
"Seperti nya kau terlalu percaya diri nona tanaman liar!" Suara seorang wanita tiba-tiba menyela pembicaraan tersebut.
"Siapa kau? kenapa menyela pembicaraan orang lain dengan tidak sopan nona?" ketus Flora tak suka.
"Terserah padaku, ini bukan rumah sakit milikmu. Jadi semua orang memiliki hak yang sama untuk berbicara, asal bukan merampok suami dari salah stau pasien di rumah sakit ini. Itu jelas salah. Hanya wanita murahan yang mampu melakukan nya." Tandas Queen menyeringai.
Ya, wanita itu adalah Queen. Pesawat nya baru saja mendarat dan dirinya langsung bergegas menuju rumah sakit kala mendapatkan kabar dari sang sepupu.
"Apa maksud anda nona? bicara anda sangat lancang sekali!" Tukas Flora merasa tersinggung.
"Tidak! aku hanya sekedar mengemukakan pendapat ku, jika menggoda suami wanita lain adalah perbuatan yang tercela dan memalukan. Kenapa kau terlihat marah? apa kau sedang melakukannya nona?" balas Queen membalikkan pertanyaan menohok.
Flora terlihat pias, pertanyaan wanita di hadapannya sama saja menjebaknya ke dalam jurang maut.
"Bukan urusanmu nona! kau tak berhak menghakimi orang lain sesuka hatimu. Itu bukan kapasitasmu untuk berkomentar sesadis itu." Tekan Flora yang nampak terpojok.
Sedangkan Kent hanya terdiam menyimak perdebatan sang kakak. Dirinya sedikit terkejut dengan kehadiran Queen yang tiba-tiba, namun Kent bersyukur karena Queen hadir di saat yang tepat.
"Tentu menjadi urusan ku jika kau berniat untuk merusak ketentraman rumah tangga adikku. Jadi ku sarankan kau menjauh dari masalah sebelum masalah itu menarikmu masuk hingga ke dasar bumi paling tepi. Aku tak akan segan-segan mengulitimu hidup-hidup jika kau berani menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil adikku ini. Bukan hanya karirmu yang hancur, tapi juga seluruh kehidupanmu akan aku buat lebur tak bersisa." Pungkas Queen sadis.
Flora tercengang, wanita yang kini tengah berdebat dengannya ternyata adalah kakak dari pria yang sedang dia incar saat ini. Flora mengutuk ketidaktahuan nya mengenai siapa saja keluarga pria itu selain kedua orang tuanya.
"Kau?...maafkan aku nona, aku...aku tak bermaksud lancang terhadap mu. Aku hanya ingin meminta kejelasan hubungan ku dan Kent yang sudah terjalin cukup intim, beberapa waktu belakangan ini. Kami sudah terlalu jauh melangkah dan Kent harus bertanggungjawab atas perbuatannya." Terang Flora memulai aksi penuh drama.
Kent melotot panik, apalagi mendapati tatapan tajam dari sang kakak. Pria itu tak menyangka jika Flora rela menjatuhkan harga dirinya demi mendapatkan empati dari sang kakak.
"Hentikan Flora! tak ada hubungan yang semacam itu, jangan mengarang terlalu berlebihan. Lagipula kau yang datang untuk menggodaku setiap waktu." Bantah Kent tak terima dengan pengakuan Flora yang menurut nya terlalu di lebih lebihkan.
"Dan kau sama murahannya seperti wanita ja lang ini? aku tak tau apa yang kau pikirkan sampai kau menggulingkan martabat dirimu untuk menyentuh wanita lain. Sumpah demi apapun, aku benci pengkhianatan dalam bentuk apapun. Dan kau sudah sangat keterlaluan, Kent Raharjo." Desis Queen geram.
Wanita itu mengayun kepalan tinjunya tepat ke perut sang adik dengan amarah memuncak. Kent meringis menahan sakit sedang kan Flora memekik kaget. Wanita itu bergerak untuk menolong Kent namun seseorang menepuk bahunya.
Atensi Flora teralihkan, dan....
__ADS_1
Plak! plak!
Dua kali tamparan tanpa perasaan menyapa pipi mulus Flora. Wanita itu membelalakkan matanya menahan rasa perih juga keterkejutan yang cukup membuat nya syok.
Seorang gadis muda menamparnya dengan memperlihatkan seringai menakutkan.
"Kau ingin menjadi seorang pahlawan nona? oh sayang sekali, aksi heroik mu harus terhenti oleh telapak tangan mulusku. Bagaimana rasanya nona? cukup untuk membuatmu mundur dan jera? atau masih belum cukup untuk membuatmu sadar jika sekarang nyawamu sedang berada di tepi jurang." Tukas gadis tersebut menatap Flora dengan tajam.
"Kau? siapa kau sehingga berani menyakiti ku seenaknya hah?!" bentak Flora tak terima karena telah di tampar oleh orang yang sama sekali tidak dia kenali.
"Aku?" tunjuk si gadis menunjuk hidung mancungnya. "Aku adalah malaikat maut mu jika kau masih berani menjadi iblis penggoda dalam kehpidupan kakakku." Tandas Silvia menyeringai puas.
Silvia adalah adik dari Sadam. Gadis yang memiliki sifat keras kepala juga bar-bar tersebut, rupanya ikut serta dengan sang kakak sepupu untuk membasmi hama perusak seperti Flora.
Sedangkan Flora semakin terpojok, mendapati dua orang wanita tengah menatapnya sengit.
Kent? pria itu berusaha untuk tetap berdiri tegak setelah mendapatkan hadiah kecil dari sang kakak.
"Lain kali lihat dan telusuri terlebih dahulu calon targetmu nona gulma. Karena jika kau salah memilih calon korban, kau akan terjebak dalam permainan mu sendiri. Terlebih jika pria itu memiliki saudari perempuan seperti kami." Tukas Silvia.
Bug!
Harapan Kent rupanya sia-sia belaka. Nyatanya sang adik malah memberikan Bogeman mentah di pipi kirinya.
"Kau memalukan kak!" desis Silvia mengeram emosi. "Bagaimana bisa paman membesarkan bajingan sepertimu. Kau merusak garis keturunan kita dengan kelakuanmu yang," Silvia menjeda kalimatnya, suara helaan nafas panjang Silvia membuat tengkuk Kent semakin meremang.
"Perbuatanmu yang Wow! kau sukses mengoles arang di wajah paman dan bibi tanpa menyisakan cela sedikitpun." Lanjut gadis itu menatap nanar netra sang kakak yang selama ini sangat dia kagumi tersebut, melebihi rasa bangganya memiliki kakak seperti Sadam.
Silvia berbalik ke arah Flora, membuat wanita itu reflek mundur dua langkah. Entah mengapa aura para wanita tersebut membuatnya semakin terintimidasi dalam rasa takut yang amat sangat.
Kesombongan yang sempat dia gemborkan tadi pada Kent, kini lenyap tak berbekas. Hanya ada rasa takut dan berharap bisa kabur dari sana dalam keadaan utuh.
"Jika aku masih melihatmu berkeliaran di sekitar kakakku, akan ku jadikan tubuh mu sebagai bahan praktek anatomi di ruang bedah para dokter muda di rumah sakit ini. Kau akan tau sesadis apa keluarga kami ketika kau sudah masuk ke dalamnya sebagai seorang korban. Jadi ku peringatkan padamu sebelum kau berakhir di tempat kremasi, dari sisa potongan tubuh sampahmu ini. Menjauh lah, sejauh-jauhnya. Dan ya, hapus semua video laknat yang kau rekam itu. Karena aku akan menelusuri semua akunmu bahkan yang paling rahasia sekalipun." Kecam Silvia tersenyum miring.
__ADS_1
Dahi Flora terlihat mengkilap, oleh keringat yang keluar bagai biji padi.
Wanita itu mengangguk cepat dengan ketakutan yang amat sangat.
"Aku akan menghapus semuanya tanpa sisa, aku janji. Aku juga akan pergi dari kota ini sejauh mungkin. Kalian tenang saja, aku tak akan menampakkan diriku apalagi mengganggu kehidupan Kent serta istrinya lagi." Ucap Flora bergetar ketakutan.
Wanita itu berbalik dari hadapan dua wanita bar-bar itu dengan langkah setengah berlari. Silvia menatap sang kakak kemudian keduanya tertawa lepas tanpa dosa.
Sementara Kent hanya bisa menggeleng samar, melihat keberingasan kedua saudarinya yang di luar nalar.
"Bisakah kalian berdua menghentikan tawa, semua orang menatap ke arah kita dengan tatapan aneh." Tegur Kent jengah. Keduanya telah menjadikan nya sebagai objek empuk untuk mengintimidasi Flora. Meski itu sukses membuat wanita sejenis Flora mundur, namun tetap saja dirinya sudah terlanjur babak belur.
"Kau berbicara pada kami kak?" tanya Silvia menunjuk wajahnya juga Queen bergantian. Kent memutar bola mata jengah. Pria itu memilih pergi sebelum kewarasannya terkikis oleh kelakuan absurd kedua wanita bar-bar itu.
Di ruangan Jess, wanita itu tengah mengobrol santai dengan Sadam. Sesekali terdengar suara tawa yang samar-samar terdengar oleh Kent dari balik pintu. Rahang pria itu mengeras menahan cemburu. Hingga tepukan di pundaknya membuatnya tersadar kembali.
"Jika kau memang mencintai istrimu, jangan pernah menyalahkan Sadam dalam hal apapun. Kau yau kenapa? karena seburuk apapun masa lalu seseorang, jika orang itu sudah memilih untuk berubah, maka jangan kan intimidasi dari orang sepertimu. Dari seorang pendeta pun, tak akan membuat nya gentar." Tukas Queen menasehati.
"Dan asal kau tau kak, kakakku tak pernah berniat untuk merebut kak Jess dari sisimu. Kakakku itu hanya ingin mengembalikan akal sehat kakak yang mulai rapuh oleh godaan seorang wanita ja la ng." Sambung Silvia menepuk bahu sang kakak kemudian melenggang masuk ke dalam ruangan Jess.
"Apa kalian sedang merencanakan kudeta?" tukas Queen membuat tawa Sadam menggelegar.
"Aku baru saja merencanakan pesta pernikahan megah bersama wanita cantik ini. Sayang sekali obrolan serius kami terganggu oleh kehadiran kalian, terutama pria bajingan itu." Sahut Sadam melempar lirikan sinis ke arah sang sepupu.
Kent hanya diam, pria itu berusaha mencerna situasi yang terjadi. Lalu menghampiri ranjang sang istri.
"Obatmu sudah selesai di siapkan, apa kau ingin ku temani ke kamar mandi terlebih dahulu?" tawar Kent lembut. Pria itu masih berusaha untuk meraih kembali hati sang istri dengan sabar.
"Aku sudah ke kamar mandi di temani oleh Sadam, apa kita bisa pulang sekarang?" Kent berkedip cepat saat mendengar jawaban nyelekit dari mulut istrinya. Di temani oleh Sadam? percayalah, gemuruh di dada Kent sudah mengalahkan suara deru ombak di lautan.
"Tentu saja, aku akan mengurus sisanya. Kau dan Kent bisa pulang terlebih dahulu," sela Queen cepat. Wanita itu tau apa yang tengah Kent rasakan saat ini.
...----------------...
__ADS_1
Thanks sudah setia menemani sampai bab ini, semoga puasa kalian lancar tanpa kendala. Tetap semangat, berkah Ramadhan tak mengkhianati usaha keras kalian selama sebulan penuh.
Lope lope para kesayangan Buna Qaya 🥰🥰🥰