
Satu bab dulu menyapa akhir pekan kalian yaa gaess, othor sedang ada sedikit kegiatan ππ€
Jangan lupa tinggalkan komen kalian supaya othor update tar malam π
πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»
Matahari menyapa malu-malu dari balik gorden. Sepasang suami istri masih bergelung dalam selimut saling memberikan pelukan yang menghangatkan.
Kent sebenarnya sudah terbangun, namun melihat bagaimana Jess memeluknya dengan erat. Kent memilih memejamkan kembali kedua matanya. Kapan lagi merasakan pelukan hangat wanita itu. Anggap saja dia sedang memanfaatkan keadaan, namun kesempatan seperti ini sangat langka untuk bisa dia dapatkan.
Di dapur, Kevin terlihat gelisah. Kebetulan hari itu adalah akhir pekan, jadi dia tak pergi ke sekolah. Namun dia dan Ben tetap keluar untuk mengantar kue sang ibu ke pusat perbelanjaan, di mana mereka menitipkan jualan tersebut.
"Woi! Kenapa sih, celingak-celinguk seperti anak gadis lagi M. Takut bocor apa gimana? Gelisah amat dari tadi? Heran." Tegur Ben menepuk pundak Kevin cukup keras.
Pemuda itu menatap ke arah Ben dengan tatapan membunuh.
"Wuihhh, san bro san...ngeri amat sih tatapannya." Ujar Ben semakin memancing rasa kesal di hati Kevin.
"Bisa diam tidak! Berisik banget kaya banci di lampu merah." Ketus Kevin melempar potongan wortel ke arah Ben. Untung saja Ben cukup gesit, sehingga potongan wortel tersebut tak meninggalkan benjolan di bagian wajahnya.
"Kevin kenapa?" Tanya Yulia heran. Gadis itu sejak tadi hanya diam melihat bagaimana Kevin yang terlihat gelisah di dapur. Kevin berlalu begitu saja dari area dapur entah kemana.
"Biasa, herdernya kak Jess. Gelisah dia, kakak ipar nginep di sini semalam." Jawab Ben melanjutkan memotong bahan sayuran untuk membuat sup ayam sembari terkekeh lucu.
Yulia mengangguk paham. Kevin memang tak menyukai kakak ipar mereka. Oleh sebab itu Kevin begitu resah dengan keberadaan Kent di sana. Pemuda itu takut jika kakaknya menaruh harapan tinggi, akan kehadiran pria itu dalam hidupnya terlalu lama. Kevin tak ingin Jess terluka.
Harapan sederhana seorang adik bagi kakak yang sangat dia sayangi.
Sedangkan di kediaman Kent. Melisa terlihat baru saja pulang. Eli berlari menyongsong sang ibu, gadis itu sudah terlihat lebih ceria dan sehat.
"Mama!" Seru Eli merentangkan kedua tangannya, namun Melisa menepis tangan kecil Eli dan berlalu begitu saja. Kedutan di bibir Eli terlihat jelas. Gadis kecil itu tengah menahan tangisannya.
Yuni yang melihatnya lekas mendekati Eli terlihat sangat sedih.
"Non Eli di sini? Sus Yuyun cariin juga, kirain lagi main di samping kolam. Sampai sus kira non Eli kelelep air kolam tadi. Yuk kita makan puding kesukaan non Eli, udah sus siapin di piring. Ada jus strawberry juga, yuk!" Eli melebarkan senyuman.
Anak-anak seusia itu memang sangat polos. Mereka bagai selembar kertas putih tanpa noda. Kertas itu akan membentuk pola sesuai coretan yang di buat oleh pemilik kertas tersebut.
Begitupun Eli kecil. Watak Eli terbentuk bagaimana sang ibu mentatarnya sesuai kehendak yang wanita itu inginkan. Jadilah Eli yang manja, cengeng dan sesuka hati. Melisa memanjakan gadis kecil itu agar tak merepotkannya.
Eli kecil akan bungkam, jika semua keinginannya terkabul. Dan Melisa bisa menjalani hari-harinya tanpa gangguan rengekan Eli yang membuat kepalanya pusing.
"Yun? Nyonya Melisa sudah pulang?" Tanya bi Sum yang baru saja selesai membersihkan daging di wastafel belakang.
__ADS_1
"Sudah. Itu daging di simpan langsung ke freezer di dalam gudang penyimpanan makanan. Sisain sayur kangkungnya saja, sama sambel terasi di tudung saji. Eh, ikan kering boleh deh. Anggap aja kita sodakoh amal buat nyonya dajal itu. Untung-untung di hitung sama malaikat, karena yang makan dosanya udah bekarat." Cerocos Yuni lekas memasukkan potongan daging ke dalam toples kontainer penyimpanan.
Bi Sum hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan absurd gadis tersebut.
"Kau ini, Yun Yun!" Ucap bi Sum terkekeh lucu.
"Wanita seperti majikan kita itu, tak baik jika makan daging. Bisa-bisa saban hari mulutnya seperti bon cabe, auto keluar asap mulu telinga dengar omongan yang tidak beretika dari mulut nyonya Melisa. Omongannya selalu pedes, pengen tak tabok pake balok es biar adem." Tukas Yuni penuh semangat.
Kedua wanita itu bergibah ria di depan Eli yang sedang asyik menikmati puding miliknya. Tanpa tau jika sang ibulah yang menjadi topik hangat kedua orang tersebut.
πΈπ»
πΈπ»
Jess menggeliat kala mendengar ketukan pintu. Kent pun berpura-pura baru terbangun. Sesaat Jess menghentikan pergerakannya ketika melihat bagaimana posisinya saat ini.
Jess menyadari jika tangannya melingkar erat memeluk tubuh Kent. Dengan cepat Jess melepaskan belitan tangannya.
"Dasar pencuri kesempatan!" Dumel Jess masih terdengar jelas oleh Kent.
Pria itu berusaha keras menahan tawa.
"Kau yang memelukku bukan aku yang memelukmu. Bagaimana bisa kau menuduhku mencuri kesempatan?" Sanggah Kent mengelak. Padahal dialah yang mengeratkan pelukan tangan Jess ke tubuhnya. Agar wanita itulah yang menjadi tersangkanya.
"Maaf, lain kali aku akan langsung mengikat kedua tanganmu di tubuhku." Jawab Kent nyeleneh.
Jess mendelik kesal mendengar kalimat menyesatkan tersebut.
"Mau langsung mandi? Aku siapin baju dulu. Mau pakai pakaian yang bagaimana? Dress atau setelan?" Tanya Kent penuh perhatian.
Kent beranjak menuju sebuah lemari kayu yang lumayan besar. Ada tiga pintu, dan di tengahnya adalah lemari pakaian gantung.
"Daster saja. Ada banyak di gantungan lemari tengah." Balas Jess mulai terbiasa dengan sikap Kent yang tak suka di bantah.
"Warna? Motif apa?" Tanya Kent lagi. Pria itu tengah memindai isi lemari gantung Jess. Tak ada dress mahal di sana. Hanya ada beberapa dress murah untuk ke gereja, dan di sebelahnya beberapa gantungan daster yang lebih mendominasi.
Hatinya mencelos. Isi lemari Melisa saja bertumpuk dengan pakaian mahal. Belum lagi yang sudah tak terpakai. Wanita itu menaruhnya di gudang begitu saja.
Namun Jess sangat berbeda. Dress yang dia lihat saat ini bahkan sudah ada beberapa yang memudar warnanya. Rasa sesak kembali hadir menguasai relung hati terdalamnya.
"Belum ketemu?" Ujar Jess berhasil membawa kesadaran Kent kembali. Dengan cepat pria itu meraih daster berwarna putih hitam bermotif batik.
"Yang ini?" Tunjuk Kent memperlihatkan daster ditangannya.
__ADS_1
Jess hanya mengangguk tanpa kata. Memikirkan mandi di bantu oleh Kent, membuat Jess sedikit dongkol.
"Udah siap'kan?" Lagi, Jess hanya mengangguk pelan. Kent mengangkat tubuh Jess menuju kamar mandi. Tidak ada bathtub seperti di rumahnya, hanya ada bak penampungan dengan gayung sebagai wadah menimba air.
Kent harus mulai terbiasa dengan kehidupan sederhana sang istri. Membaur akan lebih memudahkan Kent untuk meraih hati Jess sepenuhnya. Begitulah pikir Kent sederhana.
Selesai mandi yang mendebarkan bagi keduanya, Jess kini sudah bersiap untuk ikut sarapan pagi. Entah siapa yang mengetuk pintu kamarnya tadi, karena Kent tak membukakan pintu kamar mereka.
Terlihat ibu Maria sudah duduk di meja panjang bersama anak-anak yang lain. Jess duduk di kursi yang di siapkan oleh Yulia. Kent duduk di samping istri nya meski harus menerima tatapan penuh permusuhan dari Kevin.
Selesai sarapan, Kent dan Jess duduk bersama Bu Maria di teras samping. Melihat anak-anak yang tengah bermain kemah kemahan di sana. Hari Sabtu anak-anak tidak bersekolah. Program full day school, membuat mereka bisa menikmati hari libur selama dua hari.
"Kau tidak membawa baju ganti nak Kent?" Suara bu Maria memecahkan keheningan diantara mereka. Kent menoleh sejenak kemudian melirik pakaian yang dia kenakan. Pria itu masih menggunakan celana kain dan Hem kemarin. Tadi pun Kent tak mandi, hanya membersihkan sebagian tubuhnya yang di rasa perlu untuk di bersihkan.
"Tidak sempat bu, aku sudah meminta Adit membawakan aku baji ganti dari rumah. Sebagian akan aku simpan di sini saja agar memudahkan jika aku dan Jess menginap." Sahut Kent menatap sang istri yang seolah tak mendengar perkataannya.
Wanita itu terlihat fokus memperhatikan anak-anak yang tengah membangun tenda bersama Kevin dan yang lain.
Bu Maria memperhatikan putrinya yang nampak acuh, wanita itu tau jika sang anak pasti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Jess? Apa kau mendengar perkataan suamimu nak?" Jess menoleh kemudian mengangguk.
"Aku mendengarnya bu, aku hanya sedang fokus pada adik-adikku sejenak. Lihatlah, mereka terlihat sangat gembira. Padahal hanya berkemah dengan tenda bongkar pasang di halaman rumah. Aku jadi merindukan masa kecilku dulu, ayah selalu melakukan hal yang sama setiap kali akhir pekan di sore hari." Cerita Jess mengenang kenangan bersama mendiang ayahnya.
Bu Maria tersenyum sendu. Dia pun merindukan suaminya. Namun wajah sendu itu lebih kepada rasa sedih karena Jess terus-menerus berkata sebuah kebohongan. Demi menutupi masalah yang tengah putrinya itu hadapi.
"Ayahmu memang tak mudah untuk di lupakan. Setiap hari rasanya seperti baru kemarin. Ibu pun sering menyebutkan nama ayahmu, kala ingin mengambil sesuatu yang sulit di jangkau. Di setiap sudut rumah ini penuh kenangan akan dirinya, ibu sampai di buat merana setiap kali mengingat bayangan ayahmu yang berseliweran di mana-mana." Ucap Bu Maria terkekeh kecil.
Wanita itu menahan getir di dalam hatinya.
Suaminya adalah suami yang luar biasa, menerima dirinya yang sudah tak sempurna. Wanita dengan masa lalu yang rusak namun di poles sedemikian rupa hingga menjadi permata berharga.
Jess menggenggam tangan sang ibu dengan lembut. Menyalurkan kekuatan dan rasa yang berusaha dia pendam.
Kent menatap haru adegan ibu dan anak tersebut. Hatinya berdesir hangat, melihat bagaimana kasih sayang tulus terjalin meski tanpa hubungan darah yang mengikat.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
...----------------...
Tinggal kan komen ya gaesss, semoga nanti malam othor khilaf π€
Hari ini othor ingin menjadi istri yang penuh bakti, dengan membantu suami tercinta menjadi kuli bangunan π₯°
__ADS_1
lope lope para kesayangan buna Qaya π€π€π€