bayi lagi." Celoteh Sadam pada bayi mungil itu.
Sungguh percakapan yang melanggar kode etik perbayi_an. Sadam terus berceloteh panjang dengan kalimat-kalimat ngaur, sedangkan Boni terlihat keluar dari elevator dengan wajah bersinar secerah mentari diluar gedung apartemen.
Tok tok tok
Sadam menurun kan kaca jendela mobilnya. Sebenarnya bisa saja pria itu langsung membukakan pintu mobilnya, namun Sadam sedikit iseng ingin mengerjai bawahannya tersebut.
"Tuan, anda baru saja mendorongku masuk ke dalam neraka." Sungut Boni dengan wajah kesal.
"Eh, bukankah kau baru saja mencapai nirwana? lalu di mana letak kesalahanku? lihatlah, aku bahkan rela mengurus bayi malang ini agar kau bisa dengan leluasa menggempur ibunya di atas sana. Katakan, berapa tembakan kau berikan? menurut perhitunganku, kau pasti melakukan tembak dalam di menit ke 10 hingga ke 13. Apa aku benar?" ujar Sadam menggoda Boni membuat pria itu mendelik dongkol.
"Berhentilah berbicara ngaur di hadapan bayi tuan, mari kita pergi. Ah ya, wanita itu bahkan tak menanyakan keberadaan bayinya ketika melihat keranjang kosong yang tergolek di atas lantai. Sungguh wanita mengerikan," komentar Boni bergidik.
"Ck, biarpun begitu kau baru saja berbagai kasih sayang dengan nya. Ayo kita pergi, bayi ini akan menjadi bayiku mulai sekarang. Dan wanita itu tak akan pernah memiliki hak atasnya di kemudian hari. Atau ku cabik-cabik lubang usahanya menggunakan celurit." Ujar Sadam terlihat geram.
Sedangkan Boni menatap ngeri bosnya lalu melirik bayi yang ada di jok belakang. Entah bagaimana nasib bayi malang itu memiliki ayah seperti Sadam. Ibarat lepas dari kandang singa, masuk ke kandang buaya. Sungguh miris batin Boni meringis iba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Semoga clue-nya bisa terbaca dari sini ya gaesss, anak kecil yang di tinggalkan di pos satpam rumah Barata di masa lalu.
Yuk main tebak-tebakan dulu bestieh, untuk mengasah kemampuan kognitif kita masing-masing 🤭😁
__ADS_1
terlope lope lah para kesayangan buna Qaya 🤍🥰🤍